
Beberapa hari berselang...
Irsyad baru saja mengajar di kelasnya, ia pun kembali ke ruangan kantornya.
"Assalamu'alaikum Ustadz," Sapa seorang pria di belakang Irsyad yang hendak masuk itu.
"Walaikumsalam warohmatuloh." jawab Irsyad sembari menoleh ke belakang.
"Maaf Ustadz, saya mendatangi Ustadz hanya ingin meminta Quiz susulan, soalnya beberapa hari yang lalu saya tidak masuk kelas Ustadz." tuturnya.
"Begitu ya? Siapa nama mu?"
"Fathul Qhulum Ustadz." jawabnya.
"Oh iya, mari masuk." ajak Irsyad pada Ulum yang langsung mengikuti langkah Irsyad, dan duduk di bangku yang berhadapan dengan Irsyad.
"Kenapa bisa, kamu tidak masuk kelas saya, tempo hari?" tanya Irsyad yang sedang mencari lembar kerjanya.
"Iya, waktu itu saya ada pekerjaan Ustadz mengantar orderan."
"Orderan? Maksudnya bagaimana ini?" tanya Irsyad sedikit menyunggingkan senyum.
"Iya Ustadz maaf, sebenarnya saya tidak hanya kuliah saja di sini tapi nyambi ngojek online juga, untuk menambah biaya kuliah saya, dan saya punya langganan orderan setiap hari, sehari tiga kali, tempatnya lumayan jauh jadi kemarin pas Ustadz memajukan jam kelasnya saya tidak keburu, alhasil saya jadi bolos," jawab Ulum.
"Begitu ya, ya sudah tidak apa-apa." Irsyad mengeluarkan lembar kerja itu dan menyerahkannya pada Ulum yang langsung menerimanya. "Waktunya tetap sama ya, tidak ada penambahan." lanjut Irsyad dengan senyumannya itu.
"Iya ustadz, terimakasih." jawab Ulum. Ia pun mengeluarkan bolpoinnya dan mulai mengerjakan soal quiz yang berada di hadapannya itu.
Dengan perasaan tenang Ulum mulai fokus pada lembar kerjanya. Ia bahkan mengerjakan setiap soalnya dengan santai tanpa rasa gugup sekali pun, karena baginya Ustadz Irsyad itu Dosen yang sangat ramah, dan sedikit friendly.
Hal itu tidak hanya di rasakan Ulum namun para mahasiswa lainya juga merasakan hal yang sama. Gaya bahasa Ustadz Irsyad kala mengajar benar-benar menggunakan bahasa yang bisa di bilang ringan, mengikuti gaya bahasa anak muda dan dengan sedikit humor, membuatnya di juluki sebagai Dosen rasa kawan oleh para mahasiswanya.
Setelah beberapa menit berjalan Ulum pun menyelesaikan garapan soalnya dan menyerahkan lembar kerja itu pada Irsyad.
"Sudah?" tanya Irsyad.
"Iya Ustadz."
"Semoga tidak balik lagi kesini karena remidial ya." ledek Irsyad.
__ADS_1
"Hehe, iya Ustadz mudah-mudahan tidak. Ya sudah saya permisi Ustadz, Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam warohmatuloh." Jawab Irsyad, ia pun mengecek hasil kerjaan Ulum sejenak.
"Pantas anak itu dapat beasiswa." Irsyad geleng-geleng kepala, ia pun meletakkan lembar kerja Ulum ke tumpukan lembar kerja yang lain
Setelahnya ia pun berkemas dan kembali pulang.
***
Di sore harinya Irsyad mengajak Rahma berjalan santai di dekat komplek, itu sebab Rahma ingin jajan bakso yang mangkal di depan komplek.
Dengan saling mengatupkan jarinya mereka berjalan bersama.
Dengan sedikit mengayun-ayunkan tangan. Irsyad pun bercerita tentang dirinya pada saat masih kuliah dan tinggal di sebuah kamar kos kecil.
"Dek, ade tau tidak mas itu dulu kalau berangkat ataupun pulang dari kampus sebelum kembali ke kontrakan mas pasti harus memutar gang yang lebih jauh," ucap Irsyad.
"Memang kenapa mas?" tanya Rahma,
"Itu karena di depan kontrak ada asrama perempuan dek, dan biasanya mas kalo mau dekat jalannya ya harus melewati asrama perempuan itu."
"Semua karena hijab mereka yang berkibar-kibar di jemuran dek." tuturnya.
"Memang kenapa dengan hijab yang berkibar-kibar itu."
"Mas itu suka gemetaran jika melihat hijab yang berkibar-kibar seperti itu."
"Pfffffttt....Ya ampun, masa iya cuma masalah hijab berkibar saja mas langsung puter gang sih?"
"Entahlah memang dari dulu seperti itu, rasanya seolah tengah melihat seorang wanita yang sedang melepas hijab di hadapan mas. Ya walaupun itu hanya sebatas hijab saja, tapi jujur saja bikin jantung berdebar kalau melihatnya."
Sejenak Rahma terkekeh sembari menutup mulutnya, "pantas saja mas gemetaran waktu memeluk Rahma untuk yang pertama kali." tutur Rahma.
"Bukan hanya itu, saat menatap mata dek Rahma untuk yang pertama kali mas saja sedikit takut, yah mau bagaimana lagi itu kali pertama mas membuka hati untuk seorang wanita, setelah sekian lama menahan syahwat, ade tidak tahu panas dinginnya mas kala itu, mas berusahalah sekali loh dek untuk romantis, ehhh di jutekin," tutur Irsyad.
"Tapi sekarang sudah tidak kan?"
"Sedikit dek,"
__ADS_1
"Sedikit apa?"
"Juteknya, apa lagi jika sedang bersungut-sungut, haduh bawaannya pengen mas pukul itu.." Mendengar itu Rahma menoleh cepat.
"Pakai cinta." lanjut Irsyad di telinga Rahma. Dan saat itu juga Rahma memukul bahu Irsyad yang tengah tertawa jenaka.
Di tengah-tengah tawa mereka Irsyad pun menghentikan langkahnya. Karena saat ini mereka tengah berhadapan dengan lima sekawanan angsa.
"Ya Allah,Gusti." gumam Irsyad lirih. Wajahnya berubah pucat pasi.
"Kenapa mas, kenapa berhenti?" tanya Rahma.
"Kita putar balik saja yuk, biar lebih lama lagi jalan-jalannya."
"Mas ini bagaimana sih, tadi bilang sudah lelah, rumah kita tinggal sedikit lagi sampai."
"Mas berubah pikiran dek, Tiba-tiba mas ingin beli bakso." tuturnya.
"Itu, kan kita sudah beli mas." ucap Rahma sembari menunjuk bungkusan berisi bakso yang ada ditangan Irsyad
"Eh Iya benar, emmm kalau begitu beli yang lainnya deh yuk, ayo Rahma kita putar balik ya."
"ini sudah cukup, mas ini kenapa Sih? ayo pulang, kita kan sudah hampir sampai." Rahma menatap bingung.
"Iya tapi ada geng maut itu." gumamnya Lirih bahkan sangat lirih. Dari situ Rahma mulai paham, ia pun terkekeh.
"Mas takut Angsa kah?" tanya Rahma.
"Bukan takut dek, cuman ngeri."
"Ngeri ataupun takut itu sama saja, sudah ayo jalan." ajak Rahma.
"Tunggu dulu dek, Mas itu kasian sama ade loh ini, bukan karena apa-apa.
Dan lagi kaki Dek Rahma itu pendek, kalau tiba-tiba sekawanan itu menurunkan kepalanya dan mendekati kita bagaimana, nanti mas bisa lari duluan di depan Dek Rahma." tutur Irsyad.
Mendengar itu Rahma tertawa ia pun geleng-geleng kepala.
"Sudah ayo putar balik dek, ingat kan perintah suami itu harus di taati loh, yuk jajan lagi saja mumpung mas lagi royal ini." Ajak Irsyad.
__ADS_1
"Orang lain Royal karena sayang istri istri mas, bukan karena takut di kejar angsa." tutur Rahma sembari terkekeh-kekeh. Ia pun akhirnya menuruti kemauan Irsyad untuk putar balik demi menghindari sekawanan geng putih bercocor kuning itu.