Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
bab 18. pelangi harapan. (season 2)


__ADS_3

Di dalam...


Kedua pasien di ruang operasi sudah siap, beberapa dokter pun berdoa sejenak untuk menyukseskan operasi besar ini. Di mana tubuh Irsyad dulu lah yang akan di bedah.


Sementara itu. Pihak keluarga pasien gagal jantung sudah menanti di luar menunggu proses berjalannya operasi. Dan di sudut yang berbeda. Rahma telah menanti dengan tegar karena ia sudah bisa mengikhlaskan suaminya, hanya tinggal menunggu jenazah di keluarkan dari ruang operasi tersebut.


Paaaatttsss lampu operasi padam. Rahma menoleh pelan. 'tunggu, kenapa cepat sekali?' batin Rahma karena belum ada satu jam dari kedua pasien masuk namun sepertinya Operasi sudah di hentikan.


Hingga tak lama, pintu operasi terbuka. Dimana dua orang petugas sudah membawa seorang jenazah di sana. Rahma beranjak lalu mendekati tubuh seorang pria yang sudah di tutupi seluruhnya.


'kok aneh? Sepertinya ini bukan raga mas Irsyad.' batin Rahma. Dia lantas menyibak kain penutup di wajahnya.


Degg mata Rahma membulat. "Dia bukan mas Irsyad." Gumamnya. Seorang ibu pasien gagal jantung itu pun berlari menghampirinya.


"Tidak! Tidak mungkin!" Menggeleng cepat sembari menangis. "Kenapa bisa Danuβ€”" pria remaja pengidap gagal jantung itu meninggal dunia.


Rahma pun menoleh cepat lalu menghampiri staf dokter yang turut keluar. Bersamaan dengan ibu dari pasien remaja bernama Danu itu.


"Dokter apa yang terjadi? Kenapa anak saya meninggal dok?" Isak wanita paru baya tersebut.


"Saya mohon maaf sekali Bu, pasien meninggal dunia beberapa detik sebelum pasien Irsyad di bedah." Ucapnya.


Rahma pun tercengang.


"Kenapa bisa dok? Kenapa bisa? Kalian pasti salah, tolong cek lagi Dokter, cek lagi anak saya itu belum mati!!" Seru ibu tersebut, sang suami pun berusaha menenangkannya. Meminta maaf pada para dokter dan staf medis di sana lalu membawanya menjauh.


Sementara itu Rahma yang masih mematung mulai membuka suara.


"Lalu bagaimana suami saya dok." tanya Rahma ragu.


"Saudara Irsyad Fadilah, sempat merespon dengan gerakan jarinya Bu. Itu tandanya ada keajaiban di sana,"


"Maksud dokter, suami saya tidak mengalami fase kematian otak?" Rahma berbinar. Ada kelegaan di hatinya.


"Itu?"


"Dokter! pasien Irsyad membuka matanyaβ€”" seru seorang perawat di dalam. Beberapa petugas medis itu kembali bergegas masuk. Pintu ruang operasi pun kembali di tutup.


"A...apa? Aku tidak salah dengar kan tadi?" Ia menoleh kearah ibunya dan Adiba. Keduanya tersenyum haru, mereka lantas saling memeluk merasa lega dengan kabar baik ini.


Hingga tak lama tubuh Irsyad di keluarkan dari ruang operasi itu. Rahma menatap wajah yang masih tertutup masker oksigen. Tengah berusaha tersenyum.


"Ya Allah suami ku." Rahma mendekati Irsyad yang masih sangat lemah itu. Tangannya seperti hendak terangkat namun tidak bisa. Rahma pun mendekatkan wajahnya lalu berbisik di telinga suaminya.


"Ini Rahma mas, mas jangan dulu bicara atau melakukan apapun ya?" Ucap Rahma. Jari Irsyad menyentuh cadar Rahma. Mungkin ia ingin bertanya 'istri ku, kau bercadar?'


Terlihat dari mata yang menyipit, Rahma tengah tersenyum.


"Mohon maaf Bu, pasien harus segera kembali di bawa ke ruang perawatan. Karena masih dalam masa kritisnya."


"Iya suster." Rahma meraih tangan Irsyad memasukkannya kedalam cadar tersebut lalu mengecup tangannya. Irsyad mengerjapkan matanya sejenak sehingga setetes air keluar dari sudut matanya. Merasa terharu.


Irsyad pun kembali di bawa oleh para petugas medis itu. "Selamat ya Bu, ini sangat mustahil terjadi sebenarnya. Namun sepertinya semangat hidup pasien sangat lah kuat." Ucap sang dokter. Rahma pun menelungkup kan kedua tangannya di depan dada.


"Terimakasih, terimakasih banyak dokter. Terimakasih." Menangis haru.


"Sama-sama Bu, itu juga berkat doa kalian para keluarga pasien Irsyad." Tersenyum.


Dokter pun berpamitan lalu melenggang pergi.


Rahma menoleh ke arah Adiba. "Mbak." Gumamnya masih sembari menangis haru. Semua yang di sana seperti tersihir untuk saling memeluk, karena merasakan kelegaan akibat ustadz yang sudah kembali terbangun dari tidur panjangnya.


***


Sudah sepuluh hari berselang. Kini Irsyad sudah merasa lebih baik bahkan beliau sudah di pindahkan ke bangsal pasien.


beliau juga sudah tidak memakai Masker oksigen lagi.


Dalam posisi berbaring ia masih mengamati Rahma yang tengah memotongi kuku kakinya, dengan sangat telaten.

__ADS_1


"Yuuuppp sudah selesai." Tersenyum senang. Irsyad pun tersenyum tipis.


Sejenak Rahma membersihkan dulu tangannya lalu kembali berdiri di sebelah Irsyad membenahi selimutnya.


"Sini sayang." Ucap Irsyad. Menepuk-nepuk pelan ke samping kanannya.


"Mau apa?" Tanya Rahma,


"Sini deketan." Titah sang suami.


"Kan ini sudah dekat."


"Duduk sini dek."


Rahma pun tersenyum. Lalu duduk di sebelah Irsyad terbaring.


Beliau memasukan tangannya ke dalam cadar Rahma, mengusap-usap bibir sang istri menggunakan ibu jarinya dengan lembut.


"Kenapa melihat Rahma seperti itu? Rahma cantik ya bercadar?" Tanya Rahma.


"Iya kamu cantik sayang, jadi seperti ninja Konoha." Terkekeh.


"Ngeledek kan?"


"Hehehe... Haduh."


"Kenapa mas?"


"Kayaknya mas kelilipan ini."


"Kelilipan? Mana sini Rahma tiup."


"Buka dulu cadarnya dong, mau niupnya gimana coba."


Rahma pun membuka cadarnya, sementara Irsyad mulai tersenyum.


"Cepat dek ini perih loh."


"Belum kena dek bawahan dikit."


"Bawah?"


"Cepet ini perih loh sayang."


"Iya tapi masa kelilipan bawahnya Yang di tiup."


"Sini ini loh dek Rahma, bawahnya lagi."


"Ma?" Irsyad menarik kepala Rahma hingga menjatuhkan kecupan di bibirnya. Rahma pun terkejut dan reflek bangun.


"Alhamdulillah kena." Terkekeh.


"Ya Allah sempat-sempatnya ya ngerjain Rahma. Pakai sok kelilipan segala bilang aja minta di cium." Runtuk Rahma, sedangkan Irsyad masih terkekeh.


"Enak de, lagi dong lagi..."


"Enak saja, tadi aja di curi itu."


"Emang tidak rindu di cium mas apa?"


"Rindu mas. Sangat rindu." Tersenyum.


"Sini peluk mas." Irsyad merentangkan satu tangannya.


"Hiks." Menjatuhkan kepalanya di dada sang suami.


"Kok nangis sih."


"Aku itu hampir kehilangan mu mas. Maka dari itu Rahma sangat bahagia karena mas Irsyad bisa membalas pelukan Rahma ini."

__ADS_1


Irsyad tersenyum. Ia lantas menarik hidung Rahma. "Berlebihan."


Rahma pun hanya diam saja.


"Tumben tidak marah mas tarik hidungnya."


"Nggak akan marah lah, tarik aja terus biar kaya Pinokio sekalipun Rahma ikhlas, yang penting yang narik hidung Rahma mas Irsyad." Terkekeh.


Irsyad mempererat pelukannya. "MashaAllah manjanya istri ku."


"Jelas dong kalo nggak manja nanti nggak di sayang lagi."


"Ya Kareem, Khumaira..


Khumaira."


"Kyaaaaaa, rindu dipanggil itu. Panggil lagi... Panggil lagi..."


"Apa?"


"Yang tadi."


"ohhh... Induk beruang... Induk beruang." Jawab Irsyad, Rahma menarik senyumnya.


"Kok induk beruang sih?"


"Beruang kan gemesin dek?"


"Apanya yang gemesin? mas bilangnya induk beruang loh tadi. Binatang buas kan namanya."


"Tuh...tuh kan? Mulai ngamuk kaya induk beruang.hahaha"


"Apa?"


"Apa sih? Iya nggak....sayang ku." Ucap Irsyad. "Induk beruang" sambungnya dengan suara berbisik.


"Kan? Pukul nih ya?"


"Pukul pakai bibir? Mau sini...sini.." menepuk-nepuk pipinya.


"Benci aku sama kamu mas."


"Loh.... Loh... Loh... Kok benci sih?"


"Mas nyebelin tapi bikin Rahma bucin."


"Hahaha, masa iya?"


"Nggak."


"In?"


"Apa?" Sudah membulatkan matanya.


"Inikah rasanya cinta dek. Ya Allah zu'udzon terus nih..."


"Maaaaaasss iiiih." Merengek manja. Irsyad pun tertawa lirih. Lalu menarik pelan tangan Rahma guna kembali memeluknya dengan penuh kerinduan dan kasih sayang.


Cinta yang begitu indah di berikan ustadz Irsyad, membuat Rahma semakin merasa bersyukur atas kesempatan keduanya karena masih bisa bersama sang suami hingga detik ini.


Pria yang membuatnya jengkel, tertawa, bahagia, semua lengkap di berikan oleh sang suami.


Bersambung...


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


catatan..... maaf ya, aku sudah jahat, niatnya mau ku up besok tapi Hayati sudah tak sanggup lagi melihat kalian menangis gara-gara saya.πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


ya Allah, ustadz Irsyad sebegitu di cintanya dirimu. setelah ini aku janji sudah tidak akan ada konflik berat lagi kok. ini sudah puncak πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


sedikit cerita...


jadi inget saat mendiang ustadz Jefri al-buchori meninggal dunia dulu, begitu merasa nggak ikhlas nya saya, sampai nangis berhari-hari, bahkan kaya nggak tega sama ummi pipik dan anak2nya. huhuhuhu.


__ADS_2