
Di rumah sakit ortopedi...
Aida menjalani pemeriksaan Rontgen memeriksa bagian tulangnya lalu ke bagian saraf.
Dokter mengamati kondisi kaki Aida yang memang terjadi sedikit masalah pada kakinya,
Dan ternyata yang kembali bermasalah adalah sarafnya, dimana saraf kaki dan sendi-sendi nya kembali melemah, yang di sebabkan akibat kerja keras kakinya itu selama mengayuh mesin jahit.
Terlihat kesedihan di wajah Aida saat dokter menyatakan Aida harus kembali menggunakan kursi rodanya, demi kerusakan saraf kaki yang ia alami tidak semakin parah.
Setelah pemeriksaan di jalankan, mereka pun kembali keluar. Saat ini Ulum tengah mengantri di area admistrasi, sementara Aida berada di taman rumah sakit.
Ia melirik ke arah kakinya, lalu kruk yang ada di tangannya. Kruk siku itu kembali ia gunakan, demi bisa menopang tubuhnya agar bisa berdiri dengan baik.
Ulum baru saja melakukan pembayaran dan juga menebus obat untuk Aida, dengan stopmap hasil Rontgen dan kantung keresek berisikan obat Ulum berjalan mendekati sang istri lalu duduk di sebelahnya.
Ia menoleh ke arah sang istri yang tengah melamun sendu itu. Ulum tersenyum sejenak sembari mengusap kepala sang istri.
Aida menoleh, melihat senyum suaminya ia kembali menitikkan air matanya, namun dengan cepat di seka oleh Ulum.
"Jangan sedih sayang, dokter kan bilang hanya sedikit bermasalah. Masih bisa sembuh lagi kok. Kita juga sudah atur jadwal untuk terapi kan?" Ucap Ulum.
"Kalau tidak bisa sembuh bagaimana?" Tanya Aida memaksakan tersenyum. "Mas kan guru, masa punya istri lumpuh? Malu-maluin pasti kan?"
Ulum diam saja, saat ini kondisi sang istri sedang tidak baik suasana hatinya.
"Pulang yuk." Ajaknya mengalihkan, Ia pun berniat mbantu Aida, namun tangan itu di tepis sang istri.
"Aku bisa sendiri." Ucapnya dingin. Lalu beranjak dan berusaha berjalan walaupun tertatih-tatih.
"Sini mas bantu sayang."
__ADS_1
"Tidak usah mas. memang Aida lumpuh apa?" Ucapnya ketus. Ulum pun menatapnya dengan rasa sedih.
'sabar Ulum, istri mu hanya tengah bersedih saja saat ini.' batin Ulum, ia pun berusaha tersenyum lalu kembali melangkah di belakang Aida.
Di sana jarak langkah Ulum dan Aida ada sekitar satu meteran, Aida benar-benar tidak ingin di bantu Ulum sama sekali, ia masih saja melangkah dan berusaha mendahului Ulum.
"Fathul Qullum—" panggil seorang wanita. Ulum pun menoleh, dan sama Aida pun menghentikan langkahnya karena yang memanggil suaminya adalah seorang wanita.
Dia menoleh kebelakang, dan benar saja dia mendapati seorang wanita tengah berdiri di dekat suaminya.
"Wahhh benar kamu ya?" Ucap wanita itu terlihat akrab sekali, wanita itu tak berhijab, terlihat dari dress pendek yang ia kenakan, dan rambut yang tergerai indah. Wanita itu sangat cantik bagi Aida.
"Gila ya, tambah tampan saja." Ucap wanita itu hendak menyentuh rambut Ulum namun pria itu memundurkan langkahnya menghindari tangan wanita tersebut.
"Maaf Kak, saya datang sama istri saya." Ucap Ulum pada wanita itu. Pandangan wanita itu pun tertuju pada gadis sederhana yang posisinya tidak begitu jauh.
Aida pun hanya tersenyum tipis pada wanita itu. Namun wanita di hadapan Ulum hanya diam saja lalu memalingkan wajah kembali fokus pada Ulum di hadapannya.
"Hei, masih ingat aku kan?" Tanya wanita itu.
"Iiiihhh masih imut aja sih." Hendak menyentuh rambut Ulum lagi namun Ulum kembali menghindar.
Sesaat ia menoleh ke arah Aida. Namun karena istrinya sudah kembali melangkahkan kakinya, ia pun berpamitan dan segera mengejar Aida.
Di sana wanita itu pun hanya menatap keduanya yang semakin menjauh. "Istrinya baperan sekali. Dasar!" Gumam wanita tersebut yang lantas kembali pergi dari tempat itu.
Di sisi lain Ulum masih mengejar Aida. "Aida tunggu." Ulum meraih lengan Aida.
"Kok mas di tinggal sih?"
"Kan sedang asik mengobrol sama wanita cantik."
__ADS_1
"Ya Allah, dia hanya senior sayang. Dulu di kampus."
"Senior? Apa senior yang spesial ya, sampai mau menyentuh kepala mas Ulum?"
"Bukan gitu sayang. Mas tidak pernah ada hal spesial apapun kok dengannya. Sungguh. Dia memang orangnya seperti itu agak friendly. Tidak cuma sama mas kok, tapi sama teman yang lain juga."
Aida diam saja, ia memilih untuk berpaling dan kembali melangkahkan kakinya yang tertatih-tatih itu.
'sepertinya Aida akan jadi lebih sensitif setelah ini. Ya Allah semoga aku bisa menghadapi perangainya itu." Ulum pun turut melanjutkan langkahnya guna mengikuti Aida di belakang. Menuju parkiran motor mereka.
Di perjalanan, Aida sama sekali tidak melingkari tangannya di pinggang Ulum. Hal itu lah yang membuat Ulum meraih tangan sang istri agar mau berpegangan di pinggangnya.
Awalnya Aida tidak mau namun Ulum tetap menahan tangannya agar tidak melepaskan pelukannya.
Di dekat lampu merah, motor Ulum berhenti. Tangan kirinya pun beralih pada lutut Aida, mengusap-usap lembut sembari meremas kecil bagian lutut itu.
Hal itu biasa Ulum lakukan pada sang istri jika sedang berboncengan, sembari menunggu lampu yang merah itu berubah hijau.
Ulum sedikit menoleh. "Tahu nggak fungsi lampu merah ini selain untuk mengatur lalu lintas, sayang?" Tanya Ulum.
"Enggak." Jawab Aida singkat.
"Itu semua supaya orang-orang biasa kaya kita ini bisa merasakan nikmatnya naik motor sambil nunggu lampu merah? sambil pacaran. Kaya gini ini." Ulum kembali mengusap-usap lutut Aida. Lalu meraih tangan Aida dan mengecupnya.
Aida pun terperanjat. "Mas? Apa-apaan sih? Ini tempat umum."
Ulum terkekeh. "Kan mas juga liat-liat sayang."
"Nggak lucu bercanda mu mas." Bersungut. Ia benar-benar tidak sebahagia dulu, karena lututnya seperti tengah mati rasa, bahkan di sentuh suaminya saja ia tidak begitu merasakan.
Itu pula kenapa dia tidak senang lututnya di sentuh. Padahal selama ini Aida senang jika di perlakukan seperti itu.
__ADS_1
Namun berbeda untuk saat ini, ia sedang tidak ingin mendengar rayuan, banyolan atau apapun itu dari mulut suaminya.
***