Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
makan malam di luar.


__ADS_3

Masih di malam yang sama, kala Irsyad dan Rahma baru saja menyelesaikan ibadah sholat maghrib mereka. Setelah berzikir, Irsyad selalu mengakhiri dengan melakukan gerakan sujud dengan waktu yang lama.


Rahma menunggu Irsyad sampai selesai dan mengakhiri sujud nya itu. Setelahnya Irsyad bangun lantas menoleh ke arah Rahma.


"Tumben ade masih di sini? Apa masih takut nih?" tanya Irsyad.


Rahma menggeleng. "Mas, kenapa mas Irsyad kalau sujud itu lama sekali sih?" tanya Rahma.


Irsyad tersenyum ia mengusap kepala Rahma lembut. "Kau tau sayang? Kenapa mas suka sekali gerakan sujud dan mas bersedia melakukan itu dengan waktu yang cukup lama?" tanya Irsyad.


"Kenapa mas?"


"Semua karena mas sangat mengagumi gerakan yang sangat sederhana itu namun hasilnya luar biasa. Kita berbisik pada bumi, namun suara kita terdengar di langit." tutur Irsyad. "Dan kenapa mas selalu memperlama gerakan sujud mas saat sholat. Semua karena ke betahan mas itu, seperti sangat dekat rasanya dengan sang Maha pencipta." Lanjut Irsyad.


"Subhanallah suami ku." ucap Rahma, memang benar, setiap menit, detiknya Rahma semakin mengagumi suaminya itu.dengan setiap ucapan dan perbuatannya.


Ingin sekali Rahma mengikuti jejak suaminya, ia benar-benar ingin selamat dunia ataupun akhirat bersama sang suami.


"Mas ingin Rahma belajar terus menerus ya." ucap Irsyad.


"Tapi sepertinya, iman Rahma tidak akan sekuat mas."


Irsyad terkekeh "Ade pikir iman mas selalu kuat begitu?" tanya Irsyad.


"Iya lah, mas kan ustadz, tidak akan mungkin merasakan seperti Rahma ini."


"Kata siapa seorang Ustadz tidak akan pernah berada dalam fase lemahnya iman? Semua manusia memiliki keimanan yang naik dan turun Rahma, begitu juga mas Irsyad, atau bahkan alim ulama yang lain."


"Tapi Rahma tidak pernah melihat fase dimana mas tengah malas beribadah tuh?"


"Sok tahu nih dek Rahma, mas jika sedang turun imannya itu mas akan lebih banyak berkumpul dengan orang-orang salih lainnya agar iman mas kembali naik, dan juga bisa terlihat dari kebiasaan mas yang jadi berubah akibat malas itu bangunnya mas jadi kesiangan, itu sebabnya kadang mas juga tidak kebangun di sepertiga malam."


"Bangun kesiangan mas Irsyad itu jam berapa sih? Kok Rahma tidak pernah tahu."


"Jam empat pagi." jawab Irsyad.


Rahma pun memajukan bibirnya. "Jam empat kok di bilang kesiangan, lagi sombong atau apa sih ceritanya ini?"


Irsyad terkekeh, "serius dek, mas kan selalu mengajarkan Rahma untuk tidur kurang dari jam sepuluh malam seperti mas kan, supaya apa? Agar Rahma bisa terbiasa bangun dini hari seperti mas."


"Mau tidur selepas magrib juga emang dasarnya, Rahma itu kebo mas, Rahma akan tetap kesiangan. mungkin jika saja ada gempa juga, Rahma tidak akan terbangun di sepertiga malam saking lelapnya." jawab Rahma, Irsyad pun tertawa sembari geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Yang ada-ada saja kamu dek." Irsyad terkekeh. Begitu pula dengan Rahma. "Eh iya, ade masak apa hari ini?"


"Emmmm maaf mas, Rahma tidak masak hari ini." tutur Rahma.


"Oh begitu ya, ya sudah sayang kita makan di luar saja ya. Rahma ingin makan apa?" tanya Irsyad.


"Rahma sangat ingin makan lele goreng mas, di warung tenda."


"Wah boleh tuh, bagus juga ikan lele untuk otak janin. Yuk kita siap-siap." ajak Irsyad.


"Mas tungguin," Rahma memegangi lengan Irsyad.


"Ya Allah manjanya. Sini mau mas gendong sekalian."


"Hehehe, memang mas masih kuat gendong ibu hamil?"


"Kuat jika Rahma mau. Ayo sini."


"Tidak aaah Rahma takut hehehe. Rahma jalan sendiri saja tapi sembari memegangi tangan mas ya."


"Iya, istri ku." Irsyad terkekeh.


Mereka pun berjalan bersama naik untuk berganti pakaian.


Di depan sebuah warung tenda,Rahma turun dari mobilnya. Dan pandangan Rahma tertuju pada seorang wanita yang sudah sedikit uzur itu jalan tergopoh-gopoh di belakang seorang pria yang di duganya adalah suaminya itu. Jarak mereka pun sedikit jauh hingga tak lama wanita itu tersandung tali tenda hingga terjatuh ke aspal.


"Innalillah." seru Rahma. Ia hendak mendekati wanita itu dan membantunya. Namun suaminya sudah datang menghampirinya sembari berjalan cepat. 'Alhamdulillah sepertinya suaminya itu hendak menolongnya.' batin Rahma.


"Hei! Mata mu di taruh mana sih? Jalan saja tidak lihat-lihat?" seru pria yang tak jauh beda usianya seperti wanita itu sembari berkacak pinggang. Mendengar itu sontak saja Rahma terkesiap. Ia tidak menyangka, jika seorang suami bisa seperti itu pada istrinya, padahal seharusnya ia menolong wanita itu bukan malah justru memarahinya.


"Maaf pak, habis bapak jalannya cepat sekali. Ibu kan jadi tidak bisa mengejar."


"Makanya jangan lamban, cepat bangun! Gerimis ini!" runtuknya pada wanita itu sembari melenggang pergi. Rahma geleng-geleng kepala. Dengan cepat ia pun mendekati wanita paruh baya itu dan menolongnya. Karena wanita itu terlihat kesusahan bangun mungkin karena tubuhnya yang tambun itu.


"Ibu mari saya bantu." ucap Rahma. Wanita itu pun tersenyum.


"Terimakasih mbak." jawabnya sembari meraih tangan Rahma dan berusaha bangun. "Terimakasih sekali lagi ya mbak. Saya jadi merepotkan mbaknya." ucap Wanita itu.


"Tidak repot kok bu, kan hanya membantu sedikit."


Wanita itu tersenyum "Ya sudah ya mbak saya harus segera menyusul suami saya." tuturnya.

__ADS_1


"Iya bu." jawab Rahma.


Rahma terus mengamati wanita itu sembari mengusap-usap perutnya, tak lama Irsyad datang setelah memarkirkan mobilnya itu.


"Ayo masuk." Ajak Irsyad sembari tersenyum. Rahma pun mengangguk.


Di dalam warung tenda itu Rahma banyak diam ia bahkan hanya mengaduk-aduk minumannya menggunakan sedotan.


"Dek Rahma, tadi minta makan lele kan? Kenapa sekarang tidak di makan?" tanya Irsyad.


Rahma menghela nafas. "Mas, jika kita sudah uzur nanti? Apa mas masih bisa berlaku manis pada Rahma seperti ini?" tanya Rahma.


"Hei, kok tanyanya seperti itu. Memang sudah menjamin apa kita masih bisa bertemu hari tua? Umur kita kan hanya, kemarin, dan hari ini. Hari esok belum tentu sayang." ucap Irsyad.


"Mas, coba jawab saja kenapa sih?" tutur Rahma besengut.


"Hehehe, yang pasti mas terus berusaha lah Rahma. Kan Rahma cinta sejatinya mas Irsyad insyaallah." jawab Irsyad.


"Rahma tidak yakin." jawabnya.


"Memang kenapa sih? Tiba-tiba tanya itu?"


"Mas lihat wanita yang Rahma bantu tadi kan? mas tahu tidak, dia itu kenapa?" tanya Rahma.


Irsyad menggeleng pelan. "Memang kenapa sayang?"


Rahma pun menjelaskan semuanya, yang tadi ia lihat pada Irsyad yang hanya diam saja fokus mendengarkan Rahma.


"Oh, jadi itu? Hmmm, ya mungkin sebagian pasangan memang ada yang tidak bisa romantis sayang, ada pula yang cuek seperti yang Rahma bilang tadi."


"Iya tapi tidak seharusnya seorang istri di marahi hanya karena terjatuh kan? Mas tahu tidak sakitnya itu tidak seberapa, lebih ke malu nya mas, apa lagi terjatuh di depan umum. ya walau kita yang melihat itu kasihan tapi bagi yang jatuh kan itu merupakan sesuatu yang memalukan." Tutur Rahma dengan nada kesal.


"Lah... Kok jadi ke mas Irsyad melampiaskan kesalnya ini?" tanya Irsyad.


"Maaf mas, Rahma tidak bermaksud seperti itu."


"Hehehe, mas juga menyayangkan sikap yang seperti Rahma ceritakan itu. Namun mau bagaimana pun juga kita hanya melihat di luar kan? Bagaimana jika di rumah ternyata suaminya itu sangat baik? Jangan dulu berburuk sangka Rahma."


"Ya mas, tapi tetap saja Rahma kasihan sama ibu tadi."


"Sudah, berharap saja apa yang Rahma lihat tadi tidak benar-benar di alami oleh ibu tadi ya. Sekarang dimakan dong makanannya, mas saja sudah habis ini Rahma malah masih banyak."

__ADS_1


"Iya mas, Rahma makan."


"Nah gitu dong, sudah cepat di habiskan ya, setelah ini kita mampir sebentar ke rumah Ulum dan Aida." tutur Irsyad. Rahma pun mengangguk dan segera menghabiskan makannya yang sudah menjadi dingin itu.


__ADS_2