Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
Rumi Rewel.


__ADS_3

Bulan demi bulan berganti. Kini usia si kembar sudah menginjak lima belas bulan. Dimana kerusuhan kedua anaknya sudah benar-benar membuat Rahma kewalahan. Saat Rumi sedang di awasi maka Nuha sudah merangkak jauh. Saat Nuha yang tengah di susui maka Rumi sudah meraih apapun yang ada di dekatnya dan mengacak-acak apapun yang ada di sekitarnya.


Sedikit merasa geram-geram gemas Rahma, karena tingkah dua balita yang aktif itu. Biasanya ibu Ratih ibunda Rahma akan datang membatu Rahma mengurus cucunya namun karena ada acara keluarga membuatnya tidak bisa datang.


Sore itu Irsyad belum pulang. Karena ada suatu kerjaan tambahan di kampusnya membuatnya pulang sedikit terlambat.


Dan entah Rumi sedang meminta apa. Anak itu sedari tadi jengkel. Ia menangis tiada henti bahkan saat di beri Asi ia tetap tidak mau. Sedangkan dirinya harus membuat makanan untuk keduanya. Sembari menggendong Nuha di belakang, dan Rumi di depan Rahma menghaluskan nasi tim sebagai MPASI untuk mereka.


Rahma sedikit menahan kesal saat Rumi terus saja menangis. "Sayang, tolong jangan seperti ini. Uma bingung sayang, kakak maunya apa?" Rahma terus berusaha menenangkan Rumi. "Duh, mas Irsyad cepatlah pulang, Rahma kewalahan." gumam Rahma. Sembari terus menghaluskan makanan untuk si kembar, sedangkan tubuh Rumi terus saja bergejolan tidak terkendali.


"Ya Allah kakak. Sabar sayang. Sebentar ya uma buatkan bubur dulu." ucap Rahma yang merasa kesulitan.


Setelah selesai Rahma mencuci tangannya hingga bersih. Ia pun membawa semangkuk bubur bayi itu ke ruangan tengah. Lalu menurunkan Rumi terlebih dulu.


Dan baru saja ia ingin menurunkan Nuha, Rumi sudah menangis semakin keras, dengan posisi duduk sembari terus berusaha naik. Kedua tangannya terangkat. Rahma paham, anak itu ingin di gendong lagi oleh Umanya namun Rahma harus membiarkannya dulu hingga Nuha bisa ia turunkan dari gendongannya.


"Sabar dong kak Rumi. Dek Nuha saja tidak nangis masa kakak Rumi nangis terus sih?" Kini Rumi sudah ia raih dan di bawanya ke atas pangkuan Rahma. Namun sepertinya masalah tidak hanya berada pada Rumi saja.


Karena baru saja Rumi tenang kini tinggal Nuha yang minta di gendong pula. Rahma mendesah. Terlebih saat makanan yang ada di samping mereka tumpah terkena kaki Nuha yang tidak sengaja memasukan kakinya ke dalam mangkuk itu.

__ADS_1


"Astaghfirullahalazim dek Nuha, buburnya tumpah semua kan?" Kala itu Rahma sungguh ingin menangis.


Benar. Begitu berat tugas seorang ibu rumah tangga, walaupun Irsyad sudah berusaha mengerjakan semua pekerjaan rumah sebelum berangkat mengajar, dan akan mengerjakannya kembali setelah pulang namun tetap saja tugas mengurus anak jauh lebih melelahkan ketimbang hanya membersihkan rumah.


Rahma sedikit kesal. Ia menghela nafas panjang dan menatap ke arah Nuha. "Dek Nuha tidak mau ateng sih, lihat bubur kalian tumpah kan? Uma kan sedang mengurus kak Rumi sayang. Kenapa dek Nuha ikut Rewel sih?" Rahma meninggikan suaranya pada Nuha. Seperti paham Nuha saat Rahma tengah bersuara keras ia pun turut menangis membuat Rahma beristighfar.


"Assalamu'alaikum." ucap Irsyad yang baru saja pulang dan sudah masuk kedalam rumah mereka. Mungkin akibat suara tangisan anak mereka membuat Rahma tidak mendengar suara mobil Irsyad.


"Kenapa sayang? Kok mas dengar kamu meninggikan suara pada mereka?" tanya Irsyad lembut sembari mengecup kening Rahma terlebih dahulu lalu meraih Nuha dan menggendongnya.


"Mas sudah cuci muka?" tanya Rahma serak. Entah mengapa ia juga malah turut menangis akibat menyesal karena telah sedikit berteriak pada buah hatinya, terlebih ia tidak enak pada suaminya itu.


"Tidak perlu. Mas gendong Nuha dulu saja. Rumi biar sama Rahma. Lagi pula mas baru pulang kan?" tutur Rahma.


"Tidak apa-apa dek. Mas lihat kamu kelelahan sekali sepertinya. Sudah mandi?" tanya Irsyad.


Rahma menggeleng pelan. "Jangankan mandi, makan saja Rahma tidak bisa." tuturnya sembari tertunduk.


Irsyad mengecup kening Rahma lagi merasa kasihan pada istrinya itu. "Sayang, jangan menangis dong. Maaf ya mas pulang terlambat."

__ADS_1


"Tidak apa-apa mas. Rahma hanya takut mas menyalahkan Rahma karena Rahma membentak Nuha tadi. Hiks." Rahma terisak.


"Ya Allah tidak sayang. Mas tidak akan memarahi mu. Mas memang sedikit tidak senang saat mendengar mu membentak anak kita tadi, namun mas memahami kau pasti sangat kelelahan hari ini, terlebih keduanya rewel seperti ini. Tapi setelah ini mas minta kamu lebih sabar lagi ya sayang. Kasian kan Nuha dan Rumi, mereka masih balita. Belum tahu apa-apa." tuturnya selembut mungkin.


Rahma masih terisak ia pun mengecup pipi Nuha. "Maafin uma ya sayang." ucap Rahma. Irsyad tersenyum.


"Sudah sini mas gendong kakak Rumi, ade beresin tumpahan buburnya dulu. Nanti bawa lagi ke mas ya, buburnya yang baru. Biar mas yang menyuapi mereka, dan ade mandi dulu saja setelah ini. Sudah jam empat soalnya." Ucap Irsyad, Rahma mengangguk,


"Eh tapi ade sudah solat Ashar belum?" tanya Irsyad kemudian.


"Belum mas."


"Astaghfirullah, ya sudah cepat ambil buburnya, dan buru-buru mandi, habis itu solat." titah Irsyad.


"Iya mas." Rahma pun menyerahkan Rumi pada Irsyad yang masih menggendong tasnya itu membawa mereka berdua keluar sejenak dan bermain di sebuah gazebo kecil di halaman rumah mereka. Tak lama Rahma datang membawakan semangkuk bubur untuk kedua anak mereka dan air putih.


"Sudah sekarang dek Rahma mandi dulu ya." titah Irsyad sembari meraih mangkuk bubur itu tanpa menoleh kearah Rahma.


'Mas Irsyad sepertinya memang marah pada Rahma.' Rahma sedikit murung ia benar-benar merasa telah mengecewakan suaminya itu. Terlebih pada kedua anaknya. Penyesalan telah membentak Nuha masih ada. Ia pun mengusap air matanya saat kembali menetes lalu memalingkan wajahnya putar haluan dan bergegas kembali masuk kedalam rumah mereka.

__ADS_1


__ADS_2