
Seminggu lamanya Rahma dan si kembar mendapatkan perawatan. Kini mereka sudah di perbolehkan pulang. Sangat antusias Irsyad mempersiapkan kepulangan mereka.
Semua perlengkapan bayi memang sudah di siapkan nya satu bulan sebelum si kembar lahir.
Dari ranjang bayi, pakaian, popok, bak untuk memandikan, sabun dan bedak juga beberapa perlengkapan lainnya. Dua hari sebelum kepulangan si kembar dan sang istri Irsyad sudah membersihkan area kamar mereka menata dengan rapi ranjang bayinya dan yang paling penting. Irsyad sudah mencuci semua pakaian bayi.
Dengan senyum tersungging bahagia. Rahma masuk ke dalam kamarnya ia sedikit takjub dengan tatanan kamar dan dinding yang di beri gambar-gambar animasi anak laki-laki dan perempuan yang memakai koko dan gamis di sebelah ranjang bayinya sangat lucu dan sedikit tidak menyangka pula Rahma, Irsyad mau menata kamar mereka seperti ruangan dokter anak atau taman kanak-kanak hehehe.
Dengan di papah Irsyad Rahma duduk di atas ranjangnya. Sedangkan Ke dua bayi kembarnya sedang berada di gendongan mbak Adiba dan ibunya. Iya benar mbak Adiba, kakak perempuan Irsyad datang bersama suami dan anak mereka.
Rumah Rahma dan Irsyad kini sangat ramai dengan anak-anak mbak Adiba yang berlarian ke sana kemari.
"Wes cah ayu, bobo di kasur baru ya. Jangan rewel ya sayang." Tutur Mbak Adiba pada mahluk mungil di hadapannya yang tengah terlelap di atas ranjang bayi.
Ibu Ratih pun meletakkan cucunya yang berada di gendongan nya keatas ranjang. Baru saja menempel ranjang, bayi itu sudah menangis, sehingga membuat ibunda Rahma menggendongnya lagi.
"Waduh... Yang cowok masa lebih cengeng dari ade nya?" Mbak Adiba terkekeh begitu pun ibu Ratih.
"Haus mungkin bu, sini biar Rahma kasih asi." ucap Rahma.
Ibu Ratih menempelkan punggung jari telunjuknya di dekat bibir mungil sang cucu dan benar saja. Bayi itu sudah membuka mulutnya lebar. "Benar ini, haus ya?" Bu Ratih terkekeh ia pun mendekatkan bayi itu pada Rahma. Irsyad membatu meletakan bantal di pangkuan Rahma yang tengah duduk menyandar lalu menerima bayinya.
"Duh anak ku kasihan nya. Haus ya? Sepertinya dari tadi memang adiknya terus yang menyusu." Tutur Rahma. Ia pun membuka kancing bajunya. Irsyad mengusap kepala anaknya dengan sangat lembut. Senyumannya terus saja tersungging di bibirnya.
"Ya sudah ibu keluar dulu ya." tutur ibunda Rahma, begitu pula mbak Adiba yang turut keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Kini di ruangan kamar hanya ada mereka berempat. Ya Rahma, Irsyad dan dua bayi mungil mereka.
"Mas tidak menemani bapak dan mas Gani?"
"Nanti saja dek, mas masih betah melihatnya menyusu. Ya Allah, bibirnya kecil sekali."
"Iya lah kan masih kecil." Rahma tersenyum. "Tapi mas? Kita belum memberikan nama untuk mereka."
"Mas sudah ada nama kok sayang."
"Oh ya? Mas kasih nama apa?" Rahma bersemangat.
"Rumi Al Fatih untuk bayi laki-laki kita. Dan Nuha Qanitta untuk bayi perempuan kita." tutur Irsyad sembari mengecup kepala bayi yang masih menyusu itu.
"Kalau nama Rumi, mas hanya terinspirasi dari seorang penyair sufi, Jalaluddin Rumi, yang begitu tersohor. Dan berharap Rumi bisa tumbuh sebagai anak laki-laki yang cerdas, berpandangan luas, namun selalu ingat akan Tuhan, kalau Al Fatih ade tahu kan? Seorang khalifah yang meruntuhkan kota Konstatinopel yang kini menjadi Istambul di Turki. Nah mas ingin Rumi menjadi pemimpin yang tegas, bertanggung jawab dan yang pasti taat pada agama dan Tuhannya."
"Kalau Nuha?" tanya Rahma.
Irsyad mengecup kening Rahma dengan waktu yang lumayan lama, lalu melepasnya kembali.
"Kalau Nuha itu memiliki arti kecerdasan, akal budi, atau kemampuan untuk berfikir. Dan berharap Nuha bisa tumbuh menjadi gadis yang bisa berfikir cerdas sebelum melangkah disetiap keputusan yang akan ia ambil nanti. Dan nama belakangnya Qanitta itu kata yang muncul di dalam Alquran surat Al-Ahzab ayat 35 ini memiliki makna taat atau orang yang shalih. Sehingga diharapkan penggunaan nama ini akan membuat anak perempuan kita tumbuh menjadi wanita yang shalihah."
"MashaAllah mas Irsyad. Rahma benar-benar senang, mas memberikan nama yang sederhana namun maknanya dalam. Rumi dan Nuha." tutur Rahma tersenyum bahagia. Ia pun mengecup Rumi yang sudah berhenti menghisap Asinya.
"Memberi nama anak sama saja mendoakan sayang. Jadi berikanlah nama anak itu sebaik mungkin. Bukan pula mengikuti trend tapi tidak tahu artinya. Coba saja jika nama itu artinya buruk? Pernah tahu orang Jawa dulu suka asal memberikan nama. Karena memang mungkin anak mereka banyak ya. Jadi asal saja memberikan nama. Terkadang dari nama itu membuat tabiatnya menjadi buruk, atau mungkin sakit-sakitan, itu sebabnya mereka memutuskan untuk mengganti nama anak mereka." tutur Irsyad. Rahma pun manggut-manggut ia paham.
__ADS_1
Tak lama terdengar tangis mungil dari Nuha. Rahma terkekeh. "Kakaknya tidur tinggal adenya." tutur Rahma.
Irsyad beranjak ia mendekati Nuha dan menyentuh bagian bokongnya. "Nuha Mengompol sayang. Mas gantiin dulu pokoknya ya." tutur Irsyad.
"Mas bisa?" tanya Rahma.
"Bisa kok. Mas sudah paham caranya ganti popok, dengan cara mengamati mbak Adiba, ataupun ibu menggantikan popok mereka." jawab Irsyad, sembari membuka kain bedongnya. Sedikit kaku sih namun ya kita maklumi saja seorang ayah baru, sudah mau mengganti popok anaknya itu sangat bagus kan?
"Mas itu mudah sekali belajar ya. Cepat nangkep hehehe."
"Kalau mas tidak cepat nangkep, tidak jadi dosen muda lah dek." Irsyad terkekeh. "Astaghfirullah maaf mas jadi berasa sombong ini. hanya bercanda kok." sambungnya. Sedangkan Rahma hanya terkekeh.
Setelah selesai Irsyad mendekati Rahma.
"Sepertinya Nuha pun ingin menyusu sayang. Sini Rumi biar mas pindahkan." tutur Irsyad.
"Mas sudah bisa menggendongnya?" Rahma ragu.
"Sudah kok. Sini mas coba angkat Rumi ya."
"Pelan-pelan mas."
"Iya dek." Irsyad mengangkatnya. Sedikit takut Rahma melihatnya, pasalnya Irsyad masih terlihat kaku. Ya sedikit lah. Namun ia bisa bernafas lega, karena Irsyad meletakkan Rumi ke atas ranjangnya dengan sempurna, ia bahkan tidak terbangun. Kini bergantian Nuha yang ia angkat lalu di bawanya kepada Rahma yang langsung menerima nya.
"Ya Allah, gantian adenya haus ya." tutur Rahma. Ya Irsyad hanya mengganti pokoknya saja ia belum bisa membungkus anaknya lagi dengan kain bedong itu. Namun Rahma memaklumi, karena Irsyad sudah mau membantunya begini saja sudah untung. Di luar sana banyak pria yang kurang peduli dengan istrinya yang baru lahir. Bahkan susah payah mengurusnya tanpa di bantu, hal itu justru jauh menyesakkan para ibu muda yang akhirnya akan mengalami sindrom baby blues, di mana tingkat depresi ibu paska melahirkan itu lebih tinggi. Dan faktor utama justru kurangnya perhatian dari sang suami. Di tambah lagi dengan tekanan di luar itu yang menganggap ibu baru kurang telaten merawat anak dan sebagainya.
__ADS_1