Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
Bab rindu 5


__ADS_3

Rahma bergegas menuju kamar mandi untuk melakukan ritual rutin sebelum tidur. Seperti: menyikat gigi, cuci muka dengan facial wash, kemudian terakhir berwudhu.


Merawat wajah setiap kali mau tidur adalah hal yang wajib di lakukan. Demi menghindari kekusaman pada wajahnya yang bulat.


Setelah semuanya selesai, ia kembali keluar. Dan di saat membuka pintu kamar mandi, ia sudah di sambut Irsyad yang berdiri di hadapannya, sambil tersenyum manis.


Rahma yang sedang pura-pura jengkel itu membuang muka dengan sinis.


"Duh Gusti, nek jutek kayanya perlu sesuatu ini." Irsyad mengikuti langkah Rahma yang berhenti di meja rias.


"Sana tidur! Ngapain ngikutin Rahma?" Mengusir dengan gerakan ekor matanya.


"Wong mau nonton kamu pakai air di botol-botol itu. Kali saja Mas harus pakai juga. Biar tambah ganteng..." guraunya sambil menaik-turunkan alisnya, menggoda Rahma.


"Apaan, sih...." Rahma menuang sedikit toner ke atas kapas.


Sebelum mengaplikasikannya ke wajah, ia melirik sedikit kearah suaminya yang masih betah berjongkok di sebelah kursi Rahma. Pria itu kembali tersenyum lebar yang membuat Rahma langsung membuang muka. Hampir saja ia tertawa melihat tingkah suaminya.


"Duh, bajunya." Irsyad menarik sedikit tali daster di bahu Rahma.


"Apa, sih?" Rahma tersipu melihat tatapan genit suaminya.


Pria itu menyadari Daster tanpa lengan yang di gunakan Rahma itu memang sering membuat suaminya salah fokus. Padahal ia sendiri nggak sengaja memakai itu, hanya karena agak sedikit gerah saja malam ini.


"Udah seminggu lebih, loh, Dek. Sepuluh hari malah, kalau di hitung-hitung." Irsyad menunjukkan kesepuluh jarinya, yang membuat Rahma menggigit bibirnya sendiri, tak bisa menahan tawa lebih lama lagi.


"Udah sana, tidur!" Pertahanan terakhir, Rahma kembali mengusir suaminya dengan manja. Walau dalam hatinya ia masih ingin di bujuk terus.


"Sek, to..., sukanya ngusir gini. Kalau Mas iyain kamu tambah nesu, ya, kan?"

__ADS_1


"Apaan? Nggak, lah!"


"Halah...." Irsyad menyadarkan keningnya di bagian paha Rahma, hingga ibu dua anak itu tersenyum. Tak lama Irsyad mengangkat kepalanya lagi. "Oh! Mas baru ingat, tadi pagi kamu keramas, kan?"


"Nggak tau, tuh!" Memalingkan wajahnya.


"Iyo, Mas tahu kamu sudah selesai. Di tambah pakai baju begini, apa namanya kalau bukan kode?"


"kode apaan. pede banget..."


"Eleeeeeh, Ndak usah pura-pura, Dek. Mas tahu kamu mau itu, kan?"


"Mau apa, sih?" Rahma tertawa.


"Gass, laaaah..." Irsyad menepuk tangannya satu kali dengan ekspresi girang.


"Idih!" Rahma semakin terpingkal, sambil mukul gemas lengan suaminya itu.


"Asupan apaan, Mas? Sana tidur, Rahma juga udah ngantuk," ujarnya, terus menepis manja tangan nakal suaminya yang sedang menarik-narik baju.


"Hayuk lah, langsung aja..., siapa tahu jadi adeknya si kembar."


"Ya ampun." Rahma tertawa sambil menutup mulutnya. Belum lagi saat Irsyad merengkuh pinggangnya. Meminta Rahma untuk bangun.


Tentunya, siapa yang bisa menolak keinginan suami? Begitu pula Rahma yang akhirnya mengikuti Irsyad untuk pindah duduk di atas ranjang.


Kapas yang terkena toner tadi kini tergeletak begitu saja di atas meja rias, bahkan sebelum menyentuh kulit wajah Rahma. Dunia penuh cinta dari Ustadz Irsyad membuat Rahma melupakan itu.


Sebuah bayangan yang tersorot lampu tidur memunculkan visual dua sejoli halal yang sedang bercinta di atas kasur busa. Sebuah saksi bisu penyatuan cinta yang tak pernah membuat Rahma menyesal telah di nikahi laki-laki seperti Irsyad Fadillah.

__ADS_1


🌸🌸🌸


Hari sudah berganti. Ustadz Irsyad tak berangkat pagi seperti kemarin. Ia bahkan sempat membantu Rahma, menyiapkan keperluan sekolah anak-anak mereka.


"Walaaaaaaah, anak-anak Abi. MashaAllah...," puji Irsyad setelah kedua anak mereka siap menggunakan seragamnya.


"Abi, Abi..., nanti jadi jalan-jalan, kan?"


"Jadi, Le. Malam tapi, ya. Nanti kita ke rumah Pak Ustadz Rahmat," jawabnya sambil mengusap wajah anaknya.


"Memang ada acara apa, sih, Mas?" Tanya Rahma. Tangannya berkutat pada tas ransel milik Nuha dan juga Rumi.


"Hanya silaturahmi biasa. Ustadz Rahmat mau Adain syukuran kecil-kecilan. Ngundang dua keluarga. Keluarga kita, dan keluarga Pak Huda."


"Rumah Pak Ustadz Rahmat itu, rumah Kakak yang nggak pernah senyum, ya, Abi?" tanya Nuha.


"Iya sayang, Kakak Faqih namanya," jawab Ustadz Irsyad. Nuha pun nyengir.


"Kenapa senyum sampai begitu?" Tanya Rahma gemas. Dengan tangan mencubit pelan pipi anak perempuannya.


"Nuha suka, karena buku-buku punya Kakak itu bagus-bagus," jawabnya polos.


"Yang penting, Dede harus ingat pesan Umma, ya. Di rumah orang harus tenang, nggak boleh menyentuh barang apapun," pintanya dengan lembut. Nuha pun mengangguk semangat.


Irsyad tersenyum tipis. Lalu beranjak...


"Abi berangkat dulu, ya. Dede, Kakak, sama Umma hati-hati di jalan." Di ciumnya satu-satu anak mereka, dan terakhir Umma di bagian kening. "Assalamualaikum–"


Walaikumsalam, Abi! Dadaaaaaaah...." Mereka melambaikan tangan pada Abinya yang sudah berjalan keluar kamar.

__ADS_1


Rahma pun kembali fokus memasangkan tas ke punggung anak-anaknya, sebelum sibuk memasang cadar untuk wajahnya dan pergi ke sekolah Nuha dan Rumi.


__ADS_2