Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
Bab Rindu (hantu wanita)


__ADS_3

Dan benar saja, tingkat cemburu Rahma yang tiba-tiba naik ke level paling tinggi, membuat jarak duduknya berada di ujung jok motor dengan kedua tangannya yang tidak mau memegangi lingkar pinggang sang suami.


Bahkan tangan Irsyad berkali-kali meraih tangan Rahma, membawanya ke depan namun di lepas lagi oleh Rahma.


"Astagfirullah al'azim." Geleng-geleng kepala. "Dek, pegangan nanti jatuh loh." Titah Irsyad sementara yang di belakang diam saja.


Irsyad kembali meraih tangan Rahma namun lagi-lagi di lepaskan.


Irsyad pun terkekeh. "Ya Kareem, cemburu ya?"


"Nggak." Jawabnya ketus.


"Nggak kok ketus begitu?" Ledek Irsyad, sementara Rahma diam saja. Keduanya pun hening sejenak.


"Enak ya mas, ketemu mantan cinta pertama, masih langsing, beda sama yang di sebelah mu, yang berubah gemuk, pantes panggilan mu berubah jadi induk beruang."


Irsyad tergelak. "Enak yang gemuk dek. Di peluk anget." Jawabnya. Rahma pun memukul pelan bahu sang suami karena mencondongkan tubuhnya kebelakang. "Sini mana tangan mu dek, anginnya bikin mas kedinginan soalnya."


"Nggak mau, mending Rahma pegangan ke belakang."


"Ya Allah... Hei hati-hati loh dek. Ini sudah malam, suka denger cerita misteri tidak?"


"Nggak suka cerita misteri."


"Oh ya sudah, mas ceritakan ya."


"Nggak usah cerita, nggak mau denger juga!" Masih ketus.


"Tapi ini tentang istri dan suami yang lagi boncengan, terus si istri ngambek duduk di ujung jok belakang tanpa mau pegangan ke Suaminya." Ucap Irsyad, sedangkan Rahma hanya diam saja, sedikit penasaran juga sih dia.


"Tahu tidak? Sering terjadi loh, dalam kondisi seperti ini. Ada jin wanita yang memanfaatkan kondisi,"


"Maksudnya?"


'hehehe mulai terpancing nih.' batin Irsyad tersenyum jail. "Begini, jadi kalo istri lagi ngambek dia suka nggak sadar tiba-tiba di pindahkan oleh mahluk astral itu," tuturnya asal.


"Rahma nggak ngerti mas."


Irsyad pun mematikan mesin motornya diam-diam saat motor masih melaju di sebuah kawasan yang lumayan gelap dan sepi. "Waduh... Mati mesinnya dek? Kan?" Pura-pura panik.

__ADS_1


"Mas, kok bisa mati di tempat sepi begini sih."


"Kamu sih ngambek,"


"Apa hubungannya dengan ngambek sih."


"Iya, jadi jin wanita mau mengganti posisi mu."


"Hah?" Masih tidak mengerti.


"Biasanya, kalo kaya gini bikin kita nggak sadar, terus mas jalan aja gitu dan kamu di tinggalin. Karena merasa sudah membonceng diri mu, padahal yang di bawa hantu wanita."


"Iiissshhh mas kok ceritanya begitu sih." Memegangi lengan Irsyad, karena mendadak merinding.


"Jangan pegang-pegang kamu pasti mahluk astral ya." Irsyad menepis tangan Rahma.


"I...ini Rahma mas."


"Nggak... Muka mu berubah, istri ku berhijab, bercadar cantik lagi, sedangkan kamu pake daster putih." Irsyad memundurkan langkahnya.


"Mas ini Rahma!" Ibu dua anak itu sudah semakin panik terlebih ekspresi takut Irsyad benar-benar meyakinkan.


"Jangan deket-deket kamu." Mulai membacakan ayat kursi.


"Astagfirullah al'azim, istri ku di mana sih?" Berjalan setengah berlari lalu Naik ke atas motornya, sementara Rahma semakin ketakutan.


"Mas Rahma jangan di tinggalin."


"Diem ya, jangan deket-deket. Kamu bukan Rahma, Rahma ku tadi lagi ngambek soalnya." Menyalakan mesin motornya.


"I...itu jadi mas." Rahma masih memegangi lengan sang suami, karena takut benar-benar di tinggal.


"Emang jadi." Tertawa. Sementara Rahma masih bengong tidak mengerti.


"Maksudnya gimana sih?"


"Mas hanya bercanda dek, hahaha."


"Bercanda? Hah!" Berkacak pinggang.

__ADS_1


"Iya dong, yuk naik."


"Bisa-bisanya ya bercanda, di tempat yang seperti ini?"


"Mau marah apa mau naik ini? Mas tinggal nih ya," Mulai menekan-nekan gasnya.


"Iya!!" Kesal namun ia juga tidak mau terlalu lama di tempat sepi ini, dan langsung membonceng sang suami.


"Pegangan kalo nggak mau berarti kamu hantu wanitanya."


"Isssshh emang bisa ya kamu mas!" Dongkol.


"Bisa dong kan mas Irsyad." Terkekeh sementara Rahma memukul pelan bahu sang suami, lalu berpegangan di lingkar pinggang sang suami.


"Siap meluncur ya ibu bos?"


"Serah!"


"Serahnya cewek artinya mau. Hehehe mas apal itu." Melanjutkan laju motor mereka, walaupun yang di belakang masih bersungut-sungut sebal.


Di rumah...


Kedua anak mereka sudah kembali. Sementara Rahma hanya membuang muka pada Irsyad lalu berjalan cepat masuk, hingga tanpa sadar kaki Rahma menyandung kursi ruang tamu. "Aaaawww, astagfirullah al'azim." Merengek karena jari kaki yang merasa sakit.


"Awas, kesandung itu," ucap Irsyad, menutup mulutnya menahan tawa.


"Telat!!" Semakin sebal Rahma yang lantas melanjutkan langkahnya.


"Umma." Panggil Rumi, sementara Rahma hanya diam saja terus berjalan melewati dua anaknya. kedua anak kembar itu pun menoleh ke arah Abinya yang sedang terkekeh-kekeh.


"Umma kenapa, Bi?" Tanya Nuha.


"Biasa. Mode induk beruang," jawab Irsyad.


"Umma bukan induk beruang ya—" seru Rahma yang masih mendengar itu.


Praaaaaang, entahlah sebuah tutup panci tiba-tiba terjatuh membuat ketiga orang yang masih berada di ruang tamu itu terperanjat.


"Astagfirullah al'azim," tertawa lagi, lalu berjalan menyusul Rahma.

__ADS_1


"Memang dasar Abi ya. Pasti abis ngerjain Umma lagi nih." Gumam Nuha geleng-geleng kepala.


Sementara Rumi turut tertawa, walaupun dia tidak tahu apa yang terjadi, namun melihat tawa Irsyad sepertinya ada hal lucu yang telah terjadi baru saja.


__ADS_2