Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
bab 4. gara-gara Sarden. (season 2)


__ADS_3

Seperti biasa waktu ashar adalah waktu dimana keluarga itu berkumpul untuk melaksanakan solat berjamaah.


Dengan khusyuk Rahma dan Irsyad menjalankan ibadahnya.


Berbeda dengan dua anak-anak ini yang semakin aktif.


Rumi dan Nuha gemar sekali menaiki punggung Abi mereka kala tengah melakukan gerakan Sujud hal itu pula yang membuat Irsyad bahkan lebih lama melakukan sujud nya, dan dengan perlahan mengangkat tubuhnya agar dua anak itu tidak jatuh.


Hingga gerakan Sujud yang kedua anak-anak itu tertawa cekikikan saat salah satu dari mereka sedikit terjungkal kala abinya melakukan sujud.


Hal itu sering sekali membuat Irsyad jadi ingin tertawa akibat gemas.


Bahkan tidak jarang pula ia membatalkan sholat dan mengulang dari awal akibat gangguan dua malaikat kecilnya.


"Assalamualaikum warahmatullah." Irsyad menoleh ke kanan, dan begitu pula sebaliknya.


Irsyad terkekeh. "Siapa yang menggangu Abi solat hayo?" tanya Abi Irsyad sembari meraih dua anaknya.


Nuha dan Rumi pun hanya akan tertawa cekikikan.


"Abi hukum kalian ya." Beliau menciumi pipi mereka tanpa ampun. Sehingga membuat keduanya tergelak.


"Hahaha Ampun Abi. Geli." ucap Rumi.


"Abi, Abi, Nuha di disuruh sama kakak Rumi kok Abi, tapi Nuha suka di hukum Abi."


"MashaAllah suka? Hah, suka di hukum seperti ini ya?" Abi Irsyad meluncurkan serangan kecupan di perut Nuha. Membuat anak itu tertawa terpingkal-pingkal.


"Abi, kakak juga mau di hukum, Abi, hukum kakak. Ayo hukum kakak" Rumi mengangkat bajunya ke atas menunjukkan perutnya, minta di kecup juga di bagian perutnya.


"Ya Allah Gusti," Irsyad tertawa "sini, sini kakak juga dapat hukuman sayang dari Abi." Kembali meluncurkan kecupan di perut Rumi yang lantas tertawa akibat merasakan geli.


Empat orang di sana pun tertawa riang termaksud Rahma yang hanya geleng-geleng kepala. Mereka menunda sejenak zikir mereka, semua karena ulah Rumi dan Nuha yang memang selalu menggemaskan.


"Sudah, sudah Bi. Anak-anak jangan di buat tertawa sampai seperti itu." Tutur Rahma.


Irsyad pun menghentikan serangan kecupannya kepada anak-anak mereka.


"Uhuk...uhukk.." keduanya terbatuk-batuk.


"Tuh kan batuk, sudah ya takut muntah, sini dede, kakak." Rahma merentangkan kedua tangannya.


Kedua anak itu lantas beranjak dan berebut duduk di pangkuan Ummanya.


"Dede dulu kakak, awas! Dede sempit." Nuha mendorong tubuh Rumi yang turut duduk di pangkuan Ummanya.

__ADS_1


"Tapi kakak juga mau duduk disini, Dede saja yang awas sana—" mereka berdua saling dorong. Irsyad pun menoleh sejenak. Meletakkan jari telunjuknya di bibir.


"Jangan bertengkar sayangnya Abi. Si Soleh dan Soleha. Sini Rumi sama Abi. Nuha sama Umma ya." tuturnya lembut.


Rumi beranjak ia menjulurkan lidahnya pada Nuha yang lantas memegangi kedua tangan Ummanya meminta di peluk.


"Abi! Kakak nakal tuh."


"Kakak jangan nakal ya. Anak baik yuk zikir dulu. Baca basmallah ya." Titah Abi Irsyad.


Mereka pun berzikir bersama. Dan seterusnya kedua anak itu menyetor hafalan mereka.


Rahma sedikit kagum, suaminya benar-benar mendidik anak-anak mereka dengan baik. Ia beruntung memiliki suami seperti Irsyad.


Pria yang lemah lembut namun sedikit tegas.


Pria yang perhatian namun tidak memanjakan. Intinya suaminya itu adalah panutan yang perlu ia teladani.


***


Selepas menjalankan sholat ashar. Keluarga itu menuju salah satu departemen store guna melakukan belanja bulanan. Irsyad menemani Rumi dan Nuha memilih-milih makanan ringan kesukaan mereka sedangkan Rahma berjalan ke rak lain di bagian sembako untuk membeli beberapa kebutuhan sembako yang sudah habis dan perlu di beli.


Di salah satu rak, Rahma tengah mencari merek salah satu sarden favorit suaminya. Matanya terus memburu sepanjang rak tersebut mencari sarden yang ia cari tersebut.


Sedikit berbinar saat Rahma mendapati barang yang ia cari.


Sebuah tangan meraih sarden tersebut dan berdiri di sebelah Rahma.


"Dari dulu masih saja nyari barang di tempat yang tinggi, kamu kan pendek Rahma." Tutur sembari meraih sarden tersebut. Rahma menoleh cepat.


"MashaAllah mas Miftah?" Rahma menunduk berusaha menjaga pandangannya.


"Assalamualaikum." sapa Miftah.


"Wa... walaikumsalam."


Miftah terkekeh. "Rahma, apa kabar?"


"Baik mas Alhamdulillah. Rahma pergi dulu ya." Berjalan sembari mendorong troli belanja. Miftah menahannya dengan satu kaki.


"Kok, Rahma jadi Sombong sih sekarang? Mas Miftah kan hanya ingin mengobrol."


"Istri saya diam bukan karena sombong dokter. Istri saya hanya ingin menjaga diri dari pandangan haramnya." ucap Irsyad dari sudut yang tidak jauh dari mereka berdua berdiri.


"Loh sama suami juga ya?" Miftah tersenyum begitu juga Irsyad.

__ADS_1


Pria itu mengulurkan kaleng sarden yang ada di tangannya pada Rahma.


Namun Irsyad meraihnya cepat.


"Terimakasih loh sudah membantu saya mengambilkan makanan kesukaan saya." Tutur Irsyad.


"Sama-sama," jawabnya dingin lalu melenggang pergi.


Irsyad menghela nafas, ia mengusap kepala Rahma. "Sudah semua sayang?" Tanya Irsyad.


"Iya sudah mas." jawab Rahma.


"Umma... Umma Dede beli ini." Nuha menunjukkan bungkusan besar permen Jelly di tangannya.


"Kakak juga Umma."


Rahma tersenyum. "Makan permen jelly nya jangan banyak-banyak ya. Jangan langsung di makan semua."


"Iya Umma." Jawab keduanya bersamaan.


Irsyad tersenyum "Ya sudah, kita ke kasir yuk. Sudah mau magrib ini." Ajak Irsyad. Rahma mengangguk kedua anak itu di tuntun Rahma, sedangkan Irsyad mendorong troli belanja mereka yang sudah penuh itu berjalan menuju kasir.


Selama mengantri Irsyad terus mengamati istrinya. 'Rahma kalau di luar dengan dandanannya seperti ini memang terlihat masih sangat cantik.' gumam Irsyad, ia melangkah maju karena antrian depannya sudah selesai kini giliran belanjanya yang di hitung oleh kasir.


Setelah selesai menghitung Irsyad membayarnya. lalu membawa lagi belanjanya ke area basement menghampiri mobilnya lalu memasukkan belanjanya di bagasi belakang.


Sepanjang jalan Irsyad hanya diam saja. Sedangkan dua anak yang duduk di kursi tengah terus saja mengoceh.


"Punya Dede lebih bagus ada gambar putri angsanya dong."


"Punya kakak lebih bagus. Ada gambar kodok hijau nya."


Rahma hanya geleng-geleng kepala mendengarkan ocehan anak-anak itu yang seperti tengah melakukan rapat paripurna ala mereka sendiri. Berdiskusi tidak jelas dari bibir mungil mereka.


Irsyad meraih tangan Rahma, membuat Rahma menoleh. sedikit heran melihat Irsyad selalu memegangi tangannya.


Mata Irsyad melirik ke arah kaca spion tengah mengecek keduanya.


Rumi dan Nuha masih fokus dengan Snack mereka. Ia pun mengangkat tangan Rahma dan mengecupnya.


Menoleh sebentar ke arah Rahma sembari tersenyum. Mengusap kepalanya lalu menarik pipinya gemas.


"Istri cantik ku." gumam Irsyad. Rahma pun tersenyum.


'sepertinya ada hubungannya ini dengan dokter Miftah tadi.' Rahma terkekeh dalam hati.

__ADS_1


Apa lagi coba kalau bukan mode cemburu nya ustadz yang tengah on hehehe.


__ADS_2