Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
Bab 3. keinginan pak Huda (Season 2)


__ADS_3

Hari Senin pagi ustadz Irsyad sudah berada di kampusnya.


Merampungkan beberapa pekerjaan yang tidak bisa ia bawa ke rumah.


Memang sih semenjak Rumi dan Nuha semakin tumbuh besar ia akan sangat sulit melakukan pekerjaan di rumah. Baru saja laptop di buka. Dua anak itu sudah kisruh menganggu abinya.


Yang satu ingin bermain game, yang satu ingin menonton Vidio di loetube.


Sehingga berangkat pagi dan merekap nilai adalah cara ampuh menyelesaikan pekerjaannya atau mungkin di malam hari saat dua anak itu sudah tertidur. Namun tetap saja.


Tinggal ummanya yang menggangu lalu minta di sayang-sayang olehnya hehehe.


Dan di sela-sela kesibukannya pak Huda yang baru saja tiba pun menghampiri ustadz Irsyad.


Tok tok, "assalamualaikum ustadz." sapa pak Huda.


"Walaikumsalam pak Huda." jawab Irsyad mengangkat kepalanya. Beliau pun beranjak saat pak Huda sudah berada di dekatnya mengulurkan tangan lalu menjabatnya.


"Tumben datang pagi pak Huda?" goda Irsyad.


"Iya ini, sengaja kelas pagi, soalnya siang nanti ada acara."


"Acara apa?" Mempersilahkan Pak Huda untuk duduk.


"Iya, anaknya Anisa yang paling besar sunat Ustadz, jadi saya di minta untuk mengantarkannya."


"Owh begitu ya. Syukurlah sudah semakin besar anaknya." Irsyad tersenyum. Kini mendengar nama Nisa sudah tidak membuatnya gugup.


Setelah memutuskan untuk menghapus kenangan masa lalu. ia sudah bisa menghilangkan perasaan lain pada sosok Anisa nur Istiqomah.


Yah begitulah hati manusia, terkadang perasaan itu hanya datang sesaat menggebu-gebu, seolah meluluhlantakkan hati lama yang sudah singgah lebih dulu. Namun setelahnya akan hilang juga dengan sendirinya. Hal itu pula yang akan menjadi kerugian bagi orang-orang yang tidak bisa menjaga perasaannya guna mengikuti hawa nafsu mereka.


"Oh iya ustadz. Saya di titipkan amanah untuk ustadz ini."


"Amanah apa pak Huda?"

__ADS_1


"Begini salah satu kerabat istri saya di Bandung mengadakan hajatan. Ia ingin mengundang ustadz untuk ceramah di sana. Bagaimana ustadz bersedia tidak? Soalnya yang saya tahu. Ustadz sudah mulai jarang berdakwah."


Irsyad tersenyum ia menyandarkan tubuhnya di kursi kerja miliknya.


"Bagaimana ya, hati saya masih belum bisa menerima pekerjaan sebagai pendakwah lagi."


Pak Huda sedikit mendengus. "Apa karena kesalahan beberapa tahun yang lalu ustadz? Itu sudah lewat lama sekali loh. Masa iya cuman gara-gara itu ustadz berhenti berdakwah."


"Saya tetap berdakwah pak Huda. Namun dengan diri saya sendiri yang masih saja kotor."


Pak Huda menghela nafas. "Ustadz, kita itu kalau cuci tangan akan kotor lagi atau akan bersih untuk selamanya?"


"Tentu saja akan terus kotor pak Huda."


"Ini saya tidak sedang menggurui seorang ustadz loh ya." Pak Huda terkekeh begitu juga Irsyad.


"Saya juga masih butuh pencerahan pak Huda. Ayo lanjutkan." Tutur Irsyad.


beliau memang selalu seperti itu, walau ia paham ia akan tetap menjadi gelas kosong yang masih mampu menampung air yang masuk ke dalamnya.


"Iya, sama halnya manusia ustadz, tidak mungkin bersih sekali pasti tetap akan ternoda, dan ternoda lagi.


Irsyad terdiam. "Pak Huda tahu, saya seperti seorang yang munafik."


"Munafik yang seperti apa ustadz. Semua orang pasti memiliki sifat Munafik itu. Jadi jalankan saja hidup ustadz, seperti bagaimana semestinya. Ayo lah ustadz mau ya." Pinta pak Huda.


Irsyad pun hanya diam saja tanpa menjawabnya. Sudah lama ia tidak berdakwah. Selain di masjid. Itu saja hanya materi sederhana tentang kehidupan sehari-hari.


"Ustadz?" Panggil pak Huda.


"saya pikir-pikir dulu ya pak Huda."


"kok pikir-pikir sih ustadz, perbuatan baik itu harus di teruskan. mau ya ustadz, banyak yang sudah menanti comeback nya ustadz rasa kawan ini loh."


Irsyad terkekeh "MashaAllah pak Huda bisa saja, insyaAllah, akan saya usahakan pak Huda."

__ADS_1


"Alhamdulillah. Ini acaranya bulan depan ustadz. Nanti kabar-kabar di jauh-jauh hari ya, untuk bisa atau tidak biasanya." Tutur pak Huda.


"Iya pak Huda, insyaallah." Irsyad tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu ustadz saya permisi ke ruangan saya dulu ya. Mau langsung ngajar juga."


"Iya pak Huda."


Setelah mengucap salam dan di balas oleh Irsyad. Pak Huda pun keluar.


Memang benar ia juga sebenarnya sudah merindukan kembali ke dunia tilawah. Beberapa orang panitia pengajian pun banyak yang menanyakan kapan ustadz akan kembali aktif.


Para jamaah dari ustadz Irsyad sudah banyak yang merindukan beliau.


Irsyad pun meraih tas laptopnya. Lalu beranjak, menuju kelasnya untuk mengajar.


***


Di rumah.


dua anak kembar itu tengah asik bermain kejar-kejaran.


Mereka biasa seperti itu, satu iseng yang satu nanti akan marah dan mengejarnya. Begitu pula sebaliknya.


Jika melihat rumah berantakan Rahma sudah tidak bisa apa-apa toh mau marah pun tidak bisa, ia hanya akan menghela nafas tanpa berkoar apapun.


Mbak Rani sang asisten rumah tangga pun tidak henti-hentinya membereskan mainan si kembar yang berserakan dimana-mana. Tidak hanya itu sering kali Rahma naik pitam setiap kali menginjak mainan mereka.


Atau menduduki mainan mereka di sofa.


Ya itulah anak-anak yang selalu meletakkan harta Karun mereka di sembarang tempat. Hal yang membuat Rahma kesal justru adalah. Mereka hanya akan menumpahkan mainan mereka lalu meninggalkannya begitu saja dan beralih pada permainan yang lain.


Dan jika Ummanya atau mbak Rani membenahi mainan itu mereka akan berteriak untuk tidak di bereskan dan setelahnya mereka akan menumpahkannya lagi.


Begitu terus setiap harinya. Dan setiap kali Abi Irsyad pulang. Beliau hanya akan geleng-geleng kepala melihat rumah yang sudah seperti kapal pecah. Dan dari sanalah beliau biasanya akan sedikit menceramahi Rahma, hanya sedikit ya seperti meminta Rahma untuk berusaha merapikan rumah sebelum suaminya kembali.

__ADS_1


maklumi saja ustadz itu lelah, terlebih beliau sangat mencintai kerapian dan kebersihan lingkungan, wajar jika ia semakin merasa lelah jika rumah terlihat berantakan bukan?


namun hal itu yang akan membuat Rahma jadi memajukan bibirnya. karena ia juga merasa sudah berusaha mengemas rumah, dan mau bagaimana lagi jika dua anak Super itu malah justru menyukai karya seni mereka yaitu membuat kekacauan.


__ADS_2