Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
bab 26. teguran untuk Aida (season 2)


__ADS_3

Saat itu Ulum dan keluarga kecilnya berkunjung ke rumah Ustadz Irsyad, guna menengok keadaan Ustadz setelah beberapa hari menjalani rawat jalan.


Sedikit iba Irsyad melihat kondisi Aida yang kembali menggunakan kruk nya, berjalan tertatih-tatih seperti dulu.


Di ruang tamu yang cukup luas itu, Rahma duduk di sebelah Aida sementara Ulum di sebelah ustadz Irsyad.


"Aida, aku turut prihatin ya? Sejak kapan kaki mu bermasalah lagi?" Tanya Rahma.


"Sejak pulang dari rumah sakit waktu itu mbak, tapi nggak papa kok." Berusaha tersenyum walau sebenarnya hatinya merasakan pedih.


"Aida, tapi mas salut kamu masih bisa tegar, dan tidak merasa rendah diri seperti dulu." Irsyad tersenyum.


Ulum pun hanya diam saja, ia hanya berusaha untuk tidak mengatakan apapun. Ya tentang semua perubahan sikap Aida akhir-akhir ini.


"Sebenarnya, sempat mas. Bahkan, Aida sampai melukai hati mas Ulum." Ucap Aida. Ulum mengangkat kepalanya menoleh ke arah Aida.


"Memang melukai bagaimana?" Tanya Irsyad.


"Ya, Aida jadi merasa cemburuan sama mas Ulum, dan jadi sering marah-marah." Berbicara dengan lirih sembari menunduk.


Irsyad paham, ia pun menghela nafas sejenak. "Kalau begitu, minta maaf lah sama suami mu ini." Titah Irsyad sembari menyentuh bahu Ulum.


"Sudah kok mas. Tadi." Sambungan tadinya di ucapkan lebih lirih.


Irsyad tersenyum. "Ulum?" Panggilnya.


"Iya ustadz,"


"Menjadi seperti Aida mungkin sangatlah berat, dimana tingkat kepercayaan diri nya pasti akan turun. Apalagi dia wanita yang memiliki anak. Sudah pasti rasa sedih itu akan muncul. Yang ku ingin kan dari mu yaitu kesabaran mu Ulum, saya berharap sekali untuk saat ini, ya? Karena mungkin tingkat keikhlasan mu dengan kondisi Aida yang dulu itu akan berbeda,"


"Iya Ustadz, namun jika boleh jujur. Terkadang saya pun masih belum bisa bersabar dan mengontrol emosi saya. Hari ini saja saya membentak Aida. Hingga terdengar di telinga Safa." Ulum menunduk. "Ustadz tahu, kesabaran manusia itu ada batasnya?" Lanjut Ulum.

__ADS_1


Terlihat Irsyad melirik ke arah Aida yang mulai menitikkan air matanya. Ya secara tidak sengaja Irsyad seperti tengah membuka masalah mereka.


"Ini saya berbicara bukan untuk Ulum saja ya, tapi untuk mu juga Aida, istri ku Rahma, dan diri ku sendiri. Sabar itu tidak ada batasnya, yang membatasi justru manusia itu sendiri, dimana hawa nafsu lah yang membuat emosi kita jadi meluap. Rasulullah SAW bersabda 'ada empat sabar yakni sabar dalam menjalankan fardhu, sabar dalam menghadapi musibah, sabar menghadapi gangguan manusia dan sabar dalam kefakiran. Sabar menjalankan fardhu adalah taufik, ketika menghadapi musibah akan mendapatkan pahala, dalam menghadapi gangguan manusia adalah cinta dan sabar dalam kefakiran adalah ridlo Allah ta'ala'


Dan saat ini? Dirimu (Aida), ataupun saya sedang di uji kesabarannya saat mendapati musibah, dimana Allah SWT ingin melihat, ketika kita selama ini di beri kesehatan, yang mungkin jarak waktunya lebih lama dari saat kita sakit. Bisa tidak sih kita merasa tetap bersyukur atas apa yang kita rasakan selama ini?? Karena mungkin selama kita sehat, kita terus saja ada rasa iri pada Si Fulan dan Fulan yang lain. Lalu saat di berikan sakit? Kita jadi berfikir, 'oh iya? Dulu saya sehat, berarti Allah maha baik sudah memberikan saya nikmat sehat ya. Kok bisa dulu saya mengeluh karena ini, ataupun itu' dari situlah kita jadi lebih banyak beristighfar. Meminta ampun atas dosa kita yang tidak pernah bersyukur." Ucap Irsyad panjang lebar.


"untuk Ulum dan istri ku. Menghadapi orang sakit memang terkadang menjengkelkan, ada kalanya mereka terus merengek, mengeluh ini, mengeluh itu. Karena seperti yang mas bilang tadi, rasa percaya diri itu pasti akan turun, belum lagi jika terdapat luka atau sebuah maaf, cacat fisik. Pasti akan merasa lebih sensitif lagi.


Jadi mas mohon untuk kalian bukan berarti kita yang sakit bisa seenaknya, namun berusaha lah untuk lebih ikhlas lagi saat merawat kita yang tengah sakit. Karena dari keikhlasan itu maka kalian akan bisa lebih sabar lagi merawat kita yang sedang sakit ini." Ustadz Irsyad mengusap-usap punggung Ulum. "Paham tidak?"


"Iya ustadz paham." Jawab Ulum.


"Aida? Lihat suami mu ini." Titah Irsyad. Aida pun menatap ke arah suaminya.


"Dia pria yang sangat baik, penyayang keluarga, dan bertanggung jawab. Tidak kah kau melihat itu pada dirinya? Dan berusaha bersyukur atas itu?" Tanya ustadz Irsyad. Aida pun hanya terdiam, air matanya masih saja menetes.


"Coba sampaikan? Adakah hal yang membuat mu jadi sering marah padanya?" Tanya Irsyad lagi.


"Aida hanya takut mas, Aida takut jika mas Ulum akan meninggalkan Aida yang seperti ini, dan mencari wanita yang lebih sempurna lagi, belum lagi suami Aida sangatlah gagah, bukankah itu hal wajar, jika Aida khawatir kalau mas Ulum akan jengah dengan kondisi ku." Isak tangisnya sudah tak terbendung lagi. Saat ini tangan Rahma sudah melingkar di pundak Aida, sementara Ulum hanya beristighfar lirih sembari geleng-geleng kepala.


"Iya mas." Jawabnya lirih.


"Nah, itu kamu merasakannya kan? Lalu kenapa masih merasa ragu dengan itu? Merawat orang sakit itu juga ujian Aida, jangan menambah kelelahan suami mu dengan tuduhan yang akan membuat Suami mu jadi kehilangan kesabaran, dan keikhlasannya." Tutur ustadz Irsyad pada Aida yang masih tertunduk sesenggukan.


Beliau pun lantas beralih pandang pada Ulum yang hanya diam saja saat dirinya tengah menasehati Aida.


"Ulum, sudah dengar kan? Jadi apa ada hal yang ingin di sampaikan juga? Mas tahu loh Pasti di hati mu ada uneg-uneg yang sama." Ucap Irsyad.


Ulum diam sejenak. "Sebenarnya, saya itu hanya ingin Aida menurut apa yang saya ucapkan, selama ini. Dia selalu asik dengan pekerjaannya, bahkan tak jarang selalu lembur akibat banyaknya orderan menjahit. Saya tahu, Aida pasti sadar kalau saya sering jengkel karena sikapnya itu. Namun jika saya tegur Aida pasti akan?" Tertahan ia tidak ingin mengungkap tabiat Aida. "Intinya saya hanya ingin Aida lebih menghargai saya sebagai suaminya."


Mendengar itu Aida tertunduk, ia merasakan sekali perubahan sikap dirinya yang lebih acuh pada suaminya kala itu, dan menyadari mungkin kondisinya saat ini adalah teguran agar ia ingat siapa suaminya itu? Pria yang sangat baik yang bersedia merawatnya hingga dia bisa kembali pulih.

__ADS_1


"Aida?" Panggil Irsyad.


"I..iya mas?"


"Kamu tahu derajat suami kan?"


"Iya mas."


"Apa selama ini kamu menghormatinya?" Nada Irsyad terdengar seperti sedikit marah.


"Itu?"


"Coba jelaskan? Mas rasa suami mu ini sangat menutupi sikap buruk mu."


"Maaf, sebenarnya. Aida sering tidak terima jika tengah di tegur mas Ulum, dan memilih untuk membalas setiap kata yang di lontarkannya dengan kasar." Tuturnya.


"Mohon ampun kepadanya sekarang. Jika perlu bersimpuh lah kamu di kakinya." Titah Irsyad. Ulum pun mengangkat kepalanya.


"Sa...saya rasa jangan ustadz. Tidak perlu bersimpuh seperti itu."


"Tidak Ulum, sebagai seorang istri, mau dia sehebat apapun? Menghormati suaminya itu wajib! Apalagi dia bisa sembuh itu karena siapa? Seharusnya Aida sadar dengan kondisinya saat ini? Siapa yang menerima dia dikala susah dulu?" Irsyad terdengar sangat kecewa pada Aida saat ini.


Terisak. Aida pun meraih kruknya dan beranjak, lalu mendekati sang suami dan bersimpuh di kakinya. Ia meraih tangan kanan Ulum dan mengecupnya, terlihat Ulum sangat tidak tega melihat sang istri sampai seperti ini.


"Maafkan Aida mas Ulum, tolong maafkanlah Aida. Selama ini Aida kufur nikmat. Aida jahat sama mas Ulum, Aida durhaka sama mas Ulum."


Tangan Ulum terangkat ia mengusap kepala sang istri. "Iya, iya sayang. Sudah cukup ya, mas sudah memaafkan mu, sungguh."


"Hiks' Aida anggap ini hukuman untuk Aida mas, Aida sadar selama ini Aida di rawat sama mas Ulum, namun saat Aida sehat, Aida malah justru kurang memperhatikan mas Ulum. Maafkan Aida ya mas, Aida menyesal." Tangis Aida semakin pecah. Ulum mengecup keningnya, dan turut menangis di sana.


Tidak ada kata-kata lagi yang mampu terucap di bibir Ulum selain rasa syukur dan harapan agar sang istri bisa berubah lebih baik lagi.

__ADS_1


Sementara Irsyad hanya tersenyum, mau bagaimana pun juga. Manusia itu memiliki sifat kufur yang tak pernah di sadari nya. Namun ketika datangnya musibah mereka masih saja mengeluh tanpa paham jika itu adalah sebuah teguran dari sikap kufur nya itu.


Irsyad pun beristighfar, memohon ampun atas segala rasa kufur yang selalu saja ada pada dirinya sehingga tiba teguran Allah SWT saat ini untuknya.


__ADS_2