
Malam berselang....
dimana Irsyad baru saja pulang dari masjid. Ia melihat Rahma tengah berjalan menuju tangga.
"Assalamu'alaikum dek, Rumi dan Nuha sudah tidur?" tanya Irsyad. Sesaat setelah memberi kecupan di kening Rahma.
"Walaikumsalam, Iya mas. Dan Rahma bahkan baru selesai solat isya ini, Rahma ingin mengecek si kembar dulu sebelum menyiapkan makan malam." jawabnya. Mata Irsyad tertuju pada tasbih yang di pegang Rahma.
"Dek, mas boleh minta tasbih itu kembali tidak?" tanya Irsyad.
"Buat apa? Katanya ini tidak di pakai lagi. Rahma hanya suka manik-maniknya sangat manis. Mas beli dimana sih?" tanya Rahma.
Irsyad terdiam sejenak, "Mas membelinya di toko. Namun saat beli tidak seperti itu wujudnya."
Rahma mengerutkan keningnya. "Lalu seperti apa?"
"Hanya biji kayu seperti ini semua." Irsyad menyentuh bagian biji tasbih yang asli.
"Lalu kenapa ini jadi ada manik-manik cantik seperti ini. Seperti milik wanita saja." Rahma terkekeh.
"Memang iya dek." jawab Irsyad. Rahma pun menarik senyumnya.
"Memang iya? Maksudnya?"
"Sini mas pinjam dulu tasbih itu." pinta Irsyad. Perlahan Rahma menyerahkan tasbih di tangannya kepada sang suami. Setelahnya Irsyad pun berjalan meraih gunting yang berada di dalam sebuah laci.
"Ikut mas keruang tengah yuk." ajak Irsyad. Rahma Tidak mengerti apa yang suaminya akan lakukan, ia hanya mengikuti arahan suaminya saja. Dan berjalan di belakangnya kemudian duduk di sofa bersebelahan dengan Irsyad.
"Mas ingin menghapusnya. Semua hal tentang wanita itu dalam benak mas Irsyad. Karena bagi mas. Rahma wanita yang paling mas cintai setelah ibu kandung mas Irsyad."
Taaaaakkk Irsyad menggunting tali tasbih itu hingga terputus di atas kantong keresek yang sudah di siapkan nya.
Rahma membeku, dari semua kata-kata Irsyad dan tasbih yang di potong nya itu, membuat Rahma menyadari, bahwa itu adalah tasbih spesial dari seorang wanita yang mungkin pernah ada di hati mas Irsyad.
Irsyad menoleh kearah Rahma. "Mas Irsyad tidak tau, ingin bercerita dari mana. Yang jelas karena tasbih ini. Semuanya pikiran tentangnya di masa lalu kembali berputar di otak mas. Karena? Tasbih ini pernah menjadi awal pertemuan mas dengannya dulu."
"Dan dengan penyesalan terdalam, pikiran haram itu sampai terbawa mimpi. Yang mas tidak bisa jelaskan mimpi seperti apa yang mas alami." sambung Irsyad.
Rahma masih termenung. Ia tidak tau lagi ingin bicara apa. 'Jadi semua hal yang selama ini membuatnya aneh itu, karena perasaannya yang sedang melayang keluar rumah ini, bahkan sampai terbawa mimpi. dan aku malah menggunakan tasbih yang pernah menjadi saksi bisu sebuah cinta yang tak sampai?' batin Rahma. Sudut matanya mulai menganak.
"Rahma kenapa diam saja?" Tanya Irsyad.
__ADS_1
"Apa spesial sekali kah tasbih itu?"
Irsyad menghela nafas. "Tidak." jawabnya.
"Jawab saja dengan jujur, mas bilang dulu saat mas beli tasbih itu semua bijinya sama kan? Kenapa bisa berubah?"
"Isti yang merubahnya. Karena sempat rusak, dan beliau yang memperbaikinya. Namun mas tidak menganggap itu spesial sayang sungguh. Mungkin dulu iya, namun setelah beliau menikah tidak." jawab Irsyad dengan hati-hati.
Rahma tersenyum miris. "Rahma kok membayangkan ya, yang ada dalam mimpi mas itu. Adalah gadis itu yang menjadi istri mas. Benar tidak?" Suara Rahma parau.
Degg degg Irsyad membisu.
"Benar? Benar begitu kah? Dan apa mas?"
Rahma menguatkan hati. "Bermimpi sedang bersenggama dengannya?"
Irsyad tertunduk. Menandakan apa yang di tebak Rahma benar.
"Astaghfirullahalazim mas Irsyad?" Rahma bergumam, air matanya sudah menetes deras. "ku anggap diamnya mas ini, sebagai cara mas Irsyad mengiyakan tebakan ku!" Rahma meremas baju di bagian dadanya.
Irsyad mengangkat tangannya hendak memeluk Rahma namun kedua tangan Rahma sudah terangkat di depan dadanya. Meminta Irsyad untuk tidak menyentuhnya.
Rahma terkekeh menertawakan dirinya sendiri "aku bahkan menyentuh benda kesayangan mu dari hasil karya wanita itu, Yang masih mas simpan hingga detik ini? Dan aku menyukai itu. Benda spesial dari cita masa lalu suami ku sendiri haha" Rahma terkekeh sesak.
Rahma mendesah, "Sebegitu di cintai nya kah beliau oleh mu dulu mas? Sampai terbawa mimpi?" tanya Rahma menatap lurus ke depan dengan nanar. Irsyad tercengang lalu menggeleng cepat.
"Tidak sayang. Sungguh tidak seperti itu."
dengan senyum yang ia paksakan tersungging di bibirnya. Rahma menatap dalam-dalam mengarah ke mata Irsyad. "Boleh Rahma berbicara?" Tanya Rahma.
Irsyad mengusap air mata Rahma. "Boleh sayang."
Rahma menghela nafas. "Aku mencintaimu mas Irsyad. Aku sangat...sangat...mencintai mu."
"Mas tau itu sayang. Karena mas juga sangat mencintaimu. Dan mas?"
"Sssssssttt jangan bicara apapun Mas, biar Rahma yang berbicara!" Irsyad terdiam.
"Mas tau? Rahma memang bukan wanita sehebat Khadijah, Rahma juga tidak secerdas Aisyah, Rahma bukan hafizah yang hapal beberapa juz, dan bahkan ibadah Rahma pun masih sangat jauh bandingannya di bawah mas Irsyad, dan lagi Rahma tidak bisa bertutur kata lembut dan halus. Namun bolehkan Rahma menuntut sesuatu dari mu?"
"Ini yang terakhir kalinya Rahma berkata pada mu mas Irsyad. Tolong dengar dan camkan baik-baik"
__ADS_1
"Rahma ingin menuntut, Ikrar cinta mas Irsyad hanya untuk Rahma?"
Mata Irsyad sudah merah nanar. Ia tidak bisa berkata apapun lagi.
"Tolong jangan duakan Rahma, tolong mas, Rahma mohon pada mu. Tolong jaga hati mu hanya untuk ku, jika aku tidak lagi menarik di mata mu setidaknya demi kedua anak kita. Ku mohon mas Irsyad." Rahma kembali terisak bahkan ia menurunkan posisi duduknya bersimpuh di kaki Irsyad meraih tangan Irsyad dan mengecupnya.
Irsyad terbelalak. "Dek, apa yang ade lakukan?"
"Walaupun Rahma harus mengemis pada mu mas? Rahma akan lakukan itu. Asal mas tetap menjadikan Rahma satu-satunya istri mu." tuturnya sembari terisak. "Rahma sangat mencintai suami Rahma ini. Sungguh mas."
"Dek bangun, jangan seperti ini." Irsyad meraih bahu Rahma. Ia pula menurunkan posisi duduknya ke lantai, lalu memeluk tubuh Rahma.
"Aku tidak mau cinta mas terbagi. Mas Irsyad milik Rahma. Hanya untuk Rahma. Hiks."
"Dek mas Irsyad tidak pernah punya niatan untuk menduakan mu sayang sungguh."
Rahma menggeleng. "Selama ini Rahma merasa, Rahma bukan istri yang baik. Rahma sadar mas. Rahma benar-benar tidak pantas menjadi istri seorang Ustadz.
Dan memang gadis itu lah yang lebih pantas bersanding dengan mau. Maka dari itu Rahma takut?" Rahma menghela nafas sejenak, "Posisi Rahma akan di gantikan olehnya." Sambungnya
"Astaghfirullahalazim, Sayang. Tidak seperti itu, maafkan mas Irsyad sayang. Tolong maafkan mas."
"Hiks, Rahma tidak pernah bertutur kata halus, itu benar. Sangat benar mas. Rahma bukan wanita soleha." Rahma terus saja bergumam merendahkan dirinya sembari terisak.
Sedangkan Irsyad yang sudah tidak tahan lagi dengan semua tangisan dan ucapan Rahma. Membuatnya turut menangis sesenggukan. Lalu meraih wajah Rahma.
"Dengar sayang. Dengarkan mas Irsyad. Rahma itu lebih dari segala-galanya. Rahma wanita soleha yang sangat mas cintai, bahkan mas sangat beruntung bisa menikahi mu. Tidak ada Isti atau wanita manapun sayang. Hanya Rahma. Rahma Qurrata Aini yang ada di hati mas.
Demi Allah Sayang. ikrar cinta mas hanya terucap untuk mu. Kau istri mas satu-satunya untuk seumur hidup mas."
Mendengar semua perkataan Irsyad Rahma hanya bisa terdiam tanpa berucap apapun. Ia meraih tangan suaminya. Melepaskannya. Lalu tersenyum.
"### Suami ku. Mas Irsyad." Rahma memeluknya. Irsyad membalas pelukan Rahma. Dan larut dalam tangis mereka.
'Setiap Insan yang bernyawa memiliki syahwat atas lawan jenisnya.
Sekuat apapun iman ku, aku tetap bisa terjatuh pada jurang dosa itu.
Aku tetap bisa tergoda dengan cinta yang tak seharusnya ku resapi terlalu dalam.
Namun seperti halnya manusia yang beriman. Aku hanya bisa menahannya , Dan Aku bisa apa?? jika godaan masih terus menghujani ku.
__ADS_1
Aku tak membenarkan semua yang ku lakukan, namun aku pun tak bisa menghakimi setiap insan yang beriman namun masih tetap berbuat dosa.'
- ustadz Irsyad Fadilah -