
Pukul tiga sore Rahma baru saja terjaga dari tidurnya, ia menilik kearah ponselnya ada beberapa pesan singkat dari Fikri. Seperti itu lah mas Fikri, jika melakukan kesalahan ia akan berusaha sekeras mungkin untuk membujuk Rahma. Namun jika Rahma sudah kembali luluh ia akan kembali ke tabiat awalnya sedikit cuek dan jarang membalas pesan.
Ia pun memutuskan untuk tidak membalasnya. Dan memilih untuk bebersih sembari menunggu tukang bakso tusuk yang biasa lewat di depan kosannya.
Hingga pukul enam Rahma tengah duduk di depan kamar kos salah satu temannya bersama beberapa penghuni kos lainnya yang satu profesi dengannya. Karena hampir semua yang ngekos di sana adalah para perawat dan dokter koas.
Tak lama mobil Fikri masuk ke pelataran kos tersebut.
"Asik dokter cinta datang nih." goda si A yang berada di dekat Rahma.
"Apa sih mbak," Rahma malu-malu.
"Senangnya punya pacar dokter." Goda si B kemudian. Rahma pun geleng-geleng kepala ia kembali berjalan menuju kamar kosnya sendiri menunggu Fikri keluar dari dalam mobil.
Terlihat ia membawa beberapa makanan dari dalam kantong keresek yang ia jinjing di tangan.
"Assalamu'alaikum." Sapanya saat sudah tiba di depan kamar kos dengan senyuman hangatnya. Rahma pun menjawab salam itu tanpa senyuman di bibirnya.
"Senyum dong jangan ngambek terus." ucap Fikri menggoda. Rahma pun memalingkan wajahnya membuka pintu kamar kos itu lalu mempersilahkan Fikri masuk dengan pintu yang masih terbuka.
Posisi duduk Rahma berjarak satu meter dari Fikri hal itu pula yang membuat Fikri meraih tangan Rahma dan menariknya. "Sini sayang jangan jauh-jauh dong."
"Rahma di sini saja." jawabnya masih ketus.
"Ya sudah mas yang ke situ deh."
"Mas ngapain sih, sudah di situ saja." Rahma masih bersungut namum memang Fikri. Pria yang tidak akan mau kalah ia tetap beranjak dan duduk di sebelah Rahma. Ia meraih dagu Rahma.
"Aku kangen sayang." tuturnya sedangkan Rahma diam saja. Bahkan hingga Fikri memberinya kecupan di bibir untuk waktu yang lumayan lama demi melepas rindu akibat pertengkaran kemarin, membuat Rahma tidak bisa menolak itu. Ia tidak bisa membohongi kalau dirinya pun merindukan Fikri.
Fikri melepasnya. Dan menatap Rahma dalam-dalam. Sesaat ia merogoh saku celananya. Mengeluarkan suatu kotak kecil yang berisi cincin di dalamnya.
Rahma tertegun, matanya mulai berkaca-kaca. Cincin itu sangat Indah dan sepertinya sebuah cincin berlian.
"Menikahlah dengan ku Rahma. Sungguh aku tidak ada niatan menduakan mu. Aku mencintaimu sangat mencintaimu Rahma, ini hanyalah sebagai tanda kecil kalau aku benar-benar tidak ingin melepasmu." tuturnya dengan penuh ketulusan.
"Mas Fikri." Rahma menitikkan Air matanya. Fikri pun tersenyum.
"Tolong maafkan aku Rahma, dan terimalah cincin ini untuk simbol awal keseriusan ku sayang, karena minggu depan kita akan ke Jakarta. Untuk melamar mu secara resmi. Aku tidak ingin menunggu lama. Jarak lima bulan kita akan menikah. Bagaimana?"
__ADS_1
Rahma tersenyum ia menyentuh wajah Fikri dan mengangguk. Fikri pun membalas senyum, ia memasangkan cincin itu ke jari manis Rahma. Sedikit terkekeh Rahma saat mendapatkan ekspresi wajah Fikri yang tengah melebarkan bola matanya.
"Kok cincinnya longgar sih?" gumam Fikri, ia garuk-garuk kepala.
"Hehe, mas ngukurnya pakai jari manis Imelda ya?" tanya Rahma. Fikri pun menoleh.
"Apa sih, kok kamu bahas Imel lagi. Mas sudah hapus kontak dia kok." tuturnya.
Rahma terkekeh. "Benarkah?"
"Iya, wanita itu masih mengejar mas terus. Maka dari itu mas blacklist saja kontaknya." Jawab Fikri dan terlihat ia jujur sih.
Rahma tersenyum senang.
"Nanti mas Fikri tukar deh kita ke tokonya langsung selepas magrib ini ya." tutur Fikri. Rahma pun mengangguk. Dari situ Fikri kembali meraih dagu Rahma dan mengecup bibirnya walau sesekali harus melepas karena mendengar langkah kaki seseorang. Terkekeh sejenak lalu melanjutkannya lagi.
Benar saja selang satu minggu mereka berdua mengambil cuti untuk ke Jakarta bersama kedua orang tua Fikri untuk melamar Rahma. Acara berjalan lancar hingga keduanya kembali ke Palembang untuk menjalani aktivitas mereka seperti biasa.
Terlihat sih Fikri semakin merubah sikapnya itu menjadi lebih baik. Walau yaaa tetap saja. Ia tetap tidak terbuka dengan ponselnya pada Rahma. Walau hanya meminjamnya sebentar Fikri tetap tidak mengizinkannya. Ia bahkan berucap saat menikah nanti akan ada aturan yang ingin ia tekankan mengenai privasi ponselnya. Baik dirinya ataupun Rahma tidak boleh mengecek ponsel masing-masing. Sebenarnya Rahma tidak masalah jika Fikri ingin mengecek ponsel Rahma namun ya... Ia tidak ingin banyak bertanya yang akan menimbulkan perdebatan kecil di antara mereka karena memang akhir-akhir ini mereka kembali sering berdebat semakin dekatnya dengan tanggal pernikahan mereka.
Hingga malam satu minggu sebelum pernikahan mereka Rahma mendengar suara Fikri untuk yang terakhir kalinya dulu sebelum akhirnya menerima kenyataan tentang kecelakaan yang menewaskan Fikri. Bahkan ibunda Fikri pun mengirimkan foto jasad Fikri yang sudah terbujur kaku dengan kain putih terikat melingkar dari dagu hingga ke atas kepalanya.
(Flashback is on)
"Katanya mau cerita dek, tapi kok malah tiba-tiba menangis." ucap Irsyad.
Rahma menyentuh wajah Irsyad. "Intinya dia bilang belum siap menerima Rahma berhijab mas." Jawabnya. Ya lamunan yang menghabiskan beberapa bab itu hanya ada di benak Rahma saja ia tidak menceritakan itu semua pada Irsyad.
"Kok lucu ya. Calon istri mau berhijab malah di larang."
Rahma tersenyum kecut. "Dan Rahma malah mendapatkan suami yang mewajibkan Rahma berhijab hehehe lucu jika di ingat-ingat." ucap Rahma.
Irsyad mengamati wajah Rahma yang tiba-tiba murung. "Ade kenapa?"
"Tidak apa-apa mas, hanya saja baru sebulan lalu menerima sesuatu kenyataan yang membuat Rahma merasa sesak."
"Apa?"
"Emmm, ternyata kala itu mas Fikri membohongi Rahma."
__ADS_1
"Membohongi apa?"
"Malam sebelum kepergiannya. Ia menelfon Rahma kalau dia sedang jaga malam, namun baru sebulan yang lalu Rahma melihat postingan seorang dokter wanita yang Rahma kenal, tengah meposting foto mas Fikri yang tengah tidur di ranjangnya."
"Astaghfirullah."
"Dan saat itu juga Rahma baru menanyakan pada salah seorang perawat UGD di sana, menanyakan apakah Mas Fikri jaga malam pada saat sebelum kejadian naas itu?"
"Lalu jawabnya?" tanya Irsyad.
Rahma menggeleng. "Mas Fikri sudah masuk masa cutinya hari itu. Dan malam dimana ia menelfon? Jika di satukan dengan foto yang di posting dokter wanita itu. Berarti malam itu mas Fikri sedang bersamanya." lanjut Rahma lirih.
"Innalillah." gumam Irsyad.
"Dan aku mendengar desas desus. Tentang kondisi mas Fikri kala itu beliau mengemudi dalam pengaruh alkohol."
"Ya Allah. Sudah hentikan Rahma. Kasian beliau jangan dibahas lagi ya. Semoga Allah mengampuni dosanya. Dan dek Rahma juga harus memaafkannya." Irsyad pun mengecup kening Rahma dan memeluknya.
"Rahma itu membahas ini hanya ingin mengucap syukur teramat dan meminta maaf pada mas Irsyad." tutur Rahma. Irsyad melepas pelukannya
"Meminta maaf untuk apa?"
"Karena sudah mengutuk mu dulu, membenci mu karena mas sudah lancang meng khitbah Rahma."
"Masa sih punya pikiran seperti itu dulu?" Irsyad terkekeh.
"Mas lupa ya? Rahma saja sampai sebal dengan semua omongan mas Irsyad yang sok ngerayu itu."
"Hehehe Rahma... Rahma..."
Rahma meraih tangan Irsyad dan mengecupnya. "Benar kata mas Irsyad, ketika kita kehilangan sesuatu. Seharusnya kita ikhlas menerima itu semua. Karena sejatinya Allah memberi yang terbaik untuk kita, sesuai apa yang kita butuhkan bukan sesuatu yang sangat kita inginkan."
"Dan ketika keikhlasan itu ada maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Aku kehilangan mas Fikri yang selalu membuat ku terluka. Namun aku mendapatkan mas Irsyad yang selalu membuat ku bahagia dan merasa di cintai." gumamnya.
"Dek Rahma nih bikin mas gemas saja. Pintar muji sekarang." Pipi Irsyad merona karena terlalu banyak di puji.
"Itu serius mas. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Rahma benar-benar menikah dengan mas Fikri. Mungkin Rahma tidak akan sebahagia sekarang Saat menjadi istri Ustadz Irsyad."
"MasyaAllah. Sudah lah sudah jangan puji mas terus. Jadi mau lagi kan ini, Rahma sih."
__ADS_1
Rahma terkekeh. "Apanya?"
"Apanya ya?" Irsyad pura-pura berfikir namun tangannya sudah mulai bekerja memberikan sentuhan cinta untuk sang istri memanjakannya lalu melakukannya lagi. Hahaha maaf ya buat para jomblo yang belum menikah sudah di bikin iri terus sama Rahma dan Irsyad....