
Seorang perawat menghampiri keluarga Rahma yang sudah berkumpul di sana. Dimana pak Akmal dan sang istri sudah duduk di dekat Irsyad menanti kabar dari dalam.
"Permisi suami ibu Rahma?" panggil perawat tersebut, Irsyad membuka matanya, sedari tadi ia berzikir di atas kursi panjangnya tanpa henti.
"Saya suster." ucap Irsyad sembari beranjak.
"Selamat bapak, kedua anak bapak sudah lahir." tutur Perawat tersebut bebarengan dengan itu Irsyad menitikkan air mata, mengucap syukur dengan pandangan berbinar. Begitu juga ayah dan ibu Rahma.
"Namun kedua bayi bapak mengalami kelahiran prematur, dan harus berada di inkubator untuk sementara waktu pak. Tapi bapak tenang saja, di samping itu kondisinya baik-baik saja." tutur perawat tersebut.
"Lalu istri saya?"
"Alhamdulillah operasi masih berjalan dengan lancar pak, hanya saja, Istri bapak sempat mengalami sesak nafas beberapa saat setelah bayi di lahir kan, tapi bapak tidak perlu khawatir hal itu bisa terjadi pada ibu yang melakukan operasi Caesar walaupun tidak semua mungkin karena faktor ketegangan ibu Rahma saat di dalam ruangan operasi tersebut. Dan saat ini kondisi ibu Rahma sudah baik-baik saja. Hanya menunggu istri bapak siuman."
Irsyad bernafas lega, tak henti-hentinya ia mengucap syukur karena semuanya bisa berjalan tanpa terjadi apa-apa.
"Emmm bapak ingin melihat bayi bapak, mungkin sekalian ingin mengadzani?"
Irsyad mengangguk cepat. "Iya suster."
"Mari ikut saya." Ajak suster tersebut. Irsyad pun menoleh kearah kedua mertuanya yang sudah mengangguk ke arahnya, meminta Irsyad untuk segera mengikuti perawat di depannya.
Di dalam sebuah ruangan penanganan bayi. Irsyad melihat kedua bayinya yang sudah di tutupi kain selimut, namun tubuhnya masih sangat kotor karena belum di mandikan oleh para perawat di sana. Bercak-bercak putih seperti lilin masih tertempel di tubuh mungil yang tengah terdiam itu.
"Anak bapak berjenis kelamin laki-laki, dan perempuan pak.selamat ya sekali lagi."
"Terimakasih banyak suster." jawab Irsyad, pandangannya masih berfokus pada dua malaikat kecilnya itu.
"Assalamu'alaikum Anak-anak abi. Selamat datang ke dunia ini ya sayang." Irsyad mengamati keduanya dengan tatapan haru, mengecup satu persatu dari mereka, gemas. Salah satu dari mereka terbangun dan menangis. "MasyaAllah, lucunya anak abi." Irsyad pun mulai mengadzani di telinga kanannya lalu berkomat di telinga kirinya. Secara bergantian.
Sementara itu di ruangan operasi, Dokter sudah menutup sempurna luka Rahma dengan jahitan di dalam, dan lim di luarnya, lalu menutupnya dengan perban. sedangkan Rahma masih belum siuman dari tidurnya karena efek dari obat bius yang di berikan dokter Rudi.
Selang beberapa lama, matanya mulai terbuka, Rahma masih menatap samar-samar lampu operasi di atas sudah redup. Dokter sarah pun mendekati Rahma.
"Selamat ibu Rahma, operasi sudah selesai dan berjalan dengan lancar. ibu sudah resmi menjadi salah satu wanita terhebat di dunia ini." tuturnya dengan senyuman ramah merekah di bibirnya.
Rahma hanya menjawabnya dengan senyuman tipis dari bibirnya yang pucat. Kini tubuhnya malah justru merasa menggigil.
"Nah karena HB ibu Rahma sangat rendah, jadi harus melakukan transfusi darah. Ibu tahu golongan darahnya apa?" tanya Dokter sarah.
"A, dokter." jawabnya lirih.
"Betul, dan kami sudah mencarikan darah yang cocok dengan jenis golongan darah ibu ya." tuturnya.
"Terimakasih banyak dokter."
"Sama-sama Bu, kalau begitu saya permisi ya." ucap dokter sarah sembari melenggang pergi. Setelahnya semua tinggal di tangani oleh beberapa perawat yang bertugas memindahkan Rahma ke bangsal nya.
__ADS_1
Setelah selesai perawat pun mengabarkan bahwa Rahma sudah keluar dari ruangan operasinya, sehingga membuat Irsyad yang masih di ruangan itu kembali mengecup si kembar lalu berjalan keluar menuju bangsal Rahma.
Di depan pintu bangsal tempat Rahma di rawat, Tangis harunya pecah tatkala melihat Rahma sudah tersenyum menatapnya dengan lemah. Irsyad mendekati Rahma lalu menghujani wajahnya dengan kecupan tanda terimakasihnya karena sudah berusaha keras mengorbankan nyawa hanya untuk melahirkan kedua anaknya.
"Terimakasih banyak Rahma, terimakasih banyak sudah memberikan ku keturunan yang cantik dan tampan dengan sehat. Terimakasih banyak sudah berjuang demi si kembar. Terimakasih beribu-ribu kali, mas ucapkan kata itu pun tidak akan mampu mengganti semua pengorbanan mu sayang." Irsyad terisak. Ia masih saja memeluk Rahma dengan penuh kasih sayang. Bahkan sampai lupa jika ke dua orang tua Rahma masih ada di dalam bangsal tersebut.
"Ibu sebaiknya kita keluar dulu. Kita beri waktu Irsyad untuk berdua dengan Rahma." ucap Pak Akmal pada istrinya.
"Iya Pak, ibu juga ingin melihat cucu kita." tutur Ibunda Rahma.
Irsyad yang mendengar itu pun melepas pelukannya dan mengusap air matanya. "Maaf bapak, ibu saya terbawa suasana." Irsyad terkekeh.
"Tidak apa nak, sudah temani Rahma dulu, kami ingin melihat cucu kami dulu." tutur Pak Akmal sembari melingkari tangan di bahu istrinya.
"Iya bapak, ibu silahkan." Jawab Irsyad, kedua orang tua Rahma sudah keluar, pintu pun sudah di tutup.
"Rahma ingin melihat si kembar, Rahma juga belum melakukan IMD (inisiasi menyusui dini)" tutur Rahma lirih pada Irsyad. Irsyad mengusap kepala Rahma lalu mengecup keningnya lembut.
"Si kembar terlahir prematur sayang, jadi harus berada di dalam inkubator untuk sementara waktu."
"Begitu ya. Kasian nya anak-anak ku."
"Anak mas juga lah bukan hanya anaknya dek Rahma. Tahu tidak wajahnya mirip sekali dengan mas loh." tutur Irsyad.
"Masa?"
Rahma mendesah geli, "ngarangnya"
"Loh kok ngarang sih? Serius tau."
"Ya masa nggak ada Rahma nya sih."
"Yeee ade tidak percaya. Tapi ada sih yang mirip Rahma nya."
"Oh ya?"
"Iya serius, tadi salah satu dari mereka menangis. Dan rengekannya persis seperti dek Rahma. Jelek." Irsyad terkekeh. Melihat Rahma yang tengah melebarkan bola matanya pada Irsyad jengkel.
"Kan? Giliran jelek saja miripinnya ke Rahma."
Irsyad tergelak, ia senang melihat muka manyun istrinya saat di goda, itu tandanya kondisinya sudah pulih dan dia sudah tidak khawatir lagi. Irsyad pun kembali memeluk Rahma.
"Aaawww." Rahma meringis.
"Kenapa sayang?"
"Anu, obat biusnya sudah mulai hilang sepertinya mas. Luka sesar ini jadi terasa."
__ADS_1
"Ya Allah maaf ya sayang, nanti mas beli obatnya lah biar cepat sembuh lukanya."
Rahma mengangguk ia pun meraih wajah Irsyad.
"Rahma ingin di cium lagi." Tuturnya. Irsyad tersenyum.
"Mintanya yang manis dong, di kasih nada manja dikit."
"Isssh mulai deh banyak syaratnya."
"Hey, wajib lah ayo coba katakan."
"Mas Irsyad, Rahma ingin di cium."
"Bentar...bentar. Kurang manja tuh."
"Ya Allah, mas Irsyad nih ya. Jangan ajakin Rahma tertawa dong kan perut Rahma sakit."
"Ya makanya katakan dengan nada manjanya ayo, nanti mas kasih."
Rahma geleng-geleng kepala, sungguh ia ingin terkekeh melihat tampang jahil suaminya itu.
"Suami ku, mas Irsyad sayang, Rahma ingin di cium." tuturnya dengan nada sedikit merengek manja.
"MasyaAllah... Gemasnya, sini sini mas cium sayang." Irsyad mendekati wajah Rahma lalu mengecup kening dan kedua pipinya.
"Sudah itu saja?" tanya Rahma.
"Memang mau apa lagi?" Irsyad tergelak, ia benar-benar gemas dengan Rahma.
"Sini belum, mas jarang sekali mengecup ini loh." Rahma menunjuk bagian bibirnya yang pucat itu.
"Sssstt, kalau bapak ibu masuk bagaimana?"
"Kan di kecup doang mas, mas juga bisanya seperti itu kan, mengecup bagian sini tidak pernah lama."
"Ya Allah Rahma nih." Irsyad menoleh ke arah pintu sejenak, lalu mengecup bagian bibir istrinya. Ingin cepat sebenarnya, namun Rahma menahan dengan cara memegangi wajah Irsyad menggunakan kedua tangannya.
Sesaat ia mendengar suara langkah kaki Irsyad mulai panik sedangkan Rahma masih menahannya pada posisinya itu.
'Astaghfirullah Rahma kenapa memegangi seperti ini. Sih? Itu pasti ibu dan bapak.' Irsyad berusaha melepasnya pelan.
Rahma tahu suaminya mulai panik, terlihat dari caranya dia melepaskan diri. Terlebih saat mendengar suara ketukan pintu. Rahma pun melepaskannya.
Lalu mengusap lembut bibir suaminya. sebelum kedua orang tuanya itu masuk.
"Nakal kamu ya." bisik Irsyad melirik sekilas ke arah Rahma yang tengah menahan tawanya. Sedangkan Irsyad berusaha menormalkan posisinya.
__ADS_1