Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
bercerita tentang Jin.


__ADS_3

(Beberapa bulan berlalu.)


Pasir dalam genggaman ku...


Kala itu aku menggenggam mu sangat erat, hingga tak ada satu pun dari mu yang tersisa di tangan ku. Semuanya berguguran keluar melalui cela dari ruas-ruas jari ku. Menghilang sedikit demi sedikit dan akhirnya habis tak tersisa.


Namun, tidak untuk selanjutnya. Aku memang menginginkan itu tetap ada di tangan ku. Saat itu ku ambil lagi pasir yang sama, namun ku renggang kan tangan ini. Membiarkan mu tanpa berharap lebih untuk tetap berada di tangan ku, walaupun hanya sedikit yang akan bertahan aku akan menerima itu.


Dan sekarang? Di luar dugaan ku, aku mendapatkan mu lebih dari dari sebuah pengharapan ku. Kau tersisa seluruhnya. Bertahan pada genggaman ku ini.


Aku menangkap itu sebagai perumpamaan harapan dalam hidupku. Aku sadar kala diriku tengah mengharapkan sesuatu dengan sangat teramat, menggenggam keyakinan ku dengan kencang. Dan yang ku dapatkan hanyalah kesia-siaan. Lebih tepatnya aku malah justru kehilangan itu semua. Dan di saat aku mulai ikhlas mengikuti alur dan kemampuan ku. Dengan menerima kondisi ku. Kau justru memberikan bonus lebih. Mungkinkah ini hasil dari buah kesabaran ku.


Karena pasir dalam genggaman ku. Tidak hanya ku dapatkan di satu tangan ku, namun juga keduanya.


— Rahma Qurrata Aini. —


Langit Sudah semakin senja, Rahma masih duduk di bangku taman, tepatnya di sebuah taman kecil yang ada di depan rumahnya. Menulis catatan kecil sembari mengelus lembut perutnya yang kini sudah semakin membesar. Padahal usia kandungannya baru menginjak lima bulan, mungkin karena ada dua mahluk mungil di dalamnya. Yang selalu membuat Rahma terkekeh saat mendapatkan gerakan kecil di dalam rahimnya.


Benar, anak dalam kandungannya sudah di tiup kan ruh sejak usianya masih empat bulan. Wajar saja jika denyutan kecil bisa ia rasakan sekarang.


Saat langit semakin gelap dan berwarna oranye, Rahma masih di luar, menunggu sang suami pulang setelah mengisi dakwah di salah satu tempat.


Ya, semakin kesini entah mengapa suaminya malah justru semakin sibuk mengisi ceramah kesana-kemari, seolah semakin laris saja dia. Namun tenang, Rahma sudah tidak cemburuan lagi seperti sebelumnya. Ia malah semakin menjadi Rahma yang lebih dewasa, sikap keibuannya pun mulai muncul sekarang, tidak ada lagi Rahma yang suka marah-marah dan gemar jengkel itu.


Bruuuuuuummm deru suara mobil saat baru saja masuk ke dalam halaman mereka membuat Rahma tersenyum senang. Suaminya sudah pulang. dengan cepat ia beranjak dan mendekati suaminya yang sudah menebar senyum sembari turun dari mobilnya dan menutup pintu itu.


"Assalamu'alaikum Khumairah." sapa Irsyad, yang langsung mencium kening Rahma sembari mengusap perut buncit Rahma.


"Walaikumsalam salam Abi Irsyad." tutur Rahma sembari mengecup punggung tangan Irsyad.


"MasyaAllah, istri ku sekarang sepertinya sering sekali memanggil mas dengan sebutan abi." Irsyad terkekeh.


"Kan Rahma sedang mengibaratkan kalau si kembar memanggil abinya."


Irsyad tersenyum, ia pun sedikit berjongkok dengan menekuk satu kakinya. Lalu bergumam membaca doa dan mengecup perut Rahma. Setelahnya ia kembali beranjak.

__ADS_1


Ia menoleh ke langit sejenak. "Rahma, kenapa Rahma masih di luar. Ini sudah hampir magrib loh." tutur Irsyad.


"Rahma betah di luar jika sore hari mas, sembari menunggu mas Irsyad pulang."


"Mas tahu Rahma betah di luar, tapi kan berada di luar rumah saat langit sudah berwarna jingga seperti ini tidak baik, terlebih Rahma sedang hamil. Kalau orang Jawa bilang ora ilok Rahma. Atau orang awam bilang pamali."


"Mas kuno nih, percaya yang seperti itu."


"Loh, ini ada kok larangannya di Islam. Yuk kita masuk dulu nanti mas jelaskan." ucap Irsyad. Ia pun membawa Rahma masuk ke dalam rumah mereka.


Setelah keduanya masuk Irsyad mengucap bismillah sembari menutup pintu Rumahnya. Tidak hanya itu, semua jendela dan gorden pun ia tutup rapat sembari mengucap bismillah.


Kini keduanya sudah duduk di atas ranjang mereka. Irsyad mengusap lembut kepala Rahma.


"Rahma, pernah dengar cerita tentang Ummu shuban?" tanya Irsyad. Rahma menggeleng.


"Dia itu salah satu dari golongan jin perempuan yang jahat yang suka datang di kala waktu senja sayang. Dia itu seperti cicak yang berjalan dengan menempel di dinding." ucap Irsyad.


"Masa sih mas?" Rahma sedikit takut. "Mas jangan cerita horor deh, Rahma kan takut." tutur Rahma.


Rahma terdiam sembari memegangi lengan Irsyad. "Rahma jadi takut."


Irsyad tersenyum, "jangan takut lah sayang, mas cerita seperti ini bukan untuk menakuti Rahma, hanya untuk memberi pengetahuan untuk ade supaya tidak suka di luar rumah di kala waktu menjelang magrib dan saat adzan maghrib sayang. Soalnya apa? Saat adzan itu para jin kalang kabut mereka lari ke sana kemari mencari tempat persembunyian, dan tempat persembunyian mereka itu di lubang-lubang air seperti kloset juga. Mereka juga memakan kotoran manusia di dalamnya."


"Menjijikkan sekali." gumam Rahma.


"Itu memang makanya, dan lagi bilik lamar mandi itu sarang mereka."


"Mas sudah. jangan bikin Rahma semakin takut."


Irsyad tersenyum. "Mas cuma mau ngasih tahu saja kok, bukan untuk menakuti Rahma."


"Berarti jika Rahma mandi mereka lihat Rahma dong."


Irsyad mengangguk, "jin itu punya nafsu sama seperti manusia, mahluk itu gemar sekali menonton manusia yang tengah mandi Rahma. Maka dari itu kalau mau masuk kamar mandi kita harus membaca doa, termaksud saat melepas pakaian juga, semua demi apa? Agar Aurat kita di tutup sama Allah SWT dari pandangan para jin laki-laki ataupun jin perempuan."

__ADS_1


"Serem mas, dan? Apa makanan mereka hanya kotoran?" tanya Rahma.


"tulang juga makanan mereka sayang." ucap Irsyad.


"Tulang?"


"Iya tulang, makanya mas selalu buang sisa tulang ayam atau sapi di luar kan? Itu supaya jin tidak betah berada di dalam rumah kita ini. Terutama di dapur." tutur Irsyad.


Rahma sedikit merinding. Irsyad pun terkekeh sembari mengusap Kepala Rahma, "sudah jangan di takuti. Kita kan memang hidup berdampingan dengan itu. Yang penting kita tetap percaya akan adanya hal goib, namun bukan berarti harus memuja dan menakuti mereka ya. Dan lagi jangan sekali-sekali membuang air panas tanpa membaca bismillah di lubang pembuangan air, bahkan di wastafel sekali pun ya." ucap Irsyad.


"Memang kenapa? Rahma sering seperti itu mas."


"Kan tadi mas bilang, jin itu tinggalnya di lubang-lubang air. Mereka juga bisa merasakan siraman air panas itu. Jadi Rahma harus mengucap bismillah dulu, agar mereka keluar dari sarangnya itu. Jadi air panas itu tidak akan mengenai mereka."


"Sudah ahh mas... Rahma tidak mau membahas hal tentang Jin."


"Hehehe, jangan takut sayang kan ada surah tentang jin, supaya lebih paham lagi. Mau mas ceritanya semuanya?"


"Tidak mau, sudah hentikan jangan cerita hal-hal seperti itu, sudah Rahma katakan kan? Kalau Rahma itu takut." runtuk Rahma.


"Iya, iya hehehe, ya sudah yuk kita Sholat maghrib." ajak Irsyad saat mendengar adzan maghrib berkumandang.


"Tapi wudhu nya di temani ya mas."


"MasyaAllah, biasanya juga berani sendiri tuh."


"Salah siapa coba cerita seperti tadi, Rahma kan parno."


"Hehe iya iya, yuk mas temani. Kita wudhu sama-sama." tutur Irsyad.


"Tapi Rahma duluan ya."


"Iya, kesayangan." jawab Irsyad.


Keduanya pun beranjak menuju bilik kamar mandi guna mengambil air Wudhu di sana sebelum turun ke bawah menuju ruang pesolatan.

__ADS_1


__ADS_2