
Di salah satu rumah sakit, sebuah mobil ambulans masuk ke pelataran tersebut, dan berhenti di depan ruangan IGD.
Beberapa perawat sibuk mengeluarkan bed yang sudah ada seorang pria di atasnya, dari dalam mobil ambulan tersebut.
"Lukanya cukup parah dok. Terjadi pendarahan juga di kepalanya." ucap salah satu perawat.
"Cepat bawa kedalam, kita lakukan tindakan segera." Titah sang dokter pria.
Di bawa lah Irsyad yang sudah tak sadarkan diri di atas bed tersebut.
Beberapa petugas medis sibuk berkutat dengan alat-alat di sana.
Di dalam ruangan IGD itu, mereka berbagi tugas, seorang perawat pria sudah membuka bagian dada Irsyad dan menempelkan alat di sana. Agar statistik kerja jantungnya masuk ke monitor.
Sementara itu sang dokter berusaha mencari titik pendarahannya.
"Dokter, tanda vital nya melemah dok."
Dokter tersebut lantas menoleh kesebuah layar monitor. Ia mengusap keningnya yang berkeringat.
"Pasang Ventilator—" titah dokter tersebut. (sebuah alat bantu pernafasan.)
Tampak tegang para petugas medis disana, yang masih terus berusaha melakukan pertolongan pertama untuk Irsyad.
Sementara itu sebuah mobil berhenti, di pelataran rumah sakit tempat Irsyad di tangani. Rahma yang keluar dari mobil tersebut pun segera berlari menghampiri ruangan IGD tersebut.
"Mas Irsyad—" langkahnya terhenti di depan pintu UGD.
Terpaku menatap kedalam, sekujur tubuh Rahma sudah melemas, melihat beberapa petugas medis berlalu lalang di dalam dengan Ekspresi tegang mereka.
"Mas Irsyad. Tolong bertahanlah mas... Tolong bertahan untuk ku. Untuk Rumi, dan Nuha." gumam Rahma, tangannya menyentuh dinding kaca tersebut.
Di posisinya berdiri yang bisa ia lihat hanya kaki seorang pria yang ia yakini adalah suaminya.
"Ya Allah, Mas Irsyad ku." Rahma terisak.
Sang ayah pun menghampiri Rahma yang masih menangis, terpaku memandang ke dalam. "Sabar Rahma," membelai lembut kepala putrinya.
"Ayah, mas Irsyad tidak kenapa-kenapa kan? Mas Irsyad akan baik-baik saja kan?" Isak Rahma.
"Tunggu kabar dari dokter ya sayang. Suami mu pasti baik-baik saja. Kita berdoa saja."
Sedangkan di dalam ruangan IGD tersebut. Ketegangan masih terasa.
"Dok, tanda vital nya semakin melemah, sepertinya pasien mengalami cidera otak parah dok."
"Coba lepas alat ventilator nya." Titah sang dokter.
"Baik, dokter."
__ADS_1
Perawat tersebut melepaskannya. Sang dokter mengamati bagian perut Irsyad, dan dari analisanya perut Irsyad tidak bergerak. Seperti normalnya orang yang tengah bernafas.
Ia lantas mendekatkan punggung jari telunjuknya di dekat lubang hidung.
"apnea," gumamnya. (Henti nafas.)
"Pasang kembali alat ventilator nya." Lanjut sang dokter kemudian. Perawat yang di perintah itu langsung memasangnya.
"Penlight." Pinta dokter tersebut. (Senter medis.)
Setelah sang perawat menyerahkannya. Dokter tersebut mengecek bagian pupil mata Irsyad dengan mengecek reflek matanya. Jika ia masih merespon biasanya pupil mata akan mengecil saat di beri cahaya. Namun tidak untuk Irsyad.
"No respon." Sedikit lunglai.
"Kapas." Pinta sang dokter. Yang dengan sigap di berikan oleh perawat di sebelahnya.
Sang dokter pun melakukan tes reflek kornea. Dimana beliau menyentuh bagian kornea mata Irsyad menggunakan kapas tersebut.
"Tidak ada pergerakan dari kelopak matanya."
perawat disana saling pandang untuk beberapa saat.
Sang dokter menghela nafas sejenak, "Aku tidak yakin namun semua analisa mengarah ke brain death?" Ucap sang dokter.
Para petugas medis pun merasa lemas.
"Pindahkan pasien ke ICU. Observasi selama dua kali dua puluh empat jam. Saya harus bicarakan ini pada pihak keluarga pasien."
Dokter pria tersebut pun keluar dari dalam tirai dengan sedikit lesu, sembari mengusap wajahnya.
Setelah hampir satu jam menangani Irsyad. Beliau menggeleng pelan.
"Dokter keluarga pasien sudah hadir." ucap seorang perawat.
"Suruh mereka masuk ya, saya ingin bicara." Titah dokter tersebut menuju mejanya.
Seorang perawat pun mengiyakan dan berjalan keluar, membuka pintu IGD tersebut. "Keluarga pasien Irsyad Fadilah—" seru sang perawat.
Rahma pun mendekat.
"Ka...kami suster." ucap Rahma. Suaranya sudah sangat parau.
"Maaf, ibu siapanya?"
"Saya istrinya, dan yang di samping saya adalah ayah kami." ucap Rahma, berusaha tenang.
"Baik, saat ini ibu bisa masuk ke dalam untuk berbicara dengan dokter terkait dengan kondisi pasien. Namun mohon maaf belum bisa menemui pasien dulu ya Bu."
"Tapi bagaimana keadaannya."
__ADS_1
"Dokter Rudi akan menjelaskannya ibu. Jadi silahkan masuk, untuk mengetahui detailnya."
Pak Akmal menganggukkan kepalanya kepada Rahma. Lalu menoleh ke arah perawat tersebut.
"Apa saya boleh turut masuk suster?"
"Silahkan bapak." ucapnya mengizinkan.
Keduanya pun masuk. Rahma sempatkan menoleh sejenak kearah tirai yang sedikit terbuka, dan melihat Koko yang di pakai memang benar itu suaminya. 'ya Allah mas Irsyad ku.' kembali menitikkan air matanya.
Tangan pak Akmal melingkar di bahu Rahma, meminta Rahma untuk melanjutkan langkahnya, menghampiri sang dokter.
Kini keduanya sudah berhadapan dengan dokter Rudi dan menjabat tangannya.
Saat tangan dokter tersebut terulur ke arah Rahma, ia pu menelungkup kan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Maaf Dokter." Ucap Rahma serak.
Dokter itu pun mengerti. Dan tersenyum.
Dokter pun mulai berbicara panjang lebar tentang kondisi Irsyad saat ini.
Tentang analisanya tadi. Dan semua tindakan dan prosedur medis yang di jalani.
"Untuk saat ini pasien mengalami koma Bu, pak. Namun ada dugaan yang semoga saja ini tidak benar-benar terjadi ya, karena analisa saya tadi pasien di diagnosa mengalami brain death"
Deeegg, Rahma membulatkan bola matanya. "Astagfirullah al'azim, ya Allah." Gumamnya.
Semakin terisak pula Rahma di sana, pak Akmal pun memeluk Rahma menenangkannya, beliau belum mengerti maksud ucapan dokter tersebut.
"Maksudnya bagaimana dokter?"
"Orang awam biasa mengatakan itu dengan kematian otak pak, dimana semua mengacu kepada kondisi tiadanya distribusi darah dan oksigen ke otak yang menyebabkan seluruh sistem otak termasuk batang otak, saraf dan bagian-bagian otak lain yang mengatur aktivitas-aktivitas penghidupan seperti pernapasan dan denyut jantung tidak lagi bekerja dengan sempurna dan keseluruhan."
"Astagfirullah al'azim" pak Akmal mulai mengerti. sedangkan Rahma semakin terisak.
"Bila tubuh kehilangan kemampuan untuk mengorganisasi dan regulasi, maka tubuh hanyalah sekumpulan organ yang dapat hidup dan berfungsi dengan bantuan dari luar berupa alat bantu itu sendiri pak. Seluruh tanda kehidupan tersebut dapat menghilang jika bantuan dari luar tersebut dihentikan. Kehilangan fungsi otak ini umumnya tidak lagi dapat dipulihkan. akhirnya membawa kepada masalah kematian otak. Dengan kata lain pasien Irsyad Fadilah sudah bisa di katakan Wafat pak."
"Inalillah." Mata pak Akmal mulai basah.
"Dokter, tolong lakukan sesuatu dokter. Tolong periksa lagi suami saya. Suami saya tidak mungkin mengalami kematian otak dokter. Tolong suami saya, saya mohon selamatkan dia." Ucap Rahma memohon, tubuhnya sudah benar-benar sangat lemas, bahkan hampir kehilangan kesadaran.
"Iya ibu, saya tengah berusaha. Kita sedang mengobservasi pasien lebih dulu. Untuk menunggu responnya, berdoa saja akan adanya mukjizat. Pasien bisa siuman. Walau kemungkinannya sangat kecil. Sekitar satu persen Bu."
Rahma menekan dadanya. Ia sudah tidak sanggup lagi mendengar keterangan dokter di hadapannya.
Saat ini ia hanya bisa pasrah dan berharap sang suami bisa tersadar dari komanya.
Dan bisa melewati masa kritisnya.
__ADS_1