Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
diet


__ADS_3

Sudah lewat satu hari dari saat mereka menginap di rumah orang tua Rahma. Keduanya kini tengah bekerja sama memandikan si kembar, pukul tujuh pagi dirumah mereka.


Si kembar terlihat sangat asik bermain air dengan bola-bola kecil yang turut masuk di dalam bak mandi mereka.


Dan terlihat juga Irsyad yang turut senang menghentak-hentakan tangannya ke atas permukaan air sehingga air itu menciprat ke wajah Nuha dan Rumi. Kedua balita itu tergelak begitu juga Irsyad yang tertawa gemas terlebih gigi-gigi kecil mereka yang nampak walau hanya satu dua.


Rahma yang baru saja keluar guna meraih handuk si kembar kembali masuk ke dalam bilik kamar mandi tersebut menatap kearah satu pria dewasa dan dua balita itu masih tertawa bersama sembari bermain air.


"Mas, jangan seperti itu, nanti airnya masuk ke telinga bagaimana?" Rahma mendekat.


"Lucu dek, lihat ini mereka senang sekali," Irsyad melakukannya lagi. Dan keduanya kembali tertawa terbahak-bahak membuat Irsyad dan Rahma turut tertawa.


"Sudah... Sudah mainannya yuk, dingin." Rahma mengangkat Nuha, terlihat keduanya masih betah dan tidak ingin di angkat dari bak mandi mereka.


"Mereka Masih mau mainan air dek," ucap Irsyad.


"Sudah mas jangan di turuti. Mereka sudah kedinginan." tutur Rahma yang membawa Nuha lebih dulu, ya walaupun si cantik Nuha masih merengek kecil.


Irsyad pula membawa Rumi keluar dari dalam bilik kamar mandi, dan meletakkannya keatas ranjang abi dan umma nya. "Mana, sini pakaian Rumi, sayang?" pinta Irsyad, Rahma pun menyerahkannya pada Irsyad yang langsung menerimanya.


Ya hal itu rutin Rahma lakukan dengan Irsyad. Jika Rahma mengurus Rumi, maka Irsyad mengurus Nuha begitu pula sebaliknya. Irsyad pun sudah pandai mengurus anak mereka seperti menyapuh minyak telon dan bedak dengan baik. Memilih pakaian pun tidak asal. Ia berusaha mencari pasangannya. Tidak asal memasangkannya pada anak mereka.


Kini Rumi dan Nuha sudah rapi dengan pakaian mereka. Sehingga kecupan sayang di pipi keduanya secara bergantian, mendarat dengan sempurna dari bibir Abinya.


"Wanginya anak-anak abi. MasyaAllah. Pengen cium terus bawaannya ini." Masih saja ia mengecup kedua balita yang sudah asik bermain dengan bedak dan botol minyak telonnya.


"Sini sayang jangan buat mainan ya." Rahma meraihnya ia pun mengemasi semuanya sebelum akhirnya beranjak lalu mengikat rambutnya.


"Mas Rahma mau siapkan Sarapan dulu ya." ucap Rahma. Irsyad pun mengangguk. Sedangkan Rahma kembali melangkahkan kakinya keluar kamar tersebut.


Ya ibu dua anak itu sudah pandai memasak sekarang. Tidak seperti di awal, Irsyad pun sudah tidak kalang kabut lagi saat mendengar Rahma hendak memasak. Ia sudah mempercayakan dapurnya itu pada Rahma. walaupun tetap saja. Kekacauan yang akan Rahma buat hanya bisa rapih jika tangan ustadz sudah menyentuhnya.


Heran bukan, ketika pekerjaan rumah lebih sempurna jika di pegang Irsyad ketimbang Rahma itu sendiri, yang Notabene adalah seorang wanita.


Rahma pun mulai berkutat pada bumbu-bumbu dan alat masak yang ada di hadapannya. Tentu saja, tangan itu sudah sangat mahir sekarang jadi sebentar saja makanan itu sudah rampung di olah nya tanpa menonton tutorial lagi di loetube.


Rahma menata hidangan sederhana sarapan pagi mereka di atas meja. Dan menyiapkan bangku makan kedua anak mereka. Sesaat ia terdiam sejenak, lalu berjalan menuju ruang tengah meraih timbangan badan yang ada di ruangan itu.


"Aku penasaran. Banyak pakaian ku yang tidak muat lagi. Masa iya aku jadi gemuk sekarang?" gumam Rahma. Sedikit ragu sebenarnya untuk menimbang, karena sejatinya Rahma memang tidak suka menimbang badan.


"Aku takut sebenarnya. Emmm takut shock bagaimana kalau ternyata aku jadi gemuk." Masih ragu-ragu.


"Ahhh sudah lah." Rahma memejamkan matanya sembari naik ke atas timbangan badan Digital.


"Bismillah." Perlahan matanya terbuka menatap kebawah.


Dugaan Rahma benar saat itu juga ia ingin menjerit saat tahu berat badannya sudah naik lebih dari sepuluh kilo gram.

__ADS_1


"Apa-apaan ini? Timbangan ini pasti rusak... Pasti ini." Rahma turun dari alat penimbang badan itu dengan kesal.


"Ckckck mas Irsyad saja masih segitu-segitu saja tubuhnya. Masa aku yang jadi gemuk sih?" Rahma bersungut-sungut. Ia pun berjalan dengan muka masam menuju meja makan dan duduk di sana.


"Apa yang sudah aku makan? Kok bisa aku segemuk ini sih?" Rahma bertopang dagu menggunakan kedua tangannya.


"Dek, sarapannya sudah siap belum?" tutur Irsyad yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya.


"Sudah." Jawabnya ketus.


Irsyad menyerahkan Rumi pada Rahma setelahnya meletakkan Nuha di kursinya. Sedangkan Rahma meletakkan Rumi juga di atas bangku makannya.


"Ade masak apa?"


"Hanya cah brokoli yang di kasih sosis dan bakso. Lauknya telur mata sapi."


"Wah enaknya. Mas mau langsung makan ahh." ucapnya.


"Mau Rahma ambilkan nasinya?"


"Tidak usah sayang, kamu siapkan buburnya si kembar saja ya."


"Iya mas." jawab Rahma. Rahma pun meraih satu mangkuk bubur yang terisi penuh yang sesuai dengan porsi dua Balitanya.


"Mas percepat ini makannya, nanti gantian mas yang menyuapi ya."


"Mas santai saja Rahma belum lapar kok." tuturnya sembari menyuapi si kembar.


"Belum sih. Tapi sudah mas makan saja yang tenang nanti juga Rahma makan."


"Ya sudah." Irsyad membaca doa makan setelah itu tangannya mulai bekerja menyendok kan makanan tersebut.


"Hmmm lezat dek, istri ku memang sudah pintar memasaknya." puji Irsyad. Rahma pun tersipu.


"Masa?" tanya Rahma.


"Iya, sini buka mulutnya mas suapin."


"Hahaha kamu ini mas. Seperti anak muda saja."


"Yeee, kan tidak apa-apa. Ayo buka mulutnya."


"Tidak ah mas Rahma tidak lapar."


"Kok gitu sih? Sini barengan, Rahma suapin Nuha dan Rumi. Abinya suapin Ummanya. Kan adil tuh."


Rahma terkekeh. Sebenarnya ia lapar namun ia sudah bertekad akan mulai melakukan diet. Toh Rumi dan Nuha juga sudah di latih minum susu formula. Karena usia mereka yang sudah menginjak hampir satu setengah tahun.

__ADS_1


"Ayo buka mulutnya kok diam saja sih."


"Tidak mas, sudah mas makan saja. Nanti Rahma juga makan kok." ucapnya.


"Hmm. Ya sudah lah mas lanjut makan dulu ya." ucap Irsyad. Rahma mengangguk.


Sangat bahagia Rahma melihat kedua anaknya makan dengan lahapnya. Bahkan bubur dalam mangkuk mereka pun sudah bersih tak tersisa.


"Pinter loh anak umma, makannya."


"Ikut abi itu tidak suka milih makanan memang umma. Nasi sisa kemari sore saja tidak mau memakannya." tutur Irsyad yang juga telah merampungkan makanannya.


"Ya mau bagaimana lagi mas, nasi sisa kemarin bau teflon rice cooker,"


"Iya tapi setidaknya jangan sampai di buang sayang kalau belum basi."


"Hehe kan mas biasa yang menghabiskan." ucap Rahma.


"Kamu ini. Bisa saja ya." Irsyad meraih tissue basah lalu mengusap bagian bibir Nuha dan Rumi setelah itu kedua tangan mereka.


"Sudah Rahma makan gih, mas mau main sama mereka." ucap Irsyad sembari mengecup keduanya.


"Nanti saja mas."


"Nanti menunggu apa sih Rahma?"


"Emmm Rahma belum lapar."


"Ini sudah mau lewat jam sembilan loh. Rahma sendiri kan yang selalu mengingatkan mas sarapan tidak boleh lewat dari jam sembilan?" tanya Irsyad.


"Iya sih tapi. Rahma?" Rahma garuk-garuk kepala.


"Rahma apa?"


"Ingin diet." suaranya sangat kecil bahkan hampir tak terdengar.


"Apa? Coba bilang lebih keras."


"Diet?" Menaik kan sedikit.


"coba katakan lagi itu, mas masih belum mendengarnya."


"Diet mas Irsyad... Rahma mau diet" Rahma mengeraskan suaranya.


"Apa itu diet?"


"Ya diet masa tidak tahu."

__ADS_1


"Mas tahu sayang, maksudnya untuk apa dek Rahma diet?" tanya Irsyad.


Rahma pun memilih untuk bungkam tidak ingin menjawabnya. Kerena mau di jawab pun sepertinya akan memicu sangat ustadz berceramah panjang lagi kepadanya. Sehingga membisu menjadi pilihan Rahma.


__ADS_2