
Irsyad menghela nafas. Ia pun meraih piring kosong yang tertelungkup di dekat Rahma lalu mengisinya dengan nasi.
"Mas, Rahma belum lapar."
"Tidak, mas ingin Rahma tetap makan."
"Tapi Rahma sudah cukup kenyang mas." ucap Rahma.
"Kenyang makan apa? Dek Rahma harus makan yang banyak kan Nuha dan Rumi masih menyusu pada Ummanya." Irsyad meraih sayur dan lauknya. Lalu duduk sembari menarik kursinya mendekat ke hadapan Rahma.
"Ayo buka mulutnya."
"Ihhh mas ini, Rahma kan bilang kalau Rahma ingin mengurangi berat badan Rahma."
"Buat apa di kurangi sayang. Sudah jangan macam-macam. Ayo cepat buka mulutnya."
"Memang mas tidak sadar ya, badan Rahma sudah segemuk ini?"
"Ya Allah... Memangnya berapa sih berat badan dek Rahma sekarang?" tanya Irsyad. Rahma pun hanya diam saja.
"Kok diam, mas tanya loh ini?"
"Tidak perlu bertanya mas, mas mau mengejek Rahma ya?"
"Bukan mengejek sayang, soalnya mas tidak melihat diri Rahma itu gemuk."
"Ini gemuk mas. Berat badan Rahma sudah masuk lima puluh lima kilogram."
"Ya Allah, itu masih ideal untuk Rahma. Tinggi mu berapa?"
"Seratus lima puluh sembilan senti."
"Tuh kan masih ideal Rahma, jangan macam-macam lah. Ayo makan."
"Tidak mas. Itu termaksud gemuk, berat badan Rahma sewaktu Rahma belum hamil cuma empat puluh empat kilo gram mas."
Irsyad menghela nafas. "Pantas dulu ceking sekali kamu ya. Mas suka tubuh mu yang sekarang lebih berisi Rahma."
"Kok ceking sih, langsing mas."
"Langsing apanya sih Rahma. Sudah sekarang makan saja untuk apa sih diet-dietan? Nyari penyakit saja dek Rahma ini."
"Mas tidak tau rasanya jadi Rahma, seorang wanita rumahan, yang kusam, gendut, tidak menarik lagi pastinya. Sedang kan Di luar sana banyak jamaah wanita langsing yang terlihat menarik, belum lagi para dosen wanita. Dan para mahasiswi mas itu."
"Ade ini bicara apa sih? Istri mas ini wanita paling cantik diantara wanita lain di luar sana. Paling sempurna juga untuk mas."
"Sempurna apanya, bohong banget itu pasti."
Irsyad terkekeh. "Sudah jangan banyak bicara yang Tidak-tidak. Di makan nasinya."
"Ck, nanti saja lah mas nanti juga Rahma makan sudah sana."
"Makan Rahma." titah Irsyad. Sedangkan Rahma hanya diam saja.
"Dek Rahma tidak mau menurut ini?"
"Ck, satu suapan ya."
"Sampai habis."
"Tidak mau mas."
"Rahma—"
"Isshhh memaksa sekali sih mas ini."
"Memaksa apa sih, kan demi kesehatan kamu juga. Cepat ayo buka mulutnya sayang. Mas gigit juga nih nanti ya saking geregetan nya."
__ADS_1
Rahma terkekeh ia pun membuka mulutnya.
"Sudah berdoa belum?" tanya Irsyad sebelum memasukan sesendok nasi itu ke dalam mulut Rahma.
"Sudah." Rahma mendekat namun Irsyad menariknya.
"Apa doanya?"
"Issshh doa makan lah, pakai tanya." Rahma kembali mendekati sendok itu namun di tariknya lagi.
"Sudah mengucap syukur?"
"Astaghfirullahalazim, kan sekalian sudah sama doa makan tadi mas." Irsyad mendekatkan sesendok nasi itu lagi. Dan Rahma pun membuka mulutnya namun lagi-lagi di tarik Irsyad yang kembali menjauhkan sesendok nasi itu sembari terkekeh.
Rahma pun membulatkan bola matanya. "Mas niat tidak sih nyuapin Rahma?"
"Katanya mau diet?"
"Ya sudah lah tidak usah makan sekalian." Rahma bersungut-sungut
"Haha, iya sayang, maaf mas kan hanya bercanda. Ayo sini Aaaa."
"Tidak mau, nafsunya sudah hilang."
"Dia adain lagi dong, apa perlu di pancing?"
"Pancing apa?"
"Kan katanya nafsunya sudah hilang jadi harus di pancing lagi kan biar naik lagi."
"Itu?" Rahma belum konek, sedangkan Irsyad hanya tertawa jenaka melihat ekspresi istrinya.
"Mas ini ihhhh itu nafsu yang lain, ini nafsu makan tau."
"Hahaha iya sayang iya... Ini maunya bagaimana makan sendiri saja atau mas suapin nih?" tanya Irsyad.
"Di makan loh sayang. Jangan sampai enggak."
"Iya mas iya, bawelnya tidak hilang-hilang mas ini." tutur Rahma. Irsyad pun geleng-geleng kepala. Ia mengusap kepala Rahma lalu beranjak meraih Nuha dan Rumi menggendongnya secara bersamaan lalu membawa mereka keruang tengah di depan televisi.
***
Malam berselang... Si kembar sudah anteng tidur di ranjang mereka. Rahma berjalan keluar kamarnya dan menutup pintu kamar itu turun kebawah menghampiri Irsyad yang tengah merampungkan pekerjaannya di ruang tengah.
"Mas, belum selesai ya?" tanya Rahma sembari duduk di sebelah Irsyad.
"Sedikit lagi dek. Kenapa rindu di sentuh ya?" Irsyad menggoda.
"Mas ini." Irsyad pun terkekeh.
Ketik... Ketik... Ketik... "Alhamdulillah." Gumamnya sembari menyimpan datanya, dan menutup laptopnya.
Irsyad membuka kaca matanya lalu menyamping menghadap ke arah Rahma. "Kenapa sayang. Belum mengantuk kah?" Tanya Irsyad sembari mengecup kening Rahma.
"Belum mas." Rahma tertunduk.
"Kenapa sih ibunya anak-anak ini sedari tadi besengut bawaannya."
"Mas, sebenarnya Rahma masih cantik tidak sih?" tanya Rahma tiba-tiba.
"Cantik sayang... Masih cantik Kok istri mas ini, sangat cantik malah." puji Irsyad.
"Bohong ya, soalnya mas sekarang sudah tidak seperti dulu, selalu memuji Rahma, menyanjung Rahma. Jadi Rahma merasa saja kalau mas Irsyad sudah tidak sayang sama Rahma lagi."
Irsyad menggaruk keningnya menggunakan jari telunjuk. "Dek Rahma sedang tidak menstruasi kan?"
"Kenapa tanya itu?"
__ADS_1
"Habis sensi sekali hari ini kelihatannya."
"Maaf, habis Rahma akhir-akhir ini sedang tidak percaya diri saja. Terlebih tadi saat Rahma menimbang badan Rahma."
Irsyad membelai rambut Rahma dengan penuh kasih sayang. "Rahma itu masih cantik, wangi. Dan lagi?" Irsyad memeluk tubuh Rahma, juga memberi kecupan di bahunya.
"Rahma masih sangat menarik untuk mas. Kalau tidak? Mana mungkin dalam seminggu, lebih dari dua kali mas menggauli mu sayang." Irsyad mengecup bagian lekuk leher Rahma, sehingga membuat Rahma menggeliat geli sembari tersenyum.
"Mas Rahma boleh bertanya?"
"Tanya apa?"
"Selama ini Rahma belum pernah mendengar sesuatu tentang kisah masa lalu mas?"
"Yang mana? Bukannya mas selalu menceritakan tentang masa lalu mas ya?"
"Tidak semua tuh."
"Memang yang mana yang belum?" tanya Irsyad.
Rahma terdiam sejenak. "Mantan mas Irsyad mungkin." Tanyanya dengan sangat hati-hati.
Irsyad menarik pipi Rahma. "Kamu ini bisa-bisanya tanya mantan, memang kamu pikir mas dulu pacaran apa? Melihat hijab berkibar di jemuran saja sudah berdebar jantung ini."
"Hehe maaf, maksudnya bukan mantan pacar. Mungkin kah dulu pernah ada yang mas cinta?" tanya Rahma.
"Kenapa tanya itu sih? Mas hanya cinta pada satu wanita dan itu saja setelah ijab qobul yaitu dek Rahma."
"Masa sih, gini loh mas. Masa iya sih mas bisa sepasif itu. Tidak pernah ada hasrat mengagumi seorang wanita kah dulu?" tanya Rahma.
Irsyad terdiam, Tiba-tiba ia ingat akan gadis berhijab panjang yang selalu ia lihat di dalam masjid kampus kala beliau akan melakukan solat Dhuha.
"Mas?" panggil Rahma.
Irsyad tersenyum. "Mengagumi seorang wanita tentu pernah sayang." jawab Irsyad.
"Oh ya? Siapa? Siapa wanita itu? Cantik tidak?" tanya Rahma.
Irsyad terkekeh. "Cantik." jawabannya.
"Pasti soleha ya."
"Seorang Hafiz Qur'an yang hafal dua puluh juz." jawab Irsyad. Rahma menciut. Ngeri sekali wanita yang di sukai suaminya dulu. Jelas saja sih seorang Irsyad tidak mungkin sembarangan mengagumi seorang wanita.
"Mas tidak menikahinya?"
"Kalau mas menikah dengan nya sekarang yang di hadapan mas sudah pasti bukan dek Rahma."
'Hehehe bodoh, iya juga ya.' batin Rahma.
"Maksudnya kenapa dulu tidak di nikahi?"
"Kenapa tanya itu sih. Mas tidak mau membahas masa lalu ahhh mending bobo saja yuk."
"Mas, Rahma penasaran."
"Ckckck. Wanita memang seperti ini ya? penasaran dengan romansa masa lalu pasangannya. Setelah tahu pasti cemburu tidak jelas setelahnya." Tutur Irsyad sembari menyentuh hidung Rahma dengan jari telunjuknya.
"Tidak kok tidak. Ayo cerita mas." Pinta Rahma.
Irsyad pun beranjak. "Tidak mau."
"Mas, sedikit saja, namanya deh kasih tau siapa."
"Namanya Fulan binti Fulan." Jawab Irsyad sembari melangkah menuju tangga.
"Iiih serius nanya ini. Mas." Rahma terus mengikuti langkah Irsyad yang masih bungkam tidak mau menceritakan tentang wanita yang pernah ia kagumi dulu.
__ADS_1
Bersambung...