
Pukul sembilan empat puluh menit. Mereka baru saja tiba di rumah orang tua Rahma dan memutuskan untuk menginap di sana. Irsyad sedang berada di bilik kamar mandi, sedangkan Rahma masuk kedalam kamarnya dulu, yang tentu saja lebih kecil dari kamar di rumah Ustadz Irsyad.
Rahma membuka pintu kamar yang terang itu dengan pintu yang sedikit terbuka, ia mengucap salam terlebih dahulu dengan suara berbisik, senyum manis tersungging di bibir Rahma saat mendapati ibunya tengah tertidur di sebelah Nuha dan Rumi.
Perlahan kaki Rahma melangkah ia membangunkan ibunya. "Bu, ibu." Panggil Rahma menggoyangkan bahu ibunya dengan hati-hati.
"Eh, Rahma, sudah pulang?" tanya ibunya serak. Ia pun terjaga dan duduk sebentar.
"Iya, maaf ya bu. Nuha dan Rumi tidak rewel kan?" Tanya Rahma.
"Rumi sedikit rewel tadi karena di gigit nyamuk sepertinya."
"Ya ampun, benar Rahma lupa tidak membawa kelambu sih."
"tidak apa-apa, tadi sudah ibu sapuh pakai minyak telon kok. Ibu kembali ke kamar ibu ya." tuturnya.
"Iya bu terimakasih." ucap Rahma.
"Iya." Sembari menyunggingkan senyum dan melangkah keluar.
Rahma mengecup putra dan putrinya secara bergantian. "Ya Allah kasian Anak-anak Umma ini. Rahma tersenyum mengusap-usap sejenak lalu beranjak membuka lemari pakaiannya.
Di dalam lemari itu masih ada pakaiannya dan sang suami yang sengaja di tinggal kalau-kalau keduanya menginap di rumah orang tua Rahma saat tidak di rencanakan. Irsyad pun masuk ke dalam kamar itu menutup lalu menguncinya.
"Baju mas dek." Irsyad meminta tolong untuk di ambilkan pakaiannya oleh Rahma. Dan Rahma pun mengambilkan nya lalu mengulurkan pakaian itu pada Ustadz yang sudah melepas atasannya.
Irsyad tersenyum jail, yang ia raih bukanlah pakaiannya namun pergelangan tangan Rahma yang ia tarik kearahnya.
"Kyaaaa," Sesaat Rahma menjerit dan secepat itu pula ia membungkam mulutnya sendiri.
"Ssssssttt jangan teriak sayang, kalau Rumi dan Nuha bangun bagaimana, dan lagi kalau terdengar bapak dan ibu?" Irsyad sedikit terkekeh.
"Habis mas tiba-tiba narik tangan Rahma sih, kan terkejut jadinya. Kalau jatuh bagaimana?" Rahma bersungut.
"Maaf mas kangen soalnya."
"Kangen apa sih? Berlebihan deh."
"Kangen lah kan ade baru selesai menstruasi."
Wajah Rahma memerah. Terlebih saat tangan Irsyad menyusup masuk kedalam hijab yang masih di kenakan Rahma. "Pakai dulu itu bajunya, tadi katanya mau ganti baju kan?" Sembari meraih tangan Irsyad yang sudah mulai menurunkan resleting di bagian dada Rahma.
"Nanti saja." Irsyad menyeringai. Ia pun mendekati kening Rahma bergumam membaca doa sebelum bersenggama lalu mengecup kening istrinya. Lantas melepaskan hijab besar Rahma dan meletakkannya di atas ranjang. Irsyad dan Rahma kini duduk di sebuah kasur busa yang sudah di gelar pak Akmal tadi. Karena semenjak si kembar lahir ranjang Rahma tidak akan muat jika semuanya tidur di atas dan biasanya Irsyad akan tidur di bawah beralaskan kasur busa yang sengaja di beli pak Akmal.
Beberapa kecupan di wajah sudah di luncurkan Irsyad yang kini merebahkan tubuh Rahma, dengan memberikan gigitan kecil di bibir Rahma dan sentuhan-sentuhan lembut,
Keduanya pun menyatu menjalani urusan hasrat mereka selama beberapa menit di bawah. Dengan hati-hati tanpa bersuara. Dan di akhiri dengan kecupan di kening Rahma.
"Terimakasih sayang, sudah melayani mas." ucap Irsyad.
"Sama-sama mas, terimakasih juga sudah memberikan nafkah batin untuk Rahma."
Irsyad tersenyum. Sembari beristirahat sejenak mereka masih tidur bersebelahan di atas kasur busa itu dengan tubuh masih tertutup kain selimut. Rahma membenamkan wajahnya di dada Irsyad.
"Mas?" Panggil Rahma.
"Hemm."
"Rahma ingin bertanya?"
"Bertanya apa sayang?"
"Mas masih ingat tidak saat hari-hari awal kita menikah, Rahma masih terus menangisi mas Fikri." Ucap Rahma. Irsyad mengecup kening Rahma.
__ADS_1
"Ingat. Ade sampai sesenggukan tuh nangisnya. Bahkan mas sampai bingung ingin melakukan apa selain memeluk mu."
"Maaf ya."
"Maaf untuk apa?"
"Sudah melukaimu."
"Ya Allah, sudah masa lalu itu dek, sudah sangat lama pula mas memaafkan itu."
Rahma tersenyum, ia mendongak mengecup pipi suaminya. "Rahma ingin membahas sesuatu tapi mas jangan merasa gimana-gimana ya."
"Wah, jadi khawatir ini." tutur Irsyad.
"Jangan khawatir lah mas, kan bukan sesuatu hal yang perlu di khawatirkan," jawab Rahma. Irsyad terkekeh.
"Iya sudah ayo cepat katakan mau bahas apa?"
"Emmm, ini kan momen empat tahun kita menikah mas, Rahma itu jadi ingat akan satu hal."
"Apa?"
"Iya, seharusnya kan Rahma menikah dengan mas Fikri bukan mas Irsyad."
Irsyad terdiam mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibir Rahma.
"Maaf ya mas jangan tersinggung hanya karena Rahma mengatakan itu."
Irsyad tersenyum. "Tidak sayang, karena memang benar seperti itu. Tapi Rahma tidak menyesalinya kan?"
Rahma menggeleng, "mas tahu? Setiap harinya Rahma hanya merasa beruntung memiliki mas Irsyad, yang sabar dan sangat menyayangi Rahma. Mas juga tidak pernah mengkritik setiap penampilan Rahma.
mau Rahma dandan atau tidak, berpakaian menarik atau tidak, yang penting rapih dan sopan dengan hijab dan gamis yang Rahma kenakan mas sudah senang melihatnya dan selalu berucap Rahma cantik."
"Beliau selalu mengkritik Rahma, kalau penampilan Rahma sedikit berantakan atau menggunakan busana yang tidak sesuai seperti yang ia inginkan. mas Fikri pasti minta Rahma untuk ganti. Dan lagi, mas Fikri itu tidak terbuka dengan ponselnya pada Rahma. Beda dengan mas Irsyad."
"Loh dulu kan kalian belum menikah dek, dan ponsel itu harusnya privasi kan?" tanya Irsyad.
"Iya Rahma tahu namun mas Fikri itu selalu menerima panggilan dari sebrang dan memilih menjauh lebih dulu dari Rahma seolah seperti tidak ingin percakapannya di dengar oleh Rahma. Dan lagi saat itu Rahma sebenarnya sudah memiliki keinginan untuk berhijab. Namun di larang oleh mas Fikri."
"Oh ya? Kenapa?" tanya Irsyad.
Rahma pun memutar tubuhnya menatap ke arah langit-langit. Tangan Irsyad membenarkan selimut itu untuk menutupi bagaimana dada Rahma hingga sebatas lehernya.
(Flashback is on)
Minggu pagi, Rahma sedang memoles diri di depan cermin, sudah banyak teman-temannya yang berhijab, ada keinginan untuknya berhijab juga, ia pun mengenakan hijab yang baru ia beli. Tentu saja hijab pasmina yang tengah ngetren. Rahma mengenakan Tunik nya yang senada dengan warna hijabnya.
"Mas Fikri pasti senang aku berhijab." tuturnya. Tak lama ia mendengar deru mobil yang berhenti di depan kosnya. Senyum ceria terpancar. Ia pun beranjak meraih tasnya menemui sang kekasih. Dokter Fikri Radiansyah.
Di depan pintu kosnya Rahma sudah menyambut Fikri yang baru saja turun dari mobilnya. Pria jangkung itu mendekati Rahma dengan senyumannya. Tangannya menyentuh kain hijab Rahma.
"Ini apa?" tanya Fikri.
"Hijab lah mas, apa lagi."
"Iya aku tahu, tapi kenapa kamu pakai ini?"
"Aku ingin mencoba berhijab." ucap Rahma semangat. Fikri pun mengajak Rahma masuk kedalam kamar kosnya, lalu melepas kancing peniti Rahma. Dan hijabnya pula.
"Mas kok di lepas."
"Aku tidak menyuruh mu berhijab ya."
__ADS_1
"Ya tapi kan memang Rahma yang ingin."
"Tapi aku belum siap melihat pendamping ku mengenakan hijabnya. Kita itu mau kondangan Rahma bukan mau ke pengajian. Pakai dress saja seperti biasa."
"Issssh Rahma tidak suka deh mas Fikri selalu seperti ini." Rahma bersungut.
"Jangan seperti anak kecil ya Rahma, cepat ganti bajunya. Pakai dress batik yang senada dengan ku ya... Ayo lah sayang cepat ganti ya." Fikri mengecup bibir Rahma yang sedang manyun itu. Sembari tersenyum ia pun keluar.
Dan kini Rahma pun kembali mengganti pakaiannya dengan dress batik yang motifnya sama dengan Fikri. Dengan Hairsprai ia membuat sanggul kecil sesuai keinginan Fikri agar terlihat lebih elegan.
Tok tok tok... Rahma menoleh ia pun beranjak dan membuka pintu kamar kosnya.
"Nah gini dong. Aku baru suka. Rahma ku yang cantik itu tidak berhijab."
"Memang kenapa jika Rahma berhijab sih?"
"Seperti ibu-ibu. Tidak sesuai dengan umur Rahma." tuturnya yuk jalan. Ajak Fikri. Keduanya pun berangkat ke acara pernikahan teman Fikri yang sama-sama dokter.
Ya sebenarnya merasa asing saja saat Rahma tengah bersama teman-teman Fikri. Pria itu jika sedang kumpul dengan teman-temannya asik sendiri, bahkan Rahma saja seperti di kacangin. Bahkan oleh pasangan dari teman-temannya itu. Karena sepertinya hanya Rahma yang seorang perawat biasa, bukan seperti yang lain mereka sama-sama dokter dengan pakaian branded mereka.
Itu sebabnya Rahma selalu seperti itik di antara para angsa jika sedang mengikuti acara resmi Fikri. Belum lagi dengan bahasan mereka yang sangat tinggi tentang kedokteran pastinya seolah membuat Rahma tersingkir di antara kakak-kakak cantik berkelas pasangan para dokter yang lainnya.
"Fikri—" Seru seseorang. Seorang dokter wanita yang luar biasa cantik menurut Rahma memanggilnya. Dan di depan Rahma ia memeluk lalu saling menempelkan pipi kanan dan kiri.
'Ya Allah, kok bisa mereka melakukan itu di depan ku.' batin Rahma.
"Imelda, lama sekali tidak bertemu, terakhir ketemuan waktu kita koas. Semakin cantik saja." Puji Fikri pada wanita itu.
"Kau juga semakin tampan." Ucapnya.
'Mas Fikri aku di samping mu loh ini, kenalkan aku padanya sebagai calon istri mu mas.' Batin Rahma ia benar-benar kesal dengan hal itu.
"Aku tidak menyangka ya Doni bisa menikah dengan Friska,"
"Hahaha iya, dulu mereka itu cinlok ya waktu koas." ucap Fikri.
"Kita juga sempat dekat kan, sayang sepertinya kita tidak berjodoh." tuturnya.
'Cih, Apa-apa sih wanita itu? Tolong tuh tangannya ya mbak, tangannya di jaga. Nyaman banget sih memegang tangan mas Fikri ku.' Rahma benar-benar geram, terlebih Fikri sepertinya biasa saja.
"Hahaha jangan mengingatkan itu dong." Fikri tergelak. Ia pun menoleh ke arah Rahma yang langsung tersenyum kepada Fikri.
"Rahma." Panggilannya.
'Hmmm mas Fikri sepertinya akan memperkenalkan aku pada Wanita itu. Bersiaplah mbak dokter.' batin Rahma.
"Aku ke panggung pelaminan dulu ya bersalaman dengan pengantinnya bersama Imelda."
Degg tertohok lah Rahma mendengar itu. "A...apa? Dengan dokter Imel?" tidak percaya Rahma bertanya lagi.
"Iya, sebentar kok. Yuk Imelda." ajaknya dengan tangan yang menggandeng tangan wanita yang tengah tersenyum sinis pada Rahma.
"A...apa itu? Dia datang bersama ku kan? Kenapa tangan wanita lain yang ia gandeng?"
"Sepertinya cinta lama akan tumbuh kembali tuh." Ucap seorang dokter di belakang Rahma pada dokter di sebelahnya.
"Iya, dulu dokter Imelda kan sangat di sukai dokter Fikri, aku pikir bakal jadi hahaha."
'Sengaja sekali sih kalian bicara seperti itu di dekat ku.' Rahma meremas tangannya sendiri, seperti tidak ada gunanya ia di acara itu. Sama sekali tidak mencolok atau mungkin dirinya memang tidak seharusnya hadir mendampingi dokter Fikri.
Tidak ada pilihan lain Rahma memutuskan untuk keluar dari kedung resepsi tersebut.
Bersambung....
__ADS_1