
Ruangan ICU siap. Irsyad pun di pindahkan keruangan tersebut.
Beberapa petugas medis menyiapkan semua peralatan yang harus di pakai Irsyad.
Termaksud beberapa selang yang memenuhi tubuhnya. Masker oksigen pun terpasang sempurna di bagian mulut dan hidungnya.
Monitor jantung masih berjalan dengan semestinya.
Namun tidak dengan tubuhnya yang sama sekali tidak bergerak.
Dari luar kaca Rahma terus mengamati suaminya. Dimana tubuhnya penuh dengan alat medis.
'aku pernah, berada pada posisi perawat di sana, melihat keluarga pasien yang begitu sedih karena kerabat mereka atau mungkin pasangan mereka tengah berada di bed tersebut. Namun aku tidak menyangka, bahwa aku akan mengalami hal ini. Dimana aku lah yang berdiri di sini. Sebagai seorang keluarga dari pasien itu memandangi suami ku yang tengah berjuang di sana.' batin Rahma, tangannya mengusap pelan kaca ruangan ICU tersebut.
Dengan air mata yang terus membanjiri pipinya.
'mas Irsyad. Kau tahu? Betapa besar cinta ku pada mu. Bahkan saat ini, saat aku mendengar kondisi mu. Hati ku seolah remuk dan hancur, dua bulan lagi. genap delapan tahun usia pernikahan kita. Namun aku tidak mau ini menjadi tahun terakhir mu menjadi pendamping ku mas. Aku belum mampu menjaga diri ku, iman ku pun masih sangat labil masih sangat butuh bimbingan mu mas, berjuang dan bangunlah sayang, aku, Nuha dan Rumi merindukan pelukan mu.' Rahma menyandarkan keningnya di jendela tersebut. Tubuhnya benar-benar lemas.
'khumaira oh khumaira.' sekilas suara godaan Irsyad terngiang-ngiang di telinganya.
'mancing terus nih sukanya? Minta jatah ya kamu? Hah? Memang belum puas yang kemarin? Sini... Sini mas cium sini. Habisin juga nih ya.' bayangan kala Irsyad mengejar Rahma untuk memberikan Serang kecupan pun kembali terlintas juga kekehan keduanya saat Rahma tertangkap oleh Irsyad.
"Mas Irsyad, hiks" Tubuh Rahma tumbang. Ia merosot kebawah, sehingga membuat pak Akmal berlari mendekati sang putri.
"Rahma? Ya Allah."
"Mas Irsyad, ayah... Rahma mau mas Irsyad, tolong suruh mas Irsyad membuka matanya." Isak Rahma.
__ADS_1
"Sabar Rahma... Berdoa saja nak, doakan suami mu, jangan seperti ini. Ayah semakin sedih melihatnya." Pak Akmal turut menangis.
"Mas Irsyad, Hiks... Mas Irsyad." Seperti dalam kondisi setengah sadar, Rahma terus saja menangis dan menyebut nama suaminya.
Pak Akmal pun tidak bisa berbuat apa-apa, selain memeluk Rahma dan menangkan putrinya itu. Hingga Rahma benar-benar tenang. Dan kembali pada kesadarannya.
***
Di rumah Rahma, ibu Ratih menunggu si kembar yang sudah tertidur di atas ranjangnya.
Ia masih menunggu kabar dari suami dan Putrinya itu tentang kondisi Irsyad saat ini.
Hatinya benar-benar tak karuan sedari tadi bahkan kaki dan tangannya masih gemetaran.
Yang ia khawatirkan jika sampai Irsyad tidak selamat. Makan akan terulang kembali masa kelam Rahma seperti saat dirinya kehilangan Fikri dulu.
"Nasib mu malang sekali Rahma." gumam Bu Ratih, sembari mengusap air matanya. Beliau pun berharap Irsyad akan baik-baik saja, dan bisa kembali ke keluarganya.
"Anak-anak Soleh dan Soleha, doakan Abi kalian ya. Semoga Abi kalian tidak apa-apa." gumam Bu Ratih.
Malam semakin larut Bu Ratih merebahkan tubuhnya, di sebelah Nuha. Dan mata yang basah itu pun mulai terpejam, melewati malam yang sangat tidak menyenangkan hati itu.
Bahkan saking tidak tenangnya. Ibu Ratih berkali-kali terjaga dari tidurnya, lalu mengecek ponselnya memastikan tidak ada pesan ataupun telfon yang memberi tahukan sebuah kabar buruk di sana.
Sementara itu di rumah sakit Rahma sudah mulai tenang. Kini dia tengah berada di ruangan ICU tersebut meraih tangan suaminya. Lalu mengecup punggung tangannya berkali-kali.
Ia pun mengangkat tangan itu meletakkan di atas kepala Rahma, lalu menggerakkannya seperti kala Irsyad mengusap kepalanya.
__ADS_1
"Rahma, senang di usap kepalanya sama mas Irsyad." Gumamnya.
Pandangannya tertuju pada mata Irsyad yang terpejam.
"Mas, mas tahu tidak? Tadi Rumi memakai sorban mas loh." Rahma memaksakan terkekeh.
"Dia juga memakai peci mas, kepalanya yang kecil itu membuat peci mas terlihat lucu saat di pakai Rumi hehehe, anak itu juga memperagakan cara mas saat bertausiyah. Menggemaskan sekali." Mengusap-usap lengan Irsyad.
"Mas, pasti rindu Rumi kan jadinya?"
"Makanya buka matamu, bangun terus cium anak-anak ya? Sama Rahma juga."
Rahma mengecup tangan Irsyad. Air matanya kembali mengalir.
Tangan kanannya terangkat menyentuh pipi Irsyad. "Kangen mas Irsyad. Kangen dalil mas, kangen cerewetnya mas. Kangen jail nya mas juga... Hiks"
"Bangun mas, ayo ajari Rahma bahasa Jawa lagi. Ayo sayang..." Semakin serak suara Rahma. Ia kembali mengecup tangan ustadz Irsyad. Terisak untuk beberapa saat, dan meredam tangisannya itu kemudian, lalu kembali tersenyum.
"Hei, mas? Kemarin Rahma beli Sarden, dan di bantuin mas Miftah lagi loh." Berbohong.
"Mau Rahma masak niatnya, nanti Rahma yang makan ya? Ayo dong bangun dan cemburu lah, terus larang Rahma makan sarden itu." Sudah semakin tidak tahan Rahma. Ia pun kembali menangis, merebahkan kepalanya di samping Irsyad sembari sesekali mengecup tangan sang suami.
"Rahma sayang mas Irsyad. Sangat." gumamnya.
Sedang kan di luar, pak Akmal hanya mengamati Rahma. Ia pun mengusap kedua matanya yang basah merasa tidak kuat melihat kondisi menantunya terlebih-lebih melihat hancurnya Rahma saat ini.
Beliau pun memutuskan untuk kembali ke kursi panjang. Di lorong rumah sakit tersebut. Menyandarkan kepalanya di sandaran kursi Tunggu yang terbuat dari besi. Sembari melipat tangannya di depan dada.
__ADS_1
Beliau mulai memejamkan matanya, berharap ini hanya lah mimpi, dan saat dirinya terjaga besok. Kondisi sudah kembali normal, tidak ada kesedihan yang menyelimuti.
Bersambung....