
Irsyad yang harus berangkat pagi, berpamitan lebih dulu saat Rahma sedang menyiapkan seragam MI anak-anak mereka beberapa jam yang lalu.
Hari ini adalah hari pertama si kembar duduk di bangku sekolah dasar. Jadilah, persiapan ibu dua anak itu lebih ekstra lagi. Saat ini, keduanya sudah selesai memakai pakaian. Tentunya dengan bantuan Umma.
"Wah, cantik dan ganteng sekali anak Umma," ujarnya setelah memasang hijab putih di kepala Nuha yang sedang tersenyum lebar.
"Dede udah gede, ya, Umma?"
"Tapi Kakak lebih gede, ya, Umma?" saut Rumi tak mau kalah.
"Ya, semuanya sudah gede," jawab Umma menengahi.
"Tapi, kan, tinggian Kakak." Rumi mengangkat tangannya mengukur tinggi kepalanya sendiri ke kepala Nuha yang memang lebih pendek darinya.
"Kakak, berjinjit!" serunya tidak suka kalau Rumi sudah main mengukur tinggi badan.
"Mana? Enggak... orang Kakak emang tinggi, ya Umma?"
"Tapi tadi Dede liat!"
"Orang, enggak!"
"Iya!"
"Enggak! Kakak emang tinggi..."
"Tapi Kakak jinjit tadi, itu curang namanya."
"Enggak jinjit! Umma liat tadi, kok!"
"Astaghfirullah al'azim..." Rahma menggaruk kepalanya menahan kesal. Karena dua anaknya memang sering sekali seperti itu.
"Tuh, Umma marah gara-gara Dede."
"Enak aja, orang Kakak yang bikin Umma pusing."
"Eeeeeit... Umma bilang apa tadi? Kalian jangan berantem. Kalian harus akur! kalau mau setelah pulang sekolah nanti Umma belikan es krim wafel di kedainya. Hayoooo...?" Rahma mengarahkan jari telunjuknya bergantian dari Rumi ke Nuha.
Keduanya kompak membungkam mulutnya masing-masing. Demi bisa beli es krim favorit, mereka memang harus nurut sama Umma. Itulah aturannya.
"Mau es krim?"
"Mau, Umma! Kakak mau strawberry." Mengangkat jari telunjuknya tinggi-tinggi.
__ADS_1
"Dede vanila, Umma! Dede Vanila!" Tak mau kalah si bungsu juga sama mengangkat sambil melompat-lompat agar jarinya bisa lebih tinggi dari Kakaknya.
Rahma yang gemas tersenyum sebelum menciumi keduanya.
"Baiklah, kita berangkat sekolah dulu, yuk. Umma tungguin untuk hari pertama ini."
"Yeaaaaaay!" seru keduanya penuh semangat. Mereka pun keluar kamar bersamaan dari kamar si kembar.
Ya, kamar mereka memang masih menjadi satu karena Rumi dan Nuha masih anak-anak. Hanya saja ranjang mereka di pisah.
Di luar, Umma berpamitan lebih dulu dengan Mbak Rani. Asisten rumah tangga di rumah itu. Setelahnya bersiap dengan mengendarai sepeda motor untuk mengantarkan anak-anaknya ke sekolah yang jaraknya tak terlalu jauh.
Di perjalanan, dengan udara yang masih sejuk Rumi dan Nuha bersahut-sahutan membaca surah Al waqiah yang sudah mereka hafal. Antara Rumi dan Nuha pastinya saling mendahului, seolah ingin menujukkan siapa yang lebih hafal dari masing-masingnya.
Tentu Rahma yang sudah terbiasa hanya bisa diam saja. Mendengarkan anak-anaknya bermurojaah sambil sesekali tersenyum menyapa orang-orang yang kebetulan berpapasan dengan mereka.
Sesampainya di sekolah, wanita bercadar coklat yang memakai gamis serta hijab serba hitam itu langsung melepaskan helm anak-anaknya secara bergantian lalu menuntun mereka di kanan dan kirinya memasuki kawasan sekolah.
Beberapa anak terlihat berlarian, ada juga yang memilih untuk duduk di dekat ibunya sambil terus memegangi lengan. Ada juga yang tidak mau masuk kedalam kelas dan menangis. Benar-benar hiruk-pikuk khas Tahun ajaran baru.
Nuha dan Rumi duduk di kursi yang di buat melingkar dan berjajar di kelas tersebut. Suasana kelas belum begitu penuh namun tetap sudah banyak anak-anak di sana.
"Kakak, sama Dede. Nanti kalau Ibu ustazah sudah datang harus tenang, ya? Nggak boleh berisik. Harus diam, dan dengerin kalau Ustadzah sedang berbicara. Paham?!"
"Paham, Umma!" menyahut bersama-sama. Rahma pun tersenyum. Dia sendiri menunggu untuk beberapa menit sampai anak-anak muridnya sudah datang semua dan satu orang guru wanita yang berhijab panjang memasuki kelas sambil mengucapkan salam.
Sementara Rumi dan Nuha, menjadi anak yang tak keluar sama sekali. Nuha yang banyak bicara tentunya sudah mulai mengenal satu orang teman. Sementara Rumi, Dia terus saja memandang kearah pintu yang tertutup dan sesekali bergeser ke jendela tempat Ummanya mengintip.
"Assalamu'alaikum semuanya?" sapa Ustadzah dengan riang pada anak-anak di hadapannya. Yang di jawab dengan ceria pula oleh anak-anak tersebut.
Pertama-tama, Ustadzah memperkenalkan diri, setelahnya membimbing mereka untuk berdoa bersama setelah itu barulah mengerjakan sholat Dhuha bersama-sama.
"Nah, di sini ada yang mau menjadi imam?" tanyanya, dan hampir semuanya mengangkat jari telunjuknya, berebut untuk menjadi imam terkecuali Rumi yang hanya diam saja.
Bu Ustadzah sempat tertawa karena ada anak perempuan juga yang mengangkat jari. Beliau menjelaskan sedikit dengan bahasanya yang ceria, setelah itu menujuk salah satu dari anak laki-laki tersebut sesuai absen. Setelah dipilih, sholat Dhuha berjamaah pun di mulai.
Rahma yang melihat dari jendela kelas tersenyum senang. Melihat kedua anak mereka bisa tenang saat sedang sholat, walau teman-teman yang lainnya terlihat banyak main-main.
–––
Siangnya di sebuah kedai Es krim...
Kedua anak itu duduk di hadapan Umma Rahma. Menyantap es krim favorit sesuai pesanan mereka.
__ADS_1
"Enak?" tanya Rahma sambil menonton kedua anaknya makan Es krim dengan riang.
"Enak, Umma...," jawabnya sambil menunjukkan ibu jari mereka bersama-sama dan kembali melanjutkan makannya.
"Kalau enak, ucap apa?"
"Alhamdulillah...," serentak menjawab. Rahma yang mendengar itu tersenyum senang. Tak lama panggilan telepon berdering.
Umma melihat nama Abi mereka di layar ponsel dan buru-buru mengangkatnya.
"Assalamualaikum?" sapa Irsyad dari sebrang.
"Walaikumsalam, Mas."
"Sudah pulang, Dek?"
"Belum. Ini anak-anak malah minta mampir jajan Es krim, Mas."
"Nggak papa, panas terik gini, yo, ena'e makan es krim," ujarnya yang di balas senyuman Rahma dari sini. "Oh..., bagaimana anak-anak?"
"Alhamdulillah untuk Nuha seperti biasa, mudah berbaur. Kalau Rumi belum terbiasa, masih perlu adaptasi."
"Yo, wes. Yang penting, kan, masih mau di kelas, to?"
"Iya, mau sih. Alhamdulillah, padahal ada satu, dua, yang nggak mau masuk, Bi. Kemungkinan besok anak-anak udah mulai di latih untuk di tinggal."
"Iya, Dek, nggak papa. Biar mandiri, tapi sebisa mungkin nggak usah di tinggal dulu. Kamu standby aja di luar tanpa terlihat Rumi dan Nuha."
"Iya, Mas. Niatnya seperti itu. Karena belum tega juga ninggalin anak-anak."
"Alhamdulillah lah, kalau begitu. Maaf, Dek. Sudah dulu, ya. Mas udah di tunggu mahasiswa, nih."
"Okeh, Mas. Jangan lupa nanti pulangnya beliin Rahma Tahu Aci yang kaya waktu itu, Mas bawa."
"Oh... beres, Sayang. Tak beliin yang spesial, asli Tegal. Ntar mas tanya dulu ke Fatkhul Qullum. Waktu itu yang beli, Dia, soalnya...."
"Emmm, iya itu. Enak rasanya, walau udah dingin nggak keras."
"Sip... sip. Ya sudah, Mas tutup dulu. Kamu hati-hati pulangnya sama anak-anak. Ojo ngebut, loh, Dek."
"Iya, Mas."
"Assalamualaikum Ummu Rumi-Nuha–" ucapnya dengan suara di perhalus dan sedikit menggoda.
__ADS_1
"Walaikumsalam Abu Rumi-Nuha."
"Duh, Gusti...," terdengar tawa renyah Ustadz Irshad dari sebrang yang membuat Rahma sedikit membungkam mulutnya menahan tawa juga. Lantas buru-buru mematikan telfonnya dan kembali fokus menonton dua anaknya yang masih asik menghabiskan es krim di hadapan masing-masing.