Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
bab 24. Masnya Nuha (season 2)


__ADS_3

Sore harinya...


Dua anak itu baru saja pulang, mereka langsung saja berlari masuk mengunjungi Abinya di kamar. Menunjuk kan mainan baru yang di belinya tadi bersama kakek dan nenek mereka.


Terlihat Irsyad turut asik membantu dua anak itu membuka pembungkus mainan mereka di atas ranjang.


Bapak dan ibu Akmal pun masuk ke dalam kamar Irsyad.


"Assalamu'alaikum." Sapa pak Akmal.


"Walaikumsalam warahmatullah pak, Bu." jawab Irsyad sembari tersenyum ramah. Beliau lantas mengecup punggung tangan ayah mertua dan menjabat tangan ibu mertuanya.


"Bagaimana keadaan mu nak?"


"Alhamdulillah pak, sudah lebih baik sih. Namun ya kaki masih lemas di bawa naik turun tangga."


"Iya jangan dulu lah. Di kamar dulu saja, istirahat total."


"Iya pak." tersenyum. "Maaf ya pak, Bu. Pasti kesusahan sekali mengurus si kembar."


"Ya nggak lah nak, ibu sama bapak itu malah senang Nuha dan Rumi ada di Priok. Kalo bisa malah suruh nginep sekalian." Ucap Bu Ratih.


"Iya nak. Pokoknya selama kamu masih menjalani perawatan di rumah, anak-anak di rumah bapak sama ibu dulu. Supaya Rahma fokus juga merawat mu."


"MashaAllah, terimakasih banyak ya pak, Bu." Tersentuh. Pak Akmal pun mengusap-usap punggung menantunya.


Tak lama Rahma pun masuk. "Mas, di luar ada tamu." Ucap Rahma.


"Siapa dek?"


"Ustadz Rahmat dan anaknya si Faqih."


"MashaAllah, mas mau turun dek." Ucap Irsyad.


"Sini biar bapak bantu papah tubuh mu."


"Terimakasih banyak pak, dan maaf Irsyad merepotkan."


"Siapa yang merepotkan siapa? Kamu itu anak bapak jadi santai saja jangan canggung ya." Ucap pak Akmal, Irsyad kembali tersenyum.


Dengan di bantu pak Akmal, Irsyad berjalan dengan sangat hati-hati menuruni satu persatu anak tangga tersebut, menuju lantai bawah tempatnya ruang tamu.


"Assalamualaikum." Ucap Irsyad pada seorang sahabat yang tengah duduk bersebelahan dengan seorang anak laki-laki yang masih berusia dua belas tahun tersebut."


"Walaikumsalam warahmatullah. Ustadz," ustadz Rahmat beranjak dan Langsung menghampiri Irsyad juga memeluknya.


Mengusap-usap punggung Irsyad. "MashaAllah... MashaAllah... Alhamdulillah, saya bersyukur sekali. ustadz bisa kembali ke rumah." Tutur ustadz Rahmat.


"Alhamdulillah ustadz. Ya Allah tersanjung sekali rasanya saya. Ustadz Rahmat berkenaan datang. Silahkan duduk ustadz." Mempersilahkan.

__ADS_1


"Terimakasih banyak ustadz." Ustadz Rahmat turut membantu Irsyad.


"Jadi seperti kakek tua, saya?" Terkekeh.


"Tidak apa-apa ustadz, pertanda antum banyak yang mencintai. Bukan begitu pak?" Tanya ustadz Rahmat pada pak Akmal.


"Iya ustadz, sangat benar." Terkekeh. Irsyad pun hanya geleng-geleng kepala sembari mengucap syukur.


"Nak, bapak masuk dulu ya."


"Iya pak, terimakasih banyak ya pak." Ucap Irsyad. Pak Akmal lantas mengangguk sembari mengusap punggung Irsyad sejenak lalu melenggang masuk.


Tak lama Rahma yang sudah menggunakan hijab dan cadarnya keluar membawakan minuman dan camilannya untuk tamu mereka. "Silahkan di minum ustadz. Dan?" Tanya Rahma pandangannya tertuju pada seorang anak laki-laki yang hanya duduk dengan sopan di sebelah ustadz Rahmat.


"Faqih, ukhti." Jawab ustadz Rahmat.


"MashaAllah, tampannya. Ayo di minum nak Faqih." Rahma menawarkan pada anak laki-laki itu. Anak itu pun hanya mengangguk saja sembari tersenyum tipis.


"Anak saya memang pemalu sekali ukhti, sangat jarang bicara juga." Tuturnya sembari tersenyum.


"Oh begitu ya." Membalas tersenyum.


"Seperti antum ustadz... Antum juga jarang bicara." Ucap Irsyad terkekeh begitu pula ustadz Rahmat.


Rahma pun berpamitan sembari membawa nampan kosong itu masuk.


"Senang sekali loh saya, ustadz Rahmat berkunjung sore-sore begini. Apa lagi sama Faqih."


"Wah... Walaupun begitu saya tetap berterima kasih ini." Terkekeh. Ustadz Rahmat pun berpindah posisi duduknya di sebelah Irsyad menanyakan semua perasaan saat ini, termaksud kondisinya, sedangkan Faqih fokus membaca buku yang baru saja dia beli bersama Abinya.


Hingga tak lama Nuha keluar, ia pun menoleh ke arah seorang kakak laki-laki yang tengah duduk di sana.


Anak itu penasaran dengan apa yang tengah di baca Kakak tersebut, lalu berlari kecil mendekatinya.


"Kakak baca apa?" Tanya Nuha pada Faqih. Sedangkan Faqih hanya melirik sekilas lalu kembali fokus membaca bukunya.


"Dede liat dong." Ucapnya sudah naik keatas sofa. Melihat buku yang di baca Faqih adalah buku hadits bergambar membuatnya tertarik. Nuha pun menunjuk-nunjuk. "Dede suka gambarnya."


Faqih menggeser posisi duduk nya merasa risih dengan anak balita di sebelahnya. Balita yang banyak bicara, dan suka menggangu itu.


"Kakak? Kakak hafal surah Yusuf tidak? Dede hafal loh." Pamer karena melihat tulisan Arab di buku itu. Faqih hanya diam saja.


"Kakak tidak bisa ya? Kalah dong sama Dede." Nuha Membuka lembar selanjutnya. Sedangkan Faqih masih berusaha menahannya karena dia belum selesai membaca di halaman tersebut.


"Liat, ini bagus ada gambar sapi nya." Masih berusaha membukanya namun Faqih tetap menahan bukunya.


Di sana Nuha terus saja mengoceh pada anak laki-laki dingin dan cuek di sebelahnya.


Sementara itu Ustadz Irsyad dan ustadz Rahmat menoleh ke arah mereka. "Anak ustadz aktif sekali ya?" Ustadz Rahmat Terkekeh.

__ADS_1


"Untuk Nuha ini memang banyak bicara Tadz. Kalo Rumi lebih ke jahilnya."


"Iya Tadz tapi seru sepertinya punya anak banyak bicara." Ustadz Rahmat Terkekeh.


"Seru sih, tapi kadang lelah juga meladeninya berbicara. Lihat, sepertinya Faqih mulai risih di ganggu sama Nuha. Tapi lucunya ekspresinya masih datar." Tertawa. Ustadz Rahmat pun hanya geleng-geleng.


"Dek Nuha—" panggil Abi Irsyad. Gadis kecil itu pun menoleh. "Jangan gangguin kak Faqih ya."


"Dede cuma lihat bukunya kakak, kita lihat sama-sama, Dede nggak ganggu ya kak? Iya kan kak?" Tanya Nuha, sementara Faqih hanya melirik sedikit lalu kembali fokus pada bukunya tanpa membalas ucapan anak kecil nan cerewet di sampingnya.


Irsyad geleng-geleng kepala.


"Abi, Dede beliin buku kaya punya kakak ini ya, Abi!" Pinta sang anak.


"Iya sayang, nanti sama Umma ya."


"Horeeee. Tuh kan Nuha juga mau di belikan buku yang sama persis kaya punya kakak." Ucap Nuha. Dan lagi Faqih hanya melirik saja tanpa menjawab. Anak itu semakin menyadarkan tubuhnya ke bagian lengan Faqih. Karena saat ini Nuha tengah berdiri di atas sofa, fokus melihat buku milik Faqih. Dan Faqih pun terlihat memiringkan tubuhnya menghindari Nuha agar tidak turut membaca bukunya.


***


Sudah hampir satu jam Ustadz Rahmat dan Faqih pun pulang. Di perjalanan, ustadz Rahmat menoleh ke arah Faqih yang terlihat bersungut.


"Kenapa nak?" Tanya Ustadz Rahmat, mengusap kepala Faqih.


"Faqih tidak mau lagi main ke rumah pak Ustadz Irsyad."


"Kenapa?" Tanya Abinya.


"Anaknya nyebelin." Jawabnya.


Ustadz Rahmat Terkekeh "Loh, Nuha kan masih kecil nak, jangan gitu ya."


Faqih hanya menghela nafas. 'Anak itu rese, cerewet,' batin Faqih.


Mobil pun terus berjalan menuju rumah mereka di daerah Asemka.


Epilog...


Di rumah Irsyad...


"Abi... Abi... Kakak itu jadi Masnya Nuha ya nanti."


"Apa?" Terkekeh.


"Iya kaya Umma punya mas." Ucap Nuha polos.


"Mas?" Irsyad mengerutkan keningnya lalu melirik ke arah Rahma.


"Ini Abi, masnya Umma."

__ADS_1


"Ya Allah Gusti, anak ini ya?" Ucap Rahma terkejut mendengar ucapan polos putrinya.


"Hahaha" Irsyad tertawa lepas lalu mengecup pipi putrinya merasa gemas.


__ADS_2