Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
Bab 1 mas Irsyad marah (Season 2)


__ADS_3

Baru saja Rahma menyelesaikan solat subuh nya.


Si cantik Nuha sudah terjaga.


Dengan sedikit merengek, ia duduk di pangkuan Ummanya. Rahma tersenyum, ia menyempatkan diri mengecup pipi Nuha yang sedikit tembam itu.


"Kok bau Pesing anak Umma ini?" Rahma menyentuh bagian Bolong Nuha.


"Astagfirullah, Dede ngompol ya? Haduh mukenah umma jadi najis ini?" tanya Rahma.


Nuha pun merengek. "Umma, jangan marahin Dede." Tutur nya manja. Tangan kecil itu melingkar di leher Rahma.


"Haduh, Nuha kamu tuh aneh sekali ya, seminggu full Umma pakaikan diapers kamu tidak mengompol, semalam Umma nggak pakaikan kamu malah mengompol." Rahma menurunkan tubuh Nuha lebih dulu lalu beranjak. Ia juga melepaskan mukenahnya dan meletakkan ke atas keranjang pakaikan.


"Baju Umma juga ikut kena ini ya ampun Dede." Rahma berjongkok melepaskan pakaian Nuha seluruhnya lalu beranjak.


"Umma, Dede nggak mau mandi."


"Nggak mau mandi bagaimana? Bau ompol kamu nya." Masih bersungut-sungut Rahma sembari menuntun Nuha.


Rahma menyiapkan airnya. Menyalakan keran air tersebut dengan mode air panas dan air dingin agar air di dalam ember itu hangat.


"Umma Dede ganti baju saja nggak mau mandi." Nuha merengek. kedua tangannya ia lipat di depan dada.


"Ck, mau atau nggak maunya Dede Umma akan tetap memandikan mu!" Rahma menyirami tubuh Nuha yang sudah teriak-teriak tidak ingin di mandikan. Anak satu ini memang selalu memunculkan drama jika tengah di mandikan.


Sehingga tak jarang hal itu membuat Rahma jadi ingin berseru.


"Ummaaaaa—" teriak Satu anak lagi. Rahma menghela nafas.


Belum rampung urusan Nuha, Rumi sudah terjaga. Duduk di atas ranjangnya sembari menangis memanggil ummanya.


"Umma di kamar mandi kak. Sini— mandi sekalian." Seru Rahma.


"Ummaaaaaaa—" teriak lagi si Rumi dari atas ranjangnya, tatkala suara tangisnya yang semakin kencang.


"Astagfirullah al'azim, Umma di dalam kamar mandi. Kakak sini turun sayang." Tangan Rahma masih berkutat pada tubuh Nuha yang masih tidak mau diam saat tengah di sabuni.


"Ummaaaaa, Abiiii, ummaaaaa , Abiiii..." Teriakan Rumi semakin menjadi. Belum lagi Nuha yang masih melompat-lompat tidak mau diam.


"Kakak! Umma di dalam...!" Rahma berteriak, ia benar-benar sudah ke habisan kesabaran. "Dede juga diam sih! Umma pukul nanti ya?" Teriak Rahma.


"Siapa yang mau di pukul dek?" Tanya Irsyad yang sudah masuk ke dalam kamarnya sembari menggendong Rumi yang masih sesenggukan.


Suaminya sudah kembali dari masjid. Sedikit menyesal Rahma saat berseru seperti tadi terlebih saat mengetahui Irsyad sudah berdiri di depan pintu bilik kamar mandi dan mendengar apa yang ia teriakan pada Nuha.


"Mas sudah pulang?" tanya Rahma.

__ADS_1


"Baru saja." jawab Irsyad. Ia pun menurunkan tubuh Rumi. "Kakak ikut mandi ya." titah Irsyad.


"Sama Abi." jawab Rumi.


"Nuha juga....Nuha juga."


"Nuha, Rumi, Abi kan baru pulang dari masjid." ucap Rahma.


"Tidak apa-apa Umma, biar Abi saja." ucap Irsyad yang lantas menyerahkan sajadah yang masih tergantung di bahunya pada Rahma yang sudah beranjak.


Beliau juga melepas peci, dan baju Koko miliknya, dan tersisa kaos oblong berwarna putih yang memang selalu beliau pakai untuk baju **********.


Setelah menggulung celana bahannya, Irsyad melangkah masuk.


Rahma sedikit tertegun kala melihat suaminya tengah asik memandikan si kembar.


Dua anak itu memang lebih menurut pada Abi mereka ketimbang dengan dirinya,


Rahma membawa sajadah dan baju koko milik Irsyad menjauh dari bilik kamar mandi tersebut menggantungkan nya pada tempat semula. Lalu menyiapkan pakaian si kembar.


Setelahnya si kembar dan Abi Irsyad keluar sembari tertawa riang. Irsyad hanya diam saja memakai kan beberapa perlengkapan seperti telon dan bedak lalu pakaian si kembar.


Dalam diam mereka, Rahma masih mengamati sang suami yang sama sekali belum menoleh ke arahnya, beliau masih sibuk dengan Rumi, sedangkan dirinya telah selesai memakaikan pakaian pada Nuha.


Rahma menghela nafas 'mas Irsyad pasti marah.' batin Rahma lesu.


Sedikit sedih perasaan Rahma kala melihat Irsyad seperti tengah cuek kepadanya.


"Benar kan, mas Irsyad marah?" gumamnya saat Irsyad sudah tidak terlihat lagi.


Dengan lunglai Rahma mengerjakan tugas awal di pagi hari, yaitu membenahi kamar mereka, seperti ranjang tidurnya dan suami lalu ranjang si kembar.


Setelah urusan berbenah kamar sudah selesai. Ia lantas menyiapkan sarapan untuk si kembar.


Karena Rahma dan Irsyad hari ini berpuasa, jadi hanya cukup membuat sayur bayam, ikan presto dan ayam goreng untuk dua anak itu.


Tidak membutuhkan waktu lama sih karena ayam dan ikan itu sudah di matangkan hanya tinggal menggorengnya saja. Dan memasak sayur bayamnya pun tidak banyak hanya seukuran mangkuk yang tidak terlalu besar, yang pasti cukup untuk sarapan dan makan siang si kembar. Setelah selesai baru lah Rahma membenahi rumah. Karena Irsyad dan dua anak itu belum juga kembali dari jalan-jalan pagi mereka.


Rampung dengan urusan menyapu dan mengepel Rahma pun beranjak naik. Untuk membasuh tubuhnya, karena bajunya juga sedikit terkena najis dari ompol Nuha.


Kini Rahma sudah menyelesaikan semua tugas paginya. Ia pun turun dan mendapati Irsyad dan dua anak itu sudah kembali.


Di ruang makan Irsyad tengah menyuapi Nuha dan Rumi. Terlihat sangat lahap keduanya makan dari suapan Abi nya.


Rahma pun mendekati mereka duduk di hadapan Irsyad. Mengamati Irsyad yang masih diam saja, fokus menyuapi mereka.


Rahma mengeluarkan ponselnya. Ia mengetik sesuatu dalam pesan chat lalu mengirimnya pada Irsyad.

__ADS_1


Ponsel di sebelah tangan Irsyad berbunyi. "Makan sendiri dulu ya. Abi mau tengok pesan di hape Abi." Tutur Irsyad pada dua anak mereka.


Beliau sempatkan melirik Rahma sekilas sembari meraih ponselnya dan membacanya.


📲(Mas marah ya?) Isi pesan Rahma.


📱(Tidak.) Jawab Irsyad, kembali meletakkan ponselnya.


📱(Iya kan marah, karena Rahma bentak Rumi dan Nuha.)


Tiiiiing... Irsyad melirik ke arah Ponselnya lagi lalu membacanya dan membalasnya.


📱(Mas hanya tidak suka Ade bilang mau memukul Nuha tadi.) Kirim... diletakkan kembali ponsel milik beliau.


📱(Rahma hanya sedikit kesal mas, tidak ada niatan untuk memukulnya beneran. Itu hanya ungkapan saja, tidak sungguh-sungguh) balas Rahma.


Irsyad pun hanya membaca. Namun kali ini tidak di balasnya lagi.


Mereka memang sudah sepakat. Jika ada masalah hanya menyelesaikannya saat kedua anak itu sedang tidur. Atau via pesan singkat, mereka tidak ingin memperlihatkan diri mereka kala tengah berdebat, Atau jika Irsyad menegur Rahma di depan anak-anak mereka. Karena bagi Irsyad, jika orang tua cekcok di depan anak-anak akan berdampak buruk pada psikisnya.


Tiiiiing Rahma mengirim pesan singkatnya lagi. Irsyad pun membuka pesan dari Rahma.


📲(Maafkan Rahma mas, Rahma menyesal karena telah berkata tidak baik. Dan Rahma sungguh-sungguh tidak pernah memukul mereka, demi Allah.)


Irsyad melirik kan matanya ke arah Rahma. Di lihatnya sang istri benar-benar menyesal, sampai-sampai ia hampir menangis.


Irsyad pun mengetik sesuatu dan mengirimkannya pada Rahma.


dengan cepat chat itu di buka olehnya.


📲(mas hanya ingin Rahma menjadi ibu yang lebih lemah lembut pada anak-anak, semua demi kebaikan anak-anak kita juga. dan kamu jadi jauh lebih di hormati dan di cintai oleh mereka. mas tahu kamu lelah, tapi belajar mengontrol diri juga penting. paham tidak?)


📱(iya mas Rahma paham, jangan marahin Rahma ya mas. Rahma sedih jika mas Marah pada Rahma 🥺👉👈) balas Rahma.


Irsyad membacanya lalu kembali membalas pesan Rahma.


📲(tuh kamu saja sedih jika mas Marah, anak-anak juga sama sayang, Jangan di ulangi lagi ya istri ku yang Soleha. Janji?)


Rahma menaikan kepalanya, di lihat lah sang suami sudah tersenyum kepadanya.


Rahma tersenyum lega. kembali ia mengetik pesannya.


📱(Hiks, makasih mas. Pengen di peluk mas Irsyad.) Kirim.


Irsyad terkekeh sembari mengetik, mendengar Irsyad terkekeh Rahma pun turut terkekeh.


📱(Nanti malam saja. Kalau sekarang bisa batal puasa kita gara-gara mas yang bakal kebablasan hehehe.) Kirim.

__ADS_1


Rahma tersenyum senang dan lega karena suaminya sudah tidak marah lagi. Minggu pagi itu pun di lalui dengan kehangatan keluarga kecil mereka, terlebih saat Abi Irsyad mengajak anak-anak mereka ke taman Safari. kedua anak itu seketika girang bukan kepalang. Irsyad meraih tangan Rahma mengusapnya sembari tersenyum begitu pula Rahma.


__ADS_2