
Adzan subuh sayup-sayup terdengar bersahut-sahutan dari satu masjid ke masjid yang lain, membangunkan setiap insan yang masih terlelap dalam tidurnya untuk segera terjaga dan bersujud kepada sang khalik.
Angin pagi terasa menyegarkan, dingin dan sedikit menusuk. Tetesan air pun turun dari genting-genting rumah sakit menandakan tengah turunnya hujan berintensitas sedang di luar.
Di dalam ruangan ICU, Rahma yang masih merebahkan kepalanya di atas bed terjaga sesaat setelah sebuah tangan mengusap kepalanya.
Rahma terperanjat, "mas Irsyad?" Gumamnya yang langsung membuatnya beranjak duduk.
Sedikit terlihat kekecewaan di wajah Rahma saat yang ia dapati bukanlah tangan mas Irsyad yang mengusap kepalanya,namun tangan pak Akmal.
"Sudah subuh Rahma, ayo bangun dan sholat dulu." Titah sang ayah.
"Iya ayah." Jawabnya. Rahma mengusap matanya yang teramat pedih itu, mungkin akibat terlalu banyak menangis semalaman, sehingga membuat matanya menjadi bengkak.
Rahma beranjak keluar dan bergantian dengan pak Akmal yang duduk di kursinya mendampingi sang menantu yang sama sekali tidak bergerak.
Beliau menatap nanar Irsyad, pria yang sangat baik, penyayang dan ramah ini memang terlihat tenang dalam tidurnya.
Pak Irsyad mengusap bagian kepala menantunya. "Jika kau tidak tidur seperti ini? semua lukamu pasti terasa sakit sekali nak." gumam pak Akmal. Mengamati semua luka yang ada di sekujur tubuh Irsyad.
"Mungkin lebih baik kau tertidur dulu saja, karena Ayah juga tidak akan tega melihat mu merasakan sakit ini." Diam sesaat, membenahi selimut Irsyad lalu mengusap lengannya.
"Tapi jangan lama-lama ya, kasihan keluarga mu. Istri, anak-anak dan semua keluarga juga kerabat yang menyayangi mu. Mereka sangat menanti kau kembali sehat seperti dulu." Pak Akmal meraih tangan Irsyad.
"Jangan tinggalkan anak dan cucu-cucu Ayah ya Nak, kau adalah panutan mereka. Ayah bangga sekaligus berterimakasih sekali pada mu, kau sudah mendidik mereka dengan sangat baik. Namun semua itu belum cukup nak. Kau masih punya tanggung jawab, mendampingi mereka hingga ke bangku kuliah, menjadi sarjana, lalu menikahi anak-anak mu dengan pasangan mereka kelak. Nuha masih butuh wali, dan kau lah yang harus menjadi walinya, juga menjabat tangan pria yang menikahi Nuha kelak. Kau pasti menginginkan itu kan nak? maka dari itu, buka lah mata mu, Kau pasti bisa, berjuang ya nak, dan tetap sehat demi mereka." Pak Akmal mengusap matanya, lalu menoleh ke arah mata Irsyad.
"Istirahat dulu nak. Tapi jangan lama-lama ya.
kalau sudah sehat? nanti Ajari ayah mengaji lagi, ayah senang mengaji bersama mu. Ayah tunggu loh Irsyad." Pria paruh baya itu sudah tidak kuat, ia pun memutuskan untuk beranjak dari kursinya. Sebelum Rahma datang.
__ADS_1
Dan di luar pak Akmal mendapati seorang pria tengah duduk di kursi ruang tunggu.
Melihat pak Akmal, pria itu beranjak lalu mendekati pak Akmal.
"Assalamualaikum pak, saya Ulum, salah satu kerabat Ustadz Irsyad."
"Walaikumsalam, terimakasih sudah datang. Mau masuk?" Pak Akmal menawarkan dengan sangat ramah.
"Iya pak, terimakasih." Ucap Ulum sembari tersenyum.
Pria itu pun melangkah masuk dan duduk di kursi lipat menghadap Irsyad.
"Ya Allah ustadz." Ulum memandangi tubuh ustadz Irsyad yang penuh dengan alat-alat medis.
pria itu meraih tangan Irsyad dan mengecup punggung tangannya berkali-kali, Terlihat tangis Ulum di sana pecah.
kala mengingat segala kebaikan Ustadz Irsyad selama ini.
Dan dari Irsyad juga, dirinya bisa mendapatkan istri sebaik Aida dan anak yang cantik seperti Shafa, walau semua tetap dari Allah SWT, namun melalui perantara ustadz Irsyad.
Pria itu mengingat semua kebaikan Irsyad dulu dari dirinya masih duduk di bangku kuliah. Ustadz Irsyad sering tiba-tiba menyuruhnya masuk ke ruangan beliau.
Entah mendadak minta di temani makan lah, ngemil atau mengopi bersama.
Seperti paham saja jika dia sedang kekurangan uang dan sedikit kelaparan.
Sebelumnya Pria itu mendapat kabar dari Aida yang secara kebetulan menelfon Rahma tadi malam.
Entahlah Aida merasakan firasat tidak enak, sehingga membuatnya langsung menelfon Rahma dan benar saja, kabar buruk tentang ustadz Irsyad ia dapatkan.
__ADS_1
"Ya Allah, ustadz. Bagaimana bisa seperti ini? Antum orang baik, kata orang? Orang baik akan cepat di ambil sang maha Kuasa. Namun kami masih butuh antum ustadz, Antum harus bertahan ya Ustadz, harus," suara Isak tangis Ulum di dalam membuat Rahma menahan langkahnya untuk masuk.
Iya... dia sudah selesai menjalankan ibadah solatnya.
Dan mendengarkan setiap ucapan Ulum di dalam.
"Orang baik? Akan cepat di ambil?" gumam Rahma di balik pintu ruangan ICU tersebut. Hatinya kembali tersayat, ia pun kembali teringat ucapan ibu-ibu yang pernah tidak sengaja ia dengar.
'ustadz Irsyad baik sekali ya, jadi khawatir, soalnya Orang baik itu cepat wafat.'
Rahma menggeleng cepat. "Tidak, mas Irsyad memang orang baik namun aku tidak percaya dengan hal seperti itu. Mas bilang? umur manusia hanya Allah SWT yang tahu, bukan di nilai dari baik atau buruknya seseorang. Bahkan malaikat Izrail pun tidak tahu, pada siapa dia akan mencabut nyawa seorang anak manusia sebelum jatuhnya daun Bidara di sidratul Muntaha. Dan semoga saja, daun Bidara bertuliskan nama mas Irsyad belum jatuh." Rahma menguatkan hatinya sendiri.
Dalam lamunannya, ia terkesiap saat sebuah bed masuk dengan seorang wanita dan mungkin suaminya tengah menangis mendampingi pasien yang sudah di bawa masuk ke dalam ruangan ICU tersebut.
"Danu, hiks Danu—" Isak wanita itu. Terdengar sangatlah menyayat di telinga Rahma.
Entah sakit apa pria itu namun sepertinya dia memiliki penyakit yang sangat parah. Sehingga membuatnya harus mendapatkan penangan intensif saat ini, Rahma pun hanya diam saja masih berdiri di depan pintu ruangan ICU menunggu Ulum keluar dari dalam.
Karena jarak pasutri itu dekat dengan Rahma, wanita itu pun bisa mendengarkan percakapan dokter dengan suami istri tersebut.
"Pokoknya saya tidak mau tahu dokter, secepatnya kasih kami pendonor jantung itu. Kami butuh donor jantung untuk anak kami." Wanita itu berseru.
"Bu, maaf sekali. Walaupun kalian mau bayar seberapa pun, mencari pendonor jantung itu sulit Bu. Sulit sekali."
"Kalau begitu saya saja. Biar saya korban kan nyawa saya untuk anak saya dokter!!! Selamatkan anak saya!!!" Wanita itu mencengkram jas dokter di hadapannya. Kedua tangan suaminya pun mencoba membantu melepaskan cengkraman sang istri.
"Ibu tolong tenang ya. Prosedur pendonoran jantung tidak semudah itu, jika saya melakukan itu pada orang yang masih hidup, itu sama saja menyalahi prosedur. Ibu sabar saja ya, semoga secepatnya anak ibu bisa mendapatkan donor jantungnya. Mohon maaf saya harus permisi dulu." Ucap dokter tersebut.
"DOKTER!!! CARIKAN DONOR JANTUNG ITU DAN SELAMATKAN PUTRA SAYA...!!!" teriak ibu itu. Dengan sang suami yang masih berusaha menenangkan istrinya.
__ADS_1
Rahma pura-pura tidak melihat itu, ia hanya tertunduk, karena mereka mungkin tengah merasakan luka yang sama saat ini.
Beliau yang takut akan kondisi anaknya, sedangkan Rahma akan suaminya.