
Selepas Isya kedua anak itu belum tidur mereka menunggu abinya pulang dari masjid.
Dan ketika mendengar ketukan pintu dari luar serta suara salam dari ayahnya keduanya berlari dan melompat-lompat di depan pintu.
Perlahan Rahma membuka kunci pintu rumah mereka dan membukanya.
"Assalamu'alaikum." Sapa Abi Irsyad sembari mencondongkan tubuhnya menghadap ke kedua anaknya.
"Abi... Abi ayo cerita Nabi yang di makan ikan paus Abi." seru Nuha dan Rumi.
"Waduh... Waduh nanti dulu ya Abi masuk dulu dong." Irsyad melangkah masuk, pintu pun di tutup oleh Rahma.
"Bi, tadi Umma lihat ada keranjang tape di mobil kenapa tidak di bawa masuk?" tanya Rahma sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Astaghfirullahalazim, Abi lupa. Tadi di kasih sama pak Huda. Sudah di bawa masuk?" tanya Irsyad. Rahma mengangguk.
"Syukur lah besok di bagi-bagi saja. Kalau kita makan sendiri tidak akan habis kan segitu?"
"Iya Bi." Jawab Rahma.
"Abi, ayo cerita Nabi yang di makan ikan paus."
"MashaAllah, tidak sabaran ya Anak-anak Abi ini. Yuk... Yuk... Kita ke kamar."
"Horeeeeee...!" Teriak keduanya yang lantas di tuntun Irsyad melangkah bersama.
"Haduuuuuhhh, apa cuma aku ya? ibu yang tidak terpakai sama Anak-anak ku jika sang ayah sudah ada di dekat mereka? Ck ck ck Kalau sudah sama abinya aku pasti di lupakan." Rahma mendesah.
Tentu saja kalau kata Nuha, umma galak suka mengomel. Tidak seperti Abi yang baik hati.
Jelas, Abi mana tahu rasanya sebagai seorang ibu rumah tangga yang merasa keteteran dengan dua anak. Walaupun ada mbak asisten rumah tangga yang membantu namun tetap saja merawat dua anak super aktif yang benar-benar memicu emosi naik turun.
Ya dua malaikat kecilnya itu memang seperti cuek pada umma nya saat Abi di rumah, namun jika di bohongi kalau umma akan pergi ke rumah nenek dan kakek mereka akan langsung memeluk umma nya dan melarang umma nya pergi.
Begitulah anak kecil ya hehehe.
Setelah mengunci pintu rumahnya, mematikan lampu ruangan tamu dan Televisi juga. Rahma berjalan menaiki anak tangga masuk menuju kamarnya. Dan di dalam kamar itu ranjangnya sudah di kuasai satu pria dewasa yang duduk menyandar di tengah. Dan kedua putra dan Putrinya yang sudah tiduran di samping kiri dan kanan.
Rahma geleng-geleng kepala. "Tidak ada tempat untuk umma kah?" tanya Rahma.
"Umma sini disebelah Nuha."
"Tidak boleh di sebelah Rumi saja."
"Sssssstttt, kalian di tengah-tengah. Abi dan umma di pinggir ya." tutur Rahma.
"Nanti yang di sebelah abi siapa? Nuha ingin di tengah-tengah abi dan umma." Pintanya.
"Rumi juga Umma."
"Satu-satu ya. Rumi di sebelah Abi. Nuha di sebelah umma." Titah Irsyad yang lantas beranjak. Lalu menggeser tubuh Rumi ketengah. Keduanya terkekeh.
Terlebih saat Rahma turut naik keatas ranjangnya masuk dalam selimut yang sama.
"Ayo abi cerita..." Titah dua anak kecil itu.
"Baiklah abi mulai cerita ya? Tapi sebelum itu. Abi mau bertanya, siapa sih Nama Nabi yang masuk ke dalam perut ikan paus itu?"
Keduanya diam saja.
Rahma memiringkan tubuhnya dengan kepala bertopang pada lengannya.
"Kok diam? Anak-anak abi tidak ada yang tahu ini?" tanya Irsyad.
Keduanya masih hening sembari ketawa ketiwi. Rumi menutupi wajahnya dengan selimut begitu juga Nuha. Keduanya mungkin tidak ingat.
"Waduh... Tidak ada yang ingat ini?" tanya Abi Irsyad. Keduanya cekikikan masih menutupi wajahnya dengan selimut. Irsyad pun menarik selimut itu pelan lalu memberinya kecupan kepada keduanya sehingga mengundang gelak tawa di kamar itu.
Hingga sebuah dering ponsel membuat Rahma meredam tawanya, ia meraih ponsel Irsyad yang berada di meja yang posisinya lebih dekat dengannya.
__ADS_1
"Mas, mbak Adiba." Ucap Rahma sembari mengulur kan ponsel itu pada Irsyad yang langsung meraihnya.
"Vidio call?" Gumam Irsyad. Ia pun menerima panggilan vidio tersebut.
"Assalamu'alaikum mbak." Sapa Irsyad.
"Walaikumsalam syad. Ini bapak dan ibu mau bicara sama Nuha dan Rumi katanya." tutur Mbak Adiba
"MashaAllah, masih ada di Magelang kah mbak Adiba?" tanya Irsyad tersenyum.
"Iya, mungkin besok baru balik ke Sragen." Jawabannya.
Tak lama ponsel itu beralih pada orang tua Irsyad. Irsyad tersenyum memandangi dua orang sepuh di dalam layar ponselnya, tak lupa pula ia menyapa kedua orang tuanya, karena sejatinya ia sangatlah merindukan ibu dan bapaknya, karena Lebaran ini beliau tidak pulang kampung.
Irsyad menyerahkan ponsel itu pada Rumi dan Nuha yang langsung berebutan memegangi ponsel tersebut.
Seperti biasa obrolan antara kakek, nenek dan kedua cucunya itu memang tidak jelas ngalor ngidul nya. Yang penting rindu kakek Neneknya terobati.
Dan kedua anak kecil itu sudah merasa senang menunjukkan kebisaan mereka saat ini. Irsyad tersenyum melihat tingkah keduanya yang masih saja sibuk berceloteh di depan layar ponsel.
Sesekali terdengar gelak tawa kakek dan neneknya saat mendengar celotehan Rumi dan Nuha.
Ya anak itu pandai sekali berbicara sekarang.
Hingga sudah lewat hampir setengah jam keduanya mulai menguap. Pertanda mereka sudah mengantuk. Rahma pun meminta Irsyad untuk meraih ponselnya itu. Agar Rumi dan Nuha bisa segera tidur.
Setelah mengucap salam ponsel itu sudah kembali ke tangan Irsyad yang langsung di bawahnya keluar sedangkan Rahma membawa kedua anaknya itu ke ranjang mereka. Memberikan botol susu yang baru saja di buat Rahma.
Dan tidak memakan waktu lama bahkan susu di dalam botol itu belum habis Rumi dan Nuha sudah tertidur. Rahma meraih dua botol tersebut dari tangan kecil keduanya. Lalu menyelimuti mereka.
Setelahnya Rahma pun beranjak dan berjalan keluar. Langkah Rahma terhenti di depan pintu. Ia melihat Irsyad masih menelfon ibunya sembari menangis.
Pria itu hatinya benar-benar halus. Setiap kali menelfon orang tuanya pasti air matanya selalu keluar.
Rahma menutup pintu kamar mereka lalu berjalan turun meletakkan botol susu Nuha dan Rumi di wastafel pencuci piring. Setelahnya kembali naik.
"Walaikumsalam." Jawab Irsyad. Sesaat setelah Rahma berada di sebuah anak tangga paling atas.
"Mas," Panggil Rahma.
Irsyad menoleh. "Ya dek?"
"Mas pasti rindu ibu ya?"
Irsyad tersenyum lalu mengangguk. Beliau meletakkan ponselnya di meja lalu merebahkan tubuhnya, dengan Kepala berada di pangkuan Rahma.
"Kalau di pikir-pikir kita sangat jarang sekali ke Magelang ya mas?"
"Mau bagaimana lagi sayang. Pekerjaan dan jarak yang membuat mas tidak bisa terlalu sering ke kampung."
Rahma mengusap-usap kepala Irsyad.
"Mas cuma takut, yang namanya umur kita tidak pernah tahu dek. Kapan kita akan di jemput. Entah orang tua kita dulu atau kita duluan. Dan mas takut tidak bisa bertemu mereka lagi karena jarak ini. Itu yang selalu membuat mas Irsyad menangis setiap kali menelfon mereka. Terlebih-lebih ibu mas sedang kurang sehat."
"Ya sudah kita cari waktu luang untuk ke Magelang mas."
"Kalau dalam bulan ini belum bisa dek."
"Lalu kapan?"
"Mungkin bulan depan, itu saja jika tidak ada halangan lagi." jawab Irsyad.
Rahma terdiam. Ia merasa kasihan pada suaminya karena tinggal jauh dari orang tuanya. Hal itu jadi mengingatkan dirinya kala tengah merantau dulu. Dia pun sama jika sehabis menelfon ayah dan ibunya pasti akan menangis.
Irsyad beranjak duduk ia lantas mengusap kepala Rahma dan mengecupnya.
"Dek?" panggil Irsyad.
"Iya mas?"
__ADS_1
"Rumi dan Nuha sudah tidur?" tanya Irsyad.
"Iya mas. Baru saja."
Irsyad terkekeh. "Anak-anak itu aktif sekali, kamu pasti kelelahan ya mengurus mereka?" ucap Irsyad.
"Tidak juga sih. Sudah mulai terbiasa mas."
"Kalau sekarang masih lelah tidak?" tanya Irsyad.
"Sudah tidak lah, memang kenapa?"
"Berarti tinggal mengurus suami mu ini ya?"
Rahma terkekeh. "Hei, baru saja sedih loh, sudah berubah suasana saja?"
"Hehehe. Sedihnya masih tapi mas kan masih ada wanita yang perlu mas nafkahi."
"Emmm? Nafkahi?"
"Nafkahi batinnya maksud mas." bisik Irsyad.
"Hei, mas ini ya."
"Apa sih? Sudah tiga malam loh ini mas belum menyentuh mu."
"Halah baru tiga malam ini. Belum genap seminggu kan?" Rahma terkekeh.
Irsyad memeluk Rahma "Waktu libur seminggu itu kalo dek Rahma haid saja, kalau sedang fase biasa ya kelamaan." Bisiknya sembari mencium bagian Leher Rahma.
"Yuk... Yukk... Mau mas gendong atau bagaimana ini?"
"Jangan lah mas. Jangan di gendong. Rahma itu semakin gemuk mas."
"Memang kenapa sih jika istri mas ini makin gemuk. Mas itu suka loh dek Rahma yang seperti ini."
"Ya tapi akhir-akhir ini Rahma merasa tidak pede dengan bentuk tubuh Rahma saat tengah bersenggama dengan mas Irsyad."
"Ya Allah, memang mas melihat dari bentuk tubuh Rahma apa?"
"Iya lah. Lihat saja pinggang Rahma sudah terdapat dua lipatan lemak." Rahma menyentuh bagian pinggangnya.
Irsyad terkekeh. "Saidah Aisyah Ra. Juga gemuk dulu. Bahkan beliau pernah ngambek saat di ajak Baginda Rosulullah Saw lomba lari." tutur Irsyad.
"Lomba lari?" tanya Rahma. Irsyad mengangguk.
"Iya, dulu Saidah Aisyah Ra, kan pernah mengalahkan Baginda Nabi saat lomba lari. Dan di beberapa tahun setelahnya kala itu mereka tengah berjalan berdua, Rosulullah Saw mengajaknya adu cepat berlari. Awalnya Saidah Aisyah menolak, karena beliau sadar dirinya itu jauh lebih gemuk tidak akan mungkin bisa mengalahkan Baginda Nabi Muhammad SAW."
"Sedikit bujukan dari Baginda Nabi, akhirnya Saidah Aisyah bersedia. Mereka pun berlari, dan benar saja Baginda Nabi memenangkan balap larinya itu."
Rahma terkekeh. "Lalu bagaimana dengan Saidah Aisyah Ra."
"Beliau bersungut-sungut, tidak Terima lah. Karena menurutnya itu curang karena saat itu Saidah Aisyah ra sudah merasa dirinya jauh lebih gemuk." Sambung Irsyad.
Rahma terkekeh.
"begini dek Rahma seorang wanita itu mau seperti apa perubahan tubuh dan wajahnya. Jika pasangannya itu sangat lah mencintainya. Maka ia tidak akan pernah menyadari perubahannya itu. Karena yang terpenting adalah?" Irsyad meraih pinggang Rahma dan menariknya pelan mendekat kearahnya.
"Kenyamanannya Dek Rahma, seperti mas, merasa nyaman kala tengah melakukannya dengan mu."
"Tapi? Apa mas tidak jenuh menggauli Rahma terus menerus? Tidak ada perasaan bosan begitu? Jamaah mas Cantik-cantik loh." goda Rahma.
Irsyad meraih dagu Rahma. "Mau apa mas tergoda mereka?"
"Tidak. jangan sampai. Deh."
Cuph Irsyad mengecup bagian bibirnya. "Makanya jangan bicara yang aneh-aneh. Yuk kita ke kamar. Dan bantu mas menyalurkan hasrat ini."
Rahma tersenyum, ia mengecup pipi Irsyad, sehingga membuat Irsyad tersenyum keduanya lantas berjalan bersama masuk kedalam kamar mereka.
__ADS_1
Menyelesaikan urusan mereka di dalam kamar itu.
--------------------Extra part selesai-----------------