Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
bab Rindu (siapa Debora?)


__ADS_3

Masih di malam yang sama, ustadz Irsyad baru saja pulang dari masjid, sementara anak-anak mereka belum kembali dari departemen store, hal itu pula yang membuat mereka akhirnya memutuskan untuk makan malam lebih dulu, setelahnya keduanya menghabiskan waktu malam sembari menunggu anak-anak mereka pulang.


Dalam suasana hangat itu, Irsyad merebahkan kepala di pangkuan sang istri, lalu meraih tangan Rahma dan meletakkan di atas kepalanya, iya beliau minta di pijat di bagian kepalanya itu.


Rahma pun tersenyum, ia mulai memijat lembut kepala sang suami.


"Enak bi?" tanya Rahma.


"Enak lah Umma, kalo nggak enak? Tidak mungkin Abi minta di pijat terus kan?" Terkekeh keduanya dalam malam syahdu di temani suara televisi.


"Umma?"


"Emmm?"


"Abi ingin bicara soal Nuha?"


Mengerutkan kening, dengan tangan masih memijat lembut.


"Menurut Umma? Kalo Nuha menikah muda bagaimana?"


Rahma hanya diam saja, belum Mau menjawab. Irsyad pun mendongakkan kepalanya. "Umma sayang,"


"Iya Bi, Rahma hanya sedang berfikir."


"Berfikir apa?"


"Ya? Bagaimana ya? Aku belum siap saja. Kalo Nuha menikah, kita pasti akan punya cucu kan? Semakin terlihat tua dong kita?" Terkekeh.


Irsyad pun meraih tangan Rahma seraya memberikan kecupan di tangan yang putih bersih itu. "Memang kenapa kalau kita tua sayang? Kan memang sudah waktunya."


Rahma terdiam lagi. Bahkan kini dia sudah tidak menggerakkan tangannya yang tadi tengah, memijat sang suami. Irsyad pun beranjak, lalu memandang sang istri.


"Kenapa diam Khumaira?" Tanya Irsyad.


"Umma belum siap saja, kalo Umma sudah punya cucu sepertinya sudah tua sekali Bi, lagi pula? Rahma masih ingin Nuha di rumah ini bersama kita." Jawabnya.


Irsyad tersenyum, ia lantas mengusap kepala istrinya. "Kok gitu sih? Tahu kan? Jika semua penyakit itu ada obatnya, terkecuali penyakit Tua. Semua orang pasti akan menjadi tua jika dia memiliki umur yang panjang sayang, kita tidak boleh menolak itu." Mengecup kening Rahma sejenak.


"Jika masalah anak? Apalagi Nuha yang seorang anak perempuan, kita memang tidak bisa menghalanginya jika dia sudah bertemu jodohnya, dan harus mengikhlaskan pula dia ikut suaminya."


"Aaaaaa, jangan bahas itu dulu mas. Rahma jadi sedih kan?"


"Hehehe, memang kenapa Umma, Nuha sudah berusia 20an loh. Sudah cukup dewasa juga dia."


"Iya, tapi kan? Dulu saja Rahma menikah di usia dua puluh tiga tahun, itu saja Rahma dulu masih belum bisa bersikap dewasa kan?"


"Tingkat dewasa seseorang itu tidak di ukur dari umur kok sayang. Yang penting kan kesiapan Nuha itu sendiri."


"Abi? Abi lupa ya? Jika anak itu sedang merengek minta di izinkan sekolah di Kairo?" tanya Rahma. "Abi belum memberi jawaban loh untuk Nuha."


Irsyad terdiam.


"Abi?" Rahma Menyentuh lengan sang suami pelan.


"Abi tidak bisa menyesetujui itu Umma."


"Kenapa? Nilai Nuha bagus loh Bi, sayang kan?"


Irsyad menggeleng. "Terlalu jauh kalo harus kuliah di Kairo, lagi pula S1 cukup menurut ku untuk Nuha."

__ADS_1


"Bi? jangan terlalu membedakan Nuha dengan Rumi. Nanti jatuhnya tidak baik kan? Apalagi ini. Tiba-tiba Abi bilang tentang nikah muda, Umma Rasa Nuha tidak akan setuju."


"Bukan bermaksud membedakan Umma, karena sudah kodratnya Nuha untuk tidak banyak beraktivitas di luar, apa lagi kuliah jauh-jauh kesana."


Menghela nafas. "Rahma rasa ya? Mas terlalu posesif tahu sama Nuha?"


"Siapa yang posesif sayang? Itu kewajiban mas sebagai ayahnya loh."


'ampun deh ampun,' Rahma hanya geleng-geleng kepala, karena percuma juga berdebat dengan sang suami dia tidak akan pernah menang.


Ya semakin Nuha dan Rumi dewasa memang suaminya itu jauh lebih keras mendidik kedua anaknya, apalagi tingkat ketatnya Irsyad pada Nuha, bahkan ia sering sekali mengecek ponsel Nuha secara tiba-tiba, guna mengetahui pergaulan Nuha, entah dalam pesan singkat, Group chat bahkan sampai semua akun sosial media nya, tidak luput dari pengecekan sang ayah.


Tidak tanggung-tanggung, bahkan beliau memiliki hampir semua nomor telepon teman terdekat Nuha, yang di simpannya di buku telfon.


Dan tidak jarang juga Nuha curhat kepada sang ibu, jika sang Abi kadang suka keterlaluan pada dirinya.


Namun mau bagaimana lagi, Rahma yang berada di tingkat paling dekat saja tidak bisa membujuknya agar tidak terlalu mendoktrin sang anak dengan hal yang sudah masuk ke sikap mengekang.


Rahma menghela nafas. "Okay, untuk masalah ke Kairo, mungkin mas benar. Tapi untuk nikah muda? Seperti itu akan berat untuk Nuha."


"Tidak ada yang berat Umma, jika Nuha ikhlas. Karena jujur saja, sebenarnya sudah banyak yang bicara pada Abi, jika mereka ingin mengkhitbah Nuha untuk anak mereka." Ucap Irsyad.


Rahma pun terdiam. "Lalu apa Abi sendiri sudah siap melepas Nuha?" Tanya Rahma, beliau lantas menoleh ke arah Rahma.


"Bimbang." Jawabnya.


Rahma kembali menghela nafas. "Haduh, mas sendiri saja bimbang. Bagaimana sih?"


"Bimbang nya mas itu, seperti tengah menanti seseorang tapi entah siapa? Hal itu lah yang membuat mas tidak bisa menerima semua pinangan itu." jawab Irsyad. Hening sejenak karena keduanya sama-sama tidak bisa berkata apapun. Hingga suara mobil di luar terdengar.


"Anak-anak sudah pulang Bi, lanjut nanti saja pembahasan ini ya." Ucap Rahma. Irsyad pun mengangguk seraya tersenyum.


***


Esok harinya


Dalam ketenangan keluarga di siang hari itu, tiba-tiba saja sebuah ketukan pintu terdengar, Dimana Rumi dan Nuha saling menyuruh antar satu sama lain untuk membukakan pintunya, karena mereka sedang ada di ruang tengah.


"Dede, kakak—, itu ada suara ketukan pintu loh tidak ada yang ingin membukakan kah?" Seru Rahma dari dalam dapur.


"Dek! Sana buka pintunya." Kaki Rumi bahkan sudah menendang-nendang kaki Nuha agar dia saja yang beranjak dan membukakan pintu


"Apa sih kak, Nuha lagi dengerin Tartil nih, jangan ganggu ya. Sana kakak saja." Nuha menolak dan masih asik dengan earphone di telinganya.


"Kakak—" seru Rahma lagi lebih menaikan nada suaranya.


"Iya Umma—" beranjak, lalu kembali menendang lagi kaki Nuha yang tengah terkekeh itu. "Iiiisssshhh." Bersungut.


Pria berpostur tinggi sekitar 180 cm, dengan tubuh tidak terlalu kurus dan tidak terlalu berisi, serta kulit yang berwarna kuning langsat itu mulai berjalan keluar, merapikan sebentar rambutnya lalu membukakan pintu.


"Hai kak Rumi!" Sapa seorang wanita yang tengah melebarkan senyum, dengan rambut sebatas bahu, lurus hitam berkilau, berdiri di hadapannya sembari melambaikan tangan. Braaaaaaakkk Rumi kembali menutup pintunya.


"Astagfirullah al'azim, Debora kenapa dia di Jakarta?" Sedikit panik karena dia hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek sebatas lututnya.


Tok tok tok... Kembali suara ketukan itu terdengar.


"Rumi? Ada siapa?" Tanya Irsyad yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya.


"Anu, Bi? Duh bagaimana menjelaskannya ya. Itu... Di luar ada wanita.tolong Rumi, Bi."

__ADS_1


"Siapa?" Tanya Irsyad.


"Teman kampus, tapi dia itu? Arrrrgghhh Abi keluar sendiri saja. Dan temui dia, Rumi tidak mungkin menemuinya."


Irsyad pun membuka pintu itu, sedangkan Rumi bersembunyi di balik pintu yang terbuka itu.


Tersenyum. "Assalamualaikum pak Ustadz." Sapa gadis di hadapannya.


"Alaikum." Jawab Irsyad, karena dia melihat kalung berliontin salib melingkar di dadanya. "Mau cari siapa ya?" Tanya Irsyad ramah.


"Kak Rumi pak ustadz, boleh Debi bertemu?" Ucap Debi sembari tersenyum. (Debi adalah nama panggilan Debora.)


Sementara Rumi masih gemetaran di balik pintu sembari menutup mulutnya, berusaha untuk tidak bersuara.


"Maaf ya nak, bukan saya melarang. Tapi apa ada hal yang penting, nanti biar saya sampaikan saja pada Rumi. Soalnya Rumi tidak mungkin bertemu dengan yang bukan muhrimnya." Ucap Irsyad.


"Sebenarnya tidak ada pak, karena Debi hanya ingin main saja? Hmmmmm, tapi apa harus saya menikah dulu dengan kak Rumi biar jadi muhrim dia? Dan saya bisa berbicara dengannya lebih dekat?"


Gleeeekkk Rumi menelan selavinya, sungguh ia ingin berlari masuk, namun kakinya yang menjadi kaku membuatnya tidak bisa beranjak dari tempatnya berdiri di belakang pintu, apalagi kata-kata Debi tadi.


Irsyad pun terkekeh tidak menggubris omongan Debi. "Maaf ya, sekali lagi. Saya tidak tahu aturan dalam agama mu, namun seorang wanita tidak baik kan menghampiri seorang pria? Jadi mohon maaf bapak tidak bisa memberikan izin, dan lagu bukan maksud bapak menyinggung ya, jika tidak ada keperluan Nak siapa tadi namanya?"


"Debora pak, atau Debi terserah sih mau panggil siapa?" Nyengir.


Irsyad geleng-geleng kepala, merasa lucu saja. "Iya, nak Debi yang baik, mohon maaf sekali ya. Karena tidak bisa bertemu dengan Rumi."


"Iya pak ustadz tidak apa, soalnya Debi sedang berada di rumah paman jadi sekali mampir, habis nunggu libur semester ini usai masih lama, kan jadi tidak bisa ikut pengajian kampus bareng kak Rumi."


Irsyad mengerutkan kening. "Pengajian? Maaf, nak Debi Non muslim kan?"


"Iya pak ustadz, saya seorang Katholik."


"Tunggu, jika anda beragama Katholik kok ikut pengajiannya Rumi?"


"Saya memang Non pak, tapi saya suka dengan Islam dari saya kecil, mungkin karena teman-teman saya rata-rata muslim, tidak hanya itu saya hapal surat-surat pendek loh. Dan saya juga bisa solat."


"MashaAllah." Gumam Irsyad.


"Bapak mau dengar saya baca surah An-Nas?" Tanyanya dengan nada ceria.


Irsyad hanya tersenyum, tidak menjawab apapun. Namun anak itu sudah membaca surah An-Nas dengan lancar dan benar bacaannya.


"MashaAllah." Gumamnya sangat lirih. Sementara Rumi hanya tersenyum tipis di balik pintu.


"Bagaimana pak? Saya sudah cocok ya sama kak Rumi." Blak-blakan. Sehingga membuat Rumi semakin lemas mendengar itu, dan berharap Debi segera pergi dari sana.


"Hahaha." Irsyad hanya tertawa. "Jodoh itu urusan Tuhan nak Debi, bapak tidak bisa menentukan."


"Hehehe iya pak. Ya sudah sudah deh, saya pulang dulu ya pak ustadz, assalamualaikum."


"Alaikum." Jawab Irsyad.


Debi, melirik sekilas ke belakang ustadz Irsyad berharap sosok Rumi bisa terlihat namun sepertinya dia memang tidak ingin keluar dari dalam rumahnya, sehingga ada sedikit raut wajah kekecewaan dari Debi namun ia berusaha tersenyum, dan membalik badannya berjalan menjauh dari ustadz Irsyad.


Irsyad pun menutup pintunya. Dan di dapatilah Rumi masih bersembunyi di sana lalu nyengir.


"Kalo bisa cari yang muslimah ya." Tutur Irsyad menepuk-nepuk bahu Rumi.


"Abi apa sih?" Bersungut.

__ADS_1


Irsyad pun tergelak, lalu merangkul sang putra kembali berjalan masuk.


__ADS_2