
Di esok hari nya....
Ketika mentari sudah semakin meninggi, dan suara adzan Dzuhur sudah mulai berkumandang dari toa-toa masjid.
Terdengar saling bersautan memanggil para hamba Allah untuk segera beranjak dari kegiatannya, dan melangkah guna bersujud kepada sang Rabbnya.
Di sana Irsyad yang sudah bersiap tengah berjalan melewati kamar Rumi yang sedikit terbuka dan menghentikan langkahnya sejenak. Demi mengamati anak laki-lakinya yang masih asik dengan pekerjaannya itu.
terlihat Rumi itu tengah sibuk menyelesaikan tugas kuliah, dengan laptop dan alat tulis tercecer di atas ranjangnya. sebelum esok pagi selepas subuh beliau harus kembali ke Bandung.
Tok tok... Dua ketukan pintu membuat Rumi menoleh, "iya Bi?"
"Sudah waktunya ke masjid," jawab Irsyad. Rumi pun mengangguk, dan segera di bereskan semua alat-alat tulis tersebut dan juga laptopnya. Mendapati sang anak menurutinya, Irsyad pun tersenyum tipis.
"Abi jalan dulu ya." Ucap Irsyad.
"Iya Bi." Jawab Rumi masih berkutat pada alat tulis tersebut, hingga sebuah dering ponsel membuatnya menoleh dan menghentikan kegiatannya itu.
Ia melihat sebuah nama dari seorang dosen yang ia kenal.
Sehingga membuatnya segera menerima panggilan telfon tersebut, dan berfikir jika panggilan itu mungkin akan sebentar saja. Hingga beliau mulai larut akan obrolannya dengan sang dosen di sebrang, karena mereka tengah membahas perihal acara kampus yang melibatkan Rumi selaku seorang ketua panitia tersebut.
Hingga menit demi menit terlewati, Rumi sampai lupa jika dia harus segera ke masjid. "Iya pak, terimakasih, Assalamualaikum warahmatullah." Ucap Rumi menutup panggilan ponselnya.
Ia pun meletakkan kembali telfon genggamnya di atas meja lalu menata lagi laptopnya. Deg sesaat matanya membulat, ia sudah melewati waktu solat berjamaah.
Bahkan dia belum bebersih diri saat ini.
"ya Allah, bagaimana ini?" Rumi kalang kabut, dengan cepat ia melompat turun dari ranjangnya, lalu menyambar handuk yang tergantung di dekat pintu kamar mandi dan segeralah dia masuk ke dalam kamar mandinya itu untuk bebersih.
Setelah selesai ia berlari menuruni anak tangga dengan Koko dan sarung yang ia pakai, juga sajadah yang tergantung di bahunya, di saat yang bersamaan, di dapatilah Irsyad sudah kembali dari masjid, mengucap salam di pintu utama yang terbuka itu, sehingga langkah Rumi terhenti langsung, dan mematung di sana.
"Wa... walaikumsalam warahmatullah." Nampak pias wajah Rumi saat mendapati sang Abi yang sudah menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
"Kau tidak ke masjid?" Tanya Irsyad, berjalan mendekati Rumi.
"Maaf Bi, dosen Rumi tadi telfon, Rumi jadi menerima panggilan telepon itu dulu sebentar, dan Rumi lupa waktu Bi, karena ada bahasan yang penting." Tertunduk.
"Seberapa penting antara panggilan seorang manusia dengan Tuhan mu?" Tanya Irsyad.
"Maaf Bi," semakin tertunduk lah kepala Rumi, karena ia merasakan dirinya yang bersalah.
"Sudah Wudhu?" Tanya Irsyad dingin.
"Su...sudah."
"Sholat dulu sana. Lalu temui Abi lagi di ruang tengah."
Gleeeekk. "Iya Bi." Jawab Rumi pelan, lalu berjalan menuju ruangan solat.
Sementara Irsyad masih menatap pria jangkung yang sudah melewatinya, berucap istighfar berkali-kali lalu melangkahkan kaki menuju ruang tengah sembari menunggu Rumi di sana.
Rumi yang sudah menyelesaikan sholat dan zikirnya itu, kini sudah berjalan pelan menghampiri sang ayah, ia tahu? Bahwa dirinya, pasti akan mendapatkan hukuman dari Abi Irsyad, dan beliau pun sudah siap.
'aku pasti akan mendapatkan hukuman Rotan.' batin Rumi semakin pias.
"Apa tujuan mu hidup di dunia Rumi?" Tanya Abi Irsyad dingin tanpa melihat ke arah putranya.
"Menjalani kewajiban sebagai hamba Allah SWT, dengan cara menyembah dan menjauhi larangannya."
"Lalu semua pekerjaan yang ada di dunia ini?"
"Hanya sebagai pekerjaan guna mengisi waktu luang sebelum sampai pada jam solat berikutnya." Jawab Rumi dengan tertunduk. Irsyad pun beranjak sembari meraih rotan yang tergeletak di atas meja itu.
"Lalu kenapa kau lebih memprioritaskan panggilan telepon dosen mu dari pada panggilan Tuhan mu?" Tanya Irsyad, sementara Rumi hanya terdiam, ia tidak bisa menjawabnya.
"Angkat sarung mu." Titah Irsyad yang sudah berdiri di belakang Rumi.
__ADS_1
Tangan Rumi sudah meremas kain sarung yang ia pakai lalu mengangkatnya pelan.
"Ucapkan istighfar setiap kali sabetan ini mengenai betis mu." Titah Abi Irsyad yang sudah mengangkat rotan itu tinggi-tinggi.
Sementara Rumi hanya memejamkan matanya, bersiap mendapat hukuman dari Abinya.
Irsyad pun meluncurkan sabetan pertamanya, hingga menempel pada betis Rumi.
"Astagfirullah al'azim." Rumi meringis, merasakan sakit akibat sabetan rotan tersebut. Kedua tangannya sudah meremas semakin kencang sarung yang ia kenakan.
Hingga tiba saatnya di sabetan ke dua Rumi kembali beristighfar.
Di Saat bersamaan, Rahma dan Nuha baru saja pulang dari minimarket. Mata keduanya sedikit terbelalak kala melihat Rumi tengah di beri hukuman sabetan rotan oleh Abinya.
"Untuk yang terakhir, Abi harap kau tak melalaikan lagi kewajiban mu, Rumi."
"I...iya Abi." Mata Rumi sudah basah menahan sakit dari sabetan rotan tersebut.
Hingga sabetan yang terakhir pun terluncurkan, Rumi sudah tidak bisa berdiri tegap lagi. tubuhnya bahkan tercondong ke depan dengan kedua tangan menopang ke sandaran kursi, merasakan sakit teramat di betisnya itu, seraya bibir yang masih bergumam mengucap istighfar berkali-kali, dan kepala yang tertunduk, Rumi benar-benar menangis di sana.
"Ya Allah kak Rumi." Nuha menatapnya dengan iba, kala sang kakak tengah mendapatkan hukuman itu.
"Belajarlah untuk melakukan ibadah dengan rasa cinta mu kepada Tuhan mu, bukan karena takut hukuman dari Abi. Paham kan?"
"I..iya Abi." Rumi sedikit terpincang dan Nuha pun langsung berlari menghampiri kakaknya membantu memapahnya Menaiki anak tangga.
Sementara itu Rahma yang menatap sedih hanya bisa diam saja, memang seperti itu lah seorang Irsyad. Ia semakin menggalakkan anak-anaknya semenjak mereka tumbuh dewasa.
"Istri ku." Irsyad mendekati Rahma yang langsung meraih tangan sang suami lalu mengecup punggung tangannya.
"Kenapa Rumi di pukul Bi? Kasian kan dia." Sedikit menitikkan air mata.
Irsyad tersenyum. "Abi tahu, tapi itu wajib Abi lakukan agar Rumi bisa mengatur waktunya, karena tadi dia menerima panggilan dari seseorang, sampai dia tidak menjalankan ibadah solatnya di masjid. Membiasakan anak untuk taat dan memberikan hukuman padanya di kala anak kita tengah lalai. Itu wajib sayang." Ucap Irsyad membelai lembut kepala Rahma.
__ADS_1
Sementara ibu dua anak itu hanya diam saja, ia masih tidak tega melihat hal tadi, walaupun Irsyad sangat jarang sekali marah pada anak-anaknya dan intensitasnya lebih banyak di dia, namun tetap saja sang suami jika sudah memberi hukuman terlebih-lebih pada Rumi itu terkadang tidak tanggung-tanggung ya seperti hal tadi contohnya.