Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
keputus asaan Rahma.


__ADS_3

Beberapa minggu setelah pernikahan Aida dan Ulum.


Irsyad dan Rahma tengah bersiap karena malam ini mereka akan mengunjungi salah satu teman Irsyad yang bernama Huda, karena istrinya baru saja melahirkan di salah satu rumah sakit.


Irsyad mengenakan kaos berlengan panjang dengan celana bahannya.


Ya Irsyad memang Ustadz namun bukan berarti ia selalu memakai koko nya kemana-mana bukan. sembari menunggu Rahma bersiap Irsyad duduk di sofa sembari menelfon temannya yang sudah mengatur janji untuk bertemu di rumah sakit sekalian.


Di depan meja riasnya Rahma memoles make up tipis-tipis.


"Lipstik habis, beli yang baru nitip ke mas malah salah nomornya. Huh jadi terlalu merah di bibir." gumam Rahma.


Cklaaaaakk Irsyad masuk kedalam kamarnya setelah menunggu Rahma di luar yang tak kunjung turun membuatnya kembali naik.


"Sudah belum dek? Keburu semakin malam nanti." ucap Irsyad.


"Iya mas Rahma sudah selesai kok." Rahma beranjak, Irsyad mengamati wajah Rahma, lalu mendekatinya dan meraih tissue yang berada di meja rias itu. Dengan itu pula Irsyad mengusap bibir Rahma lembut.


"Kok lipstik Rahma di hapus mas?" tanya Rahma.


"Terlalu merah sayang," jawab Irsyad, ia pun mengambil tissue yang baru lalu mengusap wajah Rahma dan menghapus sedikit bedak di wajahnya.


"Mas kok bedak Rahma di hapus juga sih?" Rahma sedikit jengkel.


Irsyad pun mengusap kepalanya. "Ade itu dandan buat siapa sih sayang? Mas lebih suka Rahma seperti biasanya saja saat keluar, kalau di dalam rumah baru dandan secantik mungkin buat mas Irsyad seorang."


"Rahma juga biasanya make up begini mas,"


"Iya tapi bibir kamu terlalu merah dek."


"Itu kan karena mas yang salah beli lipstiknya. Dan bedak ini terlihat lebih on gara-gara cahaya lampu." Rahma besengut, hampir setengah jam lebih ia mengaplikasikan make up itu, dan di hapus begitu saja oleh Irsyad.


Irsyad terkekeh. "Istri mas ini sudah cantik walau tanpa make up, kalau di kasih make up lagi semakin cantik jadinya, kalau ada yang muji bagaimana?" tanya Irsyad.


"Itu lebih baik dari pada malu-maluin mas Irsyad kan?" Jawab Rahma ketus.


"Malu-maluin bagaimana?"


"Ya malu-maluin lah, karena wajahnya pucat tidak segar."


"Kata siapa pucat, bibir Ade ini sudah pink alami, tipis dan manis pula, mas saja betah ngeliatnya apa lagi orang lain kan."


"Sudah lah tidak usah bahas make up Rahma. Jadi pergi tidak nih? Belum keluar saja sudah di buat jengkel dulu."


"Jadi... Jadi kok sayang, ututuuu anaknya pak Akmal emang benar-benar manisnya bikin diabetes." Ledek Irsyad.


Rahma pun memalingkan wajahnya tersenyum tipis. "Ya sudah lah ayo jalan." ajak Rahma yang melenggang lebih dulu.

__ADS_1


"Ayo, siap ratu ku." ucap Irsyad yang lantas berjalan di belakangnya.


Karena rumah sakit tempat istrinya Huda itu di rawat terdapat di daerah semper, Cilincing mereka pun buru-buru berangkat agar tidak terlalu malam. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Irsyad pun membawa laju mobilnya.


Sesampainya di rumah sakit Irsyad pun memarkirkan mobilnya. Lalu bersama-sama memasuki area rumah sakit tersebut dengan tangannya yang terus menggandeng tangan Rahma, Seolah tak ingin melepaskannya.


Di sebuah ruangan kelas satu Irsyad mengetuk pintu itu dan mengucap salam. Di sambutlah pula oleh Huda dan orang yang ada di sana, beberapa teman Irsyad pun sudah datang, bersama dengan istri dan anak mereka.


"Alhamdulillah datang juga, ku kira tidak jadi datang." ucap Huda, pria berusia 40 tahu bertubuh tambun itu menelungkup kan kedua telapak tangannya memberi salam pada Rahma yang langsung membalasnya.


"Jelas jadi lah pak Huda. Kan sudah janjian dengan yang lainnya juga." jawab Irsyad,


"Mari masuk." ajak pak Huda pada Rahma dan Irsyad. Keduanya pun masuk, Rahma menyerahkan kado pada seorang wanita yang masih terkulai lemah di atas Bednya.


"Selamat ya mbak." ucap Rahma sembari memeluknya.


"Terimakasih banyak mbak." jawabnya.


Rahma menoleh ke sebuah boks bayi, di mana ia melihat bayi mungil yang tengah tertidur dengan sangat lucunya.


"Bayinya lucu sekali." gumam Rahma, Tiba-tiba saja ia teringat akan janin yang pernah ada di kandungnya itu. Irsyad pun mendekati Rahma.


"Laki-laki ya mbak?" tanya Irsyad pada istri Huda.


"Iya Ustadz, Alhamdulillah, ini anak laki-laki yang ke tiga."


"Tiga?" tanya Rahma.


"Wah, senangnya." Rahma berkaca-kaca ia pun kembali menoleh ke arah bayi mungil itu.


Pandangan Irsyad tertuju pada Rahma yang terlihat sedih namun bibirnya masih menyunggingkan senyum.


Perlahan Irsyad memegangi tangan Rahma. Rahma menoleh sekilas melihat Irsyad tengah tersenyum kearahnya yang juga membalas senyum itu.


Selama satu jam mereka mengobrol, Rahma terus mengamati dua orang wanita yang ada di sana, tengah fokus pada Anaknya yang terlihat aktif.


Perasaan sedih tiba-tiba menyelimuti hati Rahma, karena hanya ia sendiri lah yang tidak membawa malaikat kecil.


Pukul sembilan malam Irsyad dan Rahma pun berpamitan pulang mereka kembali ke rumahnya. Irsyad mengamati raut wajah Rahma yang sedikit muram.


"Dek, kenapa diam saja?" tanya Irsyad mengusap kepala Rahma. Dengan mata masih fokus ke depan.


"Tidak apa mas, mungkin karena Rahma mengantuk." ucap Rahma.


"Ya sudah nanti pulang langsung istirahat ya." ucap Irsyad. Rahma pun mengangguk pelan.


Setelah perjalan pulang itu mereka pun mengganti pakaian dan langsung berwudhu sebelum beranjak tidur.

__ADS_1


Irsyad mengecup kening Rahma, yang langsung memiringkan tubuhnya itu.


"Ade kenapa sih?"


"Tidak apa mas. Sudahlah kita tidur saja." ucap Rahma, ia benar-benar sedang tidak ingin di ajak bicara.


Hingga pagi menjelang, Rahma terbangun. Ia melihat Irsyad sudah tidak ada di samping nya.


"Mas Irsyad pasti sedang sholat malam." gumam Rahma. Perlahan ia beranjak, dan membuka laci meja di dekat ranjangnya, di sana ia meraih tiga alat tes kehamilan dan membukanya sekaligus.


"Ku mohon jadi lah." ucap Rahma, ia pun membawa alat tes kehamilan itu ke dalam kamar mandi.


Setelah mengambil urine dan merendamnya Rahma mondar-mandir.


"Bismillah Ya Allah. Ini sudah bulan kesembilan setelah aku di kuret." Rahma meraih satu batang testpack itu.


"Negatif." Lalu meraihnya lagi.


"Negatif lagi."


"Ini juga.. Aaarrrrhhh kenapa negatif semua sih?" Rahma melemparkan tiga testpack itu dengan kesal, ia menangis sesegukan di dalam kamar mandi itu.


Di sisi lain Irsyad berniat untuk membangunkan Rahma, namun ia sudah mendengar suaranya tangis Rahma di dalam kamar mandi. Dengan cepat pula Irsyad menghampiri kamar mandi dan mengetuk nya pelan.


"Dek, dek Rahma, kenapa? Kenapa menangis sayang?" seru Irsyad dari luar.


Krieeeeett Rahma membuka pintu kamar mandinya.


"Ade kenapa? Kenapa menangis?" tanya Irsyad yang langsung memeluknya.


"Kenapa Rahma tak kunjung hamil mas? Rahma juga ingin punya anak. Hiks." Rahma terisak.


"Ya Allah jadi karena itu? Sabar sayang nanti juga pasti di kasih lagi ya."


"Rahma takut mas, takut tidak bisa memberikan keturunan untuk mas Irsyad."


"Ssssttt, jangan bilang seperti itu sayang."


"Tapi dokter juga pernah bilang kan? Riwayat Rahma yang pernah hamil di luar kandungan, maka tidak menutup kemungkinan akan mengalaminya lagi mas."


"Rahma, mas tidak ingin kau putus asa sayang. Itu hanya vonis dokter kan?"


"Tapi kalau sampai benar bagaimana mas? Dan kalau itu terus-terusan terulang? rahim Rahma bisa diangkat. Dan kalau itu sampai terjadi Rahma tidak akan sempurna lagi sebagai seorang wanita."


"Sssttt sayang sudah ya, sudah cukup mas tidak mau kau bicara seperti itu, mas mohon jangan membicarakan sesuatu yang belum pasti akan terjadi sayang. Mas percaya kita akan segera di berikan kepercayaan lagi dengan sehat ya. Bersabarlah istri ku."


"Tapi Rahma ingin punya anak mas, hiks."

__ADS_1


Irsyad mengecup kening Rahma. "Mas juga ingin sayang, tapi mas juga akan tetap bahagia bersama mu walau seperti apapun kondisi mu. Semua karena Mas mencintai mu, dan akan terus mencintai mu."


Irsyad beristighfar, matanya sedikit basah akibat merasakan sesak di hatinya kala melihat Rahma yang sampai putus asa seperti itu.


__ADS_2