
Setelah mendapatkan pengakuan Irsyad malam itu Rahma benar-benar melayani suaminya lebih baik lagi.
Ia bahkan mengambilkan nasi beserta lauk pauknya untuk Irsyad.
"Ada lagi yang mas ingin kan?" tanya Rahma.
"Tidak sayang, sudah cukup. Terimakasih ya." jawab Irsyad, yang masih menatapnya dengan penuh rasa bersalah.
Rahma pun menuangkan air mineral ke dalam gelas Irsyad. Lalu duduk di sebelahnya. Mengamati Irsyad yang hendak menyendok kan nasinya.
"Dek, kok diam? Kok tidak mengambil nasinya?" tanya Irsyad.
"Rahma ingin menunggu mas Irsyad selesai makan dulu. Nanti kalau mas membutuhkan sesuatu bagaimana? Rahma tidak ingin mas jadi mengambilnya sendiri." jawab Rahma.
"Ya Allah, Rahma. Tidak seperti itu juga. Sudah ayo makan. Mas ambilkan nasinya ya." Irsyad hendak beranjak. Namun dengan sigap di tahan Rahma.
"Jangan mas, mas jangan ambilkan nasi untuk Rahma. Biar Rahma ambil sendiri saja." Rahma pun beranjak dan meraih yang ada di dekatnya.
'Dek Rahma pasti masih marah dengan ku.' batin Irsyad. Yang masih terus mengamati istrinya yang bertingkah aneh.
"Kok diam? Tidak enak ya? Maaf mas, mungkin Rahma akan ganti makanannya."
"Jangan, ini enak dek. Mas suka masakan mu."
Rahma menunduk. "Tidak perlu di paksakan, Rahma memang belum bisa masak seenak masakan mas Irsyad kok." tuturnya murung.
"Dek Rahma?"
"Sudah kita lanjutkan saja makannya ya." Potong Rahma yang kembali menyunggingkan senyumnya.
'Aku tidak mau kau merayu atau Sok memuji ku. Aku sudah tidak percaya rayuan mu. Kau sama saja dengan mereka yang tidak bisa menjaga hatinya.' batin Rahma. Memang benar trauma masa lalu Rahma pada fikri seolah kembali. Itu yang membuat Rahma tidak bisa berfikir jernih tentang suaminya.
Mereka pun melanjutkan makan malam hingga selesai. Baru saja Irsyad rampung meminum air di gelasnya Rahma sudah beranjak meraih piring-piring kotor itu dan mencucinya.
Dalam diamnya Irsyad mengamati gerak gerik istrinya itu.
'Ini yang mas khawatirkan jika mas harus jujur pada mu. Karena selayaknya wanita yang hanya berfikir pada sudut pandangnya saja, Kau pasti tidak akan pernah mau mendengarkan kebenarannya dari sudut pandang ku. Bahwasanya hati ku hanya sedikit goyah, tidak ada niatan untuk menduakan mu dek Rahma. Namun sepertinya kau tetap memandang ku sebagai suami yang bersalah. Walau aku berusaha menjelaskan seperti apapun? semua itu hanya akan menjadi suatu pembelaan diri, bagi mu.
Untuk saat ini lebih baik aku diam saja. Biarkan dia pada pemikirannya, menunggu sampai hatinya benar-benar tenang.' Irsyad menghela nafas.
"Dek Rahma, Mas naik dulu ya. Ingin menengok si kembar." ucap Irsyad.
"Iya mas," jawab Rahma, singkat. Tanpa menoleh ke belakang.
__ADS_1
Irsyad pun menyempatkan mendekati Rahma lebih dulu lalu mengecup keningnya. Setelahnya beliau melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Setelah selesai, Rahma naik. Ia membuka pintu kamarnya. Ia melihat Irsyad tidur di ranjang Nuha dan Rumi. Matanya sudah terpejam. Dari nafasnya sepertinya pria itu sudah terlelap. (Catatan: ranjang Nuha dan Rumi sudah bukan ranjang bayi lagi.😊)
Rahma menatap nanar pria yang terlihat kelelahan itu. Benar, mungkin seharian ini dirinya memang menghabiskan energinya untuk hal seperti ini. Rahma pun meraih kain selimutnya lalu menyelimuti tubuh suaminya itu.
"Mungkin mas ingin tidur bersama Anak-anak." Rahma tersenyum kecut.
Ia berjalan menuju meja riasnya duduk di sana menghadap kaca. Mengamati dirinya yang sudah tak secantik dulu. Mengunakan pakaian daster, rambut yang di cepol. Wajah polos tak terawat apalagi riasan.
Semenjak memiliki anak, memang Rahma tidak pernah lagi merawat diri. Saking sibuknya, ia bahkan tidak bisa menyisir rambutnya dengan benar.
Wajah yang terlihat kusam, tubuh yang sepertinya semakin gemuk. Membuatnya yakin. Kalau dirinya memang tidak menarik lagi. Rahma menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan siku yang bertopang pada meja. Rahma kembali terisak.
"Aku masih kesal, masih sangat kesal pada mu mas." Gumam Rahma.
"Aku memang tidak secantik dulu, semua sebab aku hanyalah seorang ibu rumah tangga. Itu yang membuat ku semakin tak menarik lagi dan tubuh yang jadi lebih gemuk ini benar-benar jelek, terlebih-lebih suami ku masih terlihat tampan. Sangat kesal rasanya, Hiks." Rahma masih saja merasa rendah.
Irsyad yang tengah tertidur itu membuka matanya perlahan. Ia mendengarkan semua yang Rahma tengah gumam kan, walaupun tak terdengar jelas.
'Astagfirullahalazim Kenapa jadi seperti ini dek Rahma?' gumam Irsyad dalam hatinya.
"Mas belum tidur." tanya Rahma pada pria yang sudah berdiri di belakang Rahma. Menatapnya dari pantulan cermin.
Irsyad memeluk tubuh Rahma dari belakang. "Dek, mas ingin bertanya? Apa mas telah melakukan perbuatan yang sangat tercela? Sampai mas harus menanggalkan gelar ustadz, ini?" tanya Irsyad. Rahma pun hanya diam saja. Air matanya sudah mampu menunjukkan bahwa ia benar-benar kecewa pada suaminya.
Irsyad melepaskan pelukannya. lantas berjongkok di hadapan Rahma. "Ade tahu, hati manusia tidak bisa di paksa untuk tetap berada pada porosnya. Dan mas yakin dek Rahma juga pasti pernah demikian bukan?" tanya Irsyad.
"Apa harus mas menerima hukuman dari mu? Kalau memang menurut dek Rahma, mas itu telah melakukan dosa besar yang tak ter ampuni, karena telah berzinah walau itu hanya di dalam mimpi? Mas iklhas dek, mas akan membenamkan tubuh mas sebatas leher, dan dek Rahma boleh merajam kepala mas sampai mati, demi menebus kesalahan mas Irsyad." ucap Irsyad Rahma pun menoleh.
"Tidak mas, itu tidak mungkin. Rahma tidak mungkin menghukum mas dengan hal se mengerikan itu."
"Itu kan hukuman pezinah bagi yang sudah menikah. Jika memang itu masih bisa di anggap zinah mas akan lakukan." tutur Irsyad.
Rahma menggeleng cepat. "Tidak mas Irsyad, sungguh, Rahma tidak mau mas melakukan itu."
"Kenapa?? Itu sudah hukuman yang sebanding, setidaknya mas tidak lagi menanggung dosa, walaupun harus mati. Dan Jika Rahma tidak mau melakukannya, mas akan minta tolong pada orang lain, untuk melakukan itu."
Rahma semakin terisak, lantas memeluk tubuh suaminya. "Tidak mas jangan. Jangan lakukan itu ku mohon. Rahma tidak mau kehilangan mas Irsyad."
"Ade bilang tadi kalau dek Rahma kesal, 'kan?" tanya Irsyad.
__ADS_1
"Hiks. Hiks."
"Dek Rahma masih mengutuk diri mas, mas pun akan sama. Akan mengutuk dan menganggap diri mas sendiri sebagai pria bejat." Tutur Irsyad.
"Hiks, Mas, tolong jangan katakan lagi. Maafkan Rahma. Rahma tak bermaksud demikian."
Irsyad menghela nafas panjang. Ia melepas pelukan Rahma. Lalu beranjak ia meraih sesuatu dari dalam laci lemari pakaiannya. Lalu kembali melangkah mendekati Rahma.
Rahma melihat sebuah kotak kecil yang ada di tangan Irsyad. Irsyad pun membukanya di hadapan Rahma.
"Mas, tahu. Mas tidak bisa lagi mengatakan kata-kata cinta pada mu. Bahkan benda ini, sedari tadi mas tahan untuk tidak menyerahkannya pada mu. Semua sebab? Mas takut Rahma akan menganggap mas tengah merayu agar mas bisa dengan mudah lolos dari kesalahan." Irsyad mengeluarkan kalung berliontin, inisial I dan R yang menjadi satu dari dalam kotak tersebut.
"Sebelum mas menyerahkan ini pada Dek Rahma, mas ingin bertanya. Apa dek Rahma masih bisa percaya dengan ikrar cinta yang mas Irsyad lantang kan di depan para saksi empat tahun yang lalu?"
Rahma terdiam. Matanya masih menatap nanar kearah Irsyad. Irsyad meraih tangan Rahma dan mengecupnya. "Andai ada kata-kata yang lebih tinggi lagi dari kata maaf, pasti mas sudah ungkapkan pada mu dek Rahma."
Irsyad membuka pengait kalung itu. Lalu kembali menatap Rahma. "Izinkan mas memakaikannya ya?"
Rahma mengangguk pelan. Irsyad tersenyum. Ia pun memakaikan kalung itu di leher Rahma. selesai memakaikan beliau pun kembali berjongkok di hadapan Rahma.
Lalu mengecup bagian liontin yang ada di dada Rahma. Membuat Rahma tersentak. Karena hentakan di dadanya.
"Adakah kata yang lebih manis selain aku mencintaimu dek Rahma?" tanya Irsyad. Rahma pun tersenyum.
Irsyad mendekati bibir yang tengah tersenyum itu lalu mengecupnya dengan jangka waktu yang lumayan lama. Lalu melepaskannya sejenak.
"Mas mau mengulang malam pertama dengan mu lagi." Tutur Irsyad yang lantas menggendong tubuh Rahma secara tiba-tiba membuat Rahma gelagapan.
"Mas Rahma kan berat."
"Tidak tuh. Buktinya mas masih kuat." Irsyad mengecup bibir istrinya. Lalu merebahkannya di atas ranjang.
"Semoga si kembar tidak mengganggu malam pertama abi dan ummanya." tutur Irsyad sembari melepas atasannya. Rahma pun terkekeh.
Malam panjang penuh sentuhan cinta pun di rasakan Irsyad dan Rahma. Kenikmatan tiada tara setelah seharian berkutat dengan masalah yang menguras hati serta emosi membuat mereka semakin merasakan Sakinah yang berujung mawaddah dan Warohmahnya.
'Aku mencintaimu sangat, sangat mencintai mu istri ku...
Itu yang perlu kau dan dunia tahu, orang lain mungkin hanya akan berlalu lalang saja, mengusik ketenangan kita. Karena tetap, hanya ada satu nama yang akan menduduki singgasana di hati ku.
dan hanya akan ada satu nama dalam setiap doa ku. Wanita yang akan menjadi pendamping hidup satu-satunya seorang Irsyad Fadilah. Yaitu dirimu Rahma Quratta Aini, istri tercinta ku.'
Tamat....
__ADS_1