Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
bab Rindu (percakapan dua orang ayah)


__ADS_3

Malam sudah semakin larut. Entah mengapa Faqih masih belum bisa memejamkan mata seperti biasa yang selalu tidur kurang dari jam sebelas malam, dan bangun di jam tiga dini hari.


Mungkin karena perasaan gugup yang terus saja menghinggapi relung hatinya, berbarengan dengan rasa was-was akan reaksi Ustadz Irsyad dan Nuha itu sendiri setelah mendengar niat baiknya itu. Namun sepertinya dia lebih khawatir dengan jawaban ustadz Irsyad, entahlah dia takut saja Beliau akan menolak lamarannya.


Mengingat dari sekian banyak pria hanya dirinya lah yang seorang guru Tafiz biasa, yang lain bisa di bilang pria-pria hebat dengan segala gelar dan pekerjaannya. Ya walaupun dia pernah sekolah di Kairo, namun hingga saat ini dia masih belum ada keinginan mengajar di tempat lain selain rumah Tafiz milik Abinya sendiri.


Di luar hujan sudah mulai reda hanya tertinggal suara jangkrik dan serangga-serangga malam lainnya yang mulai riuh menemani suasana malam.


Faqih pun menengadahkan kedua telapak tangannya, memanjatkan doa Pada Tuhan yang mahakuasa. Berharap niat baiknya akan mendapatkan jawaban baik pula. Perlahan dia mulai merebahkan tubuhnya, tidur dengan posisi miring memeluk bantal guling, sementara tangan kanannya menjadikan bantalan kepalanya. Berusaha sekuat mungkin memejamkan mata, dan menghalau semua pikiran yang semakin membuatnya berdebar. Ya manusia hanya berencana, berusaha, dan berdoa, selebihnya tetap Allah SWT yang menentukan. Begitu pikir Faqih guna memenangkan hatinya, hingga kini dia bisa terlelap dalam tidurnya.


***


Di esok hari...


Ustadz Rahmat mengunjungi ruangan kantor Ustadz Irsyad, pria itu baru saja hendak masuk kedalam ruangannya setelah mengajar di kelas.


Terlihat rona wajah bahagia, ustadz Irsyad menyambut ustadz Rahmat yang tengah menghampirinya.


"Assalamualaikum." Sapa ustadz Rahmat. Beliau tiba-tiba saja langsung memeluk tubuh ustadz Irsyad.


"Walaikumsalam warahmatullah... Ya Allah, langsung di peluk seperti orang yang lama tidak berjumpa." Ucap Ustadz Irsyad membalas pelukan sang sahabat. Keduanya pun terkekeh.


"Ada yang ingin saya sampaikan. Semoga bisa menjadi kabar gembira."


"Wah, apa itu? Mari masuk ke ruangan saya ustadz, kita bicara di dalam." Ajak ustadz Irsyad, menerima itu dengan ramah. Keduanya pun masuk, dan duduk berhadapan.


Hingga obrolan itu di buka dengan percakapan basa basi sesaat, sembari menyiapkan kata-kata yang akan di keluarkan ustadz Rahmat.


"Begini ustadz, saya ingin bertanya sebelumnya. Apa Dek Nuha, sudah ada calon yang pas? Maksud saya, sudah adakah pria yang mengkhitbahnya, dan Ustadz Irsyad terima?" Tanya Ustadz Rahmat hati-hati.


Irsyad pun tersenyum. "Kalau yang melamar, dan sudah sampai pada saya ada sekitar lima pemuda salih. Tapi saya belum bisa menerima mereka."


"Loh kenapa ustadz?"

__ADS_1


"Entahlah, belum siap saja Melepasnya," jawab beliau. Ustadz Rahmat pun sedikit ragu, namun dia mulai kembali berusaha.


"Tapi, maaf Ustadz. Semalam? Anak saya Faqih bilang. Jika dia mengagumi anak Antum, dan berniat ingin menikahinya."


Irsyad terdiam. Bukan karena dia tak menyukai Faqih, namun seolah rekaman masa lalu tentang percakapan antara para pria yang menjadikan itu sebagai bahan banyolan saat dirinya di rawat di rumah sakit, berbarengan dengan ingatannya saat Nuha kecil meminta izin Faqih untuk di jadikan mas' dia. Seolah semua itu membuat hati sedikit tersentuh. Hingga senyum tipis pun tersungging.


"Ustadz, bagaimana? Kenapa diam?" Tanya ustadz Rahmat.


"Tidak apa ustadz. Begini saja, beri saya waktu untuk berfikir, dan menyampaikan ini pada istri saya, dan juga Nuha. Setelahnya saya akan memberikan jawabannya."


"Begitu ya, baiklah Ustadz. Mohon maaf sekali sudah berbicara seperti ini ya ustadz."


"Ahhh, tidak apa ustadz, niat Antum itu baik. Saya senang, dan sampaikan salam saya untuk Faqih ya."


"Iya Ustadz, terimakasih. Semoga Allah meridhoi, keduanya berjodoh."


"Aamiin." Tersenyum. Keduanya pun saling jabat tangan dan mengakhirinya dengan pelukan setelah beranjak sebelumnya. Barulah setelah itu ustadz Rahmat keluar dari ruangan ustadz Irsyad.


Sejenak ustadz Irsyad melamun, sesaat setelah pintu itu di tutup dari luar oleh ustadz Rahmat.


Namun, entah mengapa dia seperti tidak bisa menolak khitbah dari ananda Faqih itu sendiri.


Ia pun melirik ke arah jam tangannya, dimana waktu Zuhur sudah sedikit terlewat sehingga membuatnya bergegas beranjak menuju masjid.


Sementara di sisi lain.


Seorang gadis yang baru saja keluar dari kelas Tafiznya berpapasan dengan Faqih yang tak sengaja lewat kelas Nuha, Nuha pun menunduk cepat.


"astagfirullah al'azim, hp ketinggalan." Gumam Nuha seraya putar haluan, ia merasa malas saja jika sampai ketemu dengan Faqih.


Sedikit paham dia dengan pria itu, karena setiap kali bertemu pasti akan berujung dengan hal menyebalkan yang akan membuatnya ingin mengumpat, dan dari pada itu terjadi lebih baik dia menghindar.


"Kutu!" Panggil Faqih.

__ADS_1


"Iiissssh!! Untuk terkahir kali ya A'. Jangan panggil aku kutu lagi!" Ucapnya sembari membelakangi.


"Aku tidak tahu nama mu. Jadi ku panggil kutu saja."


'nggak tau nama ku katanya? Bohong sekali.' geram. Iya lah, sudah berapa kali dia datang ke rumahnya bersama keluarga. Masa iya dia hanya kenal Rumi.


"Ku?"


"Nuha! Panggil Nuha!!"


"Iya terserah apa kata mu. Aku cuma mau kau ikut membatu ku membenahi perpustakaan."


'lah... Kenapa aku? Kan ada petugas tersendiri. Kurang kerjaan nih orang.'


"Hei...! Aku tidak datang untuk menunggu orang diam ya. Ayo jalan!"


"A' kan ada petugas perpustakaan. Kenapa harus saya sih?"


"Mau menolak?" Sedikit meninggikan suara.


"Bukan menolak. Cuman? Kan nggak baik kalo cuma berdua."


"Geer sekali siapa bilang cuma berdua? Pikiran mu itu ya, Istighfar!"


"Astagfirullah al'azim." Gumam Nuha lirih.


"Aku menyuruh mu bukan berarti kita hanya berdua, ada beberapa yang lain juga. Jadi cepat ke perpustakaan!"


"Tapi?"


"Surah Al-Baqarah seluruhnya... Ku hukum kau membaca surah itu di depan ku, sebanyak sepuluh kali kalau kau tak nampak di perpustakaan itu ya." Ancam beliau dan melangkah pergi setelah.


Nuha menoleh kebelakang, memastikan dia benar-benar pergi setelah mendengar langkah kakinya. Baru setelah itu menghela nafas panjang lalu menghembuskannya, seraya tersenyum dengan penuh keterpaksaan.

__ADS_1


"Ya Allah, aku ingin menyumpahinya dengan segala keburukan. Namun aku tahu itu dosa dan akan kembali kepada ku. Jadi aku hanya berdoa, semoga dia cepat menemukan jodohnya. Dan berhenti mengganggu ku." Mengelus dada lalu beristighfar berkali-kali, meredam emosinya. Setelah itu dia pun kembali putar haluan. Menuju perpustakaan seperti yang di perintahkan sang Hafisz tiga puluh juz itu.


__ADS_2