Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
kehangatan keluarga (extra part 6)


__ADS_3

Setelah keributan siang hari mereka berempat sholat berjamaah di sebuah ruangan solat. Yang berdekatan dengan dapur dan ruang makan.


Sebenarnya Nuha menginginkan solat di sebelah Abinya namun karena Nuha anak perempuan jadi harus satu SAF dengan Ummanya.


Kali ini giliran Rumi lah yang merasa menang ia menjulurkan lidahnya ke arah Nuha. Yang langsung melipat tangannya di depan dada merasa jengkel.


Kedua anak mereka memang selalu sukses mengundang kegaduhan di rumah mereka. Entah suara teriakan, tawa, tangis. Langkah lari mereka. Belum lagi mainan mereka yang seolah membuat Rahma jengah akibat tidak cukup satu, dua kali membereskannya.


Baru saja box mainan Nuha di kemas, satu box milik Rumi sudah di gulingkan oleh sang pemiliknya. Yaaa itu adalah sebagain contoh penyebab berkoar nya Rahma.


Sudah jelas kan? seorang wanita pasti akan melakukan hal seperti itu, apalagi memiliki dua anak super aktif seperti Nuha dan Rumi.


Dan jika itu terjadi saat Irsyad ada di rumah lalu mendengar Rahma berteriak.


Irsyad akan mendekati Rahma mengusap lembut kepalanya sembari bersenandung mengucap Istighfar pada Rahma.


Barulah Rahma akan menghela nafas dan mengucapkan istighfar juga.


Walaupun ia masih sedikit merasa dongkol ya, namun dari pada menerima ceramah panjang, lebih baik mengikuti istighfarnya, dan setelah itu dia akan mendapatkan senyuman manis dari sang suami. Lalu ujung-ujungnya berkata? "Istri ku yang pintar."


---------


Mereka pun menjalani ibadah sholat. Baru di rakaat kedua Rumi dan Nuha sudah saling iseng. Rumi memeluk tubuh abinya dari belakang,


dan tidak mau kalah Nuha pun berlari kecil memeluk abinya juga. Sehingga membuat Irsyad memelankan gerakan ruku nya.


Jangan di tanya berkali-kali di tegur Rahma agar tidak mengganggu abinya saat tengah sholat, namun dua anak itu memang akan mengiyakan di awal setelah lupa akan kembali pada kenakalannya.


Tidak puas dengan Irsyad. Rumi pun berlari masuk kedalam mukenah Rahma berebutan dengan Nuha. Terkadang hal itu membuat Rahma ingin tertawa. Sekuat tenaga Rahma menahan tawa itu akibat merasa gemas yang teramat kepada kedua nya.


***


Selesai solat Ashar, kedua anak itu sudah duduk manis di depan abinya. Menyetor apalan surah pendek mereka.


Setiap hari, semenjak Kedua anak mereka berusia tiga tahun dua bulan Irsyad selalu mewajibkan Rumi dan Nuha untuk menghapal surah-surah pendek. Selepas solat Ashar.


Karena waktu kumpul mereka untuk menjalani solat berjamaah adalah waktu Ashar dimana beliau tidak menjadi imam di masjid komplek mereka.


Dan bukan Rumi dan Nuha namanya jika mereka tidak bertengkar, meminta dulu-duluan kala membaca surah tersebut.


"Abi, dede duluan ya, dede sudah apal surah Al-Lahab"


"Kakak dulu Bi, kakak ya Bi?"

__ADS_1


"Enggak kakak, kemarin sudah duluan, sekarang gantian dede."


"Kakak! Dede nanti setelah kakak. Kakak ya Bi." Rumi meraih tangan abinya menggoyang-goyangkan.


Tak mau kalah Nuha pun melakukan hal yang sama. "Abi, Nuha Bi, kemarin kakak. Masa sekarang kakak lagi."


Irsyad terkekeh. "Ya Allah anak-anak abi ini ya. Sampai berebut seperti ini? Hehehe mashaAllah." Di berikanlah kecupan di kepala keduanya merasa bangga sekaligus gemas.


"Begini saja Abi pilih saja, pakai koin. Bagaimana? Nanti kalau koin ini menunjukan angka maka dede dulu kalau menunjukkan burung garuda kakak ya." Irsyad menyarankan. Dan kedua anak cerdas itu mengangguk bersama.


"Baca dulu bismillah sama-sama yuk... Satu... Dua... Tigaaa..."


"Bismillahirrahmanirrahim....!!" Seru ketiganya bersama-sama, setelahnya Irsyad melempar keatas koin itu dengan tidak terlalu tinggi. Koin itu pun mendarat di tangan Irsyad tepat setelah Irsyad menangkapnya.


"Siapa ya?" Irsyad membuka tangannya.


"Wah angka, berarti dede dulu ini."


"Horeeeeee!!!" Teriak Nuha, sembari menjulurkan lidah setelahnya. Sedangkan Rumi melipat tangannya sebal.


Di sana Irsyad pun geleng-geleng kepala sembari terkekeh


"Yuk baca, Abi mau dengar."


"Bismillahirrahmaanirrahiim


Maa aghnaa ‘anhumaa luhu wa maa kasab


Sayashlaa naaran dzaata lahab


waamra-atuhu hammaalatatal hatahab


Fii jiidihaa hablun min masad"


Nuha membaca dengan baik dan benar membuat Irsyad tersenyum merasa bangga pada putri kecilnya. Ia lantas memberi hadiah kecupan di kedua pipi Nuha.


"MashaAllah, Putri Soleha Abi pintar nya. Sekarang giliran kakak. Surah apa kemarin yang Abi minta hapalkan?"


"Al-Humazah, Bi." Jawab Rumi lantang.


"Al-Humazah, pinter sekarang baca."


"Bismillahirrahmaanirrahiim

__ADS_1


Wailul likulli humazatil lumazat


Al-ladzii jama’a maa law wa’addadah


Yahsabu anna maa lahuu akhladah


Kallaa layunbadzanna fiil huthamat


Wamaa adraaka maal huthamat


Naarullahil muuqadat


Allatii tath-thali’u ‘alal af-idat


Innahaa ‘alaihim mu`shadat


Fii ‘amadim mumad-dadat"


"MashaAllah, putra soleh ku." Irsyad mengecup kedua pipi Rumi.


Beliau pun bergumam, sembari memegangi kepala Rumi dan Nuha. "Allohummarhamna bil Quran, Waj’alhulana imaamawwanurowwahudaw waahmah, Allahumma dzakkirna min huma nasiina, wa’allimna, min humaa jaahilna, warzuqna tilaawattahu, aana al layli athraf annahar, waj’alhulana hujjatan, yaa rabbal’alamin."


"Ya Allah, rahmatilah kami dengan Al-Quran, jadikanlah Al-Quran bagi kami sebagai panutan, cahaya, petunjuk, dan rahmat. Ya Allah ingatkanlah kami andaikan terlupa dari ayat-ayat Al-Quran, ajarkan kami dari padanya yang kami belum tahu, karuniakanlah kami untuk bisa membaca Al-Quran di tengah malam dan siang hari, jadikanlah Al-Quran bagi kami sebagai pedoman wahai Tuhan semesta alam." Ekor mata Irsyad mulai menggenang. Beliau lantas meniup bagian ubun-ubun kepala Rumi dan Nuha. Senyumnya tersungging pada keduanya yang turut tersungging.


Hidung Irsyad pun mengendus aroma masakan yang lezat. "Wah... Umma masak apa ya?" ucap Irsyad.


"Masak ikan goreng." Seru Rumi.


"Ayam, pasti ayam goreng." Seru Nuha tak mau kalah.


"Hehe sudah...sudah, umma pasti goreng ikan dan juga ayam, sekarang yuk bereskan mukena dan sarungnya ya." titah Irsyad. Keduanya mengangguk. Dengan di bantu abinya. Mereka melipat peralatan sholat mereka. Setelah selesai keduanya berjalan keluar dengan di tuntun sang ayah di kanan dan kirinya, menghampiri Rahma yang tengah memasak.


"Umma? Umma masak ayam untuk dede kan?"


Rahma menoleh.


"Tidak ya umma? Umma masak ikan kan?"


Rahma tersenyum jahil "Tidak tuh, umma masak tahu dan tempe."


"Yaaaaahhh." Ucap Keduanya secara bersama merasa kecewa.


Irsyad dan Rahma pun tertawa.

__ADS_1


"Hei, sudah jadwalnya kartun favorit loh. Kita nonton kartun, jangan ganggu umma masak." Irsyad mengajak keduanya menuju ruang televisi.


Dan dengan semangat pula keduanya mengikuti langkah abinya.


__ADS_2