
Masih di malam yang sama. Namun di keluarga yang berbeda.
Suara mesin jahit masih saja terdengar walau waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Aida masih sibuk menjahit baju seragam milik pelanggannya.
Ya, baru beberapa bulan belakangan ini semenjak Ulum membelikannya mesin jahit dan obras. Aida membuka jasa menjahitnya di rumah. Setelah satu tahun mengikuti kursus menjahit.
Awal mulannya Ulum menawarkan istrinya untuk kembali melanjutkan kuliahnya. Namun Aida menolak itu, disamping Safa masih berusia balita. Ia juga tidak ingin menyusahkan suaminya, karena ia tahu biaya kuliah itu tidak sedikit. Hal itu pula yang membuat Aida lebih memilih untuk mencari pekerjaan lain saja hanya untuk mengisi waktu luangnya dan di ambilah keputusan untuk menjalani kursus di setiap hari sabtu dan minggu di saat suaminya itu libur, jadi Ulum bisa bergantian menjaga Shafa selama Aida menjalani kursus menjahitnya.
Malam itu Ulum mengerjapkan matanya, lalu duduk sejenak mengumpulkan nyawa setelah tertidur, sebelum beranjak menghampiri istrinya yang sepertinya masih sibuk dengan mesin jahitnya.
Setelah merasa sudah cukup terjaga, Ulum beranjak beliau masih mengenakan sarung yang ia kenekan saat solat isya tadi dan berjalan keluar kamarnya menghampiri Aida.
"Aida?" Panggilnya sembari sesekali menguap.
"Iya mas?" Aida menghentikan kegiatannya. Lalu menoleh.
"Kok belum tidur sih?"
"Sebentar lagi mas. Tanggung soalnya." jawab Aida. "Suara mesinnya mengganggu ya? Maaf ya mas." Aida memegangi lengan suaminya.
"Tidak kok," Ulum mengusap kepalanya. Lalu melirik kearah jam dinding. "Sayang. Mas tau kamu mulai suka dengan pekerjaan mu. Namun? Istirahat cukup juga penting kan?" Sambungnya.
"Iya, Aida tahu mas. Tapi ini benar-benar tanggung. Sebentar lagi selesai kok, Apa mas lapar? Ingin Aida buatkan mie instan?"
Ulum diam saja, ia malah justru memeluk Aida. "Benar, suami mu ini lapar, namun lapar yang lain."
"Lapar yang lain? Maksudnya?" Aida masih belum mengerti.
"Tadi mas nungguin di kamar sampai ketiduran loh. Masa nggak ngerti sih?" bisik Ulum selanjutnya. Aida pun tersenyum.
"owalah, Ada yang ingin di layani to ceritanya? Bilang dong dari tadi." tuturnya sembari terkekeh.
__ADS_1
Ulum tersenyum. "Ayo sayang ke kamar dulu, itu di lanjutkan besok pagi saja. Sekarang prioritaskan mas dulu, yang lebih membutuhkan mu untuk menyalurkan hasrat mas ini." ajak Ulum, Aida pun terkekeh. Ia mematikan mesin jahitnya terlebih dulu lalu mengikuti langkah Ulum yang tengah menggandengnya masuk.
Di dalam kamar itu keduanya saling pandang untuk beberapa saat. Setelahnya Ulum membacakan doa sebelum bersenggama, melepaskan atasannya lalu mengecup kening Aida, setelahnya berpindah ke pipi lalu ke bagian bibirnya. Melum*tnya dengan waktu yang cukup lama.
Perlahan tangan Ulum mulai merebahkan tubuh Aida. Baru saja tangan Ulum berniat menanggali pakaian istrinya. Shafa sedikit terjaga membuat Ulum melepaskan kecupan nya lalu membiarkan Aida menenangkan shafa yang hanya menangis sejenak lalu kembali tidur. Keduanya pun terkekeh.
"Mas gelar kasur lantainya dulu. Kita main aman saja di bawah." tutur Ulum Aida pun mengangguk.
Dengan cekatan Ulum menggelar kasur lantainya lalu menarik tangan Aida pelan untuk turun ke bawah demi melanjutkan urusan birahi mereka selama beberapa menit. Setelah selesai Ulum mengecup kening Aida lalu mengucapkan terimakasih padanya.
Masih dengan posisi saling memeluk, keduanya berbincang sejenak.
"Aida?"
"Ya mas?"
"Maaf ya, hingga detik ini. Mas belum juga mampu memberikan mu kebahagiaan yang semestinya."
Ulum mengecup kening Aida. "Tapi sebagai suami, aku masih belum bisa memberikan mu, sebuah benda manis, sebagai bentuk tanda cinta ku pada mu."
"Benda manis apa maksudnya??"
"Lihat, leher ini?" Ulum menyentuh bagian leher Aida. "Pergelangan tangan ini, jari ini? Semuanya polos tanpa perhiasan." ucap Ulum.
"Ya Allah mas Ulum. Memang Aida menuntut itu semua apa?? Aida tidak mematok cinta mas Ulum dari perhiasan yang mas berikan kok. Mas Ulum sudah berikan Aida sentuhan cinta ini hampir setiap malam itu sudah bisa menambah perasaan cinta ku pada mas Ulum, belum lagi mas juga berjuang keras untuk menafkahi ku, mencukupi semua yang paling ku butuhkan seperti mesin jahit dan mesin obras di luar itu? Belum lagi Membelikan semua kebutuhan Shafa, bahkan uang hasil menjahit ku saja mas tidak membolehkan ku untuk membeli kebutuhan rumah tangga kita, dan menyuruh Aida menabung nya saja. Masa iya Aida masih menuntut segala macam perhiasan?"
Ulum tersenyum. "Semua wanita bukannya suka perhiasan ya?"
"Memang benar, cuman Aida tidak mau mas memaksakan itu. Sungguh Aida bahagia hidup dalam kesederhanaan seperti ini, terlebih memiliki suami yang sangat menyayangi Aida dan seorang ayah yang sangat baik untuk Shafa juga."
"Jika saja mas seperti ustadz Irsyad. Kau pasti lebih bahagia lagi." Tutur Ulum sebari mengusap-usap pipi Aida.
Aida pun terdiam sejenak. Lalu melepaskan tangan Ulum dan bergantian menyentuh wajahnya. "Kok tiba-tiba bahas mas Irsyad?"
__ADS_1
"Maaf sayang. Mas tidak sengaja melihat catatan Notebook mu. Dan mas jadi tahu, kalau kau pernah menyukai Ustadz Irsyad."
Degg Aida mematung.
"Aida maaf jangan tersinggung ya. Mas tidak bermaksud membuka cerita lama kok. Mas hanya sedikit cemburu, terlebih sepertinya kamu masih betah memandang beliau dengan penuh kekaguman setiap kali bertemu."
Aida tersenyum. "Tidak apa-apa kok mas." jawab Aida. Ia pun memeluk tubuh suaminya. "Mendengar itu Aida jadi ingat kalau Aida pernah menjahati mbak Rahma. Dengan meminta mas Irsyad untuk menikahi Aida." gumamnya.
Ulum pun terdiam. Ia mendengarkan setiap cerita Aida di masa lalu hingga Aida pun menitikkan air matanya. Karena perasaan bersalah itu masih saja melekat di hatinya.
"Aida sekarang sudah ada mas Ulum seorang suami yang sangat Aida cintai, bahkan saat ini Aida membayangkan jika ada wanita lain yang berucap seperti itu di depan Aida. Meminta mas Ulum untuk menikahinya, Aida pasti tidak akan tinggal diam dan mungkin Aida akan lagsung menampar wanita itu." gumam Aida dengan suara paraunya.
Ulum mengusap lembut air mata istrinya.
"Aida mau bertanya, setelah Aida bercerita seperti ini, apa ada kekecewaan di hati mas Ulum, karena Aida hampir saja menjadi wanita jahat yang meminta di jadikan istri kedua?" tanya Aida.
Ulum tersenyum, lalu menggeleng pelan. "Yang Aida lakukan memang salah, namun saat Aida membuat keputusan untuk menghilangkan cinta Aida pada suami orang itu sudah menunjukkan bahwa Aida masih memiliki hati."
Aida menatap dalam-dalam mata suaminya, "Mas Ulum? Mas Ulum percaya kan pada Aida, kalau sekarang cinta Aida hanya untuk mas Ulum. Sungguh."
Ulum mendaratkan kecupan di bibir Istrinya. Lalu melepaskannya setelah beberapa detik bermain di bagian itu.
"Mas Ulum percaya kok." jawabnya kemudian.
"Tapi Aida takut ada karma. Dan takut juga akan ada wanita yang mendekati mas Ulum lalu minta untuk di nikahi."
Ulum mengecup kening Aida. "Aida, Mas itu punya seorang ibu yang juga pernah terluka karena adanya wanita kedua, almarhumah pun pernah berpesan agar aku bisa menikahi cukup satu wanita saja dan berusaha menjaga hati untuk siapapun wanita yang ku nikahi itu. Karena tidak ada satupun wanita yang rela di duakan. Walau mau seperti apapun kondisinya aku harus tetap setia. Itu pesan terakhirnya."
Aida tersenyum ia mengecup pipi Ulum. Lalu kembali memeluknya. "Aku mencintaimu mas Ulum."
"Mas juga Aida, bebersih yuk. Nanti lanjut tidur, sudah lewat jam dua belas ini."
Aida mengangguk mereka pun menutupi tubuh mereka dengan handuk lalu berjalan keluar kamar, menuju tandas yang berada di dekat dapur.
__ADS_1