
Setelah menghabiskan makan malamnya dan memberi jeda sejenak. Keduanya beranjak, berpindah lokasi guna mengunjungi Aida dan Ulum.
Jarak tempuhnya tidak begitu lama hanya sekitar setengah jam mereka sudah sampai. Karena rumah Ulum berada di tepi jalan utama yang tidak begitu ramai, Irsyad pun mampu memarkirkan mobilnya di depan rumah.
"Alhamdulillah." gumam Irsyad sembari menarik tuas rem nya. Kini ke duanya sudah di luar mobil berjalan beriringan masuk ke halaman rumah Ulum yang tidak luas itu.
Sekilas Rahma mengamati Bunga-bunga yang tertata rapi di teras rumah Ulum dan Aida.
Aida selalu mengatakan jika suaminya Ulum lah yang sangat rajin menata tanaman hias di depan rumahnya. Ya jika di tanya dulu Almarhumah ibunya gemar sekali dengan tanaman hias, dan beliau selalu berkata, tanaman hias itu bisa memberi kesan menarik dan sejuk saat orang mengunjungi rumah kita, karena sesederhana apapun rumah kita jika pelataran rumah terdapat tanaman hias yang di tata dengan rajin maka orang yang berkunjung itu akan betah berada di rumah kita.
Di depan rumah Aida, belum juga mereka mengetuk pintu, Aida sudah membuka pintu rumah mereka.
"Mbak Rahma, mas Irsyad?" sapa Aida ramah dengan senyumannya yang tersungging senang kala mendapati kehadiran Irsyad dan Rahma ke rumahnya.
Rahma menatap Aida dengan rasa bahagia, pasalnya ia melihat Aida berdiri dengan kedua kakinya, walaupun tangan kanannya memegangi kruk sebatas siku. Namun itu sudah jauh lebih baik, Aida sudah tidak lagi memakai kursi Roda.
"Assalamu'alaikum Aida, MasyaAllah, kau sudah bisa berdiri?" Rahma memeluk tubuh Aida merasa terharu.
"Walaikumsalam mbak Rahma, iya Alhamdulillah mbak, semua juga berkat bantuan dari kalian." tutur Aida.
"Kami hanya membantu sedikit, selebihnya tetap kau yang berusaha Aida." ucap Irsyad sembari tersenyum.
"Iya mas." jawab Aida,
"Emmm Ulum mana?" tanya Irsyad.
"Mas Ulum belum pulang mas, akhir-akhir ini, mas Ulum semakin giat mengojek, setelah membantu mengurus shafa, beliau langsung berangkat."
"Itu kenapa mas senang pas tahu Ulum mendekati mu, karena mas tahu, Ulum pria yang sangat bertanggung jawab, maka dari itu, mas harap kamu jangan sering besengut ya di depan Ulum hanya karena dia terus-terusan bekerja."
"Iya mas, mau bagaimana lagi, terkadang Aida hanya ingin mas Ulum istirahat saja. Mau bagaimana pun juga dia sudah mengerjakan semuanya dari semenjak kita menikah, hanya mas Ulum lah yang memegang kendali semua pekerjaan rumah, merawat Aida, bahkan sekarang sudah ada Shafa. Aida jadi merasa sedikit tidak berguna." tutur Aida sembari tertunduk.
Irsyad tersenyum. "Asal kau tidak begitu banyak mengomel, selalu berusaha menjadi istri yang baik, menerima seberapapun yang di berikan suami mu dan jangan menuntut lebih insyaAllah, Ulum sangat iklhas melakukan itu untuk mu Aida." tutur Irsyad. Sedangkan Aida hanya tersenyum tipis sembari mengangguk. Ia pun mempersilahkan keduanya untuk masuk ke dalam rumah mereka.
Dan bebarengan dengan itu, Ulum sudah datang, dengan jaket hijaunya, pertanda bahwa ia baru saja pulang dari mencari nafkah nya. Irsyad tersenyum senang melihat Ulum yang datang tepat waktu.
"Ustadz?" Panggil Ulum saat dirinya sudah melepaskan helm di kepalanya. Sembari turun dari motor dan menghampiri Irsyad.
"Assalamu'alaikum, bapak muda sudah kembali." tutur Irsyad sembari mengulurkan tangannya menjabat tangan Ulum lalu memeluknya sebentar.
"Walaikumsalam Ustadz, ya Allah, jadi ini Jawabannya, entah mengapa firasat saya mengatakan bahwa saya harus cepat pulang. Ternyata ada Ustadz dan mbak Rahma." ucap Ulum berbinar.
"Kamu bisa saja." tutur Irsyad.
"Mari masuk Ustadz, mbak Rahma." titah Ulum. Ia pun bergegas menggelar karpetnya.
"Silahkan Ustadz, maaf masih lesehan ini."
"Tidak apa-apa, enak malah lesehan." Jawab Irsyad.
Ulum pun tersenyum. Rasanya sangat senang jika rumahnya di datangi Irsyad dan Rahma merasa lebih hangat saja suasana rumah ini, pasalnya selama ini rumah mereka jarang di kunjungi siapapun mungkin karena Ulum bekerja. Dan Aida pun jarang keluar jika tidak bersamanya. Itu sebabnya jarang sekali ada tetangga berkunjung ataupun kerabat lain selain Ustadz Irsyad dan istri.
"Emmm, Aida? Apa Shafa sudah tidur?" tanya Rahma.
"Iya mbak, baru saja. Mbak ingin melihatnya?"
"Boleh kah?"
__ADS_1
"Tentu saja boleh mbak. Yuk masuk saja ke kamar."
"Apa tidak apa-apa? Saya masuk?" tanya Rahma merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa mbak, masuk saja." Ucap Ulum.
"Ayo mbak," Aida mengajak Rahma masuk. Dengan perasaan senang Rahma mengikuti Aida, di sana ia melihat Shafa yang tengah terlelap dengan sangat lucunya.
"Anak mu terlihat gembul sekarang, ya Allah lucunya." tutur Rahma.
"Iya mbak Alhamdulillah, dia minum Asinya teratur.
" Masih ekslusif kan? Atau sudah menerima MPASI?"
"Sudah ku beri MPASI mbak, habis, Asi ku sedikit berkurang."
"Begitu ya, tidak apa-apa sih yang penting masih buah jangan dulu di beri nasi."
"Sesuai saran mbak Rahma kok, Aida memberikannya labu kuning, yang di rebus lalu ku lumatkan tanpa di beri perasa apapun."
"Bagus itu, biar dia merasakan rasa asli dari makanannya. InsyaAllah itu bagus juga untuk kecerdasan Shafa nantinya." tutur Rahma sembari memegangi tangan mungil Shafa. "Jadi tidak sabar ingin segera melihat si kembar." gumam Rahma. Aida pun tersenyum.
"Semoga si kembar bisa sehat terus ya mbak."
"Iya Aida amin ya Robbal Alamin." Rahma mengusap perutnya dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.
Di luar, Ulum baru saja keluar dari dapurnya membawakan minuman dan kue kering lalu meletakkannya di hadapan Irsyad.
"Silahkan Ustadz." ucap Ulum.
"Kau ini repot-repot. Sudah ku bilang tidak usah kan."
"Emmm, begini Ulum, saya datang sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu pada mu."
"Apa itu Ustadz?" tanya Ulum.
"Hanya sebuah kabar yang saya bawa dari teman saya yang kebetulan seorang pengurus yayasan Madrasah Aliyah yang masih berada di daerah Bekasi ini."
"Lalu Ustadz?"
"Sebelumnya saya ingin bertanya, apa kamu sudah ada pekerjaan selain menjadi driver ojek online ini?" tanya Irsyad.
"Sementara ini belum Ustadz, dan saya juga tengah mencari sih, tapi belum ada info." jawab Ulum.
"Nah kebetulan sekali berarti. Jadi tenan saya itu tengah mencari guru baru. Untuk mengajar Ilmu Fiqih, saya ingat kamu lulusan itu kan? Jadi saya ingin menawarkan mu untuk mengajar di sana. Walaupun swasta, tapi insyaallah bayarannya lebih tinggi dari Negeri." tutur Irsyad.
Ulum berbinar. "Saya mau Ustadz, mau sekali." Ulum bersemangat.
"Alhamdulillah Ulum, kalau kau bersedia. Besok urus persyaratannya ya." titah Irsyad.
"Iya Ustadz, kalau soal surat lamaran saya sudah membuatnya karena, saya juga sambil nyari-nyari kali saja nemu dan butuh cepat."
"Oh ya? Coba bawa sini berkas mu." Titah Irsyad.
Ulum pun beranjak masuk ke dalam kamarnya, ia menunduk sesaat mendekati lemarinya dan meraih berkas yang terkumpul di dalam amplop coklat. Lalu kembali keluar menemui Irsyad.
"Ini Ustadz." Ulum menyerahkannya. Dengan Irsyad yang langsung menerimanya.
__ADS_1
Irsyad mengecek sesaat, semua persyaratannya sudah lengkap, ia pun mengamati Nilai-nilai Ulum di ijazahnya.
"Memang luar biasa kamu ya, nilai mu sempurna semua." Irsyad menepuk pelan bahu Ulum yang tengah tersipu akibat di puji Ustadz Irsyad. "Nah ini saya bawa dulu, besok saya kabari ya." tutur Irsyad.
"Iya Ustadz terimakasih sekali ya Ustadz. MasyaAllah saya sangat bahagia kalau benar-benar bisa bekerja jadi pengajar." Ulum berbinar.
Keduanya pun masih ngobrol hingga beberapa menit lamanya, hampir satu jam malah. Dan karena waktu yang semakin malam Irsyad dan Rahma pun berpamitan kembali ke rumah mereka.
Dengan perasaan bahagia itu Ulum memeluk Aida di dalam kamar mereka sembari mengecup keningnya, lalu mengecup kening putri kecilnya, sembari berharap bahwa ini adalah rezeki Shafa dan Aida jika Ulum benar-benar mampu menjadi pengajar.
Esok harinya Ulum mendapatkan kabar bahwa dirinya di minta untuk mendatangi yayasan tersebut untuk melakukan interview. Yang pasti dengan doa dan restu dari Aida Ulum pun berangkat menggunakan kemeja berwarna putih, dan celana bahannya.
Di hadapan ketua yayasan tersebut Ulum bisa melakukan interview dengan lancar dan ia pun kini di Terima sebagai pengajar di sana.
Untuk hari pertama ia mengajar Ulum merasa gugup namun karena muridnya semua laki-laki. Ia bisa mengajar dengan tenang di sana. Dengan mengikuti cara Ustadz Irsyad dalam mengajar muridnya ia pun kini menjadi guru yang di gemari oleh para siswanya.
Kini satu bulan lebih Ulum mengajar. Dan pertama kalinya mendapatkan bayaran.
Dengan perasaan senang ia menemui Aida yang tengah memasak hidangan makan malam di dapur, ia pun tersenyum lalu menghampiri istri nya dengan memeluknya dari belakang.
"Assalamu'alaikum istri ku." Ucap Aida. Sedikit Terperanjat Aida mendapatkan sapaan dari suaminya secara tiba-tiba.
"Walaikumsalam, Aida kaget tiba-tiba ada yang memeluk begini." tuturnya sembari terkekeh.
"Mas punya sesuatu." ucap Ulum
"Apa mas?"
Ulum melepaskan pelukannya. Lalu mengeluarkan amplop berisikan uang dari dalam tasnya.
"Ini sayang, mas belum membukanya. Maunya Aida saja yang membukanya." Ulum menyerahkan amplop putih itu pada Aida.
"Ini apa mas?" tanya Aida sembari menerimanya.
"Gajih pertama mas Ulum dong."
"Owalah, kenapa di kasihkan ke Aida semua?"
"Mas kan mempercayai mu sebagai bagian keuangan di rumah ini."
"Ya tapi kan jangan semuanya mas."
"Tidak apa-apa Aida, ayo cepat buka ada berapa isinya?" tanya Ulum.
Dengan membaca basmallah Aida membukanya. Di sana ada uang pecahan ratusan ribu, terdapat lima belas lembar. "Ya Allah, banyak ini mas."
"alhamdulillah, benar kata Ustadz Irsyad, di yayasan itu gajinya lebih besar dari pada di negri. Bagaimana jika sudah PNS ya?" tutur Ulum.
"Mas, Aida pegang sepuluh lembarnya saja ya, mas pegang yang limanya." Pinta Aida.
"Tidak mau Aida, mas pegang segitu terlihat lebih kecil dari punya mu, namun mas pakai itu sendiri, sedangkan kau untuk mencukupi kebutuhan semuanya, dari kebutuhan dapur, kamar mandi, untuk Shafa juga. Jadi pegang aja itu semua ya. Mas kan masih ngojek buat tambahan." tutur Ulum.
"Iya tapi hasil ngojek saja mas masih kasih ke Aida tuh, lalu mas punya uang dari mana coba? Kalau mas punya kebutuhan lain?"
"Sudah tidak perlu di pikirkan, sekarang Aida simpan saja uangnya ya, di pakai sebaik mungkin okay." pinta Ulum, Aida pun mengangguk sembari tersenyum.
Ulum mengusap kepala Aida senang, dan perlahan mulai mendekati wajah Istrinya berniat untuk mengecup bagian bibir Aida. Sesaat mereka mendengar Shafa menangis di dalam kamar, sehingga membuat Ulum mengurungkan niatnya untuk memanjakan Aida.
__ADS_1
"Mas cek dulu Shafa ya, kamu selesaikan saja masaknya." titah Ulum sembari mengecup kilat bibir Aida lalu melenggang keluar dari dapur itu. Aida mengucap Syukur berkali-kali. Ia bahagia karena mendapatkan suami seperti Ulum, terlebih rasa syukur berlebih atas kesembuhan kakinya. Sehingga bia bisa berdiri dengan normal, walaupun masih sesekali mengenakan kruknya namun setidaknya kini hidupnya bisa lebih mandiri tanpa menyusahkan suaminya lagi seperti sebelumnya.