
Semenjak Rahma hamil, Irsyad terlihat lebih memperhatikan Rahma, bahkan dari hal kecil sekalipun ia tidak ingin Rahma sampai kelelahan.
Pagi itu Irsyad membuatkan susu khusus ibu hamil untuk Rahma yang tengah duduk di ayunan rotan di loteng kamar mereka.
"Dek minum susunya dulu." ucap Irsyad yang baru saja datang.
"Ya Allah mas, Rahma kan bisa membuatnya sendiri." tutur Rahma sembari menerima segelas susu hangat itu.
"Mas hanya ingin membuatkannya sayang, mas tidak ingin Rahma naik turun tangga terus, mas bahkan punya rencana mau bikin kamar di lantai bawah, mungkin akan mengurangi ruang tengah itu, supaya kamu tidak perlu naik turun tangga." ucap Irsyad. Mendengar itu Rahma terkekeh.
"Mas, tidak usah berlebihan Rahma itu hanya hamil bukan sakit." tuturnya, sesaat Rahma meringis merasakan nyeri di perut bagian bawah di samping kirinya.
"Kenapa sayang? Sakit lagi kah?" tanya Irsyad.
"Sedikit, cuman tidak apa-apa, keadaan Rahma baik-baik saja, itu hal normal kok." ucap Rahma.
"Apa tidak sebaiknya kita cek saja sayang,?" tanya Irsyad.
"Baru kemarin kita ke bidan mas, tidak apa-apa katanya."
"Ya mas hanya ingin kau melakukan USG dek."
"Sudah tidak usah berlebihan mas, seperti yang Rahma bilang Rahma itu tidak apa-apa." ucap Rahma, Irsyad pun mengangguk mengiyakan. Walaupun rasa khawatir itu masih ada namun ia memang harus percaya pada Rahma, karena bagaimana pun juga yang lebih mengerti kondisinya adalah Rahma sendiri.
Siang harinya...
Mereka mengunjungi rumah orang tua Rahma, di sana ibunda Rahma sudah menyambut mereka, terlebih pelukan hangat dan kecupan rindu dari ibunya pun tercurahkan, hal itu biasa di lakukan ibunya Rahma termasuk saat Rahma pulang dari Palembang.
Dan dulu sebenarnya orang tua Rahma tidak setuju Rahma bekerja sebagai perawat di Palembang karena menurut mereka itu terlalu jauh. Namun sikap memaksa Rahma yang membuat kedua orang tua Rahma tidak bisa menolak keinginan putrinya membuat mereka bersedia melepas putrinya itu bekerja di pulau sebrang.
Sekarang hati kedua orang tua Rahma bisa lega, semenjak Rahma menikah dengan Irsyad, Rahma jadi tidak perlu berangkat ke Palembang lagi.
Irsyad meletakkan tas mereka di kamar Rahma, malam ini sesuai keinginan Rahma mereka menginap satu malam di rumah orang tua Rahma.
"Sudah masuk waktu Zuhur, mas ke masjid dulu ya dek, setelahnya mas ingin menemui kyai Khalil." ucap Irsyad yang sudah memakai kopiyah nya.
__ADS_1
"Iya mas." jawab Rahma sembari mengecup punggung tangan Irsyad.
"Dan kalau mas lama, ade makan siang dulu saja ya, mas jalan dulu, Assalamu'alaikum." ucap Irsyad sembari mengusap kepala Rahma lalu perutnya.
"Walaikumsalam warohmatulohi" jawab Rahma sembari tersenyum, sesaat ia kembali menyentuh perutnya itu.
"Kenapa sakit ya? Setahu ku tidak seperti ini? Padahal aku tidak menahan buang air kecil." gumam Rahma, ia pun berjalan ke kamar mandi guna mengambil air wudhu.
Dengan menyalakan keran air Rahma mulai melakukan wudhu nya dan setelah selesai ia pun meraih mukenah di sana ibunya sudah melakukan solat di sebuah ruangan pesolatan, dan Rahma pun menggelar sajadah di belakang ibunya, lalu melaksanakan sholat.
Semenjak hidup bersama Irsyad, Rahma jadi jauh lebih memahami agama, ia pun lebih khusyuk saat menjalani ibadahnya, bahkan banyak surah-surah pendek yang ia hafal karena Irsyad yang memberinya tugas menghafal surah-surah pendek setiap harinya. Itu sebabnya Rahma bisa sholat lebih lama seperti saat dirinya tengah sholat bersama Irsyad.
Ibunya yang sudah selesai lebih dulu pun tersenyum, ia merasakan perubahan baik dari Rahma yang malas menjalankan ibadah menjadi Rahma yang taat, sungguh ia di buat terharu sekaligus bersyukur dengan perubahan itu.
Ibunda Rahma pun keluar lebih dulu meninggalkan putrinya yang masih khusyuk berzikir di atas tempat sujudnya.
Setelah selesai Rahma menengadahkan kedua telapak tangannya di depan dada. Ia mengucap syukur kepada Allah atas segala limpahan rahmat yang di berikan untuknya, tak lupa pula ia memohon ampun atas segala kekurangannya sebagai seorang istri selama ini.
Doa pun terpanjatkan untuk sang suami tercinta, dan rasa Terimakasih yang berlebih karena telah memberikan jodoh sebaik Irsyad yang bisa membuatnya bahagia dengan segala kemurahan hati Irsyad yang tulus ikhlas membimbingnya.
"Ya Allah, terimakasih ku ucapkan selalu, atas kepercayaan yang Kau berikan, dan berikanlah kesehatan untuk ku dan sang jabang bayi dalam kandungan ku amien." tuturnya, Rahma menitikkan air mata lalu mengusap wajahnya.
Setelah selesai Rahma melepas mukenah nya, dan melipatnya. Ia pun beranjak dan menemui ibunya yang tengah menyiapkan piring untuk makan siang mereka sembari menanti suami dan menantunya itu pulang dari masjid.
"Rahma bantu ya bu." ucap Rahma, Ibunda Rahma pun tersenyum.
"Tidak usah sayang, istirahat lah saja ya."
"Ibu itu selalu seperti itu, kalau Rahma ingin membatu pasti tidak boleh." tutur Rahma.
"Lho, Rahma kesini kan tidak untuk membantu ibu, lagi pula Rahma sudah mau datang saja ibu sudah senang."
"Iya tapi Rahma jadi tidak bisa apa-apa bahkan sampai Rahma sudah menikah, Ibu tahu tidak? Mas Irsyad itu rajin sekali, bahkan masak saja mas Irsyad handal, Rahma kan malu, terlebih mas Irsyad bilang, masakan Rahma itu kalau tidak seperti air laut yang seperti kolak." tutur Rahma sembari bersungut-sungut, mendengar Rahma yang berkata seperti itu sontak membuat Ibunya tertawa.
"Masa sih? Iya kamu belum bisa masak ya sayang, tapi sekarang bagaimana?" tanya Ibunya itu.
__ADS_1
"Sedikit bisa, namun tetap saja harus melalui pengawasan ketat dari mas Irsyad, ibu tahu jika mas Irsyad dengar Rahma ingin masak, mau beliau sesibuk apapun ia pasti akan berlari menghampiri Rahma demi bisa mengawasi Rahma masak, dia bilang takut makanan itu akan mubazir lagi." tutur Rahma mengadu. Ibunya pun terkekeh jenaka sembari geleng-geleng kepala.
"Tapi suami mu baik dan sabar kan?" tanyanya.
"Baik tapi gemar menyindir bu, itu yang bikin kesal Rahma kadang-kadang." jawabannya.
Di sisi lain Irsyad sudah kembali, ia mendengarkan aduan Rahma tentang dirinya sembari terkekeh, terlebih suara Rahma yang seperti seorang anak kecil tengah mengadu pada ibunya sungguh sangat lucu.
"Mengadu nih ceritanya?" ucap Irsyad tiba-tiba. Keduanya pun menoleh, dengan ibunda Rahma yang tertawa sembari geleng-geleng kepala.
"Assalamu'alaikum," Sapa Irsyad kemudian, dan di jawab oleh keduanya. Rahma mendekat.
"Loh, mas sudah pulang? Mas bilang tadi ingin menghampiri kyai Khalil dulu?" Rahma menghampiri Irsyad dan mengecup punggung tangannya.
"Entah mengapa telinga mas sedari tadi panas itu sebabnya mas ingin buru-buru pulang." ucap Irsyad ngeledek.
"Mas?" Rahma melirik sehingga saat itu membuat Irsyad terkekeh.
"Iya maaf, mas sudah sempat mampir tapi sepertinya tidak ada orang di rumah." ucap Irsyad.
"Oh, kemarin pak Kyai pergi ke Demak, ada acara di sana. Dan mungkin belum pulang." ucap Ibunda Rahma,
"Oh begitu ya?" jawab Irsyad,
"Bapak Mana Syad?" tanya ibu mertuanya itu.
"Tadi bapak ada di luar, tengah mengobrol dengan tetangga, mungkin sebentar lagi masuk." jawab Irsyad.
"Ya sudah siap-siap kita makan siang bersama ya."
"Emmm itu bukan masakan dek Rahma kan bu?" tanya Irsyad sembari melirik ke arah Rahma dengan tatapan jailnya.
"Mas jangan mulai lagi ya? Ini masak ibu kok tenang saja tidak akan terlalu asin ataupun terlalu manis." Tutur Rahma.
"Alhamdulillah kalau begitu,"
__ADS_1
"Mas sudah sana keluar dari dapur ini dari pada menghina ku terus." seru Rahma sembari mendorong pelan punggung Irsyad yang masih terkekeh-kekeh itu.