Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
Bab Rindu (keistimewaan diam)


__ADS_3

Di hari Minggu ini, tepatnya pukul empat sore Ustadz Rahmat memberikan kajian singkat untuk para ustadz dan ustadzah pengajar di rumah Tafiz tersebut di salah satu ruangan yang tersekat dengan tirai hijau di tengah-tengah guna membatasi para ustadz dan ustadzah di sana, mereka turut mengikuti pengajian tersebut.


Hal itu biasa beliau lakukan setiap Seminggu sekali, karena di setiap hari minggu biasanya anak-anak Hafizh dan Hafizah libur menghafal, sehingga di manfaatkan Ustadz Rahmat untuk mengadakan pengajian rutin.


Dalam kajiannya itu, ustadz Rahmat tengah membahas tentang manfaat diamnya seseorang, dimana beliau membawa salah satu kisah Nabi dan Siti Hafsah.


Beliau pun membacakan salah satu ayat di surah At Talaq.


"wahai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Rabbmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.” (QS. Ath-Thalaq: 1)


"Jadi ada satu cerita dimana malam itu Nabi Muhammad Saw tengah menalak Siti Hafsah (salah satu Istri Nabi Muhammad Saw) beliau menalak Siti Hafsah itu hanya Karena ucapan Hafsah pada Aisyah Ra yang menyebabkan Aisyah mendiami Nabi Muhammad Saw, istilahnya jengkel ya." Tutur ustadz Rahmat pada mereka, yang masih fokus mendengarkan.


"Karena Rosulullah Saw itu memiliki kebiasaan setiap sore selepas solat ashar sampai tiba waktu Maghrib, beliau akan berkeliling mengunjungi rumah istri-istri beliau, jika tidak habis hari itu, maka beliau akan melanjutkannya esok hari. Pada waktu itu Nabi tengah mengunjungi salah satu Istrinya yang bernama Mariah. Sementara Aisyah dan Hafsah sudah menunggu di rumah mereka. Karena di antara istri-istri yang lain hanya mereka berdua itu yang paling dekat ya, tidak pernah saling cemburu, atau bertengkar. Intinya akur ya, kalo sama yang lain kan mereka cemburu gitu, nah kedua ini tidak ya. Istilahnya ngegenk lah." Ucap ustadz Rahmat, yang di sambut kekehan para jamaah di hadapannya.


"Mereka nunggu sudah lama sekali, sampai-sampai Aisyah Hafsah sudah jenuh duluan, sampai tiba waktu Maghrib Rosulullah Saw baru saja tiba di rumah Aisyah itu, keduanya sepakat ingin diam saja kan, 'eh...eh... Rosul datang... Rosul datang.' ucap wanita itu saat Rosulullah Saw mulai memasuki rumah Aisyah." Terkekeh lah para jamaah itu lagi.


"Di ucap lah salam pada keduanya, dan di jawab dengan nada yang tidak biasa. Nah Rosulullah bingung kenapa ini kok pada diam seperti ini."


"Hingga akhirnya Aisyah berbicara dengan nada jengkel, 'kok lama sih di rumah Mariah? Di kasih apa di sana? sampai betah lama.' wanita ya, betul apa betul?" Terkekeh lagi semuanya.


"Rosulullah Saw pun menjawab, 'tidak, tidak di kasih apa-apa, hanya madu seperti biasa.' begitu jawabnya, siti Hafsah menjawab pula, 'pasti madunya jelek, kau merasakannya kan Aisyah, sampai tercium bau tidak enak dari mulut beliau.' Tutur Hafsah. Nabi pun bingung terlebih-lebih Aisyah meminta Nabi untuk tidak lagi minum madu, dan Nabi pun mengiyakan padahal itu adalah minuman kesukaan beliau. Hingga Aisyah berbangga diri tuh. 'wah Rosulullah rela tidak minum madu karena saya dong' begitu kata Asiyah pada istri-istri yang lain." Semua terkekeh.

__ADS_1


"Singkat cerita, Rosulullah Saw mendapat teguran dari Allah SWT, dalam firman-Nya di surah At Tahrim yang begini bunyinya. 'wahai Nabi, kenapa kau haramkan yang telah ku Halalkan bagimu, demi bisa menyenangkan istri mu?' Yang di Sampaikan oleh malaikat Jibril, nah dari situ Rosulullah Saw pun beristighfar, dan berkata akan kembali meminum madu itu lagi, sehingga naiklah kembali malaikat Jibril menyampaikan apa yang di katakan Rosulullah Saw."


"Dan dari sana lah, Rosulullah Saw mengumpulkan para istri-istrinya, kecuali satu, Aisyah Ra. Di sana ada Hafsah juga tuh, dan beliau pun mulai berbicara 'wahai istri-istri ku, kemarin aku telah salah berkata di depan Aisyah, sekarang aku akan meralat perkataan ku di depan kalian, jika aku akan kembali meminum madu. Jadi jika aku datang maka suguhkan lah lagi madu untuk ku di rumah kalian.' Tutur beliau, dari sana mereka langsung cerah, secerah mentari pagi yang setelah hujan mendung berhari-hari ya kala mendengar ucapan itu dari Baginda Nabi, dan apa kata mereka di kala Nabi Muhammad Saw sudah pergi. 'hei...hei..? Dengar kan? Nabi mau minum madu lagi demi kita loh' tutur mereka dengan girangnya." Semua kembali tertawa.


"Namun sangat di sayangkan, isi rapat rahasia itu malah justru di kasih tahu Siti Hafsah pada Aisyah Ra. Nah marah deh jadinya Aisyah pada Baginda Nabi. Dari sana beliau bingung, kok Aisyah marah, ada apa ini? Hingga akhirnya Malaikat Jibril memberitahukan yang sebenarnya, penyebab marahnya Aisyah pada beliau. Makanya jangan macam-macam pada Nabi, mata-matanya banyak loh beliau ini." Masih riuh terdengar suara tawa di sana kala ustadz Rahmat masih melanjutkan ceritanya,


"hingga tiba pada saat Nabi Muhammad Saw yang menemui Siti Hafsah untuk menanyakan hal tersebut, karena sampai turun satu ayat At Talaq tadi, lalu jatuhlah talak beliau malam itu juga, dan mengajak Hafsah untuk pulang ke rumah ayahnya Umar (sedih ya? Apa lagi Hafsah hanya diam saja di sana tak membantah apa lagi memohon untuk tidak di cerai).


Dan di kediaman ayahnya, sahabat Umar, Siti Hafsah di marahi habis-habisan oleh Umar, hingga Rosulullah Saw kembali kekediaman beliau sendiri. Namun memang istri Nabi semuanya Soleha ya cuman memang sifat dasar seorang wanita yang akan cemburu, sedih, baper itu manusiawi, termasuk Siti Hafsah itu sendiri, sepertinya dia hanya menyampaikan karena tingkat kepolosannya itu, hingga tanpa Sadar semua malah berdampak ke masalah yang besar akibat Hafsah yang tidak bisa menjaga lisannya, wanita itu pun hanya diam dan diam tanpa menjawab barang satu kata pun, karena memang seperti itulah seharusnya seorang istri ya, tidak seperti saat ini, suami melontarkan satu ayat? Istri membalas dengan satu juz," kembali tertawa para jamaah di hadapannya.


"Dalam diamnya, turunlah kembali malaikat Jibril menyampaikan pesan dari Allah SWT masih dalam surah At Talaq tadi yang meminta Rosul untuk kembali rujuk dengan Siti Hafsah, kenapa Allah SWT meminta Nabi untuk merujuk situ Hafsah? Karena diamnya siti Hafsah itu tadi. sangat luar biasanya diam ya? Jadi untuk para istri Sebisa mungkin jika punya masalah dengan suami? Atau mungkin suami tengah menegur? sebaik-baiknya seorang istri itu adalah diam. Walaupun kita tidak salah sekali pun ya, tapi tenang saja dalam diam kita tidak akan pernah rugi kok, malah akan mendatangkan hal baik setelahnya."


"setelah itu segeralah beliau dengan menunggangi untanya datang kembali ke rumah Umar, guna menjemput lagi Hafsah, nah di sini nih romantisnya, jadi Nabi itu menjemput di kala Hafsah masih sangat sedih ya, menangis di kamarnya, beliau lantas berjongkok, dan berucap kembali seperti ini 'Hafsah, aku ingin mengajak mu balikan.' nah...nah romantis tidak tuh? Buat para ustadz bisa tidak seperti itu pada istrinya? Gengsi sih kayanya ya, seperti saya? Apalagi jika istri sudah bertanduk." Semua tertawa...


"bagi Para ukhti yang sudah menikah? Suaminya begitu tidak tuh? Apalagi yang Suaminya ngajar juga di sini, pulang nanti minta Suaminya seperti itu ya? Saat naik onta besi (motor)" ustadz Rahmat Terkekeh.


"berjongkok kakinya di tekuk satu gitu, jadiin pijakan, tapi kasian sih buat yang istrinya gemuk apa lagi yang suaminya kurus." semuanya pun tergelak.


"bercanda ya." sambung ustadz Rahmat.


Di saat yang sama Faqih tersenyum tipis, ia menundukkan kepalanya, lalu menoleh ke belakang di bagian tirai hijau itu, dan kembali menghadap ke depan.

__ADS_1


Hingga selesainya ceramah ustadz Rahmat, para jamaah pria biasanya keluar lebih dulu barulah jamaah wanita, dan para ustadz pun sudah keluar semua, hanya tersisa Faqih yang masih bertahan duduk di atas karpet hijau, sembari menggulirkan layar ponselnya.


hingga para ustadzah sudah keluar seluruhnya. Faqih pun menoleh ke belakang, terlihat dari siluet seorang wanita yang tengah menata barang-barangnya disana.


ia memastikan jika wanita itu adalah Nuha. Hingga sang gadis mulai beranjak dan berjalan cepat keluar sembari memakai tas ranselnya. Lalu duduk di lantai anak tangga tempat nya meletakkan sepatu.


tangan Nuha mulai berkutat mengenakan satu persatu kaos kakinya, lalu sepatu.


Baru satu yang terpasang sempurna, ia pun hendak meraih satu sepatunya yang lain. hingga sebuah kaki menendangnya pelan, lalu berjalan sembari meraih alas kakinya. Nuha pun mendongakkan kepalanya.


'A' Faqih?' batin Nuha, ia tidak ingin bersuudzon jika Faqih tengah sengaja menendang sepatunya itu. Ia pun berjalan jongkok guna meraih sepasang sepatu yang terpental tadi, tidak jauh dari tempatnya duduk. Hingga saat tangan itu hendak sampai kembali, untuk yang medua kalinya, kaki Faqih menendang pelan sepatu Nuha lagi. sontak saja gadis itu pun beranjak.


"Aa' sengaja ya?" Seru Nuha, ini kali pertamanya dia berani membuka suara, biasanya dia hanya diam saja, karena dia tidak pernah ingin berbicara dengan sang Hafizh tiga puluh juz itu.


Faqih Menoleh pelan, dengan kedua tangan di sakunya, "enggak." Jawabnya singkat. Lalu kembali menghadap depan. "Kutu." Gumamnya sembari melanjutkan langkahnya.


jelas saja mendengar itu Nuha menjadi kesal, ia lantas mengangkat kepalan tangannya sebatas telinga, seperti seseorang yang hendak memukul akibat rasa geram tadi,karena di sebut kutu olehnya. Saat itu pula Faqih menoleh kebelakang, sehingga membuat Nuha menggaruk kepala dan memalingkan wajahnya.


"Kutu memang suka sekali main belakang ya?"


"A...apa?"

__ADS_1


"Bukan apa-apa."


"ck!" Nuha mengecak, sembari berjalan mendekati sepatunya namun lagi-lagi di tendang pelan oleh Faqih yang langsung melenggang pergi, sembari terkekeh diam-diam. Meninggalkan Nuha yang sudah dengan geramnya menggigit ujung hijabnya itu.


__ADS_2