
Sudah berselang dua bulan lebih dari hari dimana Aida dan Ulum berkunjung.
Aida kini sudah bisa berjalan dengan normal kembali. Kalau menurut penuturan Ulum, semenjak hari di mana Aida bersimpuh di kaki Ulum kondisi kaki Aida membaik dengan cepat dan tidak hanya itu perubahan sikap yang lebih baik pun terjadi pada Aida.
Aida tetap menerima orderan membuat seragam olahraga untuk sekolah-sekolah, namun Aida bisa mengatur waktunya, bahkan bersedia melayani Ulum dengan baik tanpa ego seperti dulu.
Itulah yang membuat rumah tangga Ulum dan Aida semakin harmonis, bahkan kini Aida tengah mengandung anak ke dua mereka, ya adiknya Safa.
Terpancar rona bahagia di keluarga itu kala memberitahukan kabar tentang kehamilan anak ke dua dari Aida dan Ulum, termasuk Irsyad yang juga turut bahagia kala mendengar kabar tersebut,
sesaat setelah mereka kembali ke kediaman mereka sendiri, Sore itu Rahma sudah siap dengan kunci motor di tangannya.
Menghampiri Irsyad yang tengah duduk di sofa lantai dua, Rahma meraih tangan sang suami.
"Mau kemana sayang?" Tanya Irsyad.
"Mau ke bidan mas." Jawab Rahma.
Terlihat rona bahagia di wajah sang suami. "Bidan? Apa kamu hamil lagi seperti Aida?" Tiba-tiba saja beliau menebak seperti itu membuat Rahma Terkekeh. Ia pun sempatkan waktu untuk duduk di sebelah suaminya sebentar.
"Enggak mas, ini sudah jadwalnya Rahma suntik."
"Suntik apa?"
"Memang Rahma belum cerita ya? Kalo Tiap tiga bulan sekali kan Rahma suntik untuk penunda kehamilan."
"Kok Ade nggak pernah cerita sih? Atau berdiskusi ke mas Irsyad dulu kalo mau melakukan itu?" Mengusap kepala sang istri.
"Ya Allah. Rahma pikir mas paham loh, aku kan Caesar mas, jadi Rahma harus menunda kehamilan selanjutnya."
"Begitu ya?" Tanya Irsyad sementara Rahma hanya mengangguk.
"Ya sudah, Kalau begitu Sekarang stop ya suntiknya." Titah Irsyad.
"Kok, stop?"
__ADS_1
"Ya? mas tidak mau kamu menunda lagi sayang, lagi pula Rumi dan Nuha kan sudah berusia enam tahun. Kalo nambah lagi kan tidak apa." Mengecup pipi sang istri.
Rahma beringsut. "Na...nambah anak?" Tanya Rahma.
"Iya, kenapa? Mas senang jika di rumah kita ini rame anak-anak sayang."
"Idih si bapak ini, dua anak saja rumah sudah seperti kapal pecah, belum lagi ngurus mereka yang bertengkar haduh, sepertinya Rahma belum ada keinginan nambah anak mas, Rahma masih repot."
"Kan mas bantu."
"Bantu apa?"
"Buatnya." Terkekeh.
"Astagfirullah al'azim bapak dua anak ini ya."
"Hahaha, iya ngurusnya maksud mas tapi lebih dominan buatnya." Mendengar itu Rahma pun membulatkan bola matanya.
"Enak di mas Irsyad dong kalo seperti itu."
"Hei...hei...hei... Inget masih sore."
"Sore sama malam apa bedanya sih?" Tergelak.
"Iiiissshhh mas ini ya,"
"Hehehe, sudah ya jangan suntik lagi. Mas serius ingin punya anak lagi ini. Seperti Ulum. Nanti kita jaga sama-sama ya, kan nggak papa tuh banyak anak banyak rezeki." Menaik turunkan alisnya.
"Ckckck, enaknya bapak satu ini kalau sedang meminta sesuatu ya. Padahal yang hamil Rahma, yang ngelahirin juga Rahma, yang momong? Dan semuanya?"
"Mas kan bilang, kalo mas tetap akan membantu, pakai doa." Terkekeh lagi.
"Pakai doa lagi? huuu mas ini. Nggak ahh Rahma pokoknya belum siap," beranjak, namun tangan Rahma tetap di tahan oleh Irsyad.
"Dek mas serius, jangan suntik lagi ya. Sedikasihnya saja. Anak kan rezeki sayang." Ucap Irsyad.
__ADS_1
"Tapi?"
Irsyad kembali menarik pelan tangan sang istri agar kembali duduk di sebelahnya. "Percaya deh sama mas, kita pasti bisa mengurusnya, kalo Allah SWT memberikan kepercayaan lagi pada kita. Ya?" Irsyad mengusap kepala sang istri dengan penuh kasih sayang. Terlebih saat Rahma mengiyakan untuk kembali menjalani program hamilnya.
***
Namun memang mungkin rezeki mereka hanya sampai dua anak itu hingga beberapa tahun berselang pun, Rahma tetap belum mendapatkan tanda-tanda kehamilannya. Tapi walau pun demikian, Irsyad tetap bersyukur dengan apa yang ia miliki saat ini.
Hari demi hari pun terus berganti. Irsyad sudah kembali sehat seperti sedia kala mengajar lagi, tausiyah lagi semua kegiatan beliau sudah berjalan seperti sebelumnya.
Saat ini keluarga kecil Irsyad tengah berlibur di sebuah taman di kawasan Bogor. Terlihat bapak dua anak itu tengah asik bermain gelembung sabun dengan Rumi dan Nuha di sana.
Sementara Rahma, duduk di atas matras yang di gelar ustadz sebelumnya.
Dari kejauhan, Rahma mengamati suami dan anak-anak mereka yang terlihat sangat bahagia. Sungguh, ada rasa senang bercampur haru saat ini, di mana anak-anak mereka sudah semakin besar. ya benar, si kembar sudah berusia delapan tahun, hal itu sudah menandakan usia pernikahan Rahma dan Irsyad sudah menginjak sepuluh tahun.
Dimana dalam lingkaran itu banyak sekali hal yang terjadi pada mereka, Rahma sempat mengingat hari-hari pertama Rahma menjadi istri seorang Irsyad, sangat menyebalkan, tidak suka, dan ingin rasanya melepaskan diri.
Terlebih dengan semua aturan yang ada, sebagaimana semestinya menjadi istri seorang ustadz.
Bahkan cadar yang menutupi wajahnya pun sudah terasa nyaman untuknya. Suaminya memang mengajarkan Rahma untuk berubah, namun setiap perubahan yang di minta Irsyad seolah tanpa paksaan, dan semua itu justru datang dari hati Rahma sendiri.
Entah sihir atau mantra apa yang di berikan Irsyad, semuanya seolah membuat Rahma dengan mudahnya menjelma menjadi wanita yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari Rahma yang sesungguhnya.
Ya mantra apa lagi? Selain mantra Ikrar cinta ustadz Irsyad. Dimana dengan segala cinta yang tercurahkan sang suami mampu melebur hati sekeras batu pada diri Rahma. Sehingga yang tersisa hanya ketenangan batin, cinta, dan kasih sayang yang melingkari rumah tangga mereka saat ini.
Dalam sejuknya angin yang berhembus Rahma terus saja menyunggingkan senyuman mengarah ke pada suami dan anak-anaknya. Betapa rasa syukur yang berlebih membuat setitik air matanya menetes di pipi Rahma.
Dia sangat merasakan bahagia yang tiada Tara, dan rasa beruntung yang mengalahkan apapun karena bisa menjadi istri seorang Irsyad Fadilah.
'tahun memang selalu berganti, sama halnya usia yang semakin bertambah. Namun cinta yang tercurahkan untuk ku, memang tidak pernah berkurang dari mu.
Wahai suami ku Irsyad Fadilah. Terimakasih untuk sepuluh tahun ini, tetap lah sehat suami ku, tetap lah menjadi panutan ku dan anak-anak mu. Sejatinya hidup ku hanya untuk memandangi mu. Hingga kita mampu melangkah ke Jannah bersama.'
-Rahma Qurrata Aini-
__ADS_1
Tamat....