Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
kilas balik yang berujung pada mimpi


__ADS_3

Suatu ketika, pak Huda meminta izin pada Ustadz Irsyad menggantikan kelasnya itu karena adanya acara keluarga. Saudara dari istrinya akan menerima pinangan dari seorang pria. Dan meminta pak Huda untuk menjadi juru bicara keluarga itu.


Esok harinya Irsyad bertemu dengan pak Huda di sebuah parkiran, mereka sama-sama baru saja tiba. Mengucap salam lalu saling memeluk.


"Bagaimana acaranya kemarin pak lancar?" tanya Irsyad.


"Alhamdulillah pak Irsyad lancar." Jawab pak Huda. Kala itu ustadz Irsyad belum di panggil ustadz oleh orang-orang di kampus tersebut.


"Syukur alhamdulillah, mari masuk ber sama-sama," Ajak Irsyad, pak Huda pun mengangguk.


Tak lama mereka berpapasan dengan Isti. Yang lantas mengucap salam pada keduanya.


"Nissa sudah berangkat saja. Saya pikir kau mau libur dulu."


"Tidak mas. Soalnya hari ini saya ada ujian."


"Oh begitu baiklah semoga sukses ujiannya ya, seperti acara semalam." tutur pak Huda. Isti pun terlihat tersipu malu. Ia mengucap salam dan berpamitan pergi.


"Pak Huda kenal Isti?" tanyanya.


"Isti? Isti siapa?"


"Gadis tadi." tanya Irsyad bersemangat.


"Ohhh Annisa jelas kenal lah. Dia kan anaknya pak lik dari istri saya."


"Benarkah?" Irsyad berbinar.


"Iya benar. Gadis itu hafizah 20 juz loh keren sekali bukan?"


"Subhanallah." Irsyad tersenyum bangga.


"Ada apa ini? Kok tanya-tanya Nisa."


"Eh.. Emmm tidak kok." Irsyad salah tingkah.


"Jawab saja pak, suka ya sama Nisa?" Tuturnya hanya untuk menggodanya. Karena pak Huda sangat suka humor.

__ADS_1


"Pak Huda nih... Emmm berati bapak kenal orang tuannya ya? Boleh minta tolong tidak?" tanya Irsyad.


"Minta tolong apa?"


Irsyad tersenyum. "Jujur saja, Saya mengaguminya. Jadi saya punya niatan untuk bersilaturahmi, saya punya niatan untuk meng khitbah nya." Irsyad memberanikan diri.


Pak Huda terdiam sejenak. "Sejak kapan pak Irsyad mengagumi Nisa?" tanya pak Huda.


"Sejak satu tahun belakangan ini." jawab Irsyad malu-malu.


"Ya Allah pak Irsyad, kenapa tidak sejak awal saja antum bertanya pada saya?" Mimik wajah pak Huda yang ceria itu berubah.


"Saya tidak tahu kalau pak Huda itu kenal Isti, dan lagi pak Huda juga tahu saya tidak berani melihat wanita kan? Jangankan wanita, bapak saja selalu menggoda saya karena saya takut pada jilbab wanita yang ada di jemuran? Apalagi menyentuh wanita halal saya hehehe, tapi sekarang saya sudah berani sih InsyaAllah. Saya sudah siap menikah pak." tutur Irsyad.


Pak Huda garuk-garuk kepala. "Bagaimana ya pak Irsyad? Andai saja pak Irsyad memberitahu saya paling tidak satu bulan yang lalu. Mungkin tidak akan sesulit ini."


"Sulit? Sulit bagaimana?"


"Anissa itu baru saja di khitbah seorang Habib muda semalam." Deegg Irsyad membeku mendengar ucapan pak Huda. "Dan lamaran itu di Terima oleh keluarga besar. Begitupula Nissa. Mereka akan menikah setelah Anissa lulus."


"Antum tidak apa-apa kan?" tanya pak Huda.


"Hahaha, tidak apa-apa lah pak. Kan saya cuma mau silaturahmi, lagi pula? Rasa suka saya hanya sebatas mengagumi saja belum ada cinta dan sebagainya." tutur Irsyad. Pak Huda pun tersenyum.


"Semoga cepat mendapatkan jodoh penggantinya ya." tutur pak Huda.


"Iya pak Amien. Yuk mari kita ke ruangan kantor." ajak Irsyad. Ia menghela nafas. Sebenarnya merasa sesak saja. Selama ini tidak ada keberanian untuk mengungkapkannya dan memilih untuk memendam itu tanpa berfikir bahwa hukum mencari pasangan itu ada istilah siapa cepat ia dapat. Dan Ustadz Irsyad kalah cepat dengan itu. Kini ia pun merana meratapi kekalahannya tanpa berjuang lebih dulu.


(Flashback is off)


Masih di malam yang sama.


Irsyad menyipitkan matanya ia melihat sorang gadis duduk di atas ranjangnya. Wanita itu bercadar duduk dengan posisi menyerong di sebelahnya. Menatap lurus kearah Irsyad yang masih terlihat bingung.


Gadis itu membuka cadarnya di hadapan Irsyad. Dan terdapat wajah Isti di sana. Sangat cantik, berseri dengan senyum tersungging di bibirnya.


Wanita itu bahkan menanggalkan hijabnya didepan Irsyad. Dan setelahnya mimpi pun terus berlangsung dan hanya Irsyad yang tahu mimpi panjang yang membuatnya terjaga lalu dengan cepat tersadar akan sesuatu yang basah. Ia pun bergegas masuk kedalam bilik kamar mandinya. Menyirami dirinya dari ujung Kepalanya dengan air. Melakukan mandi besar akibat mimpi basah yang ia alami.

__ADS_1


Dan yang membuatnya mengutuk dirinya sendiri adalah wanita yang bersenggama bersamanya di dalam mimpi adalah Isti. Setelah selesai ia keluar kamarnya. Mengamati wajah sang istri yang masih terlelap tidur.


'Bagaimana bisa aku mimpi seperti itu? Sedangkan hasrat ku sudah terpenuhi dengan Rahma. Bahkan sebelum tidur aku pun bersenggama dengannya tadi.' batin Irsyad yang merasa bersalah pada Rahma. Irsyad pun menyentuh seprai nya ia takut seprai itu ternoda juga. Namun Irsyad lega, seprai itu kering tidak ada tetesan noda sedikit pun.


Setelahnya beliau keluar menuju ruang sholatnya karena waktu sudah menunjukkan pukul dua empat puluh dini hari. Berzikir panjang memohon ampun berlebihan hingga tanpa sadar beliau sampai terisak di atas alas sujud nya.


***


Beliau sudah berada di sebuah parkiran kampus. Menunggu pak Huda menghampirinya.


Di dalam mobil Irsyad memeluk setirnya, masih merasa bersalah.


Tokk tokk tokk...


Pak Huda mengetuk kaca mobil Irsyad dan membuatnya sedikit terperanjat. Ia memberi isyarat agar pak Huda masuk saja. Sehingga membuat pak Huda berjalan menuju bangku samping kemudinya. Membuka itu dan menutup pintu mobilnya kembali sesaat setelah beliau masuk.


"Ada apa ini ustadz, sepertinya pembicaraannya sangat penting?" Tanya Pak Huda.


"Saya ingin meminta tolong pada pak Huda." Ucap Irsyad, suaranya sedikit serak.


"Anu... Minta tolong apa Ustadz."


"Tolong cambuk atau rajam saya pak Huda."


Deg, pak Huda membulatkan bola matanya. "Mohon maaf ustadz. Ada apa ini, kenapa tiba-tiba berbicara seperti itu?"


"Saya sudah berzinah, pak Huda, tolong rajam saya." Irsyad terisak.


"Astaghfirullahalazim, ustadz tolong tenangkan diri antum. ceritakan Apa yang sebenarnya terjadi ustadz."


Irsyad pun bercerita tentang pertemuannya lagi dengan Isti hingga saat dirinya berkunjung ke rumah pak Huda. Dan semua hal yang mengganggu hati dan fikirannya akhir-akhir ini semua sudah tercurahkan pada pak Huda, termaksud mimpinya.


"Bahkan dengan gilanya, saya bermimpi berhubungan badan dengan Isti, pak Huda. Dan dari mimpi itu keluar cairan birahi saya. Tolong saya pak Huda, saya sudah mengkhianati istri saya." Irsyad semakin terisak.


pak Huda menghela nafas. "Ustadz. Tolong jangan seperti ini. Saya tahu ustadz tengah di landa gundah gulana namun tidak bisa ustadz meminta saya untuk merajam antum. Mimpi itu ada tiga Ustadz, satu akibat adanya tanda yang akan terjadi, kedua mungkin bisa di bilang bunga tidur yang di sebabkan karena ustadz terlalu banyak memikirkan, dan ketiga adanya gangguan Jin yang merasuk kedalam alam bawah sadar Antum sendiri." tutur pak Huda yang masih berusaha menenangkan ustadz Irsyad.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2