Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
bab 14. ibu pencari donor jantung. (season 2)


__ADS_3

Sudah cukup lama Ulum berada di ruangan ICU tersebut, membacakan ayat suci Al-Qur'an di sebelah ustadz, lalu berzikir di sana.


Ulum pun mengecup punggung tangan ustadz Irsyad yang benar-benar sudah seperti kakak kandungnya itu, lalu beranjak.


Di luar, Ulum menatap iba pada Rahma yang tengah melamun, sedangkan pak Akmal saat itu sudah tidak nampak. Ulum pun duduk di sebelah Rahma, berjarak dua set dari tempatnya duduk.


"Mbak Rahma?" Panggil Ulum. Rahma pun menoleh, ia mengusap matanya.


"Iya mas Ulum?"


"Pak Akmal dimana?" Tanya Ulum.


"Pulang sebentar mas,"


"Begitu ya, emmm saya turut prihatin ya mbak. Semoga mbak bisa tabah menghadapi ujian ini, dan ustadz bisa segera siuman." ucap Ulum.


"amiin Terimakasih atas doanya mas." Rahma tersenyum kecut.


"Oh iya, jika mbak Rahma ingin pulang dulu dan beristirahat tidak apa mbak. Biar saya yang menunggu ustadz Irsyad di sini. Lagi pula hari ini mbak Rahma terlihat lelah."


"Tidak mas, terimakasih sudah berbaik hati menawarkan, namu saya ingin di sini menemani mas Irsyad. Karena Jika saya pulang? yang ada saya tidak tenang dengan kondisi suami saya."


Ulum pun mengerti karena mau bagaimanapun juga, kondisi Irsyad saat ini sudah pasti akan membuat Rahma tidak bisa lepas pandangan dari suaminya itu.


"Emmm bagaimana kabar Safa dan Aida?" Tanya Rahma.


"Alhamdulillah baik mbak. Safa semakin aktif menanyakan ini itu hal-hal yang kadang saya sendiri sampai bingung untuk menjawabnya saking banyaknya pertanyaan." Sedikit terkekeh, begitu juga dengan Rahma.


"Dan Aida Alhamdulillah, baru nambah satu mesin jahit lagi. Jadi sekarang kami sudah mempekerjakan dua orang mbak. Semenjak di percaya pihak yayasan untuk membuat seragam olahraga, kami jadi dapet orderan juga dari sekolah lain."


"MashaAllah, hebat sekali Aida." Rahma merasa bahagia.


"Iya mbak. Namun terkadang saya kasian, istri saya jadi sering lembur. Saya mau bantu bagaimana ya? Karena saya tidak bisa. Jadi ya cuma menemani saja."


"Tapi, kalo boleh saya kasih saran mas. Sebenarnya Aida Jang terlalu di forsir. Karena ada sedikit kekhawatiran pada kakinya juga. Takut bermasalah lagi."


"Iya mbak, saya juga khawatir sebenarnya. Namun mau bagaimana lagi. Istri saya sangatlah menyukai pekerjaannya."


'dan tak jarang sering jadi masalah juga untuk kita berdua.' batin Ulum, yang sering ngambek karena kesibukan Aida itu.


"Semoga sih tidak akan ada masalah apapun ya."


"Iya mbak amin."


Di lorong rumah sakit itu keduanya masih mengobrol sedikit selama beberapa menit, hingga tak lama Ulum pun berpamitan, dan berjanji juga, jika tidak ada halangan akan datang lagi sore ini. Beliau juga meminta Rahma untuk mengabari setiap perkembangan ustadz Irsyad.

__ADS_1


Setelah mengiyakan. Rahma kembali masuk ke dalam ruang ICU tersebut.


Ia mencondongkan tubuhnya.


"Assalamualaikum suami ku mas Irsyad." Bisik Rahma. Ia pun mengecup pipi suaminya dengan waktu yang cukup lama.


"Bobo terus nih, mimpi apa sih mas? Mimpiin Rahma ya?" Tersenyum.


Tangan kanan Rahma mengusap-usap pipi suaminya. "Jangan lihat Rahma di mimpi dong, lihat saja langsung ya?" mengecup pipi Irsyad lagi, lagi dan lagi.


"Senang tuh pasti di cium Rahma Terus. Iya kan...? Kan?" Terkekeh. Lalu kembali mengusap wajahnya. "Mas pasti mimpinya indah sekali ya, sampai-sampai mas Irsyad tidak bangun-bangun?" Kembali menitikkan air matanya.


"Yaaaahhh, mewek lagi kan. Mas Irsyad sih." Menumpahkan sejenak tangisannya. Lalu kembali teredam.


"Nanti jika mas sudah bangun? ceritakan mimpi mas ya ke Rahma. Tenang! Rahma akan mendengarkannya kok, semuanya, janji...janji.


Sampai dua hari dua malam juga siap. Tapi nanti ceritanya sambil peluk Rahma dari belakang ya. Sama cium-cium Rahma seperti biasa. Okay oppa? Eh hehehe lupa mas tidak suka di panggil oppa ya? Maunya apa? sayang? Sayang ku." Kecup lagi.


"Bangun dong sayang. Balas pelukan Rahma ini ya? Rahma sayang mas Irsyad." Gumamnya sejenak ia merebahkan kepalanya di dada Irsyad. Masih dalam posisi berdiri.


Tok tok tok... Rahma beranjak. Seorang perawat memberikan sewadah air hangat untuk menyeka tubuh Irsyad. Setelah menerimanya Rahma pun meletakkan wadah itu di dekat bed suaminya.


"Rahma bersihkan dulu tubuh mas ya biar tidak gatal." Ucapnya.


"Bismillahirrahmanirrahim." Rahma mengusap wajah Irsyad lebih dulu secara hati-hati, lalu di bagian lehernya, setelah itu ke dada, bagian ketiak, lengan. Dan berakhir di bagian kaki suaminya.


Setelah selesai, Rahma kembali membenahi selimut suaminya.


"Nyaman kan mas? Tubuh mas sudah bersih." Gumam Rahma. Dia pun kembali duduk di sana, mengusap-usap lengan suaminya.


"Wajah mas cerah sekali, sangat sejuk melihatnya." Menghela nafas. Sesaat mata Rahma beralih pada seorang wanita yang tengah menangis di lorong rumah sakit sendirian.


"Emmm sebentar ya sayang. Rahma mau keluar dulu." Kecup sekali lagi lalu keluar, menghampiri wanita tersebut.


"Assalamualaikum Bu." Sapa Rahma.


"Walaikumsalam mbak." Mengusap air matanya.


"Ibu baik-baik saja?"


"Iya mbak. Hanya saja hati saya yang tengah terluka." Ucap ibu itu.


Rahma tertegun sejenak. "Mohon maaf, Ibu yang anaknya baru saja masuk itu kan?" Tanya Rahma.


"Iya mbak."

__ADS_1


"Mohon maaf sekali lagi, jika boleh tahu? Anak ibu sakit apa?"


"Gagal jantung mbak. Sudah lama sekali, sejak anak saya masih remaja."


"Begitu ya? Saya turut prihatin Bu." Ucap Rahma.


"Terimakasih mbak. Mbak sendiri menunggu siapa?"


"Suami saya Bu. Dia tengah koma karena kecelakaan."


"Innalilah. Saya juga turut prihatin kalau begitu, semoga suami mbak bisa cepat siuman ya."


"Terimakasih Bu. Semoga anak ibu juga lekas pulih." Ucap Rahma.


Ibu itu kembali terisak. "Kalau anak saya sepertinya akan sulit mbak. Selagi belum ada pendonor jantung, mungkin hidupnya tidak akan bertahan lama."


"Percaya saja Bu. Segala hidup dan mati seseorang itu ada di tangan Allah SWT. Kita hanya berusaha sebagai manusia. Selebihnya kita serahkan segalanya pada sang khalik. Semoga anak ibu bisa segera menemukan pendonor jantungnya ya." Ucap Rahma.


"Aamiin.... Aamiin yaa robbal aalamiin, terimakasih mbak."


"Sama-sama Bu." Rahma tersenyum.


'kita Sama-sama menaruh harapan akan hidup seseorang yang sangat berarti di hati kita, semoga saja mukjizat itu benar-benar datang kepada kita.' batin Rahma.


Setelah mengobrol singkat, ia kembali menghampiri sang suami. Menemaninya hingga siang berselang. Mbak Adiba pun sudah menghubungi Rahma berkali-kali menanyakan kabar Irsyad saat ini. Karena beliau beserta keluarga, bahkan bapak kyai Muktar dan istri, ayah ibunya Irsyad tengah dalam perjalanan ke Jakarta setelah Rahma mengabari mbak Adiba malam tadi.


Terdengar nada serak mbak Adiba dari sebrang, dan tangis ibu mertua Rahma yang terdengar juga karena mungkin ibu tengah berada di samping mbak Adiba.


Mereka semua mencemaskan kondisi Ustadz Irsyad yang sangat mereka sayangi, bukan hanya mereka. Namun kita semua, terlebih-lebih Rahma, Rumi, dan Nuha.


Ya dua anak sedari tadi menanyakan Abi Ummanya, itu yang di katakan Bu Ratih.


Ya sangat rindu pasti kedua anak itu pada Abi dan Ummanya. Namun mau bagaimana lagi, Rahma belum bisa kembali. Ia masih betah mendampingi sang suami di rumah sakit ini.


Menanti mata indah itu kembali terbuka. Dan bibir manisnya tersungging seperti sedia kala.


Bersambung....


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Assalamualaikum terimakasih atas kesetiaan kalian, atas doa dan segala supportnya... Tanpa setiap dukungan dari kalian mungkin aku sudah kehilangan semangat dalam hal menulis.


Terimakasih juga atas doa kalian yang selalu membuat saya merasa selalu sehat hehehe. Semoga kalian juga selalu di limpahkan kemuliaan, kebahagiaan, dan kesehatan ya....


Salam sayang dari ku... πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2