
Semalaman suntuk tak henti-hentinya Rahma menangisi Sang suami sembari memeluk tubuh Irsyad.
Ia tidak akan bersedia mendonorkan jantungnya untuk putra dari ibu itu.
Tidak akan pernah. Walau ia harus menunggu satu tahun lamanya, ia tetap berharap suaminya bisa sadar dari komanya.
Bahunya bergetar hebat, sesenggukan Rahma menangis di sana.
"Mas Irsyad tolong bangunlah mas. Ayo bangun mas Irsyad. Tunjukkan pada mereka kalau mas masih hidup. Tolong bangun lah untuk Rahma dan anak-anak. Kami sangat menyayangi mu mas Irsyad." Suara Rahma benar-benar parau, tangis yang menyayat memenuhi ruangan itu.
"Mas janji akan mendampingi ku, sampai kita menua bersama kan? Mas janji mas tidak akan meninggalkan ku seperti mas Fikri. Ayo mas bangun. Jangan buat Rahma kehilangan cinta Rahma untuk yang kesekian kalinya mas. Tolong bangun lah mas Irsyad."
Rahma terus menangis sesenggukan di sana.
"tidak akan ada pria lain yang bisa memberikan ikrar cinta seindah ikrar mu untuk ku mas Irsyad. Tidak akan pernah ada. Dan jika kau pergi, mungkin Rahma juga akan pergi mas, Rahma akan turut bersama mu." Gumam Rahma sesenggukan kan.
Tanpa di sadari oleh Rahma, setitik air mata keluar dan menetes dari mata Irsyad.
Tap....tap...tap... Rahma terperanjat, terlihat beberapa perawat dan dokter berjalan cepat bahkan setengah berlari masuk ke dalam bilik ICU sebelahnya, tepatnya milik pasien yang mengalami gagal jantung itu. Sepertinya tengah ada hal emergency di sana.
Rahma mengusap air matanya. Dia pun berjalan keluar menengok apa yang tengah terjadi.
Mengintip sekilas dari kaca jendelanya. Seorang dokter sudah naik ke atas bed tengah melakukan prosedur CPR karena detak jantung pasien melemah.
Di sana ibu itu pun sudah histeris melihat kondisi putranya yang sudah semakin parah itu.
"Dokter, tolong...! Tolong anak saya dokter." Isak wanita paruh baya tersebut.
Dokter masih terus memompa bagian dada pasien. Secara bergantian dengan dokter yang lain lagi, karena CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) Harus di lakukan tanpa henti sampai jantung kembali memompa dengan normal.
Setelah beberapa menit melakukan prosedur CPR, statistik kerja jantung di monitor pun kembali stabil.
Terlihat tersengal-sengal dokter di atas tubuh pasien pria tersebut, sembari melihat ke arah monitor. Lalu menghela nafas lega.
__ADS_1
Dokter tersebut pun turun.
"Mohon maaf, pasien sebenarnya sudah tidak bisa menunggu lama lagi, dia harus segera mendapatkan donor jantungnya."
"Kalau begitu bedah saja saya dokter. Saya rela demi anak saya." Isaknya.
"Kami tidak mungkin bisa melakukan itu Bu."
"Tapi saya mau anak saya hidup. Tolonglah dokter. Ku mohon... Ku mohon dokter."
Rahma memalingkan wajahnya, ia segera kembali ke ruangan suaminya. Lalu duduk dengan lunglai di sana. Mengamati wajah sang suami untuk beberapa detik lalu menoleh ke samping, mengarah ke sebuah surat persetujuan pendonoran jantung.
Sebelum ini, keluarga Irsyad sudah mengikhlaskan, hanya tinggal menunggu persetujuan Rahma, dan tanda tangan darinya.
"Haruskah? Haruskah aku melepas mu mas Irsyad?" Gumam Rahma. Ia pun kembali terisak di sana.
Sungguh keputusan yang sangat berat untuknya saat itu. Sehingga sebuah perdebatan batin tidak bisa di hindari.
Rahma pun memutuskan untuk melakukan solat guna menenangkan pikirannya, sebelum akhirnya memberikan keputusan.
***
Dan hari ini Operasi akan di jalani mereka berdua.
tepatnya pukul satu siang, semua keluarga telah berkumpul, termaksud Ulum, pak Huda dan beberapa kerabat dekat ustadz Irsyad.
Ibunda Irsyad masih menangis tersedu-sedu di depan tubuh sang putra, begitu juga dengan mbak Adiba.
Sedangkan Rahma berada di jarak yang sedikit agak jauh, menatap nanar ke arah mereka.
Ia sedikit menyesali keputusannya yang telah menandatangani surat persetujuan tersebut.
Mbak Adiba mendekati Rahma. "Dek, mendekat lah dulu pada suami mu, katakan selamat jalan untuk Irsyad di dekat telinganya."
__ADS_1
Rahma menggeleng pelan. "Aku tidak akan kuat mbak, aku tidak sanggup." Ucap Rahma.
"Dek, kita harus ikhlas. Mbak percaya kau akan mampu menghadapi semuanya. Jadilah wanita tegar demi anak-anak mu."
"Hiks," memeluk mbak Adiba. "Rahma mencintainya mbak, Rahma sangat mencintai mas Irsyad."
Mbak Adiba mengelus punggung Rahma, sama-sama menangis ia pun sama, merasa kehilangan,
Hingga tak lama dua orang perawat berbusana hijau khas petugas ruang operasi pun datang.
"Permisi, kami ingin membawa pasien." Ucapnya.
"Tunggu!" Seru Rahma. "Izin kan saya mengucapkan selamat jalan untuk suami saya."
"Silahkan bu."
Rahma pun mendekati tubuh Irsyad. Ia mengusap air matanya yang menderai-derai itu. Lalu mencondongkan tubuhnya.
"Suami ku sayang, terimakasih sudah memberikan ikrar cinta mu pada ku, mendidik ku menjadi seperti sekarang ini. Memberikan keturunan yang Soleh dan Soleha." Berhenti sejenak untuk kembali terisak.
"Aku...? Aku mencintaimu sayang. Sangat mencintai mu. Tunggu Rahma ya mas. Tunggu Rahma di surga." Bisiknya. Ia pun mengecup kedua pipi Irsyad, kening, lalu membuka masker oksigennya sejenak, dan berakhir di bibir Irsyad. Tubuh Rahma semakin lemas. Ia pun melepaskan kecupannya. "Selamat jalan suami ku." Gumamnya lagi.
Lalu memundurkan langkahnya. Memberikan jalan untuk dua perawat tersebut.
"Silahkan." Ucapnya sangat lirih pada dua perawat itu. Mereka pun mulai bekerja mengeluarkan bed Irsyad dari kamar itu dan membawanya.
Terlihat semua kerabat dekat ustadz menangis seiring dengan berjalannya bed yang membawa tubuh Irsyad menuju ruang operasi.
***
aku kehilangan mu... Aku kehilangan teman hidup ku. Penyemangat hidup ku. Suami ku mas Irsyad. Ku percaya. Malaikat tengah menunggu mu di langit. Tidurlah sayang... Cinta terbaik ku.
-Rahma Qurrata Aini-
__ADS_1
Bersambung...