
Sudah pukul sebelas siang. Irsyad menghampiri keluarga besarnya yang berada di bawah. Terlihat sangat asik ayah mertuanya mengobrol dengan kakak ipar laki-lakinya, sedangkan ibu mertuanya dengan kakak perempuannya sedang berbincang di meja ruang makan.
Di sisi lain anak-anak mbak Adiba masih asik bermain dengan ponsel ibu dan bapaknya. Irsyad pun memutuskan untuk menghampiri dua orang wanita yang ada di dapur.
"Masak opo mbak?" tanya Irsyad. Hanya basa basi ia mengenakan bahasa Jawa.
"Mbuh iki, gak ono sayuran." (Tidak tahu ini, tidak ada sayuran.)
"Wes aku pesen wae, gak usah masak mbak." titah Irsyad. (Sudah aku pesan saja, tidak usah masak mbak.)
"Lah tapi iki wes menanak nasi. Pie?" (Tapi ini sudah menanak nasi bagaimana?)
"Gak popo, tak tuku sayur mbek lauke wae mbak. Meh pesen aku ki." (Nggak papa, aku beli sayur dan lauknya saja. Sudah mau pesan aku kok.)
"Yo wes lah sakarep mu." (Ya sudah terserah diri mu)
Bu Ratih tersenyum ia tidak mengerti apa yang dua orang itu katakan, karena bu Ratih memang asli betawi. Dan pak Akmal keturunan Jawa namun ia sedari kecil sudah menetap di Jakarta dan yang pasti tidak pernah bercakap dengan bahasa Jawa dengannya. Itu sebabnya ia hanya memilih diam sembari mengupas bawang.
"Bu, tidak usah masak ya? Biar Irsyad beli saja untuk makan siang kita semua."
"Iya tapi Rahma harus makan sayur bening, kalau bisa kamu harus mencari daun katuk Irsyad, agar asinya lancar."
"Begitu ya? Ya nanti Irsyad coba cari. Sementara ini makan sop ayam dulu ya bu, sepertinya tidak keburu sampai jam makan siang tiba." jawab Irsyad.
"Iya nak." jawab ibu mertuanya mengiyakan.
Irsyad tersenyum ia pun kembali melangkah menghampiri kedua pria yang sedang duduk di depan setelah meng order makanan.
"Rahma sudah tidur syad?" tanya pak Akmal.
"Tadi sih belum, cuman Irsyad suruh istirahat." tuturnya. Pak Akmal manggut-manggut.
Mereka bertiga pun mulai larut dalam perbincangan mereka. Ya seperti yang ku katakan sebelumnya. akibat sesama pengajar, ketiganya itu memang sangat nyambung saat tengah berbincang. Ya walau tidak melulu membahas tentang departemen pendidikan hahaha seperti tidak ada bahasan lain ya jika hanya membahas itu setiap kali bertemu. Intinya mereka saat ini tengah berbagi ilmu menjadi seorang bapak, tepatnya Irsyad lah yang lebih banyak mendengarkan cerita dari pak Akmal ataupun mas Gani. Ketiganya semakin larut dalam percakapan itu hingga Seorang kurir makanan pun datang.
Irsyad menerima dan membayarnya. Iya dia beli makanan dari salah satu restoran ayam bakar dan goreng. Ia memesan beberapa potong ayam goreng, dan ikan, dengan sup dan beberapa sayur lainnya. Irsyad membawanya ke area dapur, di sana mbak Adiba dan ibu mertuanya sudah tidak ada. Ya mungkin mereka di kamarnya, menemani Rahma dan si kembar, Begitu lah pikir Irsyad.
__ADS_1
Tidak masalah untuk Irsyad menyiapkannya sendiri, karena hanya tinggal menatanya di piring semua sudah selesai.
Adzan zuhur berkumandang, Irsyad mengucap hamdalah lalu menuju tempat pengambilan air wudhu di dekat tempat pesolatan. Kedua pria yang tadi tengah mengobrol di ruang tamu pun sudah mendekati Irsyad guna mengambil wudhu juga.
Di susul mbak Adiba yang sudah menggiring anak-anaknya untuk turut sholat berjamaah. Sedikit kagum pak Akmal melihat anak-anak itu langsung menuruti perintah ibunya hanya dengan satu kali ucapan. Kakak Irsyad ini memang sepertinya pintar mendidik anak mereka. Dan berharap atas didikan Irsyad pula cucu-cucunya bisa menjadi anak-anak yang soleh dan soleha.
Setelah menjalankan ibadah solat berjamaah di ruangan sembahyang yang sedikit sempit sebenarnya, namun masih muat lah untuk empat orang dewasa dan kedua anak Adiba dan Gani. Mereka pun di minta untuk makan siang bersama, sedangkan Irsyad menyiapkan makanan untuk Rahma dan dirinya dalam satu piring yang sama.
"Maaf ya, Irsyad makan di atas bersama Rahma." tutur Irsyad masih berdiri di samping mereka.
"Iya tidak apa-apa." jawab pak Akmal yang di setujui oleh semuanya. Ia pun tersenyum lalu berjalan menuju tangga dan menaikinya.
Di dalam kamar itu ia melihat istrinya masih tertidur sedangkan bu Ratih baru saja mengganti popok Rumi yang basah dan membedongnya lagi.
"Rumi mengompol ya bu?" tanya Irsyad.
"Oh jadi nama cucu laki-laki ibu ini Rumi ya? Heheh iya ini." bu Ratih tersenyum masih menatap ke arah cucunya.
"Hehe iya bu, Rumi Al Fatih, kalau yang satu Nuha Qanitta." jawabannya.
"Terimakasih bu. Emmmm ibu sebaiknya makan dulu saja. Di bawah semua sedang makan siang." titahnya.
"Iya nak, ibu juga belum solat ini." Ibunda Rahma beranjak. Dan berjalan keluar. Sedangkan Irsyad meletakkan nasinya di meja samping ranjang mereka lalu kembali menutup pintu kamar mereka dan menguncinya.
Setelahnya Irsyad mendekati Rahma mengecup keningnya lalu perlahan membangunkan istrinya yang masih terlelap. "Dek Rahma. Bangun." tuturnya pelan.
"Dek?" Tubuh Rahma mulai bergerak. Ia mengusap-usap matanya. Lalu menoleh ke arah Irsyad.
"Kenapa mas? Rumi dan Nuha ingin menyusu kah?" tanya Rahma.
"Belum dek, mas bawakan makan siang. makan dulu ya." titah Irsyad. Rahma menoleh ke arah piring di sebelah ranjangnya.
"Kok cuma satu. Lagi pula itu kebanyakan untuk Rahma mas." ucap Rahma.
"Mas sengaja mengambil makanan hanya satu piring. Agar bisa makan bersama Rahma." ucapnya.
__ADS_1
Rahma terkekeh. "nanti mas tidak kenyang lagi."
"Kenyang lah." Irsyad mengangkat piringnya. Lalu menyendok kan makanannya. "Yuk baca doa makan dulu, suapan pertama untuk ummanya Rumi dan Nuha."
"Ya Allah mas berlebihan sekali. Masa iya harus selalu kena bibir Rahma dulu, kali ini mas dulu lah, masa makan bekas Rahma terus sih?"
"Loh, mas itu selalu bercerita tentang keromantisan Rosulullah Saw pada para istrinya kan?? Kalau Rosulullah Saw itu selalu makan dan minum dari bekas bibir istrinya."
"Jadi semua ke romantisan mas itu mengikuti beliau?"
"Emmmm inginnya begitu, namun sepertinya tidak bisa semuanya termaksud mengajak mu lomba lari, atau bermain bersama teman-teman mu. Hehehe"
"Lomba lari? Bermain?" tanya Rahma.
"Sudah ayo makan dulu nanti mas ceritakan."
"Sambil makan sambil berdongeng dong mas."
"Lah, kalo mas mendongeng, bagaimana makannya coba?"
"Tapi Rahma penasaran. Rahma senang jika mas mendongeng tentang Aisyah dan Baginda Rosul." tutur Rahma. Irsyad mengusap kepala istrinya.
"Ya nanti mas ceritakan ya. Yang penting kita makan dulu. Ayo berdoa keburu dingin nanti ini. Dan keras kan volume suaranya ya." tutur Irsyad.
Rahma mengangguk dan ia pun mulai berdoa dengan suara yang sedikit keras namun masih normal sih. Dan Irsyad pun mendengarkan, lalu mengamini di akhir.
"Aaaa." titah Irsyad.
"Jangan di Aaa dong, seperti anak kecil tahu."
"Hehe memang Rahma anak kecil kok untuk mas, hawanya gemas terus habisnya. Apalagi jika sedang bersungut-sungut." Irsyad terkekeh.
"Tidak usah mancing, jadi makan tidak nih?"
"Hahaha" Irsyad tergelak. Ia pun memasukan suapan pertama kedalam mulut istrinya lalu suapan kedua kedalam mulutnya sendiri, begitu terus secara bergantian. Dan saat Rahma minum air mineral di gelasnya maka Irsyad juga meminumnya di bekas bibir Rahma itu. Sebenarnya tidak hanya sekali dua kali Irsyad melakukan itu. Minum di satu gelas tepat di bekas bibirnya. Dan baru tadi juga Rahma mengetahui jawabnya. Kenapa Irsyad gemar sekali mengkonsumsi sesuatu menggunakan barang yang sama. Dan lebih suka makan sesuatu menggunakan satu sendok lalu memakannya secara bergantian.
__ADS_1