
Aida mengerjapkan matanya, sayup-sayup ia mendengar suara Adzan subuh, dari sebuah pengeras suara Masjid. Sesaat ia merenggangkan tubuhnya lalu menoleh ke samping.
Bibirnya tersungging tipis, baru pagi ini ia melihat dengan jelas wajah Ulum yang ternyata tampan jika di lihat dari jarak dekat, terlebih saat tidur. Ulum terlihat tenang. Perlahan tangan Aida terangkan, ia mengusap-usap pipi Ulum, dengan sesekali menyentuh kelopak matanya menggunakan jari telunjuknya.
Perlahan tubuh Ulum mulai bergerak, ia terjaga. Dan menoleh kearah wanita yang sudah tersenyum manis di sampingnya.
Ulum menutup mulutnya menguap, sembari tersenyum ia mengusap wajah Aida. "Aida sudah bangun rupanya." ucap Ulum.
"Baru saja mas." Jawab Aida senang. Ulum pun mengecup kening Aida.
"Kita mandi yuk, habis itu sholat." ajak Ulum, Aida pun mengangguk.
Perlahan Ulum beranjak, ia merenggangkan tubuhnya sejenak, dan duduk terdiam untuk beberapa detik. Aida sempat bingung melihat Ulum yang masih terdiam itu.
"Sebentar, mas kumpulin nyawa dulu ya sayang." ucap Ulum yang tengah menghalau pusing di kepalanya, karena sedikit kurang tidur.
"Iya mas." jawab Aida sembari terkekeh.
"Kenapa tertawa sayang?" tanya Ulum.
"Tidak apa, mas lucu karena tiba-tiba diam. Ternyata masih sedikit berat kepalanya untuk bangun."
"Hehe iya, tapi sekarang nyawanya sudah terkumpul kok, jadi bisa gendong kamu." ucap Ulum yang lantas mengangkat tubuh Aida dan membawanya ke bilik kamar mandi yang berada di luar kamar mereka.
Tepatnya di dekat dapur.
Denah rumah Ulum dan Aida sebagai berikut. Rumah itu terdapat lima petak, dari pintu utama kita akan bertemu dengan ruang tamu yang tidak begitu luas, di samping ruang tamu itu ada sebuah pintu kamar utama, dimana kamar itu di tempati oleh Aida dan Ulum.
Di petak ke dua ada ruang tengah, bisa di bilang ruang keluarga atau ruang menonton televisi, di samping ruangan itu pun ada satu kamar lagi, yang masih kosong. Dan petak paling belakang yaitu dapur yang tidak begitu luas dan terdapat satu kamar mandi di sana.
Di awal hari itu setelah menyelesaikan ibadah sholat, Ulum mengajak Aida keluar guna mencari udara segar. Sekalian pula mencari makanan untuk sarapan pagi mereka.
"Aida, kau ingin makan apa untuk sarapan pagi ini?" tanya Ulum.
"Apa saja mas,"
"Nasi Uduk mau?" tanya Ulum.
"Boleh mas."
"Ya sudah coba kita cari dekat sini ya, karena mas belum tau mana warung nasi uduk yang enak, jadi kita coba cari yang rame ya." ucap Ulum sembari mendorong pelan kursi rodanya.
__ADS_1
Sesaat ia berpapasan dengan dua orang wanita. "Assalamu'alaikum bu." sapa Ulum ramah pada keduanya.
"Walaikumsalam," jawab keduanya. "Maaf sepertinya saya baru melihat kalian," ucap salah satu dari mereka.
"Iya, kita baru pindah kemarin bu." jawab Ulum. "Saya Ulum, dan ini istri saya Aida namanya." Ulum memperkenalkan dirinya dan Aida, yang saat itu pula Aida tersenyum.
"Oh, Saya ibu Ratna, kalau ini anak saya Dwi namanya. Kalian tinggal dimana?" tanya Ibu Ratna.
"Kita tinggal di rumah yang ber cat biru pastel di sebelah sana itu bu." jawab Ulum.
"Oh...begitu ya."
"Iya bu, kalau begitu saya permisi lanjut jalan ya bu. Assalamu'alaikum." ucap Ulum yang lantas melanjutkan langkahnya.
"Suaminya ramah sekali ya." ucap Ibu Ratna sembari tersenyum, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.
Di depan gang Aida melihat ada pedagang nasi yang sedikit ramai pengunjung.
"Mas, itu sepertinya pedagang nasi uduk." ucap Aida.
"Oh iya, ayo kita mampir dulu." ajak Ulum, ia pun mendorong kursi roda Aida, mendekati pedagang itu.
Di sana Ulum memesan dua bungkus beserta lauknya.
Sesampainya di rumah Ulum membawa masuk istrinya itu, karena di rumah itu belum ada sofa, Ulum pun menggelar karpet yang sudah di sediakan Irsyad.
Iya Irsyad hanya membelikan seperti ranjang, dan segala peralatan yang penting lainnya. Itu saja sudah cukup membuat Ulum semakin tidak enak hati dengan dosen pembimbingnya.
Setelah karpet itu di gelarnya Ulum menurunkan tubuh Aida dari atas kursi roda.
"Mas mau ambil piring sama gelas dulu ya." ucap Ulum.
Aida mengangguk, ia melihat Ulum benar-benar memperhatikannya. Cuman tetap saja di hati Aida masih ada ganjalan, ia tetap berharap kakinya bisa di gunakan lagi. Karena bagaimanapun juga ia tidak mau menjadi beban untuk suaminya.
Aida mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes saat Ulum kembali dengan membawa dua piring beserta sendok dan gelasnya.
Kini Ulum sudah duduk di hadapan Aida, lalu membukakan satu bungkusan nasi itu. "Mau di suapi?" Ledek Ulum.
Aida terkekeh, "Aida makan sendiri saja mas." ucap Aida.
"Sekali saja ya, mas ingin suapi kamu." ucap Ulum. Aida pun tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Ayo baca doa dulu sayang." ucap Ulum, Aida pun membaca doa makan.
Ulum tersenyum, "sekarang buka mulutnya."
Aida terkekeh. "Sungguh aku malu kalau di perlakuan seperti ini, jadi seperti anak kecil."
"Tidak apa lah kan sekali-sekali nanti di lanjutin sendiri, ayo buka mulutnya." titah Ulum.
Aida pun membuka mulutnya, saat itu juga Ulum memasukan sesendok nasi ke dalam mulut Aida.
"Enak sayang?" tanya Ulum.
"Enak mas. Sekarang biar Aida yang makan sendiri ya. Mas juga makan."
"Iya," Jawab Ulum sembari menyerahkan nasi Aida. Keduanya pun makan bersama di atas karpet itu. Setelahnya Ulum membersihkan rumah sejenak sebelum berangkat mengantar orderan.
Di depan cermin Ulum menarik resleting jaket hijaunya naik. Ia pun menoleh sesaat ke arah Aida yang tengah duduk di atas ranjang sembari mengamati Ulum. Dengan senyum tersungging Ulum mendekati Aida dan duduk di sampingnya. Tangannya membelai lembut rambut Aida yang sedikit menggelombang itu.
"Aida, mas ingin sekali mengajak mu pergi jalan-jalan, ketempat yang bagus selayaknya pasangan pengantin baru untuk berbulan madu. Namun, mas malah ngojek." ucap Ulum.
"Tidak perlu berbulan madu, sebenarnya Aida ingin mas Ulum di rumah dulu selama beberapa hari ini bersama Aida, cuman Aida mengerti kok mas harus bekerja." ucap Aida.
Ulum mengecup kening Aida. 'Maaf sayang, mas juga ingin di rumah dulu, cuman hari ini mas hanya memegang uang tidak lebih dari seratus ribu, itu saja sudah berkurang untuk membeli sarapan kita dan air galon. Kalau mas tidak ngojek hari ini besok kita tidak ada uang lagi.' batin Ulum. Sembari memeluk tubuh Aida.
"Mas pulang cepat kok, nanti siang mas langsung pulang kok." ucap Ulum dan di balas dengan anggukan kepala Aida.
Tiiiiiiiing... Ulum mendapatkan notifikasi ia pun mengecek ponselnya.
"Alhamdulillah ada orderan," Ulum mengecup kening Aida lagi dan beranjak. "Mas berangkat dulu ya. Aida istirahat saja dulu." ucap Ulum sembari mengulurkan tangan kanannya.
Aida mengecup punggung tangan Ulum. "Hati-hati ya mas."
"Iya.. assalamu'alaikum." Ulum tersenyum.
"Walaikumsalam." Jawab Aida, Ulum pun keluar dari kamar mereka.
Aida menyeret tubuhnya ke pojok ranjang mereka lalu menyibak gorden di dekatnya. Di sana Ulum baru saja keluar. Dan menaiki sepeda motornya.
Sekilas senyum tersungging di bibir Ulum saat melihat Aida tengah menatapnya dari balik jendela yang turut membalas senyum.
Kini motor Ulum sudah keluar dari pelataran rumahnya dan menjauh.
__ADS_1
"Aku masih ingin mas Ulum di rumah." gumam Aida sembari menitikkan air matanya, ia pun kembali menutup gorden nya. Dan memutuskan untuk merebahkan tubuhnya untuk beristirahat.