
Setelah berganti pakaian, Rahma keluar dari dalam tandas. Dan berjalan mendekati Irsyad yang sudah duduk menyandar di atas ranjang mereka sembari memainkan ponselnya.
Sekilas mata Irsyad melirik ke arah Rahma lalu meletakkan ponselnya itu di atas meja, dan melepas kacamatanya.
Ustadz Irsyad sebenarnya tidak selalu menggunakan kacamata, semua karena mata ustadz hanya bermasalah sedikit yaitu min 2,75 di sebelah kanannya dan min 2 di sebelah kirinya, itulah kenapa Irsyad masih bisa melihat dengan jelas walupun tanpa menggunakan kacamata, ia hanya menggunakan kacamatanya itu, jika tengah merasakan pegal di area matanya saja. Dan lagi Ustadz Irsyad tidak begitu betah menggunakan kacamatanya dengan waktu yang lama.
Kini mata Irsyad tertuju pada Rahma yang tengah mengikat rambutnya.
"Sepertinya Rahma mulai susah dengan rambut panjang ini, apa Rahma potong rambut saja ya mas?" tanya Rahma.
Irsyad pun mendekati Rahma lalu melepas ikat rambutnya. "Mas suka rambut panjang Rahma." tuturnya.
"Iya, tapi Rahma merasa rambut ini sudah tidak bagus lagi."
"Kata siapa? Masih bagus nih." Irsyad memainkan rambut Rahma. Rahma tersenyum.
"Kenapa mas mainin rambut Rahma terus?"
"Habis Almarhum suka mainin rambut Rahma." Jawab Irsyad.
"Pfffffftt. Mas masih ingat yang Rahma ceritakan tadi?" tanya Rahma.
"Iya, mas juga cemburu." tutur Irsyad.
"Kenapa cemburu? Kan Rahma istri mas Irsyad sekarang."
Irsyad tersenyum. "Iya, itu yang membuat mas Irsyad bersyukur. Karena wanita ini istri mas." ucap Irsyad. Yang langsung mengecup kening Rahma.
Rahma pun menarik senyumnya. Ia kembali sedikit murung. "Tapi maaf Rahma belum bisa kasih anak ke mas Irsyad." tuturnya. Irsyad pun menoleh.
"Seperti yang mas bilang Rahma, kita harus sabar ya. Saat ini mungkin kita lagi di berikan waktu untuk berdua dulu. Banyak kok di antara kita yang sudah puluhan tahun menikah namun belum dikaruniai anak."
"Iya mas. Cuman? Kadang Rahma merasa tetap saja ada yang kurang dalam kebahagiaan kita." Ucap Rahma.
"Mas tidak merasa itu sebagai suatu kekurangan kok. Mas bahagia karena Rahma juga selalu membuat Mas tersenyum." jawabnya. Dengan Rahma yang masih tertunduk. "Begini saja, bagaimana jika besok hari senin kita cek kondisi rahim Rahma ya, terus coba konsultasi lagi." Lanjut Irsyad memberi ide.
__ADS_1
"Iya mas." jawab Rahma. Irsyad tersenyum.
"Ya sudah tidur yuk, sudah malam." ajak Irsyad. Yang di balas dengan anggukan Rahma mengiyakan.
***
Esok harinya.
Irsyad dan Rahma tengah berada di sebuah rumah sakit. Keduanya duduk di sebuah kursi panjang di depan poli kandungan.
Hampir satu jam keduanya menunggu hingga pintu poli itu terbuka. Sedikit terkejut Rahma saat mendapati Aida dan Ulum keluar dari ruangan itu.
"Loh Aida kau di sini?" tanya Rahma.
Aida tersenyum. "Iya mbak Rahma. Mbak Rahma di sini juga?" tanya Aida.
"Iya, kau di sini? Apa tengah periksa kandungan?" tanya Rahma lirih.
"Iya mbak, Alhamdulillah Aida tengah mengandung. Mohon doanya ya mbak Rahma." jawab Ulum berbinar.
"Terimakasih banyak mbak Rahma." jawab Aida. Rahma mengangguk, Diam-diam ia mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes.
"Nyonya Rahma Qurrata Aini." seru seorang perawat memanggil Rahma. Dengan itu pula Rahma melepaskan pelukannya.
"Saya Suster." jawab Rahma yang sudah beranjak.
"Mari silahkan masuk." ucap Perawat itu.
"Saya masuk dulu ya mas Ulum, Aida." ucap Rahma. Keduanya pun mengangguk.
"Hati-hati nanti pulangnya ya Ulum." ucap Irsyad sembari menyentuh bahu Ulum.
"Iya Ustadz." Jawab Ulum. Irsyad pun tersenyum lalu turut masuk kedalam ruangan poli kandungan. Sedangkan di dalam Ulum kembali mendorong kursi roda Aida menjauh dari poli tersebut menuju area administrasi.
Setelah melakukan USG, dokter berbicara sesuatu pada Rahma dan Irsyad, untuk lebih bersabar lagi. Terlebih dengan resiko terjadinya lagi kehamilan di luar kandungan seperti saat pertama itu cukup besar.
__ADS_1
Tangan Irsyad meraih tangan Rahma, berusaha menguatkan Rahma, saat dokter terus menjelaskan tentang kondisinya yang sepertinya akan sulit mendapatkan keturunan cepat dan tak beresiko, terlebih dengan riwayat keturunan dari ibunya yang juga mengalami hal yang sama. Namun dokter juga mengatakan semua itu hanya sedikit dugaan belum bisa memastikan langsung.
Setelah panjang lebar mendengarkan penjelasan dari dokter SP. OG tersebut dan mengurus Administrasinya Rahma dan Irsyad pun kembali ke rumah mereka.
Rahma melangkah lunglai masuk ke dalam rumah mereka lalu duduk di sofa ruang tamu.
"Dek, kita makan siang dulu yuk." ajak Irsyad.
"Rahma tidak lapar mas." jawab Rahma, dengan pandangan sendunya Menatap lurus ke depan. Irsyad duduk di dekat Rahma lalu mengusap lembut kepalanya.
"Rahma percaya akan rezeki yang Allah SWT kasih itu tidak akan pernah salah kan? Termaksud dengan rezeki berupa kepercayaan akan adanya momongan."
"Apa itu artinya Rahma tidak bisa di percaya untuk mengurus anak?" tanya Rahma lirih.
"Bukan begitu sayang. Hanya saja itu cara Allah SWT untuk melihat seperti apa kesabaran kita, saat menanti sesuatu yang sangat kita inginkan. Lagi pula satu tahun itu bukan berarti kalau kita benar-benar tidak bisa memiliki keturunan. Waktu kita masih panjang insya Allah Rahma."
"Kalau Rahma pergi duluan sebelum Rahma memiliki anak, bagaimana? Apa mas akan menikah lagi, dengan wanita lain, demi bisa memiliki keturunan darinya?"
"Astaghfirullahalazim Rahma. Coba tarik kata-kata Rahma tadi, mas tidak suka sayang." ucap Irsyad lembut.
"Sudah lah mas Rahma sedang tidak ingin mendengar apapun saat ini. Pikiran Rahma tengah kalut, semua karena Rahma takut. Takut kalau Rahma akan menjadi wanita yang tidak bisa memberikan keturunan pada mas Irsyad."
"Rahma?" Panggil Irsyad masih berusaha sabar.
"Mas Lihat Aida? Andaikan saja mas jadi menikah dengannya pasti mas akan lebih menyayangi Aida, karena dia sudah memberikan keturunan pada mas."
"Rahma!" Irsyad sedikit meninggikan suaranya. Sedikit tersentak Rahma mendengar suara Irsyad itu. Karena selama ini ia tidak pernah mendengar Irsyad meninggikan suaranya pada Rahma.
"Mas tidak suka kamu terus mengungkit hal itu, terlebih Aida itu Istri orang lain. Dan karena hal itu, sama saja kamu belum bisa melupakan kesalahan Aida, atau mas." tutur Irsyad, dengan tatapan serius pada Rahma. Rahma menitikkan air matanya.
"Maaf. Maafkan Rahma." Rahma beranjak, ia pun berjalan cepat sembari menangis.
Di bangku itu Irsyad tertunduk ia memijat keningnya. "Astaghfirullahalazim, Astaghfirullahalazim ya Allah, maafkan hamba Ya Allah, selama ini hamba telah kufur, beranggapan bahwa diri hamba memiliki keimanan yang kuat dan merasa sudah mampu mendidik istri hamba dengan sabar. Namun sekarang? Hamba malah justru meninggikan suara hamba padanya." gumam Irsyad lirih.
Irsyad masih terdiam di bangkunya tanpa mengejar Rahma, dirinya masih terus berusaha meredam emosinya yang sedikit tertahan di hati. Karena bagaimanapun juga ucapan Rahma barusan sedikit keterlaluan bagi Irsyad. Dan kini dirinya hanya membiarkan Rahma untuk sendirian lebih dulu semua karena ia ingin menghindari masalah yang lebih besar lagi.
__ADS_1