
Sudah lebih dari satu minggu saat kepulangan Rahma dan si kembar.
Hari ini mereka harus kembali ke rumah sakit untuk menjalani kontrol si kembar guna mengecek kondisi bayi setelah berada di rumahnya.
Pukul sepuluh pagi mereka berempat sudah tiba di rumah sakit.
yapp, Rahma, Irsyad dan si kembar. Sudah tiba di depan ruangan poli anak. Sembari menanti dokter yang belum hadir.
Sebenarnya ibu Ratih bersedia menemani mereka namun karena pak Akmal sedang tidak enak badan, membuat Rahma meminta ibunya untuk tetap di rumah saja, lagi pula jarak dari Tanjung Priok ke Harapan Indah bekasi lumayan jauh. Di samping itu saat mendaftar kemarin pihak rumah sakit pun meminta mereka harus sudah di lokasi sebelum jam sepuluh pagi, itu yang membuat mereka bergegas untuk ke rumah sakit lebih dulu.
Saat ini Irsyad tengah duduk sendiri menghadap kearah putri kecilnya, tangannya terus mengusap lembut pipi Nuha yang masih tenang tidur di atas stroller sedangkan Rumi sedang di berikan Asi oleh Rahma di dalam ruang laktasi di dekat tempat Irsyad duduk. Tak lama ruangan laktasi itu terbuka, Rahma kembali meletakan bayinya ke atas stroller yang satunya lagi.
"Sudah?" tanya Irsyad.
"Iya mas. Rumi lama jika menyusu, tidak seperti Nuha." jawab Rahma. Irsyad tersenyum.
"Rumi kan bayi laki-laki, minumnya pasti lebih banyak. Biar cepat besar ya dek?" Ucap Irsyad sembari mengusap kepala Rumi.
"Benar dek, jangan kurus seperti tubuh abi ya." Rahma terkekeh.
"Loh memang abi kurus ya?"
"Iya mas kurus tuh, bahkan sekarang tambah kurus."
"Masa sih?"
"Iya, mungkin karena mas puasa Daud akhir-akhir ini, kenapa tidak senin kamis saja si mas? Lihat tubuh mas yang sepertinya semakin kurus itu."
Irsyad mengusap kepala Rahma. "Sebentar lagi kan Ramadhan Rahma, ini hanya untuk melatih tubuh saja, guna menyambut bulan Ramadhan."
"Iya sih, tapi kenapa tidak senin kamis saja?" tanya Rahma.
"Mas juga kadang senin kamis, cuman untuk saat ini mas sedang ingin puasa Daud, sayang."
"Iya deh, mas memang lebih paham sih. Terus? kenapa mas tidak bangunin Rahma jika mas akan sahur, kan Rahma bisa menemani."
"Bukan mas tidak mau, hanya saja mas kasihan pada mu dek Rahma."
"Karena Dek Rahma harus sesekali terbangun demi menyusui si kembar kan? Dan lagi, bukannya Rahma seharusnya senang ya? Karena Semenjak nifas mas jadi tidak bangunkan mu di pagi hari?"
__ADS_1
Rahma terkekeh. "Kok mas tahu, isi hati Rahma, yang tengah berbunga-bunga setiap pagi. Karena tidak mendengar alarm dari bibir mas itu."
"Iya lah, tiap hari kalau di bangunin saja susah. Dengan beribu-ribu alasan, yang pura-pura pusing lah, minta lima menit lagi lah, yang katanya belum dengar suara Adzan, dan lain sebagainya demi menolak di bangunkan pagi. Maka dari itu sekarang mas kasih kesempatan untuk Rahma karena sedang masa nifas, tapi nanti? Dek Rahma akan bangun di sepertiga malam lagi." Irsyad terkekeh-kekeh.
Rahma pun menarik senyumnya. Akibat kekehan Irsyad yang seperti seorang aktor antagonis saat sedang menyusun rencana jahat. Namun kembali kekehan itu menjadi gelak tawa dengan suaranya yang sedikit tertahan. "Astaghfirullah. kenapa jadi menatap mas seperti itu dek?" Irsyad masih tertawa.
"Habis mas sih, sepertinya menunggu sekali saat-saat dimana Rahma selesai nifas, agar bisa menyiksa Rahma lagi ya?"
"Loh... Loh ibadah kok menyiksa sih?"
"Bukan begitu, solat tahajud kan tidak wajib, tapi mas seperti mewajibkannya."
"Iya, tapi kan tidak tiap hari dek."
"Apanya yang tidak setiap hari sih mas? Nih ya, libur solat tahajud yang mas kasih ke Rahma itu, Hanya saat Rahma menstruasi Sama saat Rahma hamil besar. Huuuuh mas ini." Rahma bersungut-sungut. Irsyad pun tertawa.
"Belum lagi hapalan surat pendek yang harus Rahma setor setiap harinya, yang semakin hari semakin panjang tidak pendek lagi. Rahma Hidup sama suami loh ini, bukan guru pondok." tuturnya.
Irsyad semakin tidak tahan dengan omongan Rahma yang sembari memajukan bibirnya itu. Jika tidak sedang di tempat ramai mungkin ia sudah menarik kedua pipinya dengan gemas yang kini semakin terlihat cabi itu.
"Ya Allah Rahma..Rahma...perut mas sampai sakit ini."
"Tidak kok tidak, waktunya masih lama ini, bersantai-santai saja dulu dek. Sebelum back to school."
"Apa itu? Memang Rahma pelajar apa?"
"Iya lah, gurunya kan mas Irsyad. Benar kan?"
Irsyad menyentuh hidung Rahma saat dirinya masih menatap sebal kearah suaminya.
"Jangan diam saja, jawab saja iya."
"Haaah Iya deh iya, Pak Guru." jawab Rahma masih menatap sebal sedangkan Irsyad semakin tertawa senang.
"Senang kan lihat saja itu ketawanya ck ck ck."
"Ya Allah, astaghfirullahalazim perut ku sampai sakit."
Irsyad terus beristighfar meredam tawanya. Ia pun meraih botol air mineral lalu membukanya. "Ini minum dulu dek," pinta Irsyad. Sembari menyodorkan botol air mineral itu pada Rahma. Rahma pun meraihnya mengucap bismillah dan mendekatkan botol itu kearah mulutnya.
__ADS_1
Baru saja Rahma menenggak air minumnya, seorang dokter Anak pun tiba dan berdiri di hadapannya.
"Rahma?" panggilnya. Irsyad mendongak menatap kearah wajah seorang dokter pria yang terlihat berbinar menatap kearah Rahma.
Gleeek Rahma menelan air minum yang sudah di dalam mulutnya itu, "Mas... Mas Miftah?" gumam Rahma, ia tidak menyangka jika akan bertemu lagi dengannya.
Tapi tidak salah sih. Dulu saat dirinya bertemu dengan Miftah juga di rumah sakit yang sama. Tempat Aida melahirkan, dan menjadi rumah sakit tempatnya melahirkan juga. Namun ia tidak menyangka saja, Miftah sudah menjadi dokter spesialis. Dan kebetulan nya lagi, menjadi dokter anak di sini. Ya kebetulan yang di sengaja oleh author sih hehehe
"Ketemu lagi?" Tanyanya.
"Ahhh iya mas." Rahma menutup botol air mineral itu.
Irsyad beranjak sembari tersenyum. "Anda Dokter anak ya?" tanya Irsyad ramah.
"Iya benar. Kalau tidak salah si kembar ini juga saya yang merawatnya saat baru lahir. Saya tidak menyangka kalau mereka anak kalian." jawabnya sembari menjabat tangan Irsyad.
Dan pandangannya itu kembali mengarah ke arah Rahma yang tengah tertunduk.
"Emmm maaf kalau begitu saya masuk dulu. Sampai bertemu nanti di dalam ya." ucap dokter Miftah. Yang lantas melenggang masuk.
Irsyad kembali duduk dan mendekat ke telinga Rahma. "Wah wah dokter anaknya mas Miftah loh dek."
"Me...memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa, hanya kebetulan yang menyesakan. Setelah tahu kenyataannya siapa dia yang sebenarnya. Eh ketemu lagi." Irsyad menggoda Rahma. Wajah Rahma pun memerah.
"Lebih gagah ya?" tanya Irsyad.
"Eh?" Rahma menoleh cepat.
"Lebih gagah mas Irsyad maksudnya dari pada dia." ucap Irsyad. Rahma pun tertawa.
"Iyain saja lah, dari pada pak Ustadz ngambek."
"Siapa yang ngambek?"
"diri mu Itu? Sudah pak Ustadz, kalau cemburu ya cemburu saja, tidak usah sok adem begitu."
"Hehehe. Minta di cium ini Umanya si kembar." Bisik Irsyad. Rahma pun semakin terkekeh puas.
__ADS_1