Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
kencan Ala ustadz (bagian 1)


__ADS_3

Esok paginya setelah menjalani kelas pagi, Ulum buru-buru keluar, Irsyad pun memanggil Ulum yang saat itu langsung menoleh kearahnya.


"Iya, Ustadz?" tanya Ulum.


"Mau kemana buru-buru sekali?"


"Ahhh ini ustadz, tadi Aida mengirim pesan singkat ia bilang katanya ingin makan buah pir, jadi saya ingin segera membelikannya," jawab Ulum.


"Begitu ya, tapi kabarnya sehat kan?" tanya Irsyad yang belum tahu kalau Aida tengah hamil.


"Alhamdulillah ustadz, bahkan Aida saat ini tengah mengandung." ucap Ulum senang.


Mata Irsyad berbinar. "Aida sedang mengandung?" tanya Irsyad memastikan.


"Iya ustadz Alhamdulillah sudah masuk usia dua bulan satu minggu." ucap Ulum.


"Subhanallah, Alhamdulillah kalau begitu, tapi kenapa tidak mengabari saya?" tanya Irsyad.


"Iya mungkin saya terlalu sibuk mencari uang Ustadz jadi saya lupa, hehehe maaf ya ustadz, dan lagi saya pikir Aida sudah mengabari mbak Rahma."


"Sepertinya belum, soalnya Rahma belum bicara apapun." ucap Irsyad.


"Oh begitu ya? Maaf Ustadz, saya harus


permisi, ingin mencarikan buah untuk Aida." ucap Ulum.


"Suami yang baik, berusaha untuk menuruti keinginan istri. Bagus itu pertahankan ya."


"Hahaha, Ustadz bisa saja. Ya mungkin karena saya tidak memiliki harta benda dan penghasilan tinggi, maka dari itu saya hanya berusaha memberikan perhatian lebih padanya."


Irsyad menepuk bahu Ulum pelan. "Itu sudah baik Ulum, karena Yang ada di kandungan istri mu itu juga harta paling berharga kalian, maka jagalah dengan baik ya. Saya saja masih menunggu." ucap Irsyad.


"Iya ustadz Alhamdulillah, semoga ustadz dan mbak Rahma bisa segera di berikan momongan juga seperti kami."


"Amien ya Allah." jawab Irsyad.


"Kalau begitu saya permisi ya Ustadz, Assalamu'alaikum."


"Walaikumsalam warohmatuloh." jawab Irsyad, terlihat senyum bahagia yang tersungging di bibir Irsyad berubah kecut.


Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini, walaupun dirinya di limpahkan harta dan istri yang cantik, namun tetap saja sebagai manusia normal rasa kurang itu masih hinggap di benak Irsyad, karena belum hadirnya seorang anak di tengah-tengah kebahagiaan mereka.

__ADS_1


"Astaghfirullahalazim, Astaghfirullahalazim, Astaghfirullahalazim, kenapa aku merasa sedikit iri?" Irsyad menggeleng cepat dan berjalan menuju ruangannya.


Di dalam kantor para dosen , mungkin bisa di bilang kebetulan, karena hampir semua teman-temannya membahas soal anak, bahkan mereka tengah membanggakan anak-anak mereka yang sudah bisa ini, sudah bisa itu. Terlebih saat menunjukan vidio lucu tingkah aktif dari anak mereka.


Di situ pula Irsyad hanya bisa tersenyum dan turut bahagia.


Karena tidak ada bahasan guna turut berbagi cerita Ia pun memutuskan untuk membuka ponselnya, lalu mengirim pesan pada Rahma.


(Assalamu'alaikum khumairah, sedang apa di rumah?)


Selang beberapa menit Rahma membalasnya.


(Walaikumsalam mas, sedang bersantai hehehe, habis semua pekerjaan sudah di kerjakan oleh mu tadi pagi, jadi sekarang banyak menganggur.)


Irsyad tersenyum. (Sudah solat Dhuha, belum?)


(Sudah mas tadi. Mas sendiri sedang tidak ada kelas kah?) tanya Rahma.


(Sepuluh menit lagi sayang, hmmm nanti malam kita pacaran yuk.) tulis Irsyad.


Di sisi lain Rahma terkekeh. Lalu membalasnya.


(Loh memangnya kita sudah terlihat tua ya?) tanya Irsyad.


(Tua dong, kan sudah lebih dari usia 30an. untuk mas sih, berbeda dengan Rahma, kalau Rahma masih ABG. Hehehe)


Membaca pesan itu Irsyad sedikit terkekeh. Lalu kembali membalasnya.


(Mas juga masih ABG Rahma, makanya nanti kita berkencan ya. Mas juga akan berpenampilan menarik khusus untuk dek Rahma.)


Rahma geleng-geleng kepala.


"Suami ku ini tengah kumat apa sih? Tiba-tiba seperti ini?" gumam Rahma. Dia sendiri tidak sadar kalau Irsyad memang selalu seperti itu hehehe.


(Ya.. Ya... Suami ku, ku tunggu kepulangan mu. Selamat mengajar Assalamu'alaikum) balas Rahma.


Irsyad tersenyum lalu membalas salam itu dengan gumaman nya.


setelah itu menghela nafas sebentar. 'Ya, setidaknya aku masih di beri kesempatan untuk menikmati waktu berdua lebih lama dengan Rahma, sebelum perhatian Rahma pada ku berkurang karena kesibukannya mengurus anak.' batin Irsyad.


Ia pun beranjak guna kembali ke kelasnya.

__ADS_1


***


Sore berselang...


Keduanya sudah siap untuk pergi. Irsyad melihat Rahma lebih bersinar dari biasanya. Ia pun mendekati istrinya dan mengecup keningnya lumayan lama, lalu melepasnya.


"Ayo kita jalan." ajak Irsyad.


"Emmmm Memangnya kita ini mau kemana Mas?" tanya Rahma.


"Jalan-jalan saja dek, atau mau menonton film mungkin? Hari ini ada Film yang katanya bagus, mas ingin menontonnya."


Rahma mengerutkan keningnya merasa bingung. "Wah...wah...tumben sekali ustadz tampan ini mengajak Rahma nonton Film? Sepertinya baru pertama kali semenjak kita menikah." tanya Rahma.


Irsyad terkekeh. "Sekali-sekali, kalau tema islami mungkin mas mau nonton. Asal tidak mempertontonkan aurat saja. Mau tidak nih." Ajak Irsyad.


"Ya sudah ayo nonton." ajak Rahma. Irsyad pun mengangguk. Mereka pun melangkahkan kakinya keluar rumah.


Okay kita ikuti kencan ala Ustadz Irsyad itu seperti apa ya?


Dengan perjalanan yang tidak memakan waktu lama mereka pun tiba di sebuah mall. Di dalam gedung Cinema XX1, Irsyad terus saja menundukkan kepadanya, ada sedikit penyesalan ia masuk ke ruangan itu, di mana banyak para kaum wanita yang mengenakan pakaian minim tengah bergelayut manja dengan pasangannya.


"Mas? Yakin mau nonton?" tanya Rahma yang sedikit tidak enak melihat ekspresi Irsyad. Irsyad terdiam. "Kalau tidak mau kita keluar saja yuk, atau mau makan mungkin?"


"Ya sudah dek kita makan saja," Irsyad menggandeng tangan Rahma dan membawanya keluar dari area itu.


"Kok bisa ya, mereka mempertontonkan kemesraan yang bukan halalnya di depan publik?" gumam Irsyad.


Rahma menunduk. "Dulu Rahma juga begitu."


"Ehhh? Sama Almarhum?" tanya Irsyad. Rahma mengangguk.


"Pakai pakaian seminim itu?" tanya Irsyad.


"Ya tidak minim itu mas. karena, walaupun Rahma tidak berhijab, Rahma tetap tidak mempertontonkan aurat seperti mereka. dan lagi kami juga tidak semesra itu, tapi ya duduk berdekatan juga seperti mereka, kadang mas Fikri juga mainin rambut Rahma sembari menunggu pintu teater itu di buka." tanpa sadar Rahma semakin asik menceritakan kisah masa lalu dirinya dan Almarhum.


"Dan kalau di dalam?" Deeeeg mendengar itu Irsyad membulatkan bola matanya.


"Dek makan yuk mas lapar." Potong Irsyad, sembari jalan lebih dulu. Rahma mematung. Ia sedikit bingung padahal ia hanya ingin bilang kalau di dalam pun mereka tidak pernah neko-neko dan lebih fokus menonton filmnya.


Menyadari suaminya sudah berjalan lumayan jauh Rahma pun segera melangkahkan kaki mengejar sang suami yang sepertinya sedikit panas, akibat mendengar cerita kilas balik dari Rahma.

__ADS_1


__ADS_2