Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
jalan jalan


__ADS_3

Setelah menjemput Aida terlebih dulu mereka pun mengambil start menempuh perjalanan Jakarta-Bogor.


Terlihat raut wajah Aida yang lebih bersinar dari pada biasanya. Posisi duduk Aida di bangku tengah sendirian, tadinya Rahma ingin menemani Aida di bangku tengah, cuman Aida menginginkan Rahma tetap di depan menemani Irsyad.


Di sela-sela perjalanan ia melamun menatap kearah jendela dengan senyum sesekali tersungging.


Ya semenjak pertama kali dirinya mengobrol dengan pria bernama Ulum itu, seolah membuka gerbang percakapan mereka semakin lebar.


Setiap hari, Ulum selalu menyempatkan waktu untuk mengobrol dengan Aida walau hanya tiga puluh menit. Sifat Humble Ulum lah yang membuat Aida nyaman mengobrol dengannya. Dengan diselingi humor, Ulum mampu membuat Aida tersenyum, dan kini semangat hidupnya mulai kembali naik walau dengan kondisinya yang seperti sekarang Aida bisa kembali tersenyum seperti sedia kala.


***


Perjalanan yang menempuh Waktu kurang lebih dua jam itu pun berakhir, mobil Irsyad terparkir di sebuah area parkir. Rahma membuka pintu tengah sedangkan Irsyad membuka pintu belakang meraih kursi rodanya. Dan dengan di bantu Rahma Aida pun sudah berpindah duduk di atas kursi Rodanya.


"Terimakasih mbak Rahma." ucap Aida.


"Sama-sama." ucap Rahma sembari meraih pegangan kursi roda itu berniat untuk mendorongnya.


"Biar Mas saja dek yang mendorong ya." ucap Irsyad, ia hanya tidak ingin melihat Rahma kelelahan.


"Eh, ummm iya mas." ucap Rahma, dengan perlahan tangan itu melepaskannya. Dan beralih ke tangan Irsyad yang mulai meraih dan mendorong kursi roda itu pelan, Rahma terdiam sejenak mengamati Irsyad yang tengah berjalan itu, sesaat Irsyad menoleh.


"Kok diam sayang, ayo." ajak Irsyad sembari tersenyum.


"Iya mas." Rahma pun mengikuti langkah Irsyad.


Di sebuah taman yang cantik, dan terdapat sebuah danau yang indah pula mereka memutuskan untuk istirahat di sana, Irsyad menggelar matras yang di sewanya tadi. Di atas rumput hijau.


"Mas, sepertinya airnya tertinggal di mobil," ucap Rahma.


"Ya sudah beli saja sayang, kalau ke mobil lagi kan kejauhan. Mas beli dulu ya." ucap Irsyad yang akan beranjak.


"Biar Rahma saja mas." tuturnya.


"Yakin Rahma ingin membelinya sendiri? Bar Mas saja ya."


"Sudah tidak apa mas biar Rahma saja." ucapnya, Rahma pun beranjak.


Kini hanya ada Aida dan Irsyad yang tengah menatap ke arah danau buatan itu.


"Mas," panggil Aida.


"Iya?"


"Aida boleh bertanya?"


"Silahkan dek, mau bertanya apa?"

__ADS_1


"Masalah yang waktu itu." ucap Aida, Irsyad pun terdiam.


"Maaf mas, bukan Aida mau mengungkit lagi. Cuman, hati Aida masih merasa tidak enak akibat yang waktu itu." Tuturnya, Irsyad pun tersenyum tipis, pandangannya masih mengarah kearah danau.


"Mas pun sama. Bagaimanapun juga, secara tidak langsung mas sudah berucap janji pada mu. Namun mas harus mengingkarinya, mengingat kalau mas itu benar-benar menganggap mu tak lebih dari sekedar adik." ucap Irsyad. Aida pun menoleh.


"Ade pasti mengira mas itu pendusta dan sebagainya kan? Cuman mau bagaimana pun, mas sangat mencintai Rahma. Dan mas tidak yakin bisa memberikan keadilan untuk mu, jika mas benar-benar menikahi mu." tutur Irsyad yang lantas menghela nafas. Aida pun tertunduk.


"Maaf ya mas, Aida sempat egois, sehingga secara tidak langsung, Aida telah menjadi duri di pernikahan mas Irsyad dan mbak Rahma."


"Sudah Aida, semua sudah berakhir. Mas tidak mempermasalahkan itu lagi kok. Yang penting mas hanya berharap Aida tetap ikhlas dengan kondisi mu yang sekarang, mas percaya kok kau pasti akan menemukan pria yang sangat baik dan menerima mu dengan kondisi seperti ini." ucap Irsyad. Aida pun tersenyum.


"Mudah-mudahan saja mas. Soalnya, Aida sudah mulai merasakan angin segar." ucapnya.


"Angin segar, maksudnya?" tanya Irsyad.


Aida pun menggeleng pelan sembari tersenyum.


"Ada sesuatu sepertinya ini?" tanya Irsyad sembari tersenyum.


"Sedikit mas." jawab Aida.


"Apa itu?"


"Tidak apa mas. Sudah lupakan saja." ucap Aida dengan wajah yang memerah itu. Melihat itu Irsyad pun sedikit lega karena sepertinya Aida sudah mulai terlihat ceria lagi.


Tak lama Rahma pun kembali dengan tiga botol air mineral di dalam kantong kreseknya.


Setelah puas berkeliling mereka pun pulang, dengan mengantar Aida terlebih dulu ke kontrakannya.


Di sana pula Irsyad terkejut saat mendapati Ulum ada di depan kontrak Aida.


Sedangkan Aida tersenyum senang saat melihat Ulum sudah ada di sana.


"Assalamu'alaikum Ustadz." sapa Ulum yang langsung meraih tangan Irsyad dan menjabatnya.


"Walaikumsalam warohmatuloh." jawab Irsyad. "Kau di sini?" tanya Irsyad.


"Iya ustadz saya mengantarkan orderan untuk mbak Aida." ucapnya.


"Ordera? apa mas ini, Ojol atas nama Fathul? tapi saya belum mengorder apapun." tutur Rahma.


Ulum pun garuk-garuk kepala. "Itu, tadi ada customer yang mengcancel orderan saya mbak, jadi saya bawa kesini saja, buat di makan bersama Mbak Aida." ucap Ulum malu-malu.


Irsyad paham. "Jadi ini angin segarnya?" Ledek Irsyad, Aida pun tersipu. Irsyad menghampiri Ulum dan merangkulnya lalu membawanya menjauh sedikit.


"Tau kan? Pria dan wanita di larang berduaan kalo bukan muhrimnya?" ucap Irsyad.

__ADS_1


"Maaf tadz, saya kalo makan di luar tidak di dalam kok, begitu pula jika mengobrol." ucap Ulum sedikit tegang.


"Dia, ade saya itu." ucap Irsyad, Ulum menelan ludah.


"Demi Allah saya tidak macem-macem Ustadz, sungguh." Ulum gelagapan.


"Sudah berapa lama sering ngobrol?" selidik Irsyad.


"Ba... Baru beberapa minggu belakangan kok Ustadz, dan itu juga sebentar."


"Suka ngobrolnya?"


"Suka Ustadz,"


"sama Aidanya?"


"Suk....?" Ulum menghentikan kata-katanya.


Irsyad tersenyum. "Kok tidak di lanjutkan?"


"Tidak Ustadz, maaf." Ulum semakin tertunduk.


"Mau saya nikahin kalian sekarang." ucap Irsyad, Ulum pun membulatkan bola matanya.


"Ni... Nikah? Sa... Saya kan masih kuliah Ustadz."


"Benar juga ya, kalau begitu, biar Aida saya nikahin sama pria yang sudah siap saja ya."


"Saya siap kok Ustadz." Potong Ulum.


"Nah... Suka berati kan?" tebak Irsyad sembari terkekeh-kekeh.


"I... Iya Ustadz, habis Aida mengingatkan saya dengan Almarhum ibu saya yang tidak bisa berjalan. Awalnya saya iba, tapi karena sering mengobrol saya jadi suka dengannya. Cuman kalau harus menikah sepertinya belum berani, saya kan belum ada pekerjaan."


"Lah ini jaket yang kamu kenakan? Apa namanya kalau bukan pekerjaan?"


"Saya ojek online Ustadz, penghasilannya belum menentu."


"Tapi kamu punya penghasilan bukan berarti tidak punya kan?"


"Iya sih, tapi?"


"Sebentar ya." Potong Irsyad. Ia pun mendekati Aida dan Rahma.


"Kalian masuk dulu sebentar ya, mas mau ajak Fathul Qhulum ini mengobrol dulu." ucap Irsyad.


"Iya mas," jawab Rahma yang langsung mendorong kursi rodanya masuk.

__ADS_1


Irsyad kembali menoleh ke arah Ulum. "Ikut saya yuk sebentar saja." ajak Irsyad.


"I... Iya Ustadz." ucap Ulum, ia pun mengikuti langkah Ustadz Irsyad keluar gang tersebut, pergi ke suatu tempatnya.


__ADS_2