
di bawah Rahma tengah menyuapi Nuha.
Gadis kecilnya itu masih anteng bermain ibu peri dengan beberapa bonekanya.
sedangkan mbak Rani mengurus Rumi yang masih lari-larian membawa tembakannya.
Setelah selesai Rahma menaiki anak tangga sembari membawa satu piring kue brownies yang ia potong tadi dan meninggalkan anak-anak sebentar bersama mbak Rani guna menemani sang suami yang tengah menikmati waktu menjelang sore di lantai dua, dengan secangkir kopi buatannya.
Rahma duduk di sebelah Irsyad yang tengah membaca buku bertuliskan laa tahzan (jangan bersedih.), Juga meletakkan piring tersebut di dekatnya.
"Suka sekali membaca buku itu sih mas?"
"Iya sayang, soalnya buku ini mengajarkan kita untuk bersyukur dengan segala yang kita miliki."
Rahma membulatkan bibirnya. Hanya sebatas itu. dia memang tidak begitu tertarik dengan buku-buku milik suaminya. Kalau bagi Rahma itu sangat membosankan.
Ya walaupun sang suami selalu meminta Rahma untuk membaca. Cuman mau bagaimana lagi? Membaca itu bukan hobinya. Dia lebih suka nonton drama. Atau mendengarkan musik.
Irsyad menengguk kopinya. Lalu meletakkan lagi cangkir tersebut di atas meja.
"Mas, bagaimana hari ini?" tanya Rahma. Irsyad pun melepaskan kacamata lalu buku di tangannya ia letakkan di atas meja juga.
"Lancar, Alhamdulillah sayang."
"Syukurlah." gumam Rahma.
"Oh iyaa. Tiga Minggu lagi mas ada tausiyah di Bandung sayang." ucap Irsyad.
"Wahhh mas sudah mau berdakwah lagi?" Rahma berbinar. Sudah beberapa tahun terakhir beliau selalu menolak tawaran berdakwah.
Kini tiba-tiba sang suami berkata akan ke Bandung untuk berdakwah lagi.
"Sebenarnya semua karena keinginan pak Huda. Ini juga atas undangan saudaranya."
"Begitu ya? Tapi Mas ikhlas kan?"
"insyaAllah ikhlas lah dek. Masa enggak?"
"Alhamdulillah, Rahma senang mendengarnya, jika mas mau berdakwah lagi."
Irsyad tersenyum ia mengusap kepala Rahma. "Kalau berdakwah mas jadi sering pulang telat loh sayang. Dan lagi jika perjalanan jauh. Dek Rahma jadi bobo sendirian deh." Menyentuh hidung Rahma dengan jari telunjuknya.
Rahma tersenyum. "Mbak Rani belum pulang sih."
"Loh memang kenapa?"
"Mau menyandar di bahu mas Irsyad." ucap Rahma dengan suara manjanya.
"Waduh tanda-tanda nih?"
__ADS_1
"Tanda-tanda apa?"
Irsyad berbisik. "Tanda-tanda Ummanya anak-anak minta di kasih jatah." Terkekeh. Karena melihat Rahma membulatkan bola matanya.
"Mas ini ya." Menarik pipi Irsyad.
"Tuh kan? Narik-narik pipi. Mas gendong juga kamu ya."
Rahma terkekeh. "Kaya berani aja. Ada mbak Rani di bawah loh."
"Wah nantangin ini? dek Rahma pikir mas tidak berani apa? Mas gendong beneran loh ya, mas bawa ke kamar, mau?."
"Coba saja, kalo berani." Rahma menopang dagu semakin menantang sang suami dengan rambut panjang yang ia kesampingkan seluruhnya. Ke sebelah kanan sehingga leher putih bersih Rahma nampak.
Sang suami geleng-geleng kepala.
"Nantang sekali kamu ya? Gigit juga nih."
"Apanya?" Sembari terkekeh.
"Roti ini." Irsyad meraih roti yang dibawa Rahma tadi lalu menggigitnya dengan pandangan menatap kearah Rahma. Rahma pun mendengus.
"Kok keliatan kecewa gitu? Kecewa ya nggak jadi di gendong dan di gigit?" Tanya Irsyad sembari mengunyah. Ia menahan tawanya karena sang istri mulai cemberut. Lalu mengulurkan roti di tangannya menempelkannya ke bibir Rahma.
"Mas ih..."
"Gigit dong." Pinta Irsyad.
Rahma terkejut bukan kepalang. Mas Irsyad semakin aktif loh dia? Hahaha ajaran Rahma itu pasti.
"Mas!"
"Mantap." Jawab Irsyad sembari mengangkat alisnya sok cool.
"Kalo mbak Rani atau anak-anak tiba-tiba naik bagaimana?"
Irsyad hanya terkekeh. "Biar nggak ketahuan masuk aja ayo ke kamar, kita lanjutkan yang tadi." Goda Irsyad.
Rahma menyubit bagian lengan Irsyad, membuat Irsyad mengaduh sembari tertawa.
"Sakit dek."
"Sukurin salah siapa nakal."
"Nakal tapi nikmat tok dek? Rasakno kui, salahe sopo gawe geregetan?" (Rasain itu, salah siapa bikin gregetan?)
"Kan...kan mulai pakai bahasa yang Rahma nggak ngerti."
Irsyad terkekeh. "Makanya belajar. Sini belajar sama kang mas dosen."
__ADS_1
"Nggak mau, mas dosennya kalo ngajarin suka yang aneh-aneh."
"Enggak dek serius. Coba dulu ya. Ikutin kata-kata mas."
"Okay." Rahma menyanggupi.
"Aku?"
"Aku?"
"Yen tes turu?"
"Yen tes turu" Rahma benar-benar mengikuti dengan bahasa Jawa yang benar-benar terdengar sangat kaku dan Aneh.
"Mesti Koyo?" Irsyad menutup mulutnya sudah tidak bisa menahan tawa.
"Perasaan Rahma nggak enak deh." ucap Rahma yang sudah menaruh curiga.
"Jangan suuzon. Sudah ayo lanjutkan. Katanya mau belajar bahasa jawa?"
"Ck!"
"Jangan mengecak. Ayo cepet."
"Mesti koyo?"
"Wedus gembel." Irsyad mengatakannya sembari terkekeh-kekeh.
"Wedus gembel." Ragu namun tetap di ucapkan, Berfikir sejenak. Irsyad semakin tidak bisa menahan tawanya melihat ekspresi sang istri.
"Coba di google bisa loh translate bahasa Jawa. Sini mas ketik ya." Beliau meraih ponselnya lalu mengetik kata-kata yang ia ucapkan tadi.
"Tutup mata dulu sayang." Masih menahan tawa.
"Nggak usah tutup mata, sini Rahma liat."
"Eitsss tutup mata dulu."
"Nggak mau ah kaya apa aja."
"Ya sudah. Tunggu hitungan ketiga baru buka ya." Irsyad menelungkup kan ponselnya di atas meja.
"Satu, dua?" Irsyad beranjak. "Tiga..." Beliau mengambil langkah seribu masuk kedalam kamarnya lalu menutup pintu kamar itu.
Di saat yang sama Rahma tengah membacanya.
"Aku kalau bangun tidur kaya kambing domba?" (rambutnya ya yang kaya kambing domba hehehe) Mata Rahma pun membulat sempurna.
"MAS IRSAAAAAAAAAAADDDD!!!" seru Rahma dari luar. Sedangkan sang suami di dalam sedang tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Menertawakan kebodohan sang istri upppsss maaf.
"Ya Allah Gusti perut ku sakit." gumam Irsyad masih tertawa di dalam kamar yang terkunci itu, menghindari amukan sang istri yang sudah dia kerjai.