
Pukul tiga dini hari Rahma terjaga. Sebenarnya tidak ada niatan dia untuk bangun di sepertiga malam, hanya saja ada hasrat Rahma untuk ke kamar kecil membuatnya terjaga.
Ia mendapati Irsyad sudah tidak ada di sampingnya, Rahma sudah paham suaminya tengah solat malam pasti.
Ia pun bergegas menuju tandas guna membuang air seninya.
Selesai dari tandas Rahma mengikat rambutnya,
Dan Ia memang seperti itu ketika tidur membiarkan rambutnya tergerai, sebenarnya agar tidak ada ganjalan saja hahaha.
Rasa kantuk Rahma sedikit hilang, membuatnya memutuskan untuk turun kebawah menemui sang suami.
Sebelum itu Rahma menoleh ke putra dan putri nya. Sedikit tersenyum di kala melihat Nuha dan Rumi tidur dengan posisi sudah tidak jelas bahkan kaki Nuha sudah berada di dekat kepala Rumi.
Rahma mendekati mereka dan membetulkan posisi Nuha.
"Ya Allah dede kok boboknya begini sih?" Rahma terkekeh.
Setelah selesai ia kembali menyelimuti tubuh si kembar. Walau tidak bertahan lama. Nuha akan menendang selimutnya itu kembali, ia jauh lebih nyaman tidur tanpa selimut. Berbeda dengan kaka nya yang akan diam saja. Tidurnya begitu tenang seperti abi nya. Rahma mengecup pipi keduanya.
Setelah itu berjalan keluar.
Kaki Rahma mulai berjalan menuruni anak tangga, di sela-sela langkahnya ia mendengar suara sendok dan piring. "Mas Irsyad sedang makan ya?" gumam Rahma. Dia masih terus melangkahkan kaki dengan sesekali menguap.
Dan benar saja Rahma, di area dapur tepatnya di area makan, dia mendapati Irsyad tengah menyantap makanannya. "Mas." Panggil Rahma. Irsyad menoleh.
"Ya, sayang? Wah Sudah bangun istri ku ini?" Irsyad tersenyum.
"Kebangun mas, tadi Rahma ingin pipis."
Rahma pun mendekati Irsyad menyentuh bahu Irsyad, satu tangannya sudah melingkar di sana. yang kala itu membuat Irsyad langsung menepuk-nepuk pipi menggunakan jari telunjuknya minta di cium. Rahma pun tersenyum.
"Rahma ini baru bangun tidur suami ku, belum gosok gigi."
"Tidak peduli tuh. Cepat kasih sini." Pinta Irsyad.
Rahma pun terkekeh. "MashaAllah suami ku."
"Alhamdulillah, makasih ya kesayangan ku?" Irsyad tersenyum senang.
"Sama-sama. Hehe" Rahma merasa lucu sendiri.
"Emmm dek Rahma tahu? Terkadang kalo di tengah malam kita terbangun itu, bisa jadi Allah SWT menginginkan kita untuk solat malam loh."
"Masa iya?" tanya Rahma.
__ADS_1
"Bisa jadi dek, dan dek Rahma kan lama tidak solat malam." Irsyad tersenyum.
"Iya juga sih. Tapi? mas kok makan jam segini?"
"Mas tengah sahur dek. Di bulan Rajab ini kita kan di sunnah kan untuk berpuasa selama sepuluh hari."
"loh sekarang sudah masuk bulan Rajab ya? Kok mas Irsyad tidak membangunkan Rahma?" Rahma duduk di kursinya.
"Mas tadi niatnya mau membangunkan mu, namun ade terlihat lelap sekali tidurnya."
Rahma terkekeh. "Mas sekarang sering kasih toleransi ya untuk Rahma."
Irsyad menuangkan air ke dalam gelas lalu menyodorkan ke arah Rahma. "Senang kamu ya?"
Rahma tersenyum "iya." Dia lantas meminumnya.
"Ade mau ikut puasa?" tanya Irsyad yang sudah meletakkan lagi gelas di tangannya.
Dan beralih pada sendok di atas piring lalu menyendok kan nasinya setelah itu menyodorkan pula ke mulut Rahma.
Rahma mengangguk. Irsyad pun tersenyum sesaat setelah Rahma memakan nasi dari suapannya.
"Rahma ambil nasi Rahma sendiri saja." Ia hendak beranjak.
"Barengan saja ya." Irsyad menahan Rahma.
"Dek, kok gitu sih? Mas kan senang makan satu piring sama kamu."
"Haduh bapak dua anak ini ya." Rahma terkekeh. Begitu pula Irsyad.
Mereka pun makan sayur bersama-sama. Seperti biasa Irsyad itu makannya tidak banyak. Ia benar-benar mengikuti anjuran Nabi untuk tidak mengenyangkan perut bila makan.
Irsyad memang seapa-apanya tidak pernah berlebihan. Termaksud dalam hal makan ini. Ia juga tidak pernah makan lebih dari satu piring, walaupun seenak apapun makanan yang ia santap.
Hanya cukup membuatnya sedikit kenyang saja itu sudah cukup.
Irsyad menengguk teh manisnya. "Mas buatkan lagi ya. Habis ini tehnya."
"Tidak usah mas. Rahma minum air putih saja. Agak tidak nyaman di perut jika Rahma minum teh manis."
"Ya sudah." jawabnya mereka pun melanjutkan makan sahurnya.
Sungguh terasa lebih nikmat bagi Rahma memang, kala makan satu piring dengan suaminya. Seolah tengah berkompetisi, makanya jadi lebih lahap. Dan menginginkan suapan terakhir untuknya.
Biasanya jika sudah tinggal sedikit ia akan menghentikan makannya dan membiarkan Rahma yang menghabiskan makanan tersebut.
__ADS_1
Setelah menyantap hidangan sahur mereka?
Keduanya memutuskan untuk duduk di teras balkon sembari menunggu adzan subuh.
Karena Irsyad sudah melakukan solat malam sebelumnya.
Rahma merebahkan kepalanya di bahu Irsyad. Menatap bintang di langit.
"Dingin dek, masuk saja yuk." Irsyad mengecup pipi Rahma.
"Nanti mas, Rahma betah sekali melihat bintang. Kali saja ada bintang jatuh bisa memohon permintaan."
"Hei!! Kok memohon permintaan pada bintang jatuh? Mana ada bintang jatuh dek? Meminta itu hanya pada Zat yang maha mengabulkan segala permohonan, yaitu Allah SWT." Tutur Irsyad.
"Issshh mas ini. Tapi memang sudah adatnya seperti itu kan dari dulu. Kalo ada bintang jatuh pasti langsung di mintai permohonan."
Irsyad terkekeh. "Kamu tahu? Setan itu gemar sekali duduk di pintu-pintu langit? Mereka gemar nguping pembicaraan malaikat. Nanti baru deh di sampaikan ke dukun sama para peramal itu. Dan jika ketahuan maka malaikat akan melempari setan itu menggunakan bola-bola api. Nah bisa jadi yang orang anggap bintang jatuh itu adalah setan kan? Kamu ini." Irsyad menarik hidung Rahma.
"Ya tapi kan itu hanya untuk lucu-lucuan saja."
"Lucu-lucuan, tapi kamu percaya kan, akan hal itu?" tanya Irsyad.
"Sedikit." Jawabnya lirih.
"Sedikit? Sama aja itu dek. Ihhh cium juga nih."
"Hehehe. Iya mas, enggak kok enggak."
Irsyad geleng-geleng kepala. Ia menoleh ke arah jam. "Sudah Imsak ini. Yuk masuk siap-siap solat subuh."
"Mas pasti ke masjid lagi kan?" tanya Rahma.
"Iya lah sayang, mas kan Imam di sana."
Rahma memeluk tubuh Irsyad. "Kangen solat subuh bareng mas Irsyad." tuturnya dengan nada manja khas seorang Rahma.
"MashaAllah, godaan ini ya, bisa-bisanya kamu manja setelah Imsak tiba. Mau tak cium bibir mu pasti batal ini puasanya. Astaghfirullahalazim."
"Hahaha, pak ustadz...pak ustadz." Rahma tergelak. Mereka pun beranjak masuk.
------------------------------------------------------------------------
maaf aku sedang merindukan ke uwuan mereka.
siapa yang kira2 masih kangen sama keluarga ustadz Irsyad? setuju nggak aku up lagi hehehe.... walau nggak setiap hari ya, soalnya aku masih garap novel satunya.
__ADS_1
tapi siap nggak nih sama konflik baru karo aku garap season 2 nya?? hehehe di tunggu jawaban kalian di kolom komentar ya. 😊😊😊