Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
bab 27. penasaran (season 2)


__ADS_3

Beberapa hari ini semenjak kepulangan ustadz Irsyad dari rumah sakit, tidak henti-hentinya rumah Irsyad ramai di datangi tamu, entah itu mahasiswa (i), para staf kampus, kerabat, atau bahkan para jamaah ustadz Irsyad, mereka semua datang menjenguk dan Mendokan beliau.


Dari situ sudah menunjukkan begitu dicintainya ustadz friendly satu ini. Dimana setiap ceramah ustadz Irsyad yang selalu ngena di hati. Membuat mereka sempat sedih saat mendengar kabar buruk tentang Musibah yang di alami ustadz Irsyad. Namun mendengar ustadz bisa kembali sehat seperti saat ini cukup membuat mereka sangat bahagia bercampur lega.


Hari ini, ada seorang pria yang tidak asing, dimana dulu Beliau pernah datang ke rumah Irsyad bercerita tentang masalahnya.


Ya... Dialah pak Ruslan, seorang anggota Dewan yang berasal dari Bandung, pria yang pernah memiliki masalah tentang poligami itu.


Hari ini Beliau datang lagi namun tidak sendirian, beliau datang dengan seorang wanita, yang mungkin adalah istri dari pak Ruslan itu sendiri.


"Silahkan di minum pak, Bu." Irsyad menawarkan.


"Terimakasih ustadz." Tersenyum. Pak Ruslan dan sang wanita di sebelahnya menyeruput minumannya lalu meletakkannya lagi cangkir di tangannya.


"Saya tersanjung sekali ini, Bapak dan ibu datang jauh-jauh dari Bandung guna menjenguk saya." Ucap Irsyad.


"Iya ustadz, Alhamdulillah. Hari ini saya di berikan nikmat Sehat dan umur yang panjang sama Allah SWT sehingga saya bisa datang kembali ke rumah yang sejuk ini."


"MashaAllah." Tersenyum.


"Ustadz, saya sempat sedih pas dengar Ustadz mengalami kecelakaan, bahkan saya sampai mengadakan pengajian bersama anak-anak yatim-piatu di rumah guna mendoakan ustadz."


"Ya Allah, terimakasih sekali pak Ruslan. Terimakasih atas kecintaan bapak pada saya."


"Iya ustadz sama-sama, semua yang saya lakukan itu belum ada apa-apanya, menimbang apa yang ustadz berikan kepada saya, waktu itu."


Terkekeh. "Berikan apa? Saya tidak memberikan apapun kok."


"Amalan ustadz, amalan yang ustadz kasih sudah saya amalkan dulu, sampai akhirnya. Saya bisa terlepas dari istri kedua saya." Ucapnya. Irsyad pun hanya diam saja namun bibirnya masih tersungging tipis.


"Ya, saat ini saya sudah bukan anggota dewan lagi ustadz, bahkan kondisi keuangan saya sempat merosot. Hingga membuat saya mengalami fase-fase kekurangan pada waktu itu."


Irsyad mendengarkan dengan seksama.


"Dan dari hal itu, istri kedua saya malah lepas dengan sendirinya, dia tidak mau menjalani hidup dengan saya yang kere ini katanya. hahaha." Terlihat pak Ruslan jauh lebih berseri. Beliau pun menyentuh bahu istrinya. "Sampai saat ini sebenarnya saya masih merasa bersalah pada istri saya ini yang masih bersedia menerima saya, dari fase-fase sulit itu, hingga kembali bangkit seperti sekarang ini."


Irsyad manggut-manggut. "Dari situ ketahuan ya pak? Siapa yang dengan tulus mencintai bapak?" Tanya Irsyad.

__ADS_1


"Iya ustadz, sungguh benar-benar pelajaran berharga untuk saya."


"Sebagian besar orang yang berpoligami memang tidak berfikir panjang pak. Yang penting bisa menikahi wanita yang di sukai nya, mereka pikir masalah akan selesai begitu saja. Padahal itu adalah awal dari bibit-bibit masalah yang tengah berkembang."


"Iya Ustadz, bahkan sampai saat ini walaupun saya sudah terbebas perasaan bersalah itu masih saja tertanam di benak saya."


Irsyad tersenyum. "Bapak tahu paku yang kita pasang di dinding? Saat paku itu di lepaskan dari dinding itu? Apakah tembok di sana akan menjadi mulus seperti sedia kala?"


"Tidak ustadz." Jawab pak Ruslan.


"Iya, sudah pasti masih ada bekas di sana. Namun bukan berarti bapak harus berlarut-larut dalam kesalahan itu, jadikan bekas itu sebagai pengingat agar bapak tidak lagi jatuh ke masalah yang sama. Sehingga paku baru tertancap lagi di dinding yang masih bersih." Ucap Irsyad.


"Iya ustadz." Manggut-manggut. Irsyad pun menoleh pada istri pak Ruslan.


"Tapi ibu ikhlas ya?" Tersenyum.


"insyaAllah ustadz." Hanya sebatas itu, namun Irsyad paham, sudah jelas masih ada luka di hati ibu tersebut, dimana luka yang di tancapkan tidak akan mudah hilang begitu saja. Namun sejatinya seorang istri yang tengah berusaha keras menghapus luka tersebut, beliau hanya bisa menguburnya dalam-dalam tanpa mengungkit kembali hal itu.


Irsyad pun memutuskan untuk mengalihkan obrolan, agar Pak Ruslan tidak lagi membahas masalahnya dulu.


Mengobrol tentang pekerjaannya yang sekarang sebagai seorang pedagang di kios buahnya. Penghasilan yang lumayan membuat perekonomian mereka kembali naik.


Kini tamu itu sudah pulang Rahma pun duduk di sebelah Irsyad, "mas?"


"Iya?" Mengecup kening Rahma.


"Maaf ya tadi Rahma dengar mas bahas-bahas poligami. Memang siapa yang poligami?"


Irsyad menarik telinga Rahma pelan, sehingga membuat Rahma sedikit meringis


"Telinga ini nakal ya, sudah gemar nguping sekarang?"


"Ma...mas, Rahma itu nggak nguping kok serius."


"Terus apa?" Melepaskan tangannya.


Rahma mengusap-usap telinganya "Ya kan Rahma di ruang tengah sama anak-anak ya sudah pasti dengar lah apa yang mas bicarakan. Kaya gitu aja di jewer." Bersungut, Irsyad pun terkekeh.

__ADS_1


"Mas? Memang siapa yang poligami sih?" Tanya Rahma sedikit penasaran.


"Hmmm roti ini enak, coba deh." Mengalihkan sembari meraih potongan roti di piring lalu mengarahkannya kepada Rahma.


"Kan mas gemar sekali mengalihkan."


"Mengalihkan apa? Enak ini loh dek rotinya." Masih menyodorkan.


"Rahma itu penasaran mas,"


"Penasaran apa sih, ini tuh masalah bapak yang tadi sayang, sudah ya tidak usah membahas hal yang tidak perlu di bahas,"


"Memang kenapa?"


"Ya memang tidak pantas saja Membicarakan curahan hati orang lain dek?" Menyentuh hidung Rahma.


"Walau pun sama istri mas sendiri?"


"Iya."


"Tapi Rahma kan tidak bocoran orangnya." Ucap Rahma. Irsyad menghela nafas.


"Emang dasar wanita, jiwa gosip mu mulai on ya?" Menarik pipi Rahma pelan.


"Bukan gosip mas. Tapi kan cuma penasaran dikiiiiiit."


"Penasaran dikit atau penasaran banyak?"


"Banyak deh hehehe."


"Dasar kamu ini, jangan sekali-kali kamu penasaran sama hal yang sifatnya rahasia sayang, apalagi aib."


"Ya kan cuma sama Rahma mas,"


"Nggak ada kata cuma Rahma, sayang. mas percaya kamu bisa menjaga rahasia. Tapi yang namanya kita sebagai pemegang amanah seseorang yang sudah menceritakan curahan hatinya, akan lebih baik semua itu stop di kita. Jadi mendengarkan sudah cukup, jika perlu kasih saran maka kasih lah ke pada orang itu, setelahnya kita buang jauh-jauh jangan sampai apa yang kita dengar keluar lagi dari mulut kita. Termasuk sama orang terdekat sekalipun, contoh pada istri mas ini." Menyentuh hidung Rahma.


"Ya kan tapi Rahma tidak kenal mereka juga, walaupun Rahma ceritakan ke orang lain juga? Mereka tidak akan tahu seperti apa Orangnya."

__ADS_1


"Kan...kan...? Tahu sistem gosip berantai? Kadang kita curhat ke si A, kita bilang tuh ke si A? 'hei jangan bilang siapa-siapa loh ya.' si A mungkin akan bilang iya, namun dia nggak sengaja cerita ke si B dengan embel-embel yang sama minta untuk tidak di ceritakan ke orang lain, tapi ternyata disampaikan pula dari si B ke si C. Begitu seterusnya. Walaupun kita tidak kenal siapa orangnya, tapi itu tidak baik sayang, itu Aib. Paham tidak?"


"Iya deh, iya." Sedikit kecewa,karena memang suaminya itu sangat rapat sekali jika sudah menyinggung tentang rahasia. Walaupun sebenarnya tidak penting-penting amat sih untuk Rahma, namun memang wanita ya? Kadang ketika kita mendengar sekilas tentang hal yang membuat kita tertarik kita jadi merasa penasaran dengan hal seperti itu. Ya itulah manusia.


__ADS_2