Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
kegundahan hati Irsyad


__ADS_3

Irsyad baru saja menyelesaikan urusan birahi nya dengan Rahma. Sedikit aneh menurut Rahma, suaminya lebih sering, bahkan hampir setiap hari ia meminta di layani Rahma. Memeluknya tiba-tiba. Memberi sentuhan yang seperti bukan suaminya saja. Rahma menyentuh wajah Irsyad yang masih betah mengecup keningnya.


"Mas Irsyad kenapa?" tanya Rahma. Irsyad meraih tangan Rahma dan mengecupnya juga.


"Tidak apa-apa. Rahma bilang mas sekarang sudah jarang memanjakan Rahma kan? Jadi mas akan memanjakan Rahma setiap hari." tuturnya. Menciumnya lagi di area bibir Rahma.


Sedikit dorongan di dada. Rahma melepaskan kecupan suaminya itu.


"Mas aneh." tuturnya.


"Aneh kenapa?" tanya Irsyad.


"Seperti bukan suami ku." jawabnya. Rahma pun menyentuh kening Irsyad dan bergumam membaca Ayat kursi.


Sedangkan Irsyad hanya memandangnya bingung. "Ade kok bacain mas Ayat kursi sih?" tanya Irsyad.


"Mas tidak merasakan panas?" tanya Rahma. Irsyad menggeleng tidak mengerti maksudnya.


"Berarti mas bukan Jin yang menjelma menjadi suami ku."


Irsyad tergelak. Tertawa terbahak-bahak mendengar itu. "Ya Allah kok bisa kamu mikir sampai ke situ?" tanya Irsyad gemas.


"Habis mas seperti lebih haus saja sama Rahma beberapa hari belakang ini." ucap Rahma.


"Haus bagaimana sih? Kan tadi mas bilang. Kalau mas itu ingin memanjakan Rahma agar Rahma tidak merasa mas berubah." tuturnya.


"Tapi suami ku biasanya tidak seperti ini loh. Jangan-jangan Jin nya? Jin muslim, makanya tidak terasa panas?" tutur Rahma.


Irsyad kembali tertawa. "Lucu ade ini, bisa-bisanya ngira mas Jin. Ya Allah. Masa iya Jin mau berdoa dulu, solat sunnah dulu sebelum bersenggama?" tutur Irsyad, Rahma pun terkekeh.


"Habis, Rahma juga pernah membaca artikel tentang Jin yang bisa menyukai manusia dan dapat menjelma menjadi pasangan kita, lalu menggauli nya, kan Rahma takut." Lanjut Rahma.

__ADS_1


"Kamu ini ya, ada-ada saja. Tapi terkadang memang ada yang seperti itu sayang. Na'uzubillahiminzalik lah, yang pasti ini Benar-benar suami mu kok. Irsyad Fadilah bin bapak Kyai Mukhtar." tuturnya. Rahma pun terkekeh merasa konyol saja.


"Bebersih dulu yuk nanti baru tidur." ajak Irsyad. Rahma mengangguk. Irsyad menutupi bagian tubuh Rahma dengan jubah mandinya sedangkan dirinya hanya mengenakan handuk yang melingkari pinggangnya keduanya pun bebersih bersama di dalam bilik kamar mandi itu.


-----


Malam semakin larut, Rahma sudah terlelap masuk lebih dalam kealam bawah sadarnya. Bermimpi banyak hal di sana. Sedangkan Irsyad masih terjaga sembari mengusap-usap punggung Rahma yang tengah tidur dengan posisi miring sembari memeluknya.


Entah mengapa wajahnya... Wajah wanita itu susah sekali hilang. Itu sebabnya Irsyad selalu menyesali hari itu.


Hari di mana cadar Isti terlepas di hadapannya sehingga Irsyad bisa kembali melihat wajahnya yang tidak berubah. Masih sejuk di pandang seperti dulu.


"Astaghfirullahalazim..." gumam Irsyad. Ia pun melepaskan tangan Rahma perlahan lalu beranjak menilik kearah jam yang sudah menunjukan pukul sebelas malam.


Tangannya beralih pada sebuah laci di meja sebelah ranjangnya. Ia ingin meraih sebuah Al Qur'an kecil yang ada di dalamnya. Irsyad biasa membaca Ayat suci kala dirinya tengah di landa kegundahan hati yang membuatnya tidak bisa tidur.


Laci terbuka, baru saja tangan itu ingin meraih ayat sucinya namun teralihkan pada tasbih yang sudah di minta Rahma tempo hari.


(Flashback is on)


"Annisa Nur Istiqomah." Seru Irsyad saat tengah mengabsen mahasiswa dan siswinya.


"Hadir Pak." seru Isti. Saat itu Juga Irsyad terkejut. Gadis yang tempo hari menarik tasbih nya hingga putus ada di dalam kelasnya.


'Jadi namanya Anissa Nur Istiqomah, Istiqomah? Isti?' batin Irsyad, dengan senyum tipis tersungging.


Beberapa hari belakangan memang Irsyad sedikit memperhatikan gadis yang tidak pernah absen mendatangi masjid untuk melakukan solat dhuha di sana, di samping itu pula. Awalnya Irsyad berfikir gadis itu tengah mengaji. Namun saat ia memberanikan diri melirik ke arah kaca jendela masjid tepatnya di dalam tirai jamaah wanita ia mendapati fakta bahwa gadis itu tengah menghafal bukan membacanya. Dari situ sedikit bibit-bibit rasa kagum mulai tumbuh.


Ingin bertanya sebenarnya Irsyad pada orang yang mengenalnya untuk mencari tahu siapa nama Ukhti tersebut. Gadis ayu yang lembut. Namun tidak berani. Beliau hanya menyimpan semua itu di hati. Hingga akhirnya ia berpapasan dengan Isti yang tengah terburu-buru hingga membuat tasbih yang ia pegang harus rusak tertarik jari tangannya.


Sejujurnya saat gadis itu panik Irsyad pun turut panik. Bagaimana tidak gadis yang ia kagumi tengah membuka suara padanya. Memunguti satu demi satu tasbih yang biasa ia pegang itu sehingga sebuah getaran ia rasakan. Bahkan kakinya pun turut kaku tak ingin melenggang pergi. Barulah setelah gadis itu menjauh ia bisa menoleh ke arahnya. Hanya sekilas sih dan ia pun kembali melanjutkan langkahnya menuju tempat pengambilan air wudhu di samping masjid.

__ADS_1


Dan akhirnya hari ini tepat dua hari setelah kejadian tasbih putus itu ia baru tahu bahwa gadis itu bernama Anissa Nur Istiqomah.


Irsyad pun memulai materi namun kali ini jauh lebih gugup dari biasanya. Semua sebab Isti ada di dalam kelasnya. Mengamati materi yang tengah beliau terangkan hingga jam kelas pun berakhir Irsyad menata bukunya memasukan kembali kedalam tasnya.


"Assalamu'alaikum pak Irsyad."


"Walaikumsalam." Irsyad mengangkat kepalanya dan sontak saja buku yang di tangannya terjatuh. Ia pun kembali menunduk.


"A... Ada apa? Adakah yang bisa bapak bantu. Isti?" tanya Irsyad gugup.


"Isti?" Gumamnya, Isti pun tersenyum. "Maaf, nama saya Nissa pak." tuturnya lembut. Sungguh suara sehalus dan selembut itu benar-benar mampu membuat Irsyad membeku. Ia tidak bisa berucap apalagi menggerakkan sedikit bagian tubuhnya.


"Begini pak, saya ingin mengembalikan tasbih pak Irsyad." tuturnya.


"Emmm itu... Itu tidak perlu sih, sudah, lebih baik kau simpan saja." ucapnya.


Isti meletakkan tasbih itu di atas meja di dekat tangan Irsyad. "Mohon maaf sekali lagi pak Irsyad. Saya benar-benar tidak sengaja merusak tasbih bapak. Dan maaf karena sebagian biji itu ada yang hilang jadi saya menggantinya dengan manik-manik." ucap Isti. Irsyad pun hanya diam saja. Matanya melirik sekilas pada tasbih di hadapannya.


'Sangat cantik.' batin Irsyad merasa senang dengan tasbih itu yang sudah terlihat lebih spesial dari biasanya.


"Maaf ya pak, saya hanya bisa memperbaikinya sedikit jika jelek. Mohon di maklumi." tuturnya.


"Iya. Tidak apa-apa, terimakasih banyak."


"Sama-sama pak." Selayaknya mahasiswi dengan dosennya. Isti sama sekali tidak ada pikiran untuk menyukai Ustadz Irsyad kala itu. Ia hanya bersikap biasa seperti dirinya bersikap pada dosen lainnya.


Berbeda dengan Irsyad yang semakin merasakan gugup padanya.


Setelah Isti mengucap salam dan pergi. Irsyad baru berani mendekatkan tangannya ke tasbih itu. Walaupun tangannya sangat gemetaran namun senyum bahagia tersungging dibibir.


Dan sejak saat itu pula. Tasbih miliknya yang pernah menginap beberapa hari di rumah Isti semakin menjadi tasbih favoritnya. Kemana-mana Irsyad selalu membawa itu. Sebagai alat berhitung saat tengah berzikir selepas solat.

__ADS_1


__ADS_2