Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
flashback Rahma dan Fikri (bagian 3)


__ADS_3

Fikri melepaskan kecupannya, ia pun mengusap bibir Rahma, lalu tersenyum.


"Sudah jangan marah lagi ya sayang."


Rahma masih terdiam. Masih agak dongkol sebenarnya, namun rasa cintanya pada Fikri lebih besar dari kesal yang ia rasa tadi sehingga membuatnya mampu secepat itu memaafkan Fikri.


"Sayang?" Panggilnya karena Rahma hanya diam saja.


"Iya mas. Sudah ayo jalan Rahma sudah lelah ingin cepat sampai kosan Rahma, dan lagi besok Rahma sift pagi." ucapnya.


Fikri mengangguk, ia pun kembali duduk dengan normal dan memasang kembali seat beltnya. Mobil pun kembali melaju.


Begitulah setiap kali Rahma meluapkan kekesalannya akibat ketidak adilan yang di berikan Fikri ia hanya akan cepat luluh dengan perlakuan manis itu. Cintanya pada Fikri memang tidak bisa di utarakan dengan kata-kata saking besarnya bahkan Rahma rela berkali-kali memaafkan Fikri hanya demi mengikuti rasa cintanya itu.


Hingga di malam akhir pekan kemudian Fikri kembali bertingkah, kala itu Rahma sedang dapat sift malam, sedangkan Dokter Fikri sift pagi. Ia menelfon Rahma.


"Assalamu'alaikum sayang." sapa Fikri.


"Walaikumsalam mas."


"Sayang, mas Fikri malam ini keluar ya." tutur Fikri.


"Mau kemana mas?"


"Menemani dokter Imelda ke acara reuni."


Deggg 'lagi?'


"Mas, memang tidak ada teman lain apa selain mas Fikri."


"Hanya Sebentar kok Rahma."


"Ck, tapi mas terlalu sering diminta untuk menemaninya. kalau Rahma tidak mengizinkan bagaimana?"


"Tidak apa-apa sih, toh mas sudah mau jalan, mas cuma mau memberitahu saja bukan meminta izin pada Rahma. Sudah dulu ya mas jalan dulu."


"Hallo, mas kok gitu sih.. Hallo mas?" Terlambat panggil telfon itu sudah terputus. Kesal yang sudah memuncak pada dokter centil itu benar-benar membuat Rahma ingin melabraknya.


Ia seharusnya tahu jika Fikri sudah memiliki kekasih, namun sepertinya ia sengaja sekali mendekati Fikri terus menerus.


Hingga pukul sebelas malam Fikri masih belum ada kabar.


Sampai jam menunjukkan pukul dua belas malam Rahma baru saja kembali keruangan para perawat setelah mengganti kantung infus di beberapa bangsal, dengan lesu ia menatap kearah ponselnya masih tidak ada panggil ataupun satu pesan pun dari Fikri. Ia pun mengirim pesan pada pria itu.


(Mas Fikri masih belum pulang kah? Kenapa tidak memberi kabar pada Rahma? Emmm pulangnya hati-hati ya mas. Jangan ngebut.) Tulisnya. Rasanya seperti ada sayatan di hati karena ia harus berucap hati-hati pada pria yang sedang malam mingguan dengan wanita lain. Sepertinya, walau ia janjinya hanya ke acara reuni kan? Siapa yang tahu mereka kemana setelahnya.

__ADS_1


"Rahma. Sedang apa sih? Sedari tadi melihat ke layar ponsel terus." tanya Kinar salah satu teman satu profesinya.


"Tidak apa-apa kok."


"Hei cerita lah."


Rahma menghela nafas "Hmmm aku merasa hubungan ku dengan mas Fikri sedikit tidak baik."


"Memang kenapa lagi beliau, haduh lelah aku mendengarnya, nih ya menurut ku sih bukan sedikit lagi, tapi memang sudah sangat toxic Rahma. Lagian kau kuat sekali berhubungan dengan pria seperti itu. Aku sih sudah pasti tidak tahan. Melihat dia terlalu ramah kelewat batas sama wanita lain. Tau tidak sikap dokter Fikri yang seperti itu mudah bikin wanita bawa perasaan tahu." Kinar berbicara dengan nada kesal.


"Mau bagaimana lagi aku sangat mencintainya."


"Ck, kau ini terlalu buta Rahma, sudah putus saja sih dengannya cari yang baru."


"Kau yang bicara seperti itu memang mudah Kinar, coba ada di posisi ku. Lagi pula mas Fikri kan tidak selingkuh."


"Tidak selingkuh apanya? Itu sama saja selingkuh Rahma. Jangan bodoh-bodoh banget kenapa sih?"


"Huuu, aku tahu, tapi mas Fikri selalu bilang, selingkuh itu kalau sudah ada komitmen pacaran dengan wanita itu baru bisa di sebut menduakan. Alias selingkuh."


"Masa bodoh lah, kau ini memang sudah buta dengan cinta dokter Fikri. Padahal dia menyuntikan racun ke tubuh mu terus menerus tapi tetap saja kau masih mau bertahan dengannya. Tidak sayang tuh sama hati?"


"Kinar, aku harus bagaimana?"


"Bagaimana apanya, aku kan bilang, putuskan saja dia Rahma, cari yang baru. Cih kau ini bikin aku geregetan ya."


"Ihhh dasar pria egois. Aku saranin jangan nikah sama dia lah Rahma. Bikin pegel hati tahu."


"Aku pun demikian sebenarnya, rasanya seperti setiap hari mengemis cinta darinya. Bahkan Aku merasa seperti benang layangan yang di tarik ulur Kinar."


"Itu kau sadar."


"Tapi?" Kata-kata Rahma terpotong saat mendapati telfon dari Fikri.


"Cih lihat itu, sedihnya ilang kan dasar labil." runtuk Kinar saat melihat Rahma tersenyum girang, ia pun membawa ponselnya keluar sejenak untuk menerima panggilan tersebut, ya menghindari dari kamera pengawas agar tidak kena tegur karena itu adalah jam kerja Rahma.


Di tempat yang di rasa aman Rahma menerima panggilan telepon itu.


"Hallo assalamu'alaikum. Sapa Rahma senang."


"Walaikumsalam, Rahma tidak sibuk?" tanya Fikri.


"Tidak mas, mas Fikri baru pulang ya?" tanyanya.


"Iya, maaf ya aku pulang terlambat. Sebenarnya, mas Fikri tadi mampir ke apartemen dokter Imel."

__ADS_1


Degg, benar dugaan Rahma, seperti ada sesuatu yang tidak baik, Fikri tidak mungkin selama itu jika hanya datang ke acara reuni.


"Rahma, kok diam?" tanya Fikri.


"Untuk apa mas kasih tahu itu. Sengaja pamer kah?" Tanya Rahma.


"Tidak sayang sungguh."


"Lalu untuk apa mas ke sana? Habis ngapain saja?"


'Bodoh kenapa aku bertanya? Jika mas Fikri melakukan yang tidak-tidak apa aku akan siap mendengarkan itu?' batin Rahma yang sudah merasa sesak.


"Maaf Rahma. Karena pesan singkat mu tadi, aku jadi merasa bersalah. Karena aku? Mungkin sudah bisa di anggap berselingkuh dari mu."


Rahma menitikkan air matanya. "Mas, mas Fikri menduakan Rahma?" tanya Rahma.


"Mas tidak menduakan Rahma, mas Fikri tidak ada hubungan pacaran dengan nya sungguh"


"Lalu kenapa mas bilang telah berselingkuh?"


"Karena?"


"Karena apa mas?" tanya Rahma.


"Rahma tolong jangan marah pada mas Fikri ya?" Rahma terdiam ia tidak mau mendengar tapi tangan itu masih betah memegangi ponsel yang menempel di telinganya.


"Jujur saja, mas Fikri tadi bercumbu dengan Imelda di dalam kamarnya."


Rahma meremas baju di bagian dadanya. Ia tidak bisa lagi membendung tangisnya itu.


"Mas bahkan hampir berhubungan badan dengannya Rahma. Mas?"


"Cukup mas, tolong jangan katakan lagi."


"Rahma?"


"Sudah puas mas dengannya kan? Beliau lebih cantik, lebih berpendidikan, lebih cerdas pula tidak seperti Rahma. Kenapa tidak menjadikannya kekasih saja?"


"Rahma jangan seperti itu sayang. Mas Fikri minta maaf ya. Mas Fikri masih bisa menahan itu karena mas Fikri ingat kau. Mas Fikri tidak mau melukai Rahma."


"Tidak mau melukai kata mu? Hei Mas Fikri, apa mas tidak sadar selama ini mas Fikri melukai hati Rahma terus-menerus?bahkan sekarang dengan teganya kau bercumbu dengan wanita lain sedangkan Rahma saja menunggu kabar dari mas Fikri. Karena apa mas? Semua sebab Rahma khawatir bukan karena merasa curiga pada mau!" Seru Rahma.


"Maafkan Mas Fikri Rahma. Mas Khilaf. Mas." Tanpa menunggu kata-katanya lagi. Rahma sudah mematikan ponselnya. Ia berjongkok di dalam kegelapan menangis sesenggukan merasa sangat kecewa dengan kekasihnya itu.


"Teganya kau mas Fikri. Aku saja kau larang berteman dengan seorang pria dan kau malah melakukan itu dengan wanita lain. Hiks, kau anggap aku apa mas Fikri." Rahma terisak memeluk lututnya. Dengan bahu yang bergetar. Ponsel Rahma terus saja berdering. Nama Fikri terus saja muncul di layar itu. Berusaha menelfon Rahma terus-menerus.

__ADS_1


Pria itu memang sudah bersumpah tidak akan pernah melepas perjaka nya pada siapapun selain istrinya, begitupun dengan Rahma. Ia tidak ingin merusak wanitanya hanya untuk hasrat sesaat. Namun memang sosok Fikri yang sangat menganggap remeh pertemanan lawan jenis itulah yang membuat Rahma sering merasa terlukai. Serumit inikah mencintai seseorang. Bahkan terluka saja ia masih mampu memaafkannya berkali-kali. Namun saat ini? Mungkinkah Rahma akan mampu memaafkannya lagi. Yang pasti. Ia sedang tidak ingin berbicara apalagi bertemu dengan kekasihnya itu.


__ADS_2